
Beberapa jam sudah berlalu,pasutri yang masih terlelap dialam mimpi,tak.menyadari waktu yang sudah gelap.Sedari tadi Siti kehabisan topik dengan dokter kandungan yang bernama Aisyah diruang tengah,hanya menunggu kode dari Yano untuk memeriksa keadaan Moza,tapi sampai sekarang tak ada batang hidung dari pria itu.
Dikamar Moza,
Moza menggeliat pelan,dan merasakan ada sesuatu yang berat menimpa perutnya,dia pun mengerjabkan matanya,sebuah tangan kekar melingkar dengan erat diperutnya.
Dia masih belum sepenuhnya sadar,perlahan dia berbalik dan disuguhkan dengan wajah tampan suaminya,dia ingin berteriak tapi dia tak tega akan membangunkan pria yang tampak kelelahan itu,walau sejujurnya dia masih takut dan trauma dengan kejadian kemarin,tapi dengab posisi begini semua perasaab itu hilang begitu saja.Entah mengapa dia malah merasa nyaman berada didekat Yano,padahal dia sangat takut jika melihat Yano.
"Kenapa kok aneh banget ya,gue nggak takut lagi sama mas Yano"gumamnya setelah sepenuhnya sadar dari tidurnya,dan terus menatap lekat wajah suaminya yang nampak gagah dan tampan saat tidur.
"Kok nyaman banget dipeluk kayak gini sama kamu mas?"ucap Moza pelan,dia menatap lekat wajah yang begitu meneduhkan hatinya,sekaligus wajah yang dia rindukan selama ini.
Dia pun dengan ragu-ragu menjangkau wajah Yano,dia menangkup pipi lelaki itu,padahal tanpa dia sadari Yano sudah bangun dari tadi,dia hanya ingin menunggu reaksi dari Moza menyadari dirinya tidur seranjang dengannya.
"Kamu mau dipeluk terus kayak gini kan"suara Yano membuat Moza terkejut,dan melepaskan tangannya dari pipi Yano,tapi pria itu dengan cepat menangkap tangan mungil itu,kembali mengeratkan pelukannya,hingga tatapan keduanya bertemu,irama jantung pun bertalu-talu.Yano merasa bahagia karena Moza tak bereaksi untuk menolak dirinya yang memeluk dan tidur bersamanya,itu artinya dia bisa lebih dekat lagi dengan istri kecilnya dan berusaha meluluhkan hatinya.
"Lepasin mas!"berontak Moza karena canggung bercampur malu karena dipergoki sama Yano,ditambah dengan posisi keduanya yang begitu intim,walau pun dalam hati dia bahagia dipeluk Yano.
"Nggak mau,aku nyaman seperti ini"kekeh Yano,semakin mendekatkan wajahnya keMoza,membuat nafasnya bisa dirasakan oleh Moza.
"Aku sesak mas"keluh Moza,berhasil membuat Yano melonggarkan pelukannya sedikit,tak ingin terjadi apa-apa sama Moza.
"Masih sesak mas"keluh Moza lagi,dan Yano sedikit melonggarkan pelukannya lagi,dan memejamkan matanya kembali,dia sungguh menikmati moment ini,sebuah moment yang tak pernah dia lewati bersama istri kecilnya ini.
"Mas masih sesak"bohong Moza,karena sesungguhnya dia merasa malu dan canggung,meski dalam hatinya tak bisa bohong kalo dirinya sebetulnya ingin dekat dengan Yano terus.
"Kamu mau aku cium yank?"Yano sengaja tak mendengar Moza,karen dia sendiri tahu kalo Moza sedang malu dilihat dari mukanya yang sudah memerah kayak tomat.
"Bukan itu yang kubilang mas,mas salah dengar deh"takut Moza karena tak ingin Yano bertindak lebih kepadanya,diiringi hatinya yang berbunga-bungan mendapat panggilan sayang dari Yano yang jelas terdengar ditelinganya.
"Okay kalo begitu kamu tunggu disini dulu ya"Yano baru teringat kalo dia sudah memanggil dokter untuk memeriksa Moza,tapi dia lupa karena tertidur disamping Moza.Akhirnya dia memutuskan untuk melepas pelukannya walau dengan berat hati.
Begitupun sebaliknya dengan Moza,yang ikut merasakan sedih dihatinya ketika melihat Yano beranjak dari ranjang.
"Sekarang kamu tunggu disini,aku mau kebawah dulu,"ucap Yano sembari membantu Moza untuk tidur kembali,kemudian dia mengecup singkat kening Moza,dan berlari takut gadis itu mengamuk,tanpa diduganya gadis itu malah tersenyum hangat dengan perlakuan manisnya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit,muncullah Yano dengan seorang wanita berjas putih,Moza yang tak bisa tidur lagi hanya uring-uringan ditempat tidur,dikejutkan dengan dokter yang baru saja masuk kekamarnya.
"Mas kenapa ada dokter disini?"tanya dengan heran.
"Aku yang nyuruh dokter kesini,untuk memeriksa keadaan kamu"terang Yano mendekat ke Moza,dan duduk disamping wanita itu.
