
Jesika kemudian mengendap-endap keluar mencari Revan,karena sekarang dirinya berada diapartemen milik mantan kekasihnya dulu.Ya Jesika adalah mantan dari Revan,apartemen ini menjadi tempat tinggal Jesika dulu saat menjalin hubungan dengan Revan,karena ada sedikit masalah dengan orangtuanya,akhirnya dia memilih kabur ke apartemen kekasihnya.
Akan tetapi setelah dua tahun keduan menjalin hubungan,tiba-tiba Jesika memutuskan pergi keluar negeri dengan lelaki lain,dan meninggalkan Revan.Hingga kini masih ada luka yang membekas dihati Revan,sekaligus rasa cinta kepada Jesika,walaupun hatinya sedikit terkikis oleh kehadiran seorang wanita.
Begitulah singkat cerita dari keduanya,dan kini Jesika kembali terbayang akan masa lalu itu.
"Mending gue cari Revan,siapa lagi yang bawa gue kesini kalo bukan gue"pikirnya karena semalam dia baru bertemu dengan pria itu.
Sampai diruang tengah Jesika disuguhkan dengan pemandangan yang sungguh menggelikan,dimana Revan dan Jaya yang habis mabuk-mabukan semalam tertidur disofa dan saling berpelukan.
Jesika mencoba menelisik rupa dua lelaki tersebut,dan matanya menangkap sosok yang dikenalinya.
"Revan...."teriak Jesika berhasil membuat kedua pria itu serempak bangun,dan baru menyadari keduanya saling berpelukan.
"Ngapain lo peluk-peluk gue hah"Revan mendorong Jaya hingga tersungkur kelantai,hingga dia meringis kesakitan
"Elo yang ngapain peluk peluk gue,orang gue tidur normal aja"kini Jaya yang balik mendorong Revan dengan kuat,hingga kepalanya terbentur kekaki sofa.
"Auwww ,sialan lo dokter gesrek"Revan bangkit dan meninjau Jaya,hingga tejadilah adu baku hantam antara Revan dan Jaya diatas ring lantai,karena keduanya saling pukul dengan terbaring dilantai.
"Stopp......"teriak Jesika yang sedari tadi hanya diam menyaksikan kekonyolan dua lelaki tersebut.
"Ehh Jesika"cengir Yano menengok Jesika,dia malu karena sudah bertingkah seperti anak kecil,dia menyembunyikan wajahnya didada Jaya,membuat Jaya kegelian dan mendorongnya kembali.
"Apaan sih lo,gue curiga deh lo kayaknya jeruk sama jeruk deh"Jaya bangkit dan menggelengkan kepalanya,melihat tingkah Revan yang tiba-tiba malu kucing.
"Ngak usah banyak protes"Revan malah menarik Jaya dan kembali bersembunyi dibelakang punggung Jaya,membuat Jesika semakin darah tinggi.
"Dasar laki-laki SGM"teriak Jesika merasa jengah melihat mereka.
"Hah SGM?"serempak Yano dan jaya menatap Jesika.
"Yaap sinting,gila,miring"ucap Jesika menatap dengan tajam kearah keduanya,dan menghempaskan tubuhnya disofa,sehingga Jaya dan Revan malah menjauh.
"Sekarang jelasin sekarang juga,kenapa kalian menculik saya hah?"Jesika melayangkan tatapan membunuh,
"Emm jawab lo Van"Jaya menyikut perut Revan yang masih setia berada dibelakang punggungnya.
"lo aja deh,kan ini semua kerjaan lo"balas Revan berbisik.
__ADS_1
"Tapi kan lo yang minta"
"Iya memang gue yang minta,tapi gue nggak minta lo nyulik dia"
Keduanya terus berbisik,tak melihat raut wajah Jesika yang sudah tak bersahabat.
"Mending gue kebelakang dulu deh"Jaya dengan seribu langkah berlari menuju toilet,karena kebelet.
"Waah serem banget mukanya tuh cewek"ngeri Jaya saat sudah sampai depan pintu toilet,dia sengaja beralasan kebelet karena takut ditatap tajam sama Jesika.
Sedangkan Revan yang tak punya persembunyian,menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan mengintip disela-sela jarinya apakah Jesika masih disitu atau tidak.
"Auwww,mati kau Van"gumamnya melihat Jesika yang terus menatap dirinya dengan tajam.
"Udah deh Van,nggak udah kayak anak kecil,mending lo jelasin setelah itu beres"Jesika memancing dengan suara ramahnya,karena dia ingin cepat kembali kerumah Yano.Perlahan Revan menurunkan tangannya dan menatap Jesika yang tengah menatapnya juga.
