
Akhirnya Jesika mengurung dirinya dikamar apartemen Revan,setelah kejadian pintu rusak tadi hingga dirinya tak bisa kembali kerumah Yano.
1 minggu berlalu,Yano belum menyadari kehilangan Jesika karena kesibukannya dikantor dan juga kesibukan yang lainnya membuat dia jarang pulang kerumah,begitupula dengan Moza yang akhir-akhir ini terus mengurung diri dikamar semenjak indsidennya dengan Yano.
Baik Yano dan Moza pun akhir-akhir ini jarang bertemu.Tapi Yano sudah mulai memberi perhatian kepada Moza,seperti berpesan kepada Siti untuk mengantar makanan Moza kekamar,dan tak boleh membiarkan Moza kecapean.Dan menempatkan banyak pengawal untuk menjaga keamanan Moza.
Semua perhatian dari Yano membuat timbul tanda tanya besar dibenak Siti,pasalnya selama ini nona mudanya itu diperlakukan seperti pembantu oleh suaminya,dan sekarang tiba-tiba dijadikan seperti ratu.
"Waalahh apa sih yang terjadi sama non Moza dan tuan Yano"gumam Siti sambil menyiapkan makanan untuk Moza,sudah satu minggu ini dia mendapat telepon dari Yano untuk memperhatikan pola makan Moza dan juga istirahatnya,karena tuannya itu masih ada kesibukan diluar.
Tapi Siti tak terlalu kepo,yang terpenting Yano sudah mulai bisa menerima Moza itu sudah cukup baginya.Akan tetapi masih ada keganjalan bagi Siti mengenai rencana Jaya kemarin yang nyatanya Moza adalah adik dari temannya Jaya,jadi dia ingin menyelamatkan Moza,tapi malah Moza nya masih ada dirumah.
"Apa mungkin non Jesika yang diculik ama dokter Jaya"tebak Siti menerka setelah selesi menyiapkan makanan.
"Kayaknya dugaanku benar deh"gumamnya dan melangkah kekamar Moza.
Tok..tok.
"Masuk bi!"
"Permisi non,saatnya makan siang"Siti melebarkan senyumnya,melihat Moza yang tengah berdandan hari ini,biasanya gadis itu sering berada dibalkon,tapi hari ini ada perubahan dengan Moza.
"Ehh bibi ngapain repot-repot kayak gini sih,kan Moza bisa turun sendiri untuk makan"keluh Moza tak enak,karena entah mengapa selama seminggu inu Siti selalu mengatur jadwal makannya,dan juga sering mengantarkan makanan kekamarnya,ditambah sering mengingatkannya untuk beristirahat.Semua itu terasa aneh saja bagi Moza,tanpa dia ketahui Yano lah yang mengatur semua itu,dan mewanti-wanti Siti untuk tidak memberitahu Moza kalo dia yang menyuruhnya,karena Yano takut kalo Moza bakal menolak semua perhatian darinya,setelah mengalami peristiwa satu malam diantara keduanya.
"Ya enggalah non,ini sudah kewajiban Siti,ngomong-ngomong non cantik banget hari ini"puji Siti dengan kecantikan Moza ditambah dengan polesan make up tipis,menambah kecantikan gadis muda itu.
"Bibi bisa aja,nggak tahu kenapa juga Moza lagi kepengen dandan doang bi"jelasnya tersipu malu.Karen jujur Moza sendiri merasa ada yang aneh dengan dirinya,selama ini dia paling anti kalo memakai make up dan semua make up yang disediakan oleh Yano untuknya sejak dulu tak pernah dia pakai,dan hari ini dia merasa ingin berdandan.
"Emang non Moza suka dandan?"tanya Siti
"Enggak juga sih bi,tapi aku ngerasa mau sekali dandan"terangnya,membuat Siti bingung sendiri dengan perubahan Moza ini.
"Ya udah kalo begitu nona makan dulu"
Moza akhirnya menuju meja yang entah dari kapan pula ada dikamarny yang menjadi meja makannya.
Dia kemudian menyuapkan sesuap nasi kemulutnya.Perlahan mengunyah dan detik berikutnya dia merasakan mual-mual.
Huek...hueeek..hueek
Moza berlari kewastafel dan memuntahkan kembali nasinya,Siti yang menemani Moza langsung beranjak menyusul Moza,merasa khawatir dengan kondisinya.
__ADS_1
"Nona baik-baik saja?"tanya Siti memijit punggungnya.
"Saya nggak apa.._"
Huek..hueek
Sudah berapa kali,Moza mual-mual dan memuntahkan kembali isi perutnya,semakin membuat Siti cemas.
"Siti panggilkan dokter saja ya non"sara Siti
"Nggak usah bi,mungkin saya lagi masuk angin"tolak Moza,dia tak mau diperiksa hanya karena hal sepele itu.
"Tapi non.._"
"Udah nggak usah,mending kamu bawa keluar nasinya,saya istirahat saja."Moza kemudian berbaring,dan Siti membantu menyelimutinya.
Kemudian Siti keluar dari kamar Moza,disepanjang jalan menuruni tangga dia cemas dengan kondisi nona mudanya.
