
Dikediaman Yano sendiri,pasutri itu terlibat cek cok yang sengit karena memperdebatkan ide gila Yano yang memaksa Reva menikahi Jesika hari ini juga.Yano sudah menyiapkan tempat dan juga semuanya,sisa pengantinnya yang belum siap.
"Mas kamu apa-apaan sih,maksa orang buat nikah begitu saja kamu pikir menikah itu lelucon hah?"omel Moza dengan menggebu.
"Sayang kamu nggak usah ikut campur,ini cara sati satunya supaya Revan cepat terikat dengan Jesika,aku tidak mau Revan khilaf apalagi mereka tinggal bersama"jelas Yano untuk memberi pengertian kepada istrinya yang sejak tadi tak henti hentinya mengomelinya.
"Mas tetap saja hal itu nggak benar,kamu yang buat ide gila menculik Jesika sehingga wanita itu amnesia"Moza mengungkit hal itu lagi membuat Yano membulatkan matanya,karena Moza menyalahkan dia atas apa yang menimpa Jesika.Padahal jelas-jelas Revan yang membuat wanita itu amnesia.
"Aku nggak campur tangan soal Jesika yang amnesia yank"rengek Yano tak terima tuduhan istrinya.
"Kamu nggak usah mengelak,jelas jelas kamu yang sudah buat masalah besar ini"
"Za aku nggak bisa ubah keputusan ku kali ini"Yano meraih handuk untuk mandi karena dia segera kekantor,dia memilih mengalah daripada masalah besar akan terjadi.
Moza mendengus kesal melihat Yano yang melenggang pergi masuk kamar mandi,dia meninju udara karena saking kesalnya.
"Ya sudah kamu sudah mengibarkan bendera perang"Moza tersenyum devil menuju kearah lemari mengeluarkan sebuah koper besar.
Beberapa menit kemudian....
Yano keluar dari kamar mandi dengan wajah segar,dengan bertelanjang dada dia berjalan dengan wajah tampannya.Lalu langkahnya terhenti melihat Moza yang sibuk memasukkan baju dikopernya,hal itu membuat Yano bingung padahal mereka tidak ada rencana pergi liburan.
"Sayang kamu mau kemana,pake acara nyiapin baju banyak gitu?"tanya Yano mendekat kearah istrinya yang masih sibuk memasukann baju dan barang lainnya kekoper.
"Aku mau pergi sama baby rein"jawab Moza dengan ketus,tanpa mau menatap Yano.
"Hey kamu kenapa sayang,kok tiba-tiba pergi begini hah kamu mau ninggalin aku sendiri dirumah hah?"muka Yano menjadi panik dengan sikap Moza yang tak biasanya,mana mungkin Yano bisa tahan bila berjauhan dengan istrinya dan juga anaknya.Yano menghentikan Moza yang terus memasukan bajunya dengan memegang bahunya,dengan tatapan memelas berharap Moza mau mengubah keputusannya
__ADS_1
"Kamu kan udah besar nggak usah diurusin lagi,lagian aku nggak mau urus lelaki yang keras kepala"Moza menepis tangan Yano,dan melanjutkan aksinya.
"Sayang aku mohon sama kamu jangan begini,ya sudah aku mengalah pernikahan Revan bakalan aku batalin"Yano menghembuskan nafasnya dengan kasar,dia baru menyadari perubahan sikap istrinya karena dirinya yang kekeh untuk memaksa Revan menikah.Benar saja Moza langsung tersenyum sumriah,dan langsung menatap Yano.
"Beneran mas?"Moza berdiri menatap Yano yang terlihat pasrah,Yano mengangguk saja dan melangkah kekamar ganti untuk bersiap kekantor.
Baru saja Yano melangkah,tiba tiba tangan mungil melingkar dipinggangnya.Moza memeluknya dari belakang.
"Terima kasih mas,sudah mau memenuhi kemauanku"ucap Moza dengan tulus,dia sudah menduga kalo Yano takan mungkin membiarkan dirinya pergi tanpanya.