"Apa iya Jesika nggak bakalan marah sama gue"pikirnya dalam hati
Tap..tap
Muncullah Jaya sudah dengan pakaian lengkap dengan sepatunya,membuat Jesika dan Revan beralih menatapnya.
"Van gue pamitan dulu,ada jadwal operasi hari ini"terangnya seolah-olah sedang terburu-buru,dan meneruskan langkahnya,tapi dengan cepat Revan mencegatnya.
"Betulan Van ini ada telepon dari asisten gue"ujar Jaya berusaha meyakinkan Revan.
"Beneran?,gue nggak percaya hari minggu adalah hari libur anda dokter Jaya masa anda lupa."Revan tersenyum penuh kemenangan karena sudah tahu Jaya berbohong.
"Ahh lo hafal betul jadwal gue Van"pasrah Jaya karena sudah ketahuan,dan keduanya kembali bergabung bersama Jesika.
"Ok sekarang gue minta penjelasan dari kamu,dan kamu!"Jesika menunjuk keduanya satu persatu,membuat bulu kuduk Jaya bangun dari tidurnya.
"Mending gue hadapin mayat sekalian,daripada nih cewek"ungkap Jaya dalam hati saja.
"Ok gue akan ceritain sebenarnya"akhirnya Revan memilih menceritakan semuanya,dimana mereka salah menangkap atau tepatnya menculik orang yang dikira Moza,hingga berujunglah Jesikalah yang malah muncul dihadapan mereka bukan Moza.
"Wait,Moza itu siapa?"tanya Jesika karena dirinya memang tak mengenal nama itu.
"Istrinya Yano"jawab Revan dan Jaya bersamaan.
__ADS_1
"Apa?istri?"tanya Jesika mengulangi.
"Iya Moza itu istrinya Yano,dia itu diculik sama Yano terus tidak tahu bagaimana keduanya sampai menikah"jelas Jaya,memang sekedar itu saja yang dia ketahui.
"What ini nggak mungkin,apa Moza itu sih wanita kampungan itu"rancau Jesika tak terima Yano sudah menikah.
"Terus sih Moza itu adik kamu juga Van"tambahnya dan Revan mengangguk setuju.
"Kenapa kok kamu kayak nggak terima banget?"Revan yang bingung sendiri dengan Jesika yang nampak frustasi mendengar Yano sudah menikah.
"Ya jelas nggak terima,Yano itu hanya milik gue"geram Jesika menggebrak meja.
"Apa hebatnya pria brengsek itu,"sindir Revan untuk Yano.
"Ya jelaslah dia lebih hebat dari kamu"Jesika balas menampar Revan dengan kata-katanya,hingga Revan pun diam mematung.
"Aku memang nggak sehebat dia,tapi aku masih punya hati bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik"Revan kembali bersuara dan menekan setiap katanya,dia menyimpan amarah kepada Yano karena sudah menculik adik tirinya,sekaligus mempermainkan mantan kekasihnya Jesika.
Jaya yang sedari tadi diam melihat perubahan dengan raut wajah Revan.
"Kenapa masam banget sih muka lo Van?"pancing Jaya
"Nggak apa-apa"bohongnya.
"Lo masih cinta sama nih cewek"tebak Jaya langsung mendapat tonjokan pelan diperutnya dari Revan.
"Umm,sakitnya tuh disini"canda Jaya memegang dadanya.
"Lo nggak bisa bohong,gue tahu lo.pasti nggak bisa move on dari nih cewek"tunjuk Jaya kearah Jesika,yang sedang mondar-mandir nggak jelas karena menerima kenyataan bahwa Yano sudah menikah.
"Oyaah sekarang anterin gue ke rumah Yano,sekarang juga nggak pake protes!"perintah Jesika yang tidak bisa berpikir dengan jernih,dirinya terlalu syok mendengar Yano sudah menikah dan hal itu tanpa sepengetahuannya,dan sekarang dirinya tak memegang ponsel dan apapun,jadi dia memutuskan untuk segera kembali kerumah Yano.Dan tentunya meminta penjelasan dari pria itu.
"Tapi sayangnya Jes.._"
"Nggak ada tapi-tapian Van"potong Jesika bersiap membuka pintu.
Ceklek..ceklelek
Sudah dua kali Jesika berusah membuka pintunya,tapi tidak berhasil.
__ADS_1
"Pintunya lagi rusak Jes"teriak Revan tersenyum smirk.
"Revaaaannnn."teriak Jesika menggema,dan menendang pintunya dengan keras,hingga dirinya sendiri yang kena imbas sakit dikakinya.