
Jika Revan masih bisa terkekeh,tidak dengan Yano dan Jaya yang menatapnya denga tajam seperti ingin menerkamnya.
"Kenapa aku jadi merinding ya"Revan pura pur mengelus tengkuknya
"Dasar brengsek ternyata kamu yang sudah buat Jesika amnesia"Yano langsung meraih tongakat bisbol disebelahnya ,melihat itu Revan langsung berlari sambil mengangkat tangannya.
"Kakak ipar tunggu aku tahu aku salah tapi.."Revan langsung berlari lagi melihat Jaya mengangkat gelas jus,membuat Revan semakin ketakutan.
"Kamu memang brengsek sudah bikin Jesika amnesia"Jaya meluapkan kekesalannya yang tadi kepada Revan.
Revan yang masih mendengar ucapan Jaya langsung berhenti untuk kabur,begitupun juga Yano dan Jaya langsung berhenti mengejarnya.
"Jesika amnesia?"gumamnya mematung
"Iya brengsek"jawab Yano dan Jaya bersamaan
Detik berikutnya terdengar sesuatu yang terjatuh.
Brughhh
Revan langsung jatuh pingsan,baik Yano maupun Jaya sama sama terkejut.
"Revan!"Yano melempar tongkat bisbol kesembarang arah,bersamaan dengan masuknya Bagas yang mendengar suara keributan dari ruangan Revan.
Brukk
Tongkat bisbol itu mengenai kepalanya,membuatnya meringis kesakitan.Bukan hanya itu Jaya yang ikut panik langsung meminum jus itu hingga tandas dan menyerahkan gelasnya kepada Bagas.
Yano dan Jaya langsung mengangkat Revan yang pingsan keatas sofa.Bagas hanya melihat saja dengan rasa cemas dengan kondisi bos nya itu.
"Jay cepat periksa"titah Yano dengan cemas.
Setelah beberapa saat Jaya selesai memeriksanya
"Bagaimana kondisinya Jay?"
"Dia hanya kelelahan,ditambah dengan kabar yang tadi membuat pikirannya penuh sehingga pingsan"jelas Jaya menatap Revan dengan iba.
"Dasar bocah gigih"gumam Yano menyusuri meja kerja Revan yang dipenuhi dengan tumpukan berkas yang banyak,dia tak menyangka Revan akan menyiksa dirinya seperti itu supaya menghilangkan pikirannya tentang Jesika agar bisa menyelesaikan hukumannya.
__ADS_1
"Bagas!"panggil Yano dan Bagas langsung menyahut.
"Kamu urus semua berkas ini,biar aku saja yang antar Revan kerumah sakit."
"Baik tuan"
"Tapi ingat satu hal,kamu jangan memberitahu Papa Ardiansyah tentang kondisi Revan,kalo sampai bocor kamu yang saya cari"ancam Yano kepada Bagas,dan diangguki oleh Bagas tanpa diingati oleh Yano dia sendiripun tahu supaya tidak memberitahu kondisi Revan,karena dia lebih tahu sifat Ardiansyah karena sudah lama mengabdi dengan beliau.
Lalu Revan pun langsung dibawa kerumah sakit,sementara dia harus dirawat dulu hingga kondisinya membaik.
Malam harinya.....
Yano dan Jaya masih setia menjaga Revan yang masih tak sadarkan diri,tadi dia sempat sadar namun memberontak untuk menemui Jesika namun Yano tak mengijinkannya.Terpaksa dia dibius supaya menstabilkan kondisinya.
"Yan mending kamu pulang saja,aku yang bakal tangani Revan pasti Moza mencari kamu ini sudah malam"kata Jaya mengingatkan Yano yang sejak tadi menjaga Revan.
"Tapi Jay"
"Nggak ada tapi tapian"Jaya mendorong Yano untuk keluar dan segera pulang.
Benar saja yang dikatakan Jaya,sejak tadi Moza tak mau makan hanya mencari suaminya.Ditambah ponsel Yano tak bisa dihubungi,dia juga belum pulang hingga larut malam.Membuat Moza tak tenang,dia seperti setrikaan yang terus mondar-mandir didepan pintu.
Dia ingin mencoba keluar untuk mencari Yano,namun dihadang oleh para pengawal karena kalo sampai Moza keluar habislah riwayat mereka.
"Huaaaaam,jangan ngantuk Sit ingat jaga nona Moza"ingat Siti memukul kepalanya yang terasa ngantuk,daritadi dia memperhatikan Moza takut wanita itu menghilang.
Sementara itu Jesika yang terus mengurung dirinya dikamar,setelah bertemu dengan Jaya tadi pagi pria yang tak dikenalnya itu terus berusaha untuk mengingat siapa dirinya.Hingga satu hari penuh dia sibuk meringkuk diatas tempat tidur sambil terus berpikir,namun sia-sia dia tak mengingat apapun.Malahan kepalanya yang terasa pusing,dan sekarang hari sudah larut malam perut Jesika keroncongan.
