Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Salah Tangkap


__ADS_3

Kemudian Jesika keluar kamar dengan mengendap-endap,dia juga bingung mengapa dirinya tiba-tiba ada diapartemen Revan,padahal seingatnya dia tidak mabuk semalan,dan terkhir kali dirinya mengingat saat dia ingin mencari Yano dan seseorang datang membekap mulutnya.


"Gue baru ingat,semalam ada orang yang membekap gue pas lagi nyariin Yano"langkah Jesika terhenti saat dirinya sudah mengingat kejadian semalam.


"Apa Revan yang nyulik gue kesini"tebaknya dan melanjutkan langkahnya,dan mendapat pemandangan yang menggelikan,dimana Jaya dan Revan saling tidur berpelukan.


"Iuhhhhh Re....van..!"teriak Jesika memekakan telinga dua pria yang saling berpelukan,hingga keduanya tersadar.


"Ngapain lo peluk gue hah?"ketus Revan mendorong Jaya,hingga dia tersungkur kelantai.


"Lo yang ngapain peluk-peluk gue hah"Jaya balik mendorong Revan,tapi bukan hanya Revan karena Jaya pun ikut ditarik oleh Revan,terjadilah pergulatana antara keduanya dilantai,melihat dua pria dihadapannya ini,membuat Jesika kesal.


"Stoppp..."teriak Jesika,barulah Yano dan Revan berhenti,menatap wanita yang sedari tadi menyaksikan pertarungan keduanya.


"Jes..ika"ucap Yano terbata dan menyembunyikan mukanya dibelakang Jaya karena malu.


"Apaan sih loh Van"sedang Jaya yang merasa biasa-biasa aja,menghindarinya dan berlari ketoilet karena tiba-tiba kebelet,melewati Jesika begitu saja.


Revan yang sudah tak mendapat tempat persembunyian mengintip dibalik jemarinya apakah Jesika masih disitu atau tidak.


Perlahan dia mengintip,dan Jesika menatapnya dengan tajam,sontak membuatnya kembali berbalik.


"Ooh come on Van,tolong jelasin kenapa gue bisa sampai ada diapartemen kamu hah?"Jesika cukup menahan serentetan pertanyaan yang ada dibenaknya sedari tadi,tapi malah disuguhkan oleh tingkah dari kedua lelaki itu.


Inilah hal yang paling Revan takuti,ketika Jesika mengamuk seperti ini.


"Ini semua gara gara dokter gesrek itu"umpat Revan merasa tak punya pilihan,dia pun berdiri menghadap Jesika yang bercakar pinggang dengan tatapan membunuhnya.


"Sebenarnya..ini semua kesalahpahamam.._"


Brukkk


Jaya yang berlari dengan terburu-buru dari toilet,tak sengaja menabrak Jesika hingga membuat wanita itu oleng dan hampir jatuh untung saja Revan dengan sigap menangkapnya.


"Sorry mba nggak sengaja,saya buru buru ada operasi hari ini,Van gue berangkat dulu"bohong Jaya,karena dirinya takut dengan Jesika yang sebentar lagi mengamuk,dia sempat mengintip dibalik pintu bagaimana tatapan membunuh wanita itu,hingga akhirnya dia membuat skenario ada jadwal operasi.


Jesika yang masih dirangkul Yano,harus meringia kesakitan saat pantatnya menyentuh lantai dengan keras,karen Revan melepasnya begitu saja demi mengejar Jaya yang ingin kerumah sakit.

__ADS_1


"Ehh lo.mau kemana hah,jangan bilang loh mau kabur dokter gesrek"hadang Revan menghalangi Jaya,mana bisa dia membiarkan Jaya lolos begitu saja,setelah semua kekacauan yang terjadi.


"Van gue beneran ada jadwal operasi hari ini"mohon Jaya dengan wajah memelas berusaha meyakinkan Revan.


"Nggak usah bohong,masa ada jadwal saat hari libur gini,gue masih ingat Jay hari ini adalah hari minggu"telak Revan tersenyum penuh kemenangan,karena dia tahu Jaya hanya ingin kabur,Jaya pun pasrah karena sudah ketahuan berbohong.


"Ayo ikut gue"Revan mendorong bahu Jaya untuk kembali ketempat dimana Jesika berada,tapi nyali keduanya langsung menciut karena disambut dengan tatapan tajam dari wanita yang tengah memegang pantatnya yang kesakitan akibat ulah Revan.


