Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Cinta dan Benci


__ADS_3

Setelah mendapat peringatan dari ayah mertuanya,Moza banyak termenung memikirkan kondisi orangtuanya,hal itu tak luput dari perhatian Siti yang melihat perubahan dari nona mudanya,yang sekarang duduk dikursi taman belakang.


"Non lagi ada masalah ya?"tanya Siti duduk disebelah Moza.


"Eh bibi,ngagetin aja"jawab Moza pelan


"Kalo ada masalah cerita aja nggak usah tutupin,siapa tahu saya bisa bantuin nona"ujar Siti membujuk Moza.


"Sebetulnya aku lagi bingung,dimana orangtuaku dan bagaimana kondisi mereka sekarang"tanpa sadar air mata Moza meluruh,jujur dia sangat merindukan orangtuanya.


"Yang sabar ya non,mereka pasti baik-baik saja"Siti mengelus punggungnya untuk memberi penguatan.


"Tapi bi,om Agusto bilang kalo Moza coba kabur orangtuaku yang jadi taruhan"jelas Moza terisak.


"Memangnya non Moza mau kabur?"tanya Siti dan Moza menggelengkan kepalanya.


"Kalo begitu non Moza berusaha untuk mengambil hati tuan muda,Siti yakin tuan muda pasti luluh suatu saat nanti"kata Siti menyemangati Moza,sehingga berhentilah rasa sedih Moza dan berganti tekad untuk meluluhkan hati suaminya.


...*...


Jika Moza sedang bersedih,lain halnya Yano yang merasa kesal dengan Jesika yang banyak maunya,dan juga menempel kayak perangko didekatnya.


Mau tak mau Yano memilih menyuruh pengawal saja yang menemani Jesika,dan dia melarikan diri kerumah.


"Jef kamu jaga wanita ini,jangan sampai dia tersesat dan hilang!"perintah Yano kepada salah satu anak buahnya,dan diam-diam pergi dari situ,sebelum Jesika menyadarinya karena dia masih asik memotret ikan-ikan yang ada dikolam.Karena dari tadi Jesika hanya ingin jalan jalan ditaman saja,kebetulan ada kolam ikan,sehingga menarik perhatiannya.


Yano pun segera melajukan mobilnya kerumah,dirinya ingin melihat apa yang Moza lakukan hari ini,karena semenjak ada Jesika dia jarang berinteraksi dengan istrinya itu.


Tak berselang lama suara mobil Yano sudah menderu didepan gerbang,dan Moza menyadari kalo Yano yang datang.


Kemudian dia mencoba mengintip,tapi dia melihat hanya Yano yang keluar dari mobil,tidak ada Jesika yang selalu menempel.


Melihat Yano yang masuk kerumah,Moza dengan segera berlari agar tidak ketahuan mengintip tapi mata Yano begitu cepat menangkapnya.


"Berhenti disitu,atau.."ancam Yano dengan menjeda ucapannya,dan Moza menuruti apa yang Yano katakan.


"Ada apa mas?"tanya Moza berbalik badan dengan menampilkan senyum manisnya.


"Ikut saya kekamar!"pinta Yano dan mendahului Moza yang syok mendengar perintah dari Yano,entahlah pikirannya sedang traveling.

__ADS_1


Sesampinya dikamar Yano berbaring dikasur dan Moza berdiri saja,karena belum ada perintah dari Yano.


"Kenapa berdiri disitu,pijitin kaki saya!"tutur Yano menyuruh Moza mendekat.


Kemudian Moza memijit kaki Yano semampunya,dan sang empunya hanya menikmati saja karena kaki Yano sudah kebas menemani Jesika jalan-jalan ditaman,dan Moza yang jadi sasaran sebagai tukang pijat.


Setelah beberapa jam Moza memijatnya,Yano malah tertidur,Moza menghentikan pijatannya dan menatap wajah pria yang tengah tertidur yang berstatus sebagai suaminya.


"Kenapa takdir harus seperti ini?"monolog Moza tak melepaskan pandangannya dari Yano.


"Kenapa kamu membenci aku mas,dan kenapa kamu tak bisa memberi alasannya,aku bertahan disisi kamu karena aku berharap suatu saat kamu bisa menerima aku dengan cinta bukan dengan kebencian"ujar Moza panjang lebar,dengan tetesan air mata yang luruh begitu saja dipipi mulus gadis muda itu,tanpa dia sadari seorang yang tertidur itu masih memasang telingannya mendengar curahan hati Moza.


Kemudian Moza menghapus air matanya,seraya menyelimuti Yano,tak ingin membuat Yano terbangun dia memilih untuk keluar saja dari kamar Yano.


Setelah memastikan Moza sudah keluar,Yano bangun dan bersandar di tempat tidurnya.


"Akupun menginginkan hal yang sama Za,tapi aku ingin membalaskan dendam ibuku"lirih Yano berada dalam kebimbangan.


Moza yang ingin beristirahat mengurungkan niatnya,ketika mendengar suara yang berteriak dari lantai bawah.


