
Sementara itu Yano yang selesai membersihkan diri,kini sudah berpakaian santai.Setelah puas melepaskan rindu bersama istrinya,dan juga putranya baby rein tadi,Yano memutuskan untuk mandi dan sekarang dia ingin mengecek Revan sama Jesika.
"Sayang kamu mau kemana?"tanya Moza melihat Yano membuka pintu.
"Aku mau melihat Revan dulu,nanti tuh anak buat gaduh lagi"
"Aku ikut"Moza yang super kepo pun gak mau ketinggalan info,karena dia belum dikasih tahu sama Yano,alangkah baiknya dia tanya juga kekakaknya Revan.
Sebelum pergi dia juga memanggil babysitternya Rein.
Sementara itu Revan sudah terlelap disamping Jesika,tak menyadari kedatangan Moza dan Yano yang kini membuka pintu.
Yano dan Moza masuk kekamar yang ditempati Jesika,alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan yang ada didepan mata.
"Sialan nih bocah,baru ditinggal bentar udah kelewatan lagi"geram Yano mendapati Revan yang tidur dengan pulas disamping Jesika,lebih parah lagi tangannya melingkar dipinggang wanita itu.
"Memangnya kenapa mas?"Moza menatap Yano yang nampak marah.
"Jelas mereka bukan suami istri Za"
Yano pun mendekati Revan dengan mengendap endap,lalu menarik tangannya dengan kuat hingga Revan langsung tersungkur kelantai dan meringis kesakitan.
"Awwww,siapa yang udah berani gangg..u"kesal Revan namun tak jadi melihat Yano yang menatapnya dengan tajam,ditambah ada Moza yang bercakar pinggang menatapnya tak kalah tajam.
"Ehhh ada kakak ipar,aku bisa jela.."
"Nggak butuh penjelasan,sekarang ikut aku keluar"Yano melengos pergi dengan wajah dingin,membuat nyali Revan semakin menciut.Sudah dua kali Yano mendapati nya berbuat kelewatan.
"Hmmm sekarang ikut aku keluar"Moza juga berlagak seperti Yano.
"Tamatlah riwayatku"rutuk Revan lalu berdiri berjalan keluar
Diruang tamu Yano dan Moza menatap tajam Revan yang duduk bersebrangan dengan mereka.
__ADS_1
"Aku beri waktu kamu selama satu minggu untuk intropeksi diri,sebagai hukuman kamu nggak boleh ketemu Jesika!."ancam Yano tak bisa diganggu gugat,membuat Revan langsung melongo.
"Nggak bisa Yan,mana bisa kamu melarang aku bertemu dengannya,aku janji nggak akan macam macam lagi"tolak Revan dengan setengah memohon,mana tahan dia tidak bertemu dengan wanitanya itu,setiap malam saja dia bahkan selalu terbayang akan sosok Jesika.
"Dua minggu!"sela Yano dengan cepat Revan menggeleng.
"Tiga hari Yan,aku nggak bakal muncul dirumah ini"
"Jangan percaya sayang,aku mencium bau bau tidak enak didalam pria ini"Moza malah memihak Yano untuk menghukum Revan,tadinya Revan berharap dia akan membela kakaknya.Namun tidak diduga Moza malah ikut ikutan menghukumnya.
"Aku juga nggak akan merubah keputusanku!"Yano berlagak tak peduli dengan wajah masam Revan.
"Yan aku mohon sama kamu,mending hukuman yang lain aja aku nggak bakal sanggup untuk tidak melihat Jesika"jujur Revan dengan wajah memelas.
"Hemm bagaimana ya sayang,aku rubah aja atau biar hukuman yang pertama"Yano menoleh keMoza untuk meminta pendapatnya dengan tampang manja.
"Emm aku sih terserah kamu aja sayang"balas Moza tak kalah manja,sambil mengelus pipi Yano memamerkan kemesraan mereka dihadapan Revan.
"Uhuk....uhuk"
"Kayaknya kamu lagi sakit Van,nanti Jesika juga bisa tertular kamu isolasi dirumah aja selama seminggu ya"kata Yano sembari tersenyum puas,karena berhasil membuat Revan kalah.
"Siapa yang sakit?"
