Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Berhasil


__ADS_3

Moza yang terkejut dengan gelagat aneh Yano merasa takut ketika dirinya diitarik paksa oleh Yano dan menghempaskannya keranjang.


"Mas kamu mau ngapain"Moza ingin bangun,merasa khawatir perilaku suaminya,membuat jantung Moza dag dig dug.


Sementara Yano yang sudah kehilangan kesadarannya,langsung menidih gadis itu dan menuntaskan hasratnya,walaupun berulang kali Moza berusaha untuk melepaskan diri,akan tetapi tenaga nya tak cukup menandingi Yano.


"Mas hentikan"rintih Moza tak kuasa menahan air matanya.


Tapi Yano seakan tuli mendengar suara gadis itu.


"Kamu brengsek Yano Dewantara"teriak Moza disela tangisnya


Dia sudah pasrah karena tak mampu melawan kuatnya Yano,kini dirinya sudah menjalankan kewajibannnumya sebagai seorang istri.Yano sepenuhnya sudah merenggut kehormatannya diusia nya yang terhitung muda.


Dilain sisi Jesika celingak-celingukan mencari Yano yang sedari tadi tak nampak batang hidungnya,seusai dirinya kembali dari toilet.


"Dimana perginya Yano"Jesika berusaha mencari sosok lelaki itu,diantara kerumunan tamu undangan yang sudah mabuk-mabukan.


Melihat penampilan dari Jesika beberapa para pejabat disana menggoda dirinya.


"Ayo cantik gabung bersama kami dulu"goda seorang pria yang cukup berumur,tapi Jesika menepisnya dengan kasar,tapi hal itu menantang mereka,untungnya Jesika bisa melawan.


"Jangan ganggu saya,atau saya akan laporin om Agusto"ancam Jesika mengeluarkan kartu As nya,membuat mereka takut dan minta maaf kepada Jesika.


"Heeh gitu aja udah takut"Jesika pun kembali mencari Yano,akan tetapi sialnya lagi dirinya menabrak seorang pelayan hingga bajunya basah kuyup,


"Auwww kalo jalan bisa nggak lihat-lihat hah"marah Jesika kepada pelayan itu sambil membersihkan bajunya,hingga menyita beberapa perhatian banyak orang disana.


"Jesika!"suara seorang lelaki menghampiri Jesika,


"Revan"Jesika balik menatap sosok lelaki tampan yang ada dihadapannya.Revan pun membantu Jesika keluar dari situ,dan membawanya disebuah ballroom.


"Kamu ngapain disini?"Revan membuka jasnya dan memakaikannya kepada Jesika.


"Aku.. datang menemani calon suamiku"bohong Jesika memalingkan mukanya.


"Calon suami?"raut wajah Revan terlihat masam,tapi dia juga penasaran dengan pertemuan dirinya dengan wanita yang pernah merajut kasih dengannya dulu,tapi dia meninggalkan Revan demi laki-laki lain.

__ADS_1


"Iya aku akan segera menikah"lagi lagi Jesika berbohong,dan berani menatap mata dari pria itu.


"Ooh baguslah kalo begitu,tapi mana ada lelaki yang meninggalkan calon istrinya sendirian disini"Yano berbisik ditelinga Jesika dengan pelan,kemudian memperbaiki jas yang dipakai Jesika guna menutupi lekukan tubuh wanita itu,setelah itu dia pun berlalu pergi meninggalkan Jesika yang terdiam disitu.


"Ternyata kamu sudah move on Van"Jesika menatap nanar punggung yang perlahan menghilang itu,tak ingin larut dalam nostalgianya Jesika pun memutuskan untuk memesan taksi untuk pulang.


Beberapa menit kemudian,Jesika sudah sampai dikediaman Yano,dia masuk dengan disambut oleh cahaya remang-remang karena sengaja dimatikan pada malam hati,


Jesika memilih mengganti pakaiannya dulu baru mengecek keberadaan Yano dikamar,karena tumpahan minuman tadi membuat tubuhnya terasa lengket.


Selepas mengganti pakaian Jesika keluar kamar dan ingin menaiki tangga,dengan kondisi penerangan yang agak kabur,tapi belum sampai dianak tangga kedua,mulutnya dibekap oleh seseorang dan ditutupi oleh sebuah kain.


"Ummpttttt"Jesika ingin berteriak tapi tangan seseorang membekapnya dengan kuat,hingga detik berikutnya dirinya tak sadarkan diri.


"Siti!"panggil seseorang didepan pintu kamar Siti.


"Kamu sudah siap?tanya lelaki yang memakai topeng dengan busana serba hitam,menggendong tubuh seseorang.


