
Hari berganti hari,dan jam berganti jam semenjak kejadian hari lalu,dimana Moza yang mengutarakan isi hatinya kepada Yano membuat lelaki itu sedikit menjauh dari istrinya itu.Moza pun turut bingung dengan sikap suaminya yang mendadak berubah,biasanya dia disuruh membawa makanan Yano kekamarnya,dan juga wajib menemaninya untuk makan.
Dan belakangan ini yang disuruh malah Siti,bahkan Yano pun jarang berada dirumah,dan lebih membuat Moza bingung suaminya seperti menghindar bila berpapasan dengannya,biasanya jika begitu pasti ada saja akal buluk Yano untuk menyiksanya.
"Bi kenapa belakangan ini mas Yano kayak ngehindar gitu dari saya ya?"Moza mengiris-ngiris sayuran didapur dengan Siti.
"Mungkin tuan muda mulai kasihan kali menyiksa nona terus"Siti menjawab dengan tersenyum agar Moza tidak berpikir berlebihan mengenai sikap Yano.
"Bagus deh kalo begitu juga"ucap Moza tapi seperti tak rela.
Disisi lain tepatnya dikediaman Revan,sudah ada Jaya juga disana ya g kini berada didalam ruang kerja milik Revan.
"Ok Van hari ini gue mau kerumahnya Yano,untuk melacak situasi disana,agar kita bisa masuk dengan mudah disana."Jaya memfokuskan pandangannya ke Revan.
"Ok Jay gue serahkan semuanya pada lo"Revan menepuk bahu Jaya,setelah itu Jaya pamit untuk pergi kerumahnya Yano.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu lama,sampailah dia disebuah mansion mewah,seorang security membukakan pintu gerbang untuknya,karena sudah mengenal Jaya.
Moza yang berada di teras sedang menyiram bunga,mengerutkan dahinya menatap orang asing yang tak pernah dilihatnya itu.
"Hey nona kenapa menatapku seperti itu hah"tegur Jaya kepada Moza yang melihatnya dengan begitu intens.
"Emmm anu tuan,cuman lihat aja"Moza berusaha untuk tidak gugup karena sudah ketangkap basah oleh Jaya.
"Tenang aja jangan takut sama saya,kenalin saya Jaya dokter pribadi tuan Yano"Jaya mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Moza.
"Moza dok,senang bertemu dengan anda"Moza menyambut uluran tangan Jaya dengan ragu.
Padahal ada seseorang yang mengepalkan tangannya erat,dan menyimpan amarah melihat interaksi dua orang tersebut.
"Kamu istriny Yano kan,ngapain Nyonya Yano Dewantara nyiram bunga segala hah"Jaya sengaja mengeraskan suaranya,karena sedari tadi dia menyadari kehadiran Yano yang menatap mereka dari kejauhan.
__ADS_1
"Emmm sebetulnya.. saya cuman."
"Nggak usah dijelasin,ayo kamu harus istirahat karena imun tubuh kamu lemah"dengan sengaja Jaya menggandeng tangan Moza guna membuat Yano cemburu,lalu masuk kedalam mansion,walaupun Moza sendiri mau melepas tapi Jaya mengeratkannya.
Amarah Yano semakin tak terbendung melihat aksi dari Jaya yang menggandeng tangan istrinya,dan Moza juga tidak menolak saat digandeng oleh lelaki lain yang bukan suaminya,Yano merasa harga dirinya sebagai seseroang lelaki dinjak.
"Dasar wanita munafik,murahan banget"umpat Yano menghina Moza dan masuk menyusul mereka.
"Kamu makan dulu,isi tenaga banyak-banyak bukannya malah bersihiin rumah"Jaya membawa Moza kemeja makan,dan mendudukannya disalah satu kursi,mendapat perlakuan seperti ini membuat hati Moza miris,membayangkan Yano yang berstastus sebagai suaminya tak pernah memperlakukanya seperti itu.
Jaya menyedok nasi dan lauk lalu menyodorkan nya ke Moza.
"Ini makan yang banyak!"Jaya menatap Moza yang enggan untuk makan.
"Nggak usah tuan,saya sudah kenyang"tolak Moza tak enak hati,dirinya juga takut kalo nanti Yano melihatnya,padahal sedari tadi Yano berdiri tak jauh dari belakang mereka menyaksikan bagaimana Jaya memperlakukan istrinya dengan manis.