"Siapa sih yang teriak-teriak"Moza akihirny mengurungkan niatnya untuk tidur dan lebih tertarik melihat kondisi dibawah


"Tant.. Eh Nyonya Jesika kenapa penampilannya kok gitu?"tanya Moza pura-pura prihatin,membuat Jesika naik pitam.


"Ehh gadis kampung kamu ngejekin saya hah"jengkel Jesika mendelik kesal kepada Moza.


"Enggak kok,saya cuman heran model kok penampilan kayak gini"ujar Moza menunjuk penampilan Jesika yang tak tertata.


"Mending kamu didapur saja ya gadis kampung,dan saya mau ke kamar calon suami saya dulu"jawab Jesika berjalan angkuh kekamar Yano.


"Ngaku calon suami,dianggap teman aja nggak"sindir Moza dengan muka mewek,setelah melihat Jesika naik keatas.


Yano yang tengah meresapi kata kata dari Moza tadi,dikagetkan dengan Jesika yang mendorong pintu tiba-tiba,dan lebih terkejutnya lagi melihat penampilan Jesika yang basah kuyup,dan sisa lumpur diwajahnya.Hampir saja tawanya pecah.


"Puas kamu Yan,udah ninggalin aku ditaman hah"teriak Jesika emosi,karena dirinya ditinggal Yano ditaman,ditambah dirinya yang kecebur kekolam ikan gara-gara berebutan tempat duduk untuj melihat ikan ikan dikolam dengan seorang bocah.


"Memangnya salah kalo saya ninggalin kamu?"tanya Yano datar,dia malas menanggapi wanita itu.


"Ya salah dong Yan,aku bisa aduin kamu ke om Agusto"ancam Jesika membawa nama ayah Yano.

__ADS_1


"Kamu kira saya takut"jawab Yano menatap Jesika dengan tajam.


"Ok kalo itu mau kamu,aku bakal aduin ke om Agusto"putus Jesika dengan kesal dan memilih keluar dari kamar Yano,tadinya dia pikir Yano akan prihatin dengan kondisinya yang seperti itu,tapi malah respon Yano tak sesuai harapan.


...****************...


Malam harinya disebuah kafe dua orang pria terlibat pembicaraan serius,mereka tak lain dan tak bukan adalah Jaya dan Revan.


"Apa rencana kamu Jay?"tanya Revan menyeruput lemon tea nya.


"Gue udah mikirin caranya Van,tapi kamu harus menunggu sampai gue kasih instruksi"jawab Jaya mengeluarkan sebuah kertas.


"Ini adalah peta dirumahnya,jadi jalan satu-satunya adalah penculikan,disana juga penjagaan nya ketat"tambah Jaya.


"Kalo begitu kita harus cepat bergerak Jay,gue nggak mau terjadi apa apa sama Moza"ujar Revan dengan khawatir.


"Jangan terburu-buru Van,penjagaan disana sangat ketat,tidak sembarang orang bisa masuk."Jaya menahan Revan untuk tidak bertindak gegabah dulu.


"Tapu ini menyangkut keselamatan adik gue,dan gue nggak terima kalo Moza dipaksa menikah oleh bajingan itu"tutur Revan dengan sorot mata menajam,ada kobarana api membara dalam hatinya.


"Gue juga nggak tahu pernikahan mereka,dan ini memang sebuah kebetulan gue bertemu lo yang ternyata lagi mencari gadis yang ternyata istri dari sahabat gue"kata Jaya menatap Revan


"Tapi gue mau tanya sesuatu sama lo Jay"setelah mendengar apa yang Jaya katakan,Revan merasa telah melewatkan sesuatu yang belum dia tanyakan sama Jaya.


"Mau tanya apa"


"Kenapa lo membantu gue mencari Moza,sedangkan penculiknya adalah sahabat lo sendiri?"tanya Revan mengintimidasi,karen dirinya juga baru menyadari penjelasan dari Jaya kalo yang menculik Moza adalah sahabatnya,dia juga mengabdi sebagai dokter pribadi dikeluarga sahabatnya.


"Huftt sebenarnya gue nggak mau kasih tahu,tapi karena gue kasihan melihat gadis itu disiksa oleh sahabat gue."Jaya mengatakannya secara jujur,karena dia juga kasihan melihat kondisi Moza saat dia diperiksa oleh Jaya dulu.


"Gue kenal Moza karena gue yang tangani dia kemarin pas kakinya terluka dan juga disiksa naik turun tangga oleh suaminya"tambah Jaya menceritakan semuanya kepada Revan.


"Kalo sampai gue dapat bajingan itu,gue akan membununhnya"tekad Revan dengan mata memerah,membayangkan Moza disiksa seperti ity sudah membuat emosinya memuncak.


"Tapi kalo boleh tahu Jay,siapa nama sahabat lo itu?"tanya Revan mengontrol emosinya.


"Yano Dewantara"


Revan memikirkan nama yang tak pernah didengarnya,dia berusaha mengingatnya tapi nihil dia tak bisa mengingatnya berhubung dia juga memiliki sedikit kelainan pada otaknya yang dialaminya dulu semenjak kecil.

__ADS_1


__ADS_2