"Emanh siapa yang sakit sih mas?"Moza mengira Yano tak mengetahui keadaanya,jadi dia mencoba mengelabui Yano.
"Iya memang nggak ada yang sakit,aku cuman mau dokter ngecek kesehatan kamu,siapa tahu sudah ada Yano junior disini"bisik Yano dengan tersenyum dan mengelus lembut perut rata Moza.
Deg
Ada perasaan tak menentu dalam hati Moza,dia yang mengetahui maksud Yano ikut mengusap perutnya,apakah secepat itu dirinya hamil?itulah pertanyaan yang ada dibenak Moza.
"Apa betul aku ha..mil mas"ucap Moza terbata-bata,antara bahagia dan juga sedih,karena bahagia ada orang yang sedang dia jaga dalam rahimnya,sekaligus sedih karena itu terjadi karena sebuah insiden yang tak disengaja.
"Heeyy kenapa kamu menangis sayang"Yano menangkup wajah istri kecilnya ,yang tiba-tiba menangis.
"Hiks hikss,aku hamil kan mas?"tanya Moza dengan tangis yang pecah,Yano pun memeluk nya,dia juga belum tahu apakah Moza hamil atau tidak karena belum diperiksa.
"Begini amat nasib jadi jomblo,pengen dipeluk nggak punya ayang"gumamnya pelan dengan mulut komat-kamit.Sudah disiksa menunggu pasien bangun,eeh sekarang malah nunggu pasien romantis-romantisan dulu.
Setelah Moza tenang,barulah Yano mempersilahkan dokter Aisyah memeriksa Moza.
"Ooya non Moza bisa menceritakan keluhannya kepada saya"
"Emm saya mual-mual sama muntah dok"jujur Moza,dan sekilas melirik Yano yang tengah berdiri dan diam saja.
"Em coba nona membuang urine dulu,lalu pake ini"dokter Aisyah menyodorkan sebuah tespact kearah Moza,membuat gadis polos itu mengerutkan keningnya.
Melihat kebingungan pasiennya,dokter Aisyah membantu Moza ketoilet memeriksa urinenya,sedang Yano yang paham istrinya yang masih awam dengan hal begitu hanya diam saja,dan menunggu hasilnya.
Setelah beberapa menit,keluarlah Moza dan dokter Aisyah dari toilet.
"Bagaimana hasilnya dok?"tanya Yano dengan antusias.
__ADS_1
"Emm hasilnya"dokter Aisyah menggantung ucapannya,dan melirik kearah Moza yang menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.
"Hasilnya positifkan dok,iyakan sayang?"Yano beralih menatap Moza yang nampak diam saja,dan rasa bahagia dihati Yano pun menghilang begitu saja.
"Ya enggak apa-apa sayang,mungkin masih belum saatnya"antusias Yano menghilang seketika melihat tak ada raut bahagia diwajah Moza,itu artinya hasilnya pasti negatif,walaupun ada rasa kecewa dalam hatinya,tapi dia terima kalo Moza belum hamil.Lagian bukannya terlalu cepat juga kalo Moza langsung hamil.
"Taraaaa"Moza menyodorkan sebuah tespact kepada Yano,dan ada dua garis merah disitu,membuat Yano kembali tersenyum bahagia,kemudian memeluk Moza dengan erat,begitupun dengan Moza yang merasa begitu bahagia membalas pelukan Yano .
"Apa gue hanya sebuah nyamuk yang tak terlihat diantara mereka"lirih dokter Aisyah dalam hati,merasa tak dipedulikan kehadirannya oleh pasutri itu.
"Emm mas ada dokter disini,nggak enak dianggurin mulu dari tadi"Moza mendorong Yano yang begitu erat memeluknya,saking bahagianya mereka melupakan ada jiwa jomblo yang meronta didekat mereka.
"Maaf dok,saya terlalu bahagia"ucap Yano tak enak hati.
"Tak apa-apa ,itu hal biasa yang saya jumpai"ujar dokter Aisyah dengan senyum paksa.
"Mari nona saya periksa dulu kondisi kandungannya"
"Baik dok"
Kandungan Moza diperiksa,dan setelah selesai dokter Aisyah memberi vitamin penguat janin untuk Moza,karena masih masa awal kehamilan,jadi kondisi janinya masih lemah dan butuh vitamin yang cukup.
"Jadi saya ingatkan untuk tuan,untuk menjaga istrinya,dan usahakan untuk tidak berhubungan dulu karena kondisi janin nya lemah,dan mengingat usia ibunya yang masih muda,jadi usahakan untuk selalu menjaga kesehatannya"jelas dokter Aisyah panjang lebar,dan dianggukan oleh Yano.
Akhirnya dokter Aisyah memutuskan untuk pulang,sudah cukup waktunya terbuang untuk menunggu pasiennya yang masih dalam mabuk asmara itu.
Dari Lampung ke Pulau Jawa
Jauh-jauh mencari kerja
Sahabat sekolah anaknya dua
Tapi saya masih sendiri saja
Begitulah pantun dokter Aisyah diperjalanan pulanganya,mengingat nasib masih sendiri.
__ADS_1