"Nggak usah panggil tuan,panggil saja Jaya,atau mau kusuap aaaaa.."Jaya mengambil sesendok nasinya dan inging menyuapkannya kemulut Moza.
Bukannya sampai kemulut Moza,malah sendok nya melayang dan nasinya berhamburan kelantai,jika ditanya mengapa demikian penyebabnya adalah Yano.Dia sudah tidak tahan melihat perbuatan Jaya yang sudah diluar batas.
"Ma..s Ya..no"ucap Moza terbata menatap Yano yang berdiri disampingnya dengan kiblatan amarah,sementara Jaya tersenyum senyum karena berhasil memancing Yano.
"Sekali lagi lo nyentuh istri gue,tangan lo bakalan patah"ancam Yano dengan sorot tajam ke Jaya,sedangkan Jaya tak takut sama sekali dengan ancaman Yano.
"Santailah bro gue cuman kasihan sama dia,belum makan terus yang lebih parahnya lagi nyonya Yano Dewantara disuruh nyiram bunga"ucap Jaya terkekeh,tak ingin meladeni Jaya,Yano menarik tangan Moza dan menyeretnya untuk mengikutinya.
"Wooii ,istri lo belum makan bro"teriak Jaya dengan tertawa.
Yano yang diselimuti amarah menyeret Moza dengan kasar,sehingga Moza meringis kesakitan dipergelangan tangannya karena dicengkram kuat oleh Yano.
"Mas sakit"lirih Moza menaiki tangga menuju kamar Yano,tapi Yano tetap melangkah tak menghiraukan rintihan istrinya.
__ADS_1
Ceklek
Yano membuka pintunya lalu menutupnya kembali dengan kasar,tanpa melepaskan tanganya yang menggenggam tangan Moza.
Setelah itu Yano menghempaskan tubuh Moza ke tempat tidur king size nya.
"Mas aku bisa jelasin"Moza mencoba bangun,kerena dia takut melihat tatapan tajam dari Yano yang siap memangsa siapa saja.
"Nggak ada yang perlu diperjelas"ucap Yano dengan serak mendorong Moza kembali ketempat tidur,lalu mencengkram nya tangannya dengan kuat.
"Mas aku mohon jangan begini"lirih Moza dengan mata berkaca-kaca,sungguh dirinya takut Yano melakukan sesuatu yang tidak-tidak dengan dirinya.
"Kamu mau aku yang seperti apa hah!teriak Yano berpindah mencengkram dagu istrinya dengan kuat.
"Kamu sadar nggak aku seperti ini karena kamu murahan sekali,beraninya kamu mengiyakan lelaki lain menyentuh kamu hah"teriak Yano menggebu semakin memperkuat cengkramannya.
"Ma..s aku b..isa jelasin,i.tu nggak seperti yang kamu lihat"ucap Moza terbata-bata,dan sesak didadanya menghantam seketika mendengar hinaan dari suaminya yang mengatai dirinya murahan.
"Aku lihat dengan mataku sendiri,kamu mengiyakan digandeng tangannya oleh lelaki lain"Yano kembali berteriak dengan kerasnya dihadapan Moza.
"Aku suami kamu saja nggak pernah menyentuh kamu"tambahnya lagi,kali ini Moza tertawa sinis dengan penuturan suaminya.
"Iya aku memang murahan dimata kamu mas,apa kamu cemburu hah aku dekat dengan lelaki lain hah?"Moza berusaha menjawab dengan menatap Yano dengan tajam walau dagunya merasa sakit karena masih dalam cengkraman Yano.
"Kamu bilang nggak pernah nyentuh aku,aku tanya sama kamu apakah pernikahan ini atas dasar cinta?,apa kamu pernah menganggap aku sebagai seorang istri?,apa kamu pernah meminta agar aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri hah?"Kini giliran Moza yang berteriak,dia menahan amarah dalam hatinya serta kesedihan mengingat Yano yang tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri.
"Nggak pernah kan mas,itu nggak pernah kamu minta"tambah Moza dengan air mata bercucuran,membuat Yano terdiam dan merenggangkan tangannya dari dagu Moza yang sudah memerah.
"Heeem nyatanya kamu memang pengecut kamu mas"sindir Moza dan keluar dari kamar Yano dengan mata memerah,Yano pun tak menahan istrinya setelah Moza keluar dia melemparkan beberapa barang miliknya kesembarang arah.
"Arrrrghhhh..."teriaknya frustasi.
__ADS_1