
Sementara itu dilain sisi,seorang gadis menangis tak henti-hentinya,menangisi malam kelam yang terjadi pada dirinya,dia tak punya tenaga lagi untuk melawan kuatnya tenaga Yano,siapa lagi kalo bukan Moza,matanya membengkak karena menangis dibawah kukungan Yano,dia pasrah dengan yang terjadi hari ini,apalagi saat ini Moza baru menyadari bahwa Yano berada dibawah pengaruh alkohol.
Setelah bisa menuntaskannya Yano terkapar lemah,hingga tertidur disamping Moza yang merintih kesakitan saat dirinya bergerak.
"Auuwww"rintihnya ingin beranjak dari ranjang ingin dengan menutupi tubuhnya dengan selimut.Sambil berjalan dengan menyeret langkahnya,menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Auwww,heeem gue kayaknya nggak bisa jalan nih"rintihnya berusaha untuk mengambil pakainnya walaupun terasa sulit.
Setelah berusaha memakai kembali pakaiannya dengan susah payah,kemudian Moza menatap suaminya yang sudah terkapar diranjang,dengan perlahan dia menyelimutinya dan mulai mencari kunci yang Yano lempar tadi.
"Dimana sih Yano buang kuncinya"keluh Moza taj mendapati kuncinya,dia ingin keluar agar Yano tidak ketahuan sama Yano,dan saat ini sudah larut malam,bahkan jam sudah pukul tiga subuh.
"Bagaimana aku bisa keluar,bisa-bisanya Yano tahu kalo"Moza menggantung ucapannya,dan bersandar disebuah meja karena dia masih merasakan sakit yang hebat,sehingga jalannya kesusahan dan masih tertatih-tatih.
Karena tak kunjung mendapat kuncinya,Moza hampir putus asa,tapi dia melihat sebuah peniti dimeja itu,lalu tertatih tatih kearah pintu dan mencoba membukanya,akhirnya dia bisa bernapas lega pintunya terbuka,lalu dengan perlahan dia keluar dan menutup kembali pintunya dengan pelan,agar tidak menimbulkan suara ribut yang mengganggu tidur Yano.
Dengan sisa tenaganya dia masuk kekamarnya dan mengunci pintu kamarnya,kemudian merebahkan tubuhnya diranjang empuknya.
"Hiks..hiksss..."Moza menangis tersedu-sedu mengingat kembali hal yang baru saja terjadi padanya.
"Apa Yano bakalan mau tanggung jawab kalo aku hamil"Moza memeluk gulingnya dengan linangan air mata,membayangkan kalo nanti dirinya hamil,apakah Yano akan bertanggung jawab atau malah menyuruhnya melakukan aborsi.
Walaupun usia Moza masih muda dan polos,tapi dia tahu apa yang barusan terjadi padanya akan berdampak atau efeknya bisa hamil.
Memikirkannya membuat Moz takut dan khawatir bila Yano menyuruhnya aborsi.Karena terlalu lelah dan masih merasakan sakit,dia akhirnya tertidur.
Dilain tempat,sebuah mobil sampailah kesebuah tempat,mereka tak lain dan tak bukan adalah Revan dan Jaya.Setelah menempuh jarak yang jauh akhirnya mereka sampai juga ditempat yang dituju,dan Jaya sudah terbangun dari tidurnya,setelah dengan susah payah Revan mengguncang tubuhnya.
__ADS_1
"Lo yakin Van,dia aman diapartemen lho"Jaya melirik kekursi belakang setelah mobil mereka mereka berhenti didepan sebuah gedung,
"Hanya ini tempat yang aman untuk sementara Jay,sebelum gue bawa dia kerumah"ucap Revan membuka pintu mobilnya,dan segera menggendong wanita dikursi belakang yang masih dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Ayo Jay"teriak Revan melihat Jaya yang tak kunjung keluar dari belakang,mendengar terikan Revan Jaya terburu-buru keluar mobil dan memgekori Revan yang sudah mendahuluinya menggendong wanita yang dikiran Moza.
Setelah sampai didepan sebuah pintu,Revan menyuruh Jaya untuk menekan pin pintu apartemennya.
Dan mereka pun masuk kedalam ruangan yang cukup luas itu,dan terlihat rapi.