"Apa saya hubungi tuan muda saja ya"pikirnya
Setelah lama berpikir Siti memberanikan dirinya untuk menghubungi Yano,karena dia takut kalo tidak diberitahu dia bakal mendapat amukan dari pria itu.
Panggilan pun tersambung..
"Ini tuan,non Moza "Siti ragu mengatakannya
"Moza kenapa hah"panik Yano terdengar dari nada suaranya dari seberang sana.
"Non Moza mual-mual,sama muntah tuan"
"Terus kamu sudah panggilkan dokter?"
"Maaf tuan,non Moza tadi nolak,dia mau istrirahat saja"
"Ok kalo begitu saya pulang sekarang,"
Sambungan teleponnya diputus sepihak oleh Yano,
"Tuan muda panik banget ya,biasanya dia nggak peduli sama non Moza"monolog Siti
Dikantor Yano merasa cemas dengan kabar dari Siti barusan,tadinya dia menunggu meeting yang akan dimulai sejam lagi makanya dia istrirahat sejenak diruang kerjanya.
__ADS_1
Tapi pikirannya tidak bisa tenang setelah mendengar kondisi Moza.Sehingga dia memutuskan untuk pulang kerumah,dia juga merasakan rindu dengan istri kecilnya karena selama seminggu ini dia tidak pulang kerumah karena sibuk dikantor dan sibuk di markasnya.
Kemudian dia mengambil jasnya,dan melangkah keluar ruangannya,saat bersamaan dia berpapasan dengan asistennya Anton.
"Tuan mau kemana?"
"Saya mau pulang dulu Anton,saya minta kamu wakilin saya dulu untuk meeting sebentar!"pinta Yano dengan ekspresi cemas.
"Tapi ini meeting penting pak"
"Ada hal yang lebih penting dulu yang saya urus,saya percaya kamu kok"setelah mengatakan itu,Yano berlalu pergi meninggalkan asistennya yang penasaran dengan sikap bosnya yang tak biasanya,dan terlihat Yano sangat panik dan cemas.
Yano memutuskan untuk menyetir sendiri,sepanjang perjalanan pikirannya tertuju kepada Moza semua.
"Apa dia hamil,tapi kok secepat itu juga ya"pikir Yano sambil bergumam-gumam.Karena hal itu bukan hal yan awam baginya,jadi dia juga bisa menebak kearah situ.
Dia merogoh sakunya,dan mengeluarkan ponselnya.
"Tanda-tanda wanita hamil"Yano mengetik diponselnya untuk mencari di internet.
Setelah muncul dia tersenyum simpul,entah mengapa ada rasa bahagia dihatinya,setelah membaca kata kata yang tertera dilayar ponselnya,kalo tanda wanita hamil itu juga biasanya mual-mual dan muntah.
"Semoga dugaanku benar"harapnya tersenyum lebar sepanjang perjalanan.
Dia tak lupa juga menghubungi dokter untuk memeriksa Moza,awalnya dia ingin menghubungi Jaya selaku dokter pribadi keluarganya,tapi niatnya diurungkan mengingat perilaku Jaya dulu,dan dia ingin Moza juga diperiksa oleh dokter wanita.
Tak lama kemudian mobilnya sampai didepan gerbang,dengan sigap beberapa security membuka gerbang untuknya,karena sudah tak sabaran Yano berlari kedalam rumah dan menyuruh pengawal memarkir mobilnya,untungnya dokter nya juga sudah sampai.
Dan Yano dan seorang dokter wanita bersama-sama menuju kamar Moza,Siti ingin ikut tapi dilarang oleh Yano.
Cekleeek..
Yano membuka pelan pintunya,nampaklah istri kecilnya itu masih terlelap,karena tak ingin mengganggu tidurnya Yano menyuruh dokternya menunggu sampai Moza bangun.
Sedang Yano pun tetap berada dalam kamar Moza,dan duduk disamping wanita itu.
"Apa kabarmu sayang"Yano menatap gadis yang terlihat lebih cantik hari ini,apalagi saat tertidur,Yano mensisipkan rambut yang menghalangi wajah cantik itu,dan membelai lembut wajah gadis yang dirindukannya beberapa hari ini.
"Apa iya Yano junior,sudah ada disini"Yano beralih mengusap perut Moza yang masih rata dengan tersenyum.
Lama dia menatap gadis atau istri yang terus dia siksa,ada penyesalan yang mengguncang dadanya.
__ADS_1
"Aku minta maaf sayang,sudah membuatmu menderita,aku pastikan akan melindungi mu dan akan membongkar kedok Agusto"dia mengepalkan tangannya ,ada amarah yang tersimpan dalam hatinya,karena beberapa hari lalu ada informasi yang dia terima dari anak buahnya,yang begitu menohok didadanya.
Kebetulan Yano juga merasa lelah,karena kesibukan yang begitu menumpuk,dia memutuskan bergabung dengan Moza diatas ranjang,dengan perlahan dia memposisikan tubuhnya disamping Moza,dan memeluk tubuh mungil itu dengan kasih sayang,hingga dia pun ikut terlelap kedalam alam mimpi.