
Sementara itu Moza tersadar dari pingsannya,dia memegangi kepalanya yang terasa berat.Dia berusaha keras membuka matanya dan menatap sekelilingnya,pandangan pertamanya yaitu ruangan oversize yang terlihat megah tetapi asing baginya.
"Gue dimana?"tanyanya sembari mengingat kejadian yang dialaminya,saat mobilnya dihadang dan dia memarahi sopirnya tiba tiba dirinya dibekap dan setelah itu dia tidak mengingat apapun
"Apa gue diculik ya?"tebaknya sembari melihat lihat ruangan tersebut.Ditengah kebingungannya tiba tiba pintunya dibuka oleh seseorang,Moza langsung menoleh kepintu,dan muncullah seorang sosok lelaki tampan.Sontak Moza membelalakan matanya.
"Yano?,lo.. ngapain disini?"tanya Moza mengerutkan dahinya,Yano menatapnya dengan datar,tanpa mau menjawab pertanyaannya.
"Apa jangan-jangan lo yang udah nyulik dan bawa gue kesini hah"tuduh Moza dengan nada meninggi melihat Yano diam saja.
"Betul aku yang udah nyulik kamu nona Moza clarissa Gunawan"ucap Yano tertawa sinis.
"Ternyata ini Yano yang sesungguhnya,dan ralat ya Moza Clarisa Putri bukan Gunawan"kecam Moza menatap Yano dengan tajam,dia kecewa sekaligus marah dengan apa yang Yano lakukan.
"Hahaha Moza Gunawan,itu yang lebih cocok untuk kamu"Yano tertawa hingga menggema satu ruangan,hal itu membuat Moza mengerutkan dahinya dengan Yano yang tertawa lantang.
"Sekarang keluarin aku dari sini"pinta Moza mendobrak pintu yang sengaja dikunci oleh Yano hingga menyisakan mereka dikamar tersebut.
"Jangan pikir kamu bisa pergi dari sini,karena sebentar lagi kita akan menikah"ucap Yano mendekati Moza dan mengusap kepalanya,tapi langsung ditepis keras oleh Moza.Sungguh dia tidak mengenal Yano yang dulu.
"Apa? Menikah dengan kamu?,aku nggak mau nikah sama penjahat kayak kamu"tolak Moza mendorong dada bidang Yano,hal itu menyulut emosi Yano,tapi dia tak ingin gegabah menyakiti Moza tunggu sampai dia menikahinya.
"Kamu takan bisa menolak setelah melihat mereka"balas Yano mengambil sebuah remote dan menyalakan Tv,dan tampilah dilayar tersebut.Tampak Emilia dan Alberto diikat dan mulutnya dilakban.Moza terkejut melihat hal itu,wajahnya menjadi cemas dan sedih.
"Apa yang kamu lakukan sama orangtua aku hah?"Moza menatap tajam Yano yang tersenyum licik.
"Ya aku nggak ngapa-ngapain"jawab Yano enteng.
__ADS_1
"Jangan sakiti mereka,atau aku akan lapor kamu kepolisi"ancam Moza memegang kerah baju Yano tanpa takut,diiringi air mata yang berjatuhan dipipinya.
"Lapor aja kalo kamu bisa,lapor siapa kek asal kamu bisa"Yano membalas tatapan tajam Moza,walaupun jujur dalam hatinya melihat Moza menangis apalagi dengan posisi mereka yang dekat,ada perasaan aneh yang menjalar dihatinya.
"Dan ingat satu hal,jika kamu tak ingin mereka terluka maka kamu harus menikah denganku"tunjuk Yano kelayar Tv,dan menghempaskan tangan Moza dari kerahnya,hal itu dia lakukan agar tidak iba dengan Moza.
Moza menahan amarahnya dalam hati menerima perlakuan kasar Yano,sungguh dirinya pasrah dan tak tahu harus melakukan apa untuk menyelamatkan keduaorangtuanya.
"Mending kamu pikirkan baik-baik,jangan sampai kamu takan pernah menemui mereka lagi"kata Yano membuat Moza semakin dilema,sudah pasti dirinya takan bisa menggapai mimpinya menjadi dokter jika dia sudah menikah ,disisi lain orangtuanya yang menjadi taruhan jika dia tak menyetujui hal itu.
Yano yang melihat Moza terdiam sembari duduk dilantai sejujurnya tak tega,dia menepis jauh rasa dihatinya dengan kebenciannya.Lalu dia melempar sebuah map kewajahnya Moza,membuyarkan Moza dari lamunannya.
"Aww,apaan ini?"tanya Moza menatap Yano sinis.
"Tanda tangani dokumen itu malam ini juga,dan putuskan malam ini juga yang aku katakan tadi.Karena besok kita akan menikah."Jelas Yano berdiri dan berjalan kearah pintu tapi dengan cepat Moza menghalanginya.