"Waah ternyata lo masih punya jiwa perempuan Van"kagum Jaya memandangi apartemen Revan yang sangat rapi,tidak seperti dirinya yang suka membuang barang-barangnya sembarangan.
Tapi Revan tak menggubrisnya,dia membuka salah satu pintu kamar disana,untuk membaringkan Moza yang ada dalam gendongannya,dia perlahan merebahkan wanita yang masih memakai pakaian tidur,dengan sebuah kain penutup diwajahnya.
"Huftt Za kamu makan apa sih disana sampai berat begini."keluh Revan menyelimuti wanita itu.
Diluar Jaya mondar mandir sana sini,melihat isi apartemen Revan,setelah itu dia melihat isi kulkas Revan yang penuh dengan minuman keras,membuat mata Jaya berbinar.
Revan yang berada didalam kamar,sibuk mengatur posisi tidur yang baik buat wanita yang tak sadarkan diri itu,
"Huftt akhirnya selesai juga,kasihan juga lo Za ditutupi terus mukanya"Revan bbermonolog sendiri menatap wanita yang tertidur atau tepatnya tak sadarkan diri itu,dengan perlahan Revan menyikapkan kain itu agar wanita itu tidak merasa sesak.
Kain itu perlahan dibuka,semakin terlihat rupa wanita itu,hingga nampak jelaslah mukanya,alangkah terkejutnya Revan melihat wajah wanita dihadapannya bukanlah Moza melainkan orang lain yang tepatnya orang lain yang dia kenal.
"Jesika"gumam Revan dengan rasa terkejut sekaligus bingung.
"Jayaaaaaaaa"teriak Revan menggema diruangan itu,membuat Jaya terkejut dan menjiprat minuman yang sudah masuk kemulutnya mendengar teriakan histeris dari Revan.
__ADS_1
Dia pun segera lari kesumber suara,lalu masuk kekamar yang ada Revan didalamnya.
"Ada apa sih Van,ganggu aja?"Jaya mendengus kesal karena Revan sudah merusak acara minum minumnya.
"Lo nanya ada apa ,gue yang nanya dimana Moza hah?"suara Revan meninggi dan menarik Jaya untuk menghadap kearah wanita yang terbaring dan sudah telihat jelas wajahnya.
"Van ini si..ap.a?"ucap Jaya terbata.
"Gue yang nanya Moza dimana,kenapa malah Jesika yang ada disini hah?"tanya Revan menggebu tak menghiraukan wanita yang pingsan itu akan terganggu dengan suara ribut mereka.
"Jesika?,maksud lo wanita ini?"tunjuk Jaya bingung,hingga membuat Revan kelabakan karena sudah keceplosan tadi.
"Mending kita bicara diluar,"Revan mengalihkan pembicaraan dan mengajak Jaya keluar dalri ruangan itu.
"Lo kenal wanita itu hah?"tanya Jaya tanpa basa basi,duduk disofa.
"Nggak usah bahas yang itu,yang lebih penting Moza dimana?"Revan lebih memilih mengabaikan pertanyaan Jaya,karena hal lebih penting adalah Moza
"Tapi Van gue benar -benar bawa wanita itu dari rumahnya Yano"Jaya juga ikut bingung,karena seingatnya cuma Siti dan Moza lah wanita dirumah Yano,selain itu sisanya hanyalah Yano dan juga pengawal yang rata rata semuanya laki-laki.
"Lo yakin Jay?"tanya Revan mengintimidasi.
"Gue yakin seratus persen Van,gue kenal dia nggak sembarangan bawa orang lain masuk kerumahnya,apalagi seorang wanita"tegas Jaya myakinkan Revan karena dia sendiri tahu tipe sahabatnya itu.
"Kenapa Jesika sampai ada disana?"tanya Revan dalam hati,mencoba mencari jawaban mengapa wanita yang ditemuinya beberapa jam lalu,kini ada dihadapannya lagi tepatnya sudah mereka culik.
"Terus bagaimana dengan wanita itu?"tanya Jaya tapi tak ada sahutan dari Revan.
__ADS_1
"Woii lo lagi mikiran apa hah"tegur Jaya menyadarkan Revan dari lamunannya.
"Gue nggak mikir apa-apa kok"bohong Revan,tapi Jaya menangkap dengan cepat gelagat aneh dari pria itu.