Semenjak siang tadi dia menahan rasa laparnya,tapi dia tidak tahu harus kemana.Hingga malam ini dia memegani perutnya yang seharian tak terisi apapun,lalu dia memilih untuk keluar dari kamar siapa tahu dia bisa mendapatkan makanan.
Perlahan dia membuka pintu,dan menyeret langkahnya dengan lemah.Rambut panjangnya terurai,dia berjalan mencari dapur siapa tahu ada sesuatu yang bisa mengganjal perutnya.
Walau kondisi dapur yang agak gelap,karena sudah malam matinya dimatikan dengan sengaja.Tapi Jesika masih bisa melihat karena sedikit ada cahaya lampu dari lantai atas.
Wajah Jesika langsung sumriah karena menemukan meja makan yang dicarinya,dengan tak sabaran dia membuka tudung saji yang berisikan banyak makanan dengan bervariasi lauk pauk.Tanpa menunggu lama Jesika mengambil piring,dan mengambil lauk pauk sesukanya dia makan seperti orang yang tak makan tiga hari.
Didepan Siti yang tak bisa menahan kantuknya,memilih untuk mengambil minum didapur sekalian mencuci mukanya.
Dia berjalan sambil mengucek matanya,dia melewati ruang makan tanpa menyadari ada seseorang yang makan.Mungkin karena efek mengantuknya.
__ADS_1
Setelah selesai membasuh muka dan sepenuhnya sudah sadar tak merasa ngantuk lagi,Siti mengambil minum berniat ingin duduk santai dulu diruang makan.
Namun dia dikejutkan dengan sosok yang tengah lahap makan dimeja makan,dengan rambut panjang yang terurai dikegelapan membuat Siti merasa ketakutan,dia hampir saja kencing dicelana kalo saja tidak menahannya.
"Han...hantu"teriak Siti tak bisa menahan ketakutannya,gelas ditangannga jatuh kelantai,Jesika pun ikut terkejut dengab teriakan Siti yang berdiri tak jauh darinya.
"Hah hantu...dimana.?"Jesika ikut ketakutan lalu berdiri dikursi makan sambil memegangi garpu dan sendok,seolah olah ingin melawan hantunya.
"Hantu kok teriak hantu"Siti tambah melongo dengan tubuh bergetar ketakutan,wanita yang disangkanya hantu itu malah teriak hantu lagi.Siti yang ketakutan langsung berlari mencari Moza.
"Non Moza!,ada hant..u,"teriak Jesika dengan napas ngos ngosan
"Ada apa sih kamu teriak teriak,mana ada hantu dirumah ini?"Moza menepis pikiran absurd Siti.
"Benera non,dia lagi makan rambutnya panjang ihh pokoknya Siti takut banget"Siti bersembunyi dibelakang punggung Moza,lalu mau tak mau Moza memastikan sendiri apa yang dilihat Siti.
Dengab mengendap endap kedua wanita itu berjalan menuju ruang makan.
"Sit kamu aja yang didepan deh"Moza juga merasa berdebar debar karena takut.
"Tapu non,Siti takur banget mau kencing dicelana"tolak Siti tak mau berjalan didepan.
"Tapi Sit aku hamil loh,nanti hantunya bakal nyakitin aku gimana dong"kata Moza beralasan padahal dia sangat takut,anehnya keduanya juga tak meminta para pengawal yang sedang berjaga itu untuk menemani namun keduanya memilih untuk melihat sendiri.
Moza dan Siti mengendap-endap,karena masih takut bukannya berjalan malah keduanya jalan ditempat doang,Yano yang baru saja tiba dirumah menatap aneh kelakuan istri dan juga ART nya itu.
"Kalian ngapain sayang"Yano memegangi pundak Moza,namun wanita itu teriak histeris karena kaget.
"Auwwwww hantu kuntilanak"celetoh Moza memukul Yano,namun tangan mungilnya ditangkap Yano.
"Ini aku sayang,kamu kenapa sih"Yano.langsung memeluk Moza yang kelihatan ketakutan.sementara Siti hanya bisa memeluk tembok saja karena tak ada kekasihnya.
"Mas aku takut Siti bilang ada hantu dikamar makan,kamu juga datang bikin ngagetin orang aja"kesal Moza memukul dada bidang suaminya,sambil membersihkan ingusnya dijas Yano.
"Hantu darimana nya,Siti sembarangan aja deh"Yano merasa tak percaya dengan ucapan Siti.
"Beneran tuan,rambutnya panjang dia sedang makan"jelas Siti mempraktikan apa yang dilihatnya tadi.
Yano mengerutkan keningnya ttak percaya dengan Siti,ďďuntuk memastikan nya Yano ingin melihat sendiri dengan Moza yang terus lengket dengannya.
__ADS_1
Mereka mengendap kedapur,Siti ikut mengekor dibelakangnya.Perlahan Yano menekan kontak lampu dan semuanya jadi terang nampaklah seorang wanita yang masih berdiri diatas kursi menoleh kearah mereka.
"Jesika!"ucap Yano,Moza,dan Siti bersamaan.