
Jesika mendekat kearah Revan dengan langkah pelan,sebenarnya dia juga merasa gugup melihat tatapan Revan yang tak berkedip sekalipun.
"Jantung ku pasti benar benar copot,come on Jes jangan gugup"
Langkah Jesika semakin dekat,kini tak ada jarak diantara keduanya,dibawah lampu yang agak remang remang dengan nuansa lilin romantis mereka saling beratatapan dengan pikiran masing-masing.
“Van”
"Jes”
Panggil keduanya bersamaan,suasana jadi canggung apalagi jantung keduannya berdetak tak ,menentu,baik Revan maupun Jesika reflek memeganmg dadanya.Keduanya tertawa dengan canggung karena tak tahu harus ngomong apa.
“Kamu aja yang duluan ngomongnya”usul Jesika
“Kamu saja yang duluan,aku harus ngalah”tolak Revan
“Enggak kok kamu duluan aja,ini nggak terlalu penting”bohong Jesika,namun Revan juga tetap kekeh kalo Jesika harus ngomong duluan.
Mereka terus berdebat hanya karena perkara siapa yang harus duluan berbicara,karena Jesika yang tengah memakai sepatu hak tinggi langsung oleng karena dari tadi kakinya terasa kram,langsung terjatuh kearah Revan.Keduanya jatuh bersama dilantai,dengan Jesika yang berada diatas tubuh Revan,dan yang lebih membuat mereka syok bibir keduanya saling bertaut.
Waktu seakan berhenti untuk keduanya,mereka terpaku ditempat tak ada yang bergerak malah jantung mereka berdetak lebbih cepat sehungga satu sama lain bisa mendengarnya.Cukup lama mereka berada dalam posisi itu dengan beradu tatapan entah tatapan cinta atau hal yang lain karena saat ini Revan dan Jesika saling menatap dengan perasaan masing-masing,akhirnya Jesika tersadar dan berinisiatif untuk berdiri.
Namun pinggangnya ditahan oleh tangan kekar yang tak lain dan tak bukan adalah tangan Revan,sejak tadi dia menahan sesuatu yang mengganggunya.Jesika yang terkejut dengan aksi Revan lebih dibuat lebih terkejut dengan Revan yang mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya dengan lembut.Awalnya dia merasa kaget,namun dia terbuai dengan ciuman lembut pria itu,keduanya saling membalas ciuman dengan lembut.Revan melepaskan tautan bibirnya sejenak,wajah Jesika menjadi kecewa karena ciuman panas mereka terhenti.
Namun hal tidak terduga dilakukan oleh Revan,dia bangkit berdiri dan menggendong Jesika kekamar,merebahkan wanita itu diranjang dan mnciumnya kembali.Keduanya terbakar gairah hingga makanan yang disiapkan oleh Jesika tadi belum tersentuh,mereka masih terbawa dengan ciuman panas mereka.
__ADS_1
Diruang tamu sejak tadi ponsel Revan terus berderign,namun kedua insan yang saat ini masih berada didalam kamar tidak mendengarnya.
“Sialan,dimana lagi tuh bocah”rutuk Yano yang sejak tadi menghubungi Revan namun tidak diangkat padahal ini sudah malam artinya pria itu sudah pulang dari kantor.
“Mas kamu nggak pusingin Revan,dia pasti bisa mnegurus masalahnya sendiri”Moza memeluk Yano dari belakang,sejak tadi dia melihat suaminya mondar mandir untuk menghubungi Revan.
“Tapi mana bisa aku...”
“Sttt aku nggak mau perhatian suamiku terbagi,aku cemburu karena Revan selalu dikhawatirkan sama kamu”Moza melepas pelukannya dan berjalan menuju ranjang dan tidur memunggungi Yano
“Bukan begitu sayang,aku bukan perhatian sama dia kamu kan tahu dia itu tinggal sama Jesika kalo dia ngapa-ngapaiin Jesika”jelas Yano naik keatas ranjang,memegangi punggung Moza karena dia tahu pasti istrinya bakal ngambek lagi.
