
Dengan keras Yano terus berpikir kejadian apa yang sampai membuat Jesika amnesia.
"Aku ingat Jay"teriak Yano setelah mendapat petunjuk.
"Apa Yan cepat katakan!"Jaya sudah tidak sabar mendengarnya.
"Pas Jesika pingsan kemarin,dia sebelumnya sudah sadar dari pengaruh obat biusnya karena dia jatuhnya tepat didepan pintu kamar."ingat Yano yang merasa janggal dengan Jesika yang pingsan didepan pintu,dia yakin sebelumnya wanita itu sudah sadar dan masih belum sepenuhnya sadar akhirnya jatuh pingsab lagi.
"Kamu yakin Yan"tanya Jaya memastikan,dia masih ragu kalo penyebab Jesika amnesia hanya benturan kelantai saja,dia yakin pasti ada benturan yang lebih keras lagi.
"Gue yakin banget Jay,dia kemarin pingsan didepan pintu mungkin mau coba keluar tapi nggak kuat menahan tubuhnya"kekeh Yano merasa yakin.
"Tapi lo bilang tadi obat bius,siapa yang ngasih?"tanya Jaya dengan penuh intimidasi yang membuat Yano menelan salivanya dengan susah payah,dia harus menjelaskan lagi kepada Jaya rentetan peristiwa yang terjadi kepada Jesika.
"Jadi gini ceritanya....."lalu Yano pun mengatakan yang sejujurnya kepada Jaya tanpa terkecuali.
"Revan pun ikut terlibat?"
"Iya sebetulnya aku mengatur semua rencana itu hanya untuk Revan,bagaimanapun tuh bocah udah aku anggap adik sendiri"tutur Yano membuat Jaya kagum dengan sosok sahabatnya yang dia kenal dingin dan kejam,namun memiliki hati yang lembut.
"Aku salut sama kamu bro,ooh ya kalo begitu kita harus introgasi Revan"saran Jaya dan disetujui oleh Yano.
"Tapi Jay dia sedang dihukum nggak boleh kesini selama satu minggu"Yano baru teringat kalo Revan sedang menjalani hukumannya,dan hari ini baru satu hari dia menjalani hukumannya.
"Gini aja deh kita nyusul kekantor nya saja"Yano tersenyum mendapat ide cemerlang,sekalian memberi kejutaan kepada adik iparnya itu.
"Huh dihukum kenapa lagi tuh anak,banyak banget sih cerita kalian"Jaya merasa bingung kenapa Revan dihukum segala.
"Nanti gue ceritain,mending kita jalan aja"Yano berdiri dan menarik tangan Jaya.Namun dia baru teringat sesuatu.
"Kenapa lagi Yan?"Jaya menabrak punggung Yano karena berhenti didepannya
"Siti!"panggil Yano sedang Jaya ketar ketir kenapa Siti dipanggil,atau jangan jangan Yano tahu kalo dia menyukai Siti.
"Yan kenapa kamu panggil Siti?"
"Ada yang gue mau ngomongumin,lo diam aja disini"Yano menahan tangan Jaya yang ingin kabur keluar,dia malu sekali kalo Yano tahu.Mau taruh dimana muka seorang dokter muda itu kalo nyatanya menyukai seorang ART.
__ADS_1
"Iya ada apa tuan muda?"Siti datang lalu membungkuk,Jaya hanya terdiam saja.
"Kamu nemenim Moza dikamar,jangan biarkan dia ngerjain apa apa biar baby Rein dijaga sama Sumi aja,Moza istirahat saja jangan lupa buatkan dia bubur"pesan Yano lalu berlalu dari situ,lain halnya lagi dengan Jaya tak bergeming masih menatap kearah lain supaya tidak bertatapan dengan Siti yang malah membuat jantungnya tak aman.Sementara itu Siti sudah balik kedapur lagi,Jaya malah seperti orang gila yang tak tahu harus berbuat apa.
"Mana sih Jaya?"Yano tak melihat Jaya saat dia ingin masuk kemobil.
"Lagi ngapain lagi dia didalam"terpaksa Yano kembali kedalam rumah lagi.
"Jay lo ngapain disitu?"
Jaya menoleh keasal suara,nampak Yano dengan wajah kesal menatap aneh kearahnya.Dia melihat sekelilingnya tak ada orang lain.
"Kemana perginya Siti"gumamnya baru menyadari kebodohannya tadi.
"Enggak kok Yan aku cuman sedikit pusing"alibinya berjalan menyusul Yano.
"Kepala pusing ya duduk,bukan berdiri kayak patung"rutuk Yano setelah berada dalam mobil.
Dikantor...
"Tuan muda anda belum makan apa apa dari tadi,mau saya pesankan makanan"tawar Bagas yang sekarang menjadi asisten pribadinya,dia diutus oleh Ardiansyah untuk menjaga Revan dengan menjadi asistennya.Malah Revan tak menyahutnya,dia masih fokus berkutat didepan layar monitor laptopnya.