"Sudah tuan,ayo ikut saya"


"Cepatan Sit,ini bocah kok jadi berat sih"keluh lelaki itu melangkah ditengah kegelapan,mengikuti bayangan Siti.


"Ayo tuan lewat sini,nanti tuan bisa masuk kesebuah lorong"Siti mengantar lelaki yang sudah kewalahan menggendong seseorang.


"Ok Sit,tolong kamu ambil handphone disaku saya"kata lelaki itu tak sanggup menahan bobot orang yang berada dalam gendongannya.


"Baik tuan"dengan ragu Siti merogoh saku celananya.


"Aaahh akhirnya dapat juga"


"Aduh Jay,gila ini Siti bro bukan Selena Gemes"rutuknya dalam hati ketika Siti merogoh saku celananya.


"Telpon kontak yang bernama Revan!"Perintahnya dengan napas naik turun karena tangannya remuk menahan bobot wanita yang ada dalam gendongannya.


"Ini tuan"Siti menyodorkan ponselnya ketelinga lelaki itu setelah panggilannya terhubung.


"Hallo Jay,gimana berhasil nggak?"

__ADS_1


"Nggak usah banyak nanya sekarang lo cepetan ke lokasi yang gue kirim kemarin"


"Ok Jay gue bakal meluncur"


Tutt..tuut


"Sebaiknya tuan pergi,saya akan mengunci pintunya sebelum ada yang datang kesini"Siti cemas dengan celingak celinguk memantau keadaan sekitar.


"Ya udah Sit,terima kasi sudah membantu saya"setelah mengatakan itu lelaki itu pun pergi,kemudian dengan cepat Siti mengunci pintu itu,dan mengendap kembali kekamarnya.


"Hufft semoga saja nona Moza berhasil kembali keluarga nya"harap Siti dengan sendu,karena harus merelakan nona mudanya pergi.


"Tapi kenapa kok ada sesuatu yang keras dibalik saku dokter Jaya tadi"Siti mengingat sesuatu tadi ketika dirinya merogoh saku celana lelaki tadi yang ternyata dokter Jaya.Memikirkan hal itu membuat pipi Siti memanas.


Akhirnya dia memilih untuk tidur saja,sementara Jaya masih menyeret langkahnya disebuah lorong yang kecil,tak lama dia sampai dijalan raya tepat saat itu berhentilah sebuah mobil hitam,dan sang pemiliknya menurunkan kaca mobilnya.


"Cepetan Van bantuin gue"rintih Jaya tak sanggup untuk memasukan wanita yang ada dalam gendongannya.


Dengan sigap Revan segera membantu Jaya,karena sudah larut malam juga kondisi jalanan sepi sehingga tak ada yang melihat aksi mereka.


"Lo aja yang nyetir Jay,biar gue yang jaga Moza dibelakang"Revan membaringkan wanita yang disangka Moza itu dikursi belakang,dengan kain yang masih menutupi wajah wanita itu.


"Van gue nggak bisa nyetir,tangan gue udah remuk nih gendongin adek lo yang sangat berat itu"ucap Jaya memilih untuk duduk dikursi depan dan menyenderkan kepalanya,sambil merengangkan otot-ototnya.


Revan juga tak tega melihat Jaya yang sudah kelelahan karena sudah membantu dirinya,mau tak mau membiarkan Moza sendiri dikursi belakang,dan kemudian kembali untuk menyetir


Kemudian mobil itu membelah jalanan malam itu.


"Ahhhhh pegal semua deh badan gue"keluh Jaya meregangkan ototnya.


"Masa sih Jay,berat badan nya nggak seberapa,nggak usah lebay deh."Revan merasa heran denga Jaya yang mengeluh bobot badan Moza berat,padahal dulu Moza itu kurus dan dia juga sering menggedong Moza.


"Van lo nya aja yang nggak nyadar tadi,saat lo ngangkat dimasuk kemobil"Jaya menggelengkan kepalanya dengan ingatan Revan yang lemot,


"Lo bener juga Jay,memang betul sih tadi tuh gue kesusahan juga ngangkatnya"Revan baru nyadar pas dia mengambil alih menggendong Moza untuk masuk kemobil.


"Nggak usah bahas yang itu deh,mungkin dia makan banyak dirumah suaminya itu,yang penting dia sudah aman"Jaya memejamkan matanya,tak ingin larut dengan pembahasan berat badan Moza.

__ADS_1


"Tapi lo beneran,Moza udah nikah sama pria brengsek itu?"tanya Revan memastikan,karena dia masih tak percaya kalo Moza sudah menikah.


"Hemmm"jawab Jaya dengan singkat,karena sudah mengantuk,Revan hanya bisa menghela napas melihat Jaya yang sudah tak bernyawa alias tidur.


__ADS_2