"Nggak usah terima kasih,mending kamu lanjutin siap siap katanya kamu mau pergi"Yano pura pura ngambek dengan Moza,dia melepaskan tangan Moza dari pinggangnya,namun bukannya lepas Moza malah memeluknya dengan kuat sambil menggelitik perut Yano sehingga pria itu tertawa.
"Aku nggak mau pergi,aku nggak mau ninggalin suami tercintaku!"teriak Moza memeluk Moza dengan erat sementara Yano masih tertawa karena merasa geli digelitik Moza.
"Udah dong yank,aku mau kekantor hari ini"Yano menangkap tangan mungil itu dan berbalik meraih pinggang Moza,tatapan Yano tertuju pada bibir yang sejak tadi pagi terus mengomelinya.Tanpa aba aba Yano langsung menyambar bibir ranum Moza,sejak tadi dia ingin membungkam bibir itu dengan ciuman karena dirinya tak suka dimarahi oleh istri tercintanya itu.
Baik Yano maupun Moza langsung tersentak,dan melepaskan tautan bibir mereka.Yano yang masih pakai handuk langsung keruang ganti,begitupun sebaliknya Moza langsung lari untuk mengambil Rein dari gendongan babysitternya.
"Maafin saya nona,saya tidak tahu kalo.."
"Ooh nggak apa apa kok,ya sudah kamu istirahat dulu biar aku saja yang jaga Rein"Moza pun langsung menenangkan Rein,alhasil Rein pun berhenti menangis dan tak lama kemudian dia tertidur dalam gendongan Moza.
"Baik non,tapi apa nona sama tuan mau liburan?"tanya babysitter itu yang melihat tumpukan baju dan koper besar milik Moza.
"Oo..oh i..tu enggak kok aku cuman mau lihat bajuku yang nggak dipake"alibi Moza dengan tersenyum kaku dan babysitternya hanya beroh ria lalu pamit keluar.
Disaat Moza ingin membaringkan Rein diranjang,ponselnya berdering lalu dia mengangkatnya segera karena itu telepin dari Revan.
__ADS_1
"Hallo,bagaimana Za apa kamu berhasil?"
"Kamu tenang aja Van,semuanya beres"
"Kamu memang nggak diragukan lagi Za"
"Adik siapa dulu?"
"Iya iya kayaknya kamu bisa nih handle masalahku kedepannya"
"Enak aja kamu Van,dikasih hati malah minta jantung"
"Hhh aku hanya bercanda kok,ngomong ngomong kamu mau nggak makan siang sama aku nanti aku yang traktir"
"Emmm..nanti aku pikirin dulu,udah dulu ya ada mas Yano"
Tuttt....
Moza memutus sambungan teleponnya dengan Revan,karena Yano sudah keluar dari ruang ganti dengan stelan jas yang rapi.
"Kamu teleponan sama siapa?"tanya Yano sambil menyerahkan dasi kepada Moza,karena samar samar dari ruang ganti Yano mendengar Moza berbicara dengan seseorang.
"Aku cuman teleponan sama dokter nya Rein untuk kontrol minggu depan"bohong Moza sambil memasang dasi nya Yano.
"Ooh,btw nanti siang bawakan aku makan siang aku mau makan sama siang sama kamu dikantor"ucap Yano mengecup pucuk kepala Moza,dan dibalas ciuman dipipinya oleh Moza.
Setelah Yano berangkat kekantor,dengan cepat Moza mengirm pesan singkat kepada Revan tidak bisa menerima ajakan kakaknya itu.Dia lebih memilih untuk menemani suaminya,karena belakangan ini mereka jarang menghabiskan waktu berdua karena kesibukan Yano dikantor ditambah lagi mengurus masalah Revan dan Jesika.
__ADS_1
Moza merasa sangat bahagia hari ini karena misi untuk membantu Revan selesai,walau harus pake drama pergi dari rumah dulu baru Yano bisa mengalah.Moza tersenyum karena hari ini membuatnya bahagia,dia merebahkan tubuhnya disamping baby Rein,akhirnya diapun ikut terbang kealam mimpi,padahal baru beberapa jam yang lalu dia bangun pagi dan sekarang dia tidur lagi.