"Kak Revan tadi batuk batuk,mungkin asmamu lagi kambuh"Moza beranjak mendekati Revan dan mengelus punggungnya sambil memaksa Revan untuk berdiri.
"Aku nggak sakit Za aku cuman bercanda,sejak kapan aku asma aku pria yang sehat luar dalam"teriak Revan memberontak saat diusir paksa oleh tuan rumah,lebih lebih dia tak berdaya karena pengawal Yano yang memegang dan memaksanya untuk pulang.
"Minggu depan aku tunggu kedatanganmu adik iparku"teriak Yano sebelum Revan benar benar pergi.
"Kejam banget kamu Yan sama adik iparmu yang malang ini"balas Revan setengah berteriak,dia harus menjalani hukuman yang diberika Yano.
"Sayang kita kejam banget sih sama Revan"pikir Moza setelah membuat Revan terusir san harus menerima hukumannya.
__ADS_1
"Kamu nggak usah khawatir,kita beri sedikit pelajaran untuknya.Papa Ardiansyah juga sudah tua,biar kita yang membimbing Revan saat ini"ucap Yano merangkul mesra Moza.
"Kamu benar mas,aku juga nggak kepikiran sampai kepapa.Aku jadi tambah sayang deh sama kamu mas,kamu sekarang lebih bijak"puji Moza menoel hidungnya Yano,dan dibalas ciuman singkat dari Yano.
"Emang dari dulu aku nggak bijak?"
"Bijak sih bijak,tapi lebih bijak sekarang"
Kedua suami istri itu saling berpelukan disofa sambil tertawa dengan obrolan kecil mereka.
Oeekk....oekkkkk
Suara baby Rein terdengar ditelinga keduanya,Moza segera bangkit dan langsung lari naik tangga menuju kamar mereka.Tak menghiraukan Yano yang merasa cemas,karena dia berlari begitu kencang.
"Istriku memang pelari yang hebat"puji Yano tersenyum simpul,dan ikut melangkah mengikuti Moza untuk beristirahat karena sudah larut malam.
Keesokan harinya.....
Seorang wanita cantik menggeliat dibalik selimut,pancaran sinar matahari pagi menembus kaca jendela dan memantul diwajah cantik Jesika.Dia baru sadar dari pengaruh obat bius kemarin,dia mencoba untuk bangun namun kepalanya masih terasa pusing.
"Awwww kepalaku pusing banget"keluhnya kembali berbaring.
Jesika berusaha mengumpulkan nyawanya,dan menatap sekelilingnya.Akan tetapi dia jadi bingung kamar ini bukan kamarnya.Nampaknya kamar ini tak asing baginya.
"Aku dimana?,nggak mungkin?,nggak mungkin aku dirumah Yano"pikirnya menatap seisi kamar itu,kamar tamu yang dulu dia tempati ketika berada dirumah Yano,tak ada yang berubah disama sehingga dia masih mengingatnya.
Dengan sekuat tenaga Jesika berusaha menahan kepalanya yang pusing,dia bangun dan beranjak dari tempat tidur.Dia menemukan jas dikursi,seseorang mungkin menemaninya tadi malam.Tapi Jesika tak berpikir pria itu adalah Yano.
Dia pun melangkah kepintu dengan perlahan,namun sialnya pintunya terkunci.Kondisi Jesika yang lemah membuatnya meluruh kelantai karena sakit dikepalanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi,apa yang Yano lakukan sehingga aku bisa disini?"Jesika hanya mampu bergumam saja dengan banyak nya pertanyaan dalam benaknya.Sungguh dia tak tahu apa yang terjadi diacara pernikahannya dengan Oscar hari itu.
"Rein!kamu dimana sekarang nak,mommy tidak tahu kenapa semuanya jadi begini"mata Jesika berkaca kaca,dia baru teringat dengan putranya yang entah dimana dia sekarang karena Jesika pun tak tahu.Terakhir kali dia bertemu dengan Rein,saat dia akan naik kepanggung untuk melangsungkan pernikahan dengan Oscar.
__ADS_1
Hari itu setelah Rein bertemu dengan Revan ditaman,Jenny membawanya bertemu dengan Jesika sebelum dia membawa pergi anak itu.Sesuai dengan keinginan Jesika supaya Rein tak melihat pernikahannya dengan Oscar,karena yang Rein tahu ayahnya cuman Revan bukan pria lain.