
Malam harinya......
Revan yang terlalu sibuk dikantor,sampai lupa waktu untuk pulang,padahal waktu sudah menunjukkan pukul 19.20.Dia masoh berkutat didepan komputer kerjanya dengan kacamata andalannya,sementara diapartemen Jesika menunggu Revan yang belum pulang-pulqng.Biasanya pria itu pulang lebih awal bahkan sebelum jam 5,tak ada kabar sampai saat ini padahal dia sudah menyiapkan makan malam tinggal menunggu Revan untuk makan bersama.
Karena Jesika mulai bosan dan mengantuk dia tertidur dimeja makan.Dia tidur dengan pulas hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00,tapi Revan belum pulang juga. Jesika yang masih nyenyak terusik dengan ketukan pintu ,dia langsung terbangun karena Revan sudah pulanv dan membukakan pintu untuknya.Awalny Jesika bingung biasanya Revan membuka saja karena dia mengetahui kode pintunya,namun dia masih menyeret langkahnya menuju pintu.
Namun baru saja beberapa langkah,dering ponselnya menghentikan langkahnya dengan terpaksa Jesika mengambil ponselnya dan melihat nama Revan yang menelponnya.
"Hallo"
"Hallo Jes,jangan buka pintunya itu bukan aku,kamu jangan bukain pintu aku sedang dijalan"suara Revan terdengar panik,begitupun Jesika yang tadinya masih merasa ngantuk jadi tergantikan dengan rasa takut.
"Iya Van,aku nggak bukain"
"Okeyy kamu kekamar saja dan kunci pintunya,jangan matikan teleponnya"Jesika dengan segera lari kekamar dan menguncinya
"Iya Van,sebenarnya siapa yang berada diluar?"
"Kamu nggak usah pikir macam macam dulu,nanti kalo aku sampai aku bakalan cerita"
"Aku takut banget Van"lirih Jesika dengan memegang ujung sprei,dia tambah takut karena mendengar suara seperti orang berkelahi diluar.
"Okey kamu tenang,jangan panik aku sudah diparkiran"
Revan yang kebetulan sampai langsung terburu-buru masuk menuju keapartemennya,namun ada seorang pria yang berlari kearahnya dia bisa menebak kalo itu orang yang mengganggu Jesika.Lalu dia menghadangnya dan terjadilah pertengkaran satu lawan satu,namun Revan kalah kuat pria itu berhasil kabur dan Revan terkapar ditanah.
"Tuan baik-baik saja?"tanya anak buahnya yang hendak mengejar pria tadi
"Aku tidak apa-apa,untung aku tempatkan kalian tepat waktu".
"Iya bos kami sempat berhasil menangkapnya,namun dia mengeluarkan gas sehingga kami kehilangan dia"
"Tidak apa-apa,kalian terus berjaga-jaga disini periksa setiap orang yang keluar masuk"
Dengan langkah gontai,Revan naik keapartemenya dan membuka pintu,sebelumnya dia menelpon Jesika kalo dia sudah diapartemen supaya wanita itu tidak takut.
"Jes ini aku,buka pintunya"
"Van!"
"Iya ini aku,kamu nggak usah takut"
Kreeekk....
__ADS_1
Jesika keluar dengan wajah sembab,dia langsung memeluk Revan.Sejak tadi dia menahan ketakutannya,karena bukan hanya takut mendengar suara perkelahian yang tadi namun dia terbayang ada sosok yang datang menghampirinya lalu memukulnya dengan botol kaca.
Hiksss....hiksss...
"Aku takut banget Van"tubuhnya bergetar hebat,suaranya tercekik
"Kamu tenang dulu,aku sudah disini kok kamu nggak usah takut"Revan mengelus punggungnya dengan lembut,dia tahu wanita itu pasti terguncang tapi dia juga bingung kenapa Jesika sangat ketakutan dengan kejadian tadi.Padahal pria itu hanya mengetuk pintu.
Setelah Jesika tenang,barulah Revan memberinya air dan membaeanya kesofa untuk duduk.
"Jangan menangis lagi ya"dia mengusap sisa sisa air mata dipipi Jesika.
"Aku takut banget Van,tiba tiba aku membayangkan ada sosok aneh yang menghampiriku tadi dia memukulky dengan botol kaca"
"Sosok aneh?"
"Iya tapi itu hanya bayanganku,setelah tersadar aku merasa sesak dan sangat ketakutan"cerita Jesika dengan wajah takut,Revan kembali membawa nya dalam pelukan.Dia merasa Jesik mungkin memiliki masa lalu yang buruk,namun sejauh itu dia belum mengetahuinya.
Dilain sisi...