Bagas hanya menghela napasnya dengan kasar,karena tak mudah membujuk pria didepannya itu.Bagas sudah berulang kali membujuknya untuk makan,jangankan untuk menolak menjawab dengan sepatah katapun Revan tak mau.
Tak butuh waktu lama,Jaya dan Yano sudah berada di kantor Revan keduanya berjalan masuk dengan penuh kharisma.Yano dengan stelan jas kantornya dan Jaya dengan jas putihnya itu,mungkin orang berpikir ada yang sakit dikantor mereka sehingga ada dokter.Semua mata pun tertuju kepada mereka berdua,karena banyak pengawal yang mengekor dibelakang mereka.
Yano berjalan menuju receptionist dan sedikit berbincang,lalu mereka dipersilahkan untuk ikut keruangan Revan.
Bagas yang sedang berjaga didepan pintu ruangan Revan,melihat dari jauh kedatangan Yano dan Jaya.
"Kayaknya orang itu nggak asing"pikirnya
Semakin dekat Bagas semakin mengenali keduanya.
"Tuan Yano,Tuan Jaya!"Bagas memberi hormat kepada keduanya.
"Dimana Revan saya mau ketemu"Yano langsung to the point saja.
__ADS_1
"Maaf anda tidak bisa ketemu dengannya,karena hari ini dia tidak ingin diganggu dan tak menerima tamu"jawab Bagas sesuai dengan pesan Revan sebelum dirinya diusir keluar oleh Revan karena terlalu berisik,padahal hanya menawarkan makan untuk menjaga kesehatannya.
"Hmmm sok sibuk banget bos mu itu,bilang saja ini tentang Jesika"kata Yano mulai memancing,pasti Revan bakal mau kalo soal Jesika.Lalu Bagas pun masuk kedalam dan memberitahu Revan,dan benar saja Revan langsung mempersilahkan Yano dan Jaya untuk masuk.
"Waah besar juga ruanganmu"kagum Yano melihat seisi ruangan CEO muda itu.
"Ada apa dengan Jesika?,apa dia sedang mencari aku hah?,dia baik baik saja kan?"tanya Revan bertubi tubi dengan menyeret Yano yang baru saja masuk untuk duduk disofa,tanpa mempedulikan Jaya yang masi berdiri.Revan langsung meninggalkan pekerjaannya tadi.
"Nggak sopan banget kamu sama tamu,masa Jaya nggak disuruh duduk"Yano menepuk punggung adik iparnya itu.
"Nanti dia duduk sendiri kok"jawab Revan tak peduli,Jaya hanya memasang tampang kesal dan memilih duduk disebelah Yano.
"Sebenarnya kami kesini ingin memberitahu sesuatu tentang Jesika kepada kamu Van"nada bicara Yano mulai serius,Revan jadi merasa khawatir takut Jesika kenapa kenapa.
"Katakan Yan,apa yang terjadi sama Jesika?"tanya Revan tak sabaran
"Tapi sebelum itu aku mau tanya sesuatu sama kamu,saat Jesika dibius apa kalian terjatuh atau membentur sesuatu ditempat pesta waktu itu,soalnya kondisinya juga gelap?"tanya Yano harap harap cemas,dia juga tidak mengikuti Revan saat membius Jesika karena itu sudah menjadi tugas Revan,titik temu mereka adalah hotel tempat mereka menginap.
"Hmm kamu jangan marah ya Yan,aku memang terjatuh saat itu karena kesusahan dengan baju pengantinnya Jesika,jadi..."
"Jadi apa?"bukan hanya Yano yang penasaran,Bagas dan Jaya juga ikut bertanya membuat para pria itu saling bertatapan satu sama lain.
"Jadi aku ikut terjatuh,tapi sebelum itu.."lagi lagi Revan ragu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kenapa ada tapinya lagi"celah Bagas dengan kesal,bukannya Yano yang sangat penasaran malah dia yang paling kepo diantara mereka,membuat Revan ikut kesal dengan asisten nya itu.
"Gas keluar kamu,atau kuseret kamu kerumah"ancam Revan menatap Bagas dengan tajam,Bagas pun memilih untuk keluar dengan wajah kusut karena tak mendengar kelanjutan cerita atasannya itu.
"Sebelum itu apa yang terjadi Van"Yano pun juga sangat penasaran.
"Kepala Jesika terbentur dengan tembok,ditambah juga pas kami terjatuh kepala Jesika yang membentur kelantai sehingga aku nggak ikut terbentur dilantai,kalo tidak mungkin aku akan amnesia"jelas Revan sambil terkekeh membayangkan dirinya akan mengalami amnesia.
Jika Revan masih bisa terkekeh,tidak dengan Yano dan Jaya yang menatapnya denga tajam seperti ingin menerkamnya.
"Kenapa aku jadi merinding ya"Revan pura pura mengelus tengkuknya
"Dasar brengsek ternyata kamu yang sudah buat Jesika amnesia"Yano langsung meraih tongakat bisbol disebelahnya
__ADS_1