“Oooh jadi kamu khawatir sama Jesika,pantas aja kamu cari alasan untuk memberi pelajaran ke Revan tapi nyatanya kamu memang mau tahu kondisi Jesika atau kamu memang suka sama dia”ucap Moza dengan emosi,entah mengapa dia tiba-tiba cemburu seperti ini.
“Sayang aku kamu jangan pikir macam-macam,,mana mungkin aku suka sama dia aku sudah punbya istri cantik seperti kamu”Yano melingkarkan tangannya kepinggang Moza berniat untuk memeluk untuk merayu istrinya yang tengah ngambek plus cemburu,namun Moza menepisnya dengan kasar.
“Sayang kamu kenapa sih,aku nggak seperti aku bertemu Revan untuk memintanya tinggal dirumah papa itu saja nggak lebih”
“Nggak usah bohong mas,malam ini aku tidur dikamar Rein”Moza semakin terisak matanya jadi memerah karena menangis,Yano jadi merasa bersalah dan langsung membawa kedalam pelukannya.Dia menepuk punggung Moza dengan lembut untuk menenangkan istri kecilnya yang masih terisak.
Setelah Moza cukup tenang,Yano melepas pelukannya dan menghapus sisa air mata Moza.
“Maafkan aku sayang,aku janji akan fokus sama kamu,baby boy,dan baby Rein”Yano menagkup pipi Moza dan mengecup bibirnya sekilas.
“Mas sih sibuk banget sama urusan orang,aku tadi cuma ngetes apa memang betul kamu suka sama Jesika,makanya aku pura pura nuduh kamu selingkuh”
__ADS_1
“Hah kamu bohongin aku hah?,tapi kok nangisnya beneran”Yano mendekatkan wajahnya ke Moza namu dia mendorong wajah Yano dan berlalu menuju keranjang.
Yano tersenyum tipis dan menghampiri Moza yang pura pura tidur.
"Hmm aku nggak percaya kalo kamu tadi hanya pura-pura,tapi kalo aku selingkuh lagi emang kamu bolehin"Yano pura pura memainkan anak rambut Moza yang terurai.
"Enak aja kamu selingkuh,kalo kamu selingkuh aku bakal bawa baby boy..eh"Moza langsing bangun padahal dia tadi pura pura tidur.
"Kenapa kamu bakal bawa kemana?"
"Tunggu mas tahu darimana kalo baby dalam perutku baby boy,kan kita belum tahu dia laki atau perempuan"
"Sayang kamu kan tahu aku itu punya insting yang kuat,jadi aku bisa tahu"bohong Yano dengan menahan tawa karena melihat ekspresi istrinya yang bingung,mungkin dia percaya omongan absurd Yano.
"Masa sih mas,aku kok nggak punya insting itu ya"pikir Moza dengan keras.
"Soalnya kamu kurang sayang sama aku,kurang perhatian,kurang memanjakan aku diatas ranj..."
"Sudah sudah mas ini lagi bohongin aku,palingan kamu cuma mau modus"pipi Moza jadi memerah dengan bahasan ranjang dari suaminya,padahal mereka sudah menikah dan akan menyambut anak kedua Moza masih malu malu kalo bahas tentang itu.
"Kamu malu hah,kok malu sih kita kan sudah menikah kan ,jadi nggak apa apa dong kalo kamu berikan pelayanan terbaik mu untuk suamimu diatas ran.."
Moza langsung menutup mulut suaminta itu,padahal dia kadang tidak malu mengenai hal itu.Namun sekarang dia sangat malu walau hanya menyebutnya.Yano jadi gemas dengan tingkah Moza yang sengaja menutup mukanya dengan kedua tangan.
Tanpa aba-aba,Yano melepaskan kedua tangan itu dan menyambar bibir ranum istrinya.Dia mengunci Moza dalam pelukannya.
__ADS_1
Moza pun tak berdaya kalo suaminya menginginkannya,karena sejujurnya dia pun cepat terbuai mungkin karena hormon kehamilannya.
Mereka berdua pun ikut menimkmati indahnya rembulan malam ini.