"Kalian siapkan rute terbaik untuk mengepung pergerakan mereka disini"
"Kami sudah selidiki beberapa tempat persembunyian mereka,setelah kami selidiki jumlah mereka tak sedikit bos anggota mereka sekitar 70 an"
"Kita harua lebih waspada,rupanya mereka tidak hanya mengincar satu orang saja"
"Yan!aku juga sudah mendapat identitas asli dari Oscar coba kamu periksa dokumennya"
Yano dengan serius membaca dokumen ditangannya,sementara anak buahnya yang lain berbincang-bincang.
"Dia bukan orang biasa Gal,rupanya dia memang mengincar kita"Yano tersenyum smirk,auranya terlihat berbeda dengan penampilan serba hitam dibawah lampu remang-remang dalam ruangan tertutup.
"Aku rasa juga begitu,aku sudah mengirim anggota sesuai yang kamu perintahkan"
"Baguslah kalo begitu,jangan sampai kita kecolongan sudah lama aku tidak mencium bau darah"
"Kamu memang masih seperti dulu Yan,aku mengira kamu lupa caranya memakai pisau"ucap Gala terkekeh sambil menatap sahabatnya itu.
"Sialan kau,memangnya kamu pikir keahlianku sudah hilang"
"Bisa saja apalagi sekarang kamu akan punya anak dua"
Yano terdiam sesaat meresapi ucapan sahabatnya itu.Dia baru terpikir dengan anaknya,sekarang dia bukan hanya sebagai seorang suami tapi dia juga sebagai ayah.
__ADS_1
"Apa aku ayah yang pantas?"tanyanya dengan sendu,Gala menyalakan rokoknya menyimak raut wajah sahabatnya sekaligus atasannya itu.
"Akhh kamu nggak usah pikir yang aneh aneh,kita bukan penjahat tapi kita berniat membantu orang saja,aku rasa kamu sudah menjadi seorang ayah yang hebat."puji Gala menepuk pundaknya.
Yano menghembuskan nafasnya dengan kasar,lalu menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam dalam.Kepulan asap menggambarkan kesuraman hatinya saat ini.
"Aku takut anak-anakku yang akan jadi target karena pekerjaanku"
"Aku takan diam bila mereka menyakiti anakmu,dimana Yano yang dulu dimana jiwamu yang dulu yang bahkan memakan 100 orang bila mengganggu orang yang kau sayangi"
"Kamu benar juga,tidak ada yang boleh mengusik Yano Dewantara apalagi anakku"aura Yano menjadi dingin dan seram.Tidak seperti aura kharismatik seorang CEO pada saat dia dikantor.
Dreeettt...drettt
Dering ponsel Yano memecah keheningan,nampak my wife lah yang menelpon.
"Halo"
"Sayang kamu dimana sih,jam segini belum pulang?"
"Aku masih ketemu klien sayang,ini baru selesai sebentar lagi aku pulang"
"Akhh kamu lupa ya aku tadi sore mau makan rujak mangga,tapi kamu bilang tunggu sebentar lagi pulang"
"Ooh itu aku lup..."
"Akhh malas banget dengar janji kamu mulu,kemarin disuruh beli bubur mamang yang didepan malah kamu pesan diresto,disuruh beli sate kamu malah bawa dengan tukang satenya,apa nggak sekalian kalo aku minta mangga kamu bawain pohonnya"ngoceng Moza dibalik telepon,membuat telinga Yano terasa panas.
"Sayang mau nggak aku beliin rujaknya sekrang,nanti aku bawain rujak yang segar"
"Nggak usah aku nggak nafsu"
"Sayang!aku minta maaf ya janji deh besok bawa kamu jalan jalan ketaman nanti kita makan es krim"bujuk Yano dengan lembut membuat Gala yang mendengarnya terkekeh geli.
"Nggak usah kamu mending nggak pulang saja,daripada buat janji janji palsu"wajah Yano langsung masem mendengar ancaman dari Moza.
"Bagaimana..."
Tuttt...tutt
Yano sudah kehabisan waktu membujuk Moza,buktinya sambungan teleponnya dimatikan sepihak.Tawa Gala langsung pecah dengan muka sedih Yano saat ini,dia malah puas Yano dimarahin oleh Moza dengan membabi buta.
"Brengsek,bisa bisanya kamu ketawa diatas penderitaan bosmu"Yano melempar kertas kearah Gala,namun tawanya semakin pecah.
__ADS_1
"Maaf bro aku ngakak banget soalnya"
"Awas nanti aku akan kasih lembur besok"ancam Yano berhasil membuat Gala terdiam.Dengan wajah masam Yano memutuskan untuk pulang,daripada Moza tambah mengamuk.Dia mampir dulu membeli es krim kesukaan Moza,karena hanya itulah senjata untuk membujuk istrinya yang sedang hamil muda,sehingga Yano ekstra sabar untuk menghadapi Moza yang sangat sensitif.