"Van lo duluan deh"Jaya menyuruh Revan untuk berjalan didepan,tapi Revan malah balik mendoringnya juga,akhirnya terjadilah acara dorong-mendorong,yang semakin membuat amarah Jesika naik total.


"Hentikan wahai lelaki SGM"teriak Jesika disuguhi perdebatan kedua lelaki dihadapannya.


"Hah SGM?"serempak keduanya


"Iya SGM,sinting,gila,miring"ucap Jesika dengan enteng,dan menjewer telinga dua lelaki itu.


"Auwww Jes sakit"rintih Revan


"Iya mba Jes"tambah Jaya memelas,tapi Jesika malah memperkuat jewerannya.


"Sekarang jelasin apa yang kalian lakukan kesaya hah"dia mendorong kedua lelaki itu untuk duduk disofa,dan nadanya naik satu oktaf.


"Kesalahpahamam gimana hah?"


"Anuuu itu.._ah emm"


"Nggak usah ah em gitu"Jesika menatap Jaya dengan tajam,mending dia berhadapan sama mayat sekalia,dibanding sama Jesika.


"Mending kamu duduk dulu Jes"bujuk Revan


"Oaallah nggak bisa,sekarang gue nggak butuh kursi tapi butuh jawaban,dari kamu dan kamu"tunjum Jesika kepada Revan dan Jaya yang sudah keringat dingin.


"Jadi kami iti salah nyulik orang"jujur Revan membuat Jesika melotot.


"Nyulik orang,maksudnya kalian ini penculikya?"Jesika menaikkan bajunya,memperlihatkan otot krempengnya,sebagai tameng untuk melindungi diri.


"Bukan gitu Jes,mending kamu duduk dulu"Revan memaksa Jesika untuk duduk walaupun sedikit memberontak,lalu dia menceritakan alur cerita penculikan itu.

__ADS_1


"Maksud kamu si pembantu itu istrinya Yano"ucap Jesika menutup mulutnya tak percaya,ditambah lagi mendapat anggukan dari dua lelaki itu.


"Dan dia adik kamu yang diculik oleh Yano?"Jesika syok kembali mendengar semua fakta sebenarnya,lagi lagi kedua lelaki itu menganggukan kepalanya.


"Kalian pasti berbohong kan,"


"Kami serius Jes,itu faktanya emang si pria brengsek itu nggak cerita hah."Ucap Revan melihat Jesika yang terlihat frustasi.


"Tapi dia itu asisten pribadinya Yano,nggak mungkin lah wanita kampungan itu istrinya"sindir Jesika mendelik kesal.


"Apa?wanita kampungan?kamu ngatai adik saya hah?"Revan tak terima Moza dihina.


"Kamu kok ikut belain wanita kampung itu"Kesal Jesika.


"Ya jelaslah dia adikku"jawab Revan tak mau kalah,sedang Jaya memilih diam saja,menopang dagunya tak ingin ribut dengan wanita yang sudah dicap menakutakan dalam benaknya


"Ini nggak mungkin,nggak mungkin"teriak Jesika berdiri dan mengacak rambutnya frustasi.


"Kamu nggak terima pria brengsek itu sudah menikah"Revan menekan kata pria brengsek itu,ada amarah yang terpendam.


"Ya jelaslah Yano hanya milikku"ucap Jesika membuat Revan tersenyum kecut.


"Kenapa Van?"Jaya melihat perubahan ekspresi dari Revan saat Jesika berucap barusan.


"Nggak apa-apa"bohong Revan walau dalam hatinya terbakar cemburu.


"Loh cemburu"tebak Jaya tapi Revan datar saja.


Jesika yang masih frustasi baru tersadar,dia ingin kembali kerumah Yano.


"Sekarang juga anterin saya kerumah Yano,sekarang juga!"


"Tapi.._"


"Heeh lelaki gesrek,nggak ada tapi-tapian"Jesika menunjuk Jaya.


"Tapi sayangnya pintunya rusak"sebuah ide muncul begitu saja ,karena bukan hal yang tidak mungkin kalo Jesika akan mengadu pada Yano,dan Revan tidak bisa membayangkan muka gantengnya akan jadi apa,apalagi Yano bukanlah sembarang orang.

__ADS_1


"Jangan coba-coba bodohin gue"lalu Jesika menuju kepintu,benar saja pintunya tak bisa dibuka,walapun Jesika mengotak-atik kuncinya.


"Revan....."teriaknya menendang pintunya..


__ADS_2