"Kamu nggak salah dengar,jadi tentukan jawabannya malam ini juga"Yano keluar dan mengunci kembali dari luar.Moza memukul pintu tersebut.
"Yano bukain pintunya,lo nggak bisa maksain gue kayak gini,gue baru tamat SMA woyy"teriak Moza memukul pintu dengan keras,tapi tak digubris hanya menyisakan tangannya yang sakit.Moza meluruh kelantai meratapi nasibnya sekarang.
"Tapi kenapa Yano sampai nyulik gue dan orangtua gue sih?"pikir Moza disela tangisannya.
"Ap ini ada kaitannya dengan hal kemarin,waktu mama bersikeras buat gue pindah,karena rumah berbahaya"mengingat dirinya yang membantah kepada mamanya kemarin,semakin membuat tangis Moza pecah.Andai dirinya tak membantah,pasti hal ini takan terjadi.
Dia berkelana dengan pertanyaan dibenaknya,mengapa mereka diculik dan apa masalah Yano dengan mereka.Karena setahu dirinya Agusto atau ayahnya Yano adalah teman baik,tapi Yano malah berbuat kejam kepada keluarganya.Sudah beberapa jam Yano melamun memikirkan hal itu,hingga dirinya tersadar saat melihat map yang Yano beri tadi.
"Ini dokumen apa sih?"perlahan Moza membuka mapnya,dan tulisannya yaitu sebuah kontrak pernikahan.Moza membacanya dengan saksama.Berkali kali dia mengerutkan dahinya membaca goresan tinta hitam tersebut.
__ADS_1
"Apaan sih nih,dia mau jadiin gue istri apa pembantunya"kesal Moza melempar dokumen tersebut kekasurnya.
Moza menghempaskan tubuhnya kekasur,menatap langit langit kamar tersebut dengan sendu.
"Tak akan menyentuhmu,jangan ikut campur urusan satu sama lain,jangan coba coba kabur,dan bla blaa"ucap Moza komat kamit mengingat setiap syarat dalam dokumen yang Yano berikan.Tak sadar setetes air matanya membasahi pipinya,apa ini sudah takdirnya harus menikah di usia muda dengan pria yang dulu juga mencintainya dan meninggalkannya,dan kini datang menorehkan luka baru baginya dengan memaksa dirinya menikah dan menyandera orangtuanya.
"Kamu bajingan Yano"teriak Moza melemparkan bantal kesembarang arah,air matanya jatuh tak tertahankan.
"Hikss...hiksss...hikss,kamu jahat Yan,kamu iblis"umpat Moza tersedu-sedu,dari tadi dirinya tak berhenti menangis,hingga matanya bengkak.
Disaat Moza menangis meratapi nasibnya,pintu terbuka dan muncullah Yano dengan napan berisi mangkok makanan untuk Moza.
"Ini makan malam untuk kamu"kata Yano meletakkan napan diatas meja lalu melipat tangannya,dan bersandar didinding menatap gadis yang masih menutupi wajahnya dengan tangannya sambil terisak.
"Apa kamu sudah menandatangi dokumen tadi"tanya Yano pelan,tapi tak digubris oleh Moza yang masih terisak.
"Pastikan kamu putuskan sekarang juga,karena keduaorangtuamu takan pernah bertemu dengan mu lagi"ancam Yano sontak membuat Moza bangun dengan mata memerah dan bengkak.
"Apa sebenarnya salahku Yan,sampai kau berubah menjadi iblis seperti ini hah?"teriak Moza dengan suara serak,akibat menangis terus.
"Kamu tahu kenapa aku jadi begini hah"Yano langsung mencengkram dagu Moza dengan kuat,membuat sang empunya meringis.
"Kamu memang bermuka dua Yan,aku menyesal pernah mencintai iblis seperti kamu"teriak Moza emosi dengan air mata membasahi pipinya,karena harus menahan cengkraman didagunya.
"Kamu memang salah mencintai iblis seperti aku"Yano tertawa sinis tak sedikitpun iba dengan Moza yang kesakitan.
"Kamu tahu ada orang yang sepuluh kalu lebih iblis dari aku,kamu tahu itu siapa hah?"tanya Yano dengan emosi yang membara,dia menghempaskan dagu Moza dengan keras hingga Moza terpental ke kekasur.Yano melakukan itu karena dia tidak ingin sampai menyakiti Moza dulu,tunggu dirinya terikat pernikahan dengan gadis itu baru penderitaan Moza akan dimulai.
__ADS_1
"°Kamu brengsek Yano"umpat Moza memegangi dagunya yang memerah,sedang Yano memilih meredam emosinya terlebih dahulu.