Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Untuk Yang Kedua Kalinya.


__ADS_3

Sepanjang perjalanan baik Revan maupun Jesika tak ada yang bersuara,Revan yang menyetir diam saja dengan perasaan khawatir dengan kondisi ayahnya.,sementara Jesika dibelakang lagi menghayal bisa berjumpa dengan Yano lagi.


Beberapa menit telah ditempuh,akhirnya mobil Revan tiba disebuah gerbang yang menjulang tinggi dengan dikelilingi tembok-tembok yang tinggi,seorang security membuak pagarnya dan masuklah mobil Revan.


Jesika yang tertidur molor dijok belakang,tak menyadari kalo mereka sudah sampai.


"Jes ayo turun"Panggil Revan tapi tak ada jawaban,sehingga dia menatap kebelakang dan mendapati Jesika yang tertidur pulas.


"Molor mulu kerjaanya"sindir Revan dan keluar dari mobilnya,menuju pintu belakang lalu membukanya.


"Jes bangun,kita sudah sampai"Revan menggoyangkan bahu Jesika dengan pelan,lalu wanita itu menggeliat.


"Heumm maaf aku ketiduran"Jesika menatap Revan dengan mengucek-ucek matanya.


"Wait,kita udah sampai artinya gue bisa ketemu Yano"seketika Jesika langsung sadar sepenuhnya,dengan wajah berseri seri dia buru-buru turun dari mobil,menyisakan Revan yang tersenyum kecut.


Tapi binar bahagia dimata Jesika langsung menghilang saat menatap mansion mewah didepannya,yang nyatanya bukan mansion Yano.Awalnya dia berdecak kagum memandang mansion besar nan megah yang menjulang tinggu,tapi dia baru teringat ini bukan mansion Yano.


Revan memilih berjalan mendahului Jesika yang mematung ditempatnya,dapat dia tebak apa yang ada dibenak Jesika,dia juga akan menerima semua amukan dari wanita itu karena ini adalah ulahnya sendiri.


"Revan tunggu!,ini bukan mansion Yano!"teriak Jesika menyusul Yano yang sudah masuk didalam mansion itu.


Revan segera berjalan menuju kamar ayahnya,karena tujuan dia pulang karena khawatir dengan kondisi ayahnya.Jaya yang baru saja memeriksa Ardiansyah berpapasan dengan Revan yang baru tiba.


"Bagaimana keadaannya Jay?"tanya Revan cemas.


"Kondisi beliau sangat memprihatinkan,sebaiknya kamu jengukin dulu"saran Jaya tapi Revan menggeleng pelan.


"Gue nggak bisa"tolak Revan


"Sampai kapan lo egois Van,dia butuh orang terdekatnya untuk berada disisinya,mungkin Tuan Agusto drop lagi karena kamu sudah menjauhinya"jelas Jaya hingga Revan terdiam.

__ADS_1


"Tapi gue nggak mau terlihat peduli,lagian sudag jelas tidak ada hubungan apa-apa diantara kami"


"Ingat Van,kamu tumbuh jadi sukses begini karena siapa,dan om Ardiansyah menyimpan rahasia itu agar lo nggak terluka."Jaya menepuk bahu Revan lalu pergi darisitu,meninggalkan Revan yang masih meresapi kata-katanya.


"Jaya benar juga"gumam Revan,dan dia memegang handle pintu kamar ayahnya dengan ragu.Mendorongnya pelan,dan nampaklah seorang lelaki tua yang terbaring lemah diranjangnya,dan terlihat dia menutup matanya mungkin sedang tidur.


Revan mendekat dan memandangi ayahnya yang tertidur dengan rasa campur aduk,antara sedih,cemas dan perasaan bersalah,karena meninggalkan ayanhnya dimasa yang sulit bagi beliau.


"Maafkan Revan yah"dia duduk disebelah ranjang ayahnya,menatap sendu wajah keriput yang nampak lelah itu.


"Revan salah sudah ninggalin ayah dalam kondisi sakit,aku janji bakalan bawa Moza pulang supaya ayah cepat sembuh"Revan meraih tangan Agusto dengan pelan dan menggenggamnya,tak terasa air matanya meluruh begitu saja membasahi tangan Ardiansyah.Tak ingin mengganggu ayahnya Revan memutuskan keluar agar Agusto dapat istirahat.


Sementara Jaya yang ingin melenggang keluar dari mansion Revan dicegat oleh Jesika,yang sedari tadi menunggu Revan yang tak tahu kemana,tadi dia memberontak memanggil nama Revan sehingga beberapa pengawal mengamankannya hampir saja dirinya diusir keluar kalo tidak ada Bagas yang datang mencegat pengawal tersebut.Akhirnya Jesika memilih diam dan duduk disofa ruang tengah milik Revan dengan perasaan kesal.


"Waah rupanya kamu disini pak dokter"Jesika tersenyum smirk menatap Jaya yang mengenakan jas dokternya.


"Emm Jesika sendiri ngapain kesini?"Jaya malah bertanya guna menghilangkan kegugupannya,karena takut dengan amukan Jesika.


"Emm saya permisi dulu,ada jadwal operasi hari ini"Jaya melengos pergi tapi Jesika menarik kerah bajunya dengan kuat.


"Eitss tidaj semudah itu Ferguso""Jesika menarik Jaya untuk duduk disofa bersamanya.


"Tapi hari ini saya ada jadwal operasi,bagaimana kalo pasien saya mati"mohon Jaya dengan keringat yang perlahan keluar didahinya.


"Anda pikir saya wanita yang gampang ditipu dokter oon"sindir Jesika karena mengetahui Jaya yang sedang membohonginya.


"Ngapain sih Revan bawa wanita depresi ini kesini"umpat Jaya


"Jangan berani ngumpatin saya"Jesika menaikkan lengan bajunya dengan gaya elegan,membuat nyali Jaya menciut.


Revan ingin turun menemui Jesika yang pastinya menunggu penjelasan darinya,tapi niatnya diurungkan ketika melihat raut wajah Jesika yang dingin sedang mengintograsi Jaya,sehingga Revan membiarkannya guna mengerjai sahabatnya juga.

__ADS_1


"Lebih baik gue tidur dulu,hitung-hitung tampung tenaga mendapat amukan dari Jesika"pikirnya berbalik badan menuju kamarnya,tapi sebelumnya dia menyuruh pelayan untuk mengantar Jesika kekamar tamu.


Perut rata Moza makin hari makin nampak membuncit,dan Yano semakin posesif menjaga Moza begitu pula Moza yang sangat bucin berada didekat suaminya itu,seperti saat ini Moza menahan Yano untuk tidak kekantor dengan air mata palsunya,hingga mau tak mau Yano menuruti kemauan istrinya itu.


"Yank!"panggil Moza dengan manja,masih dalam pelukan Yano.


"Hem"Yano menjawab dengan deheman saja,menatap istrinya dengan senyum manisnya.


"Aku boleh minta sesuatu nggak?"ucap Moza dengan ragu sambil mengelus dada bidang suaminya,membuat Yano panas dingin dan menagkap tangan mungil itu dengan lembut.


"Kamu mau apa hah?"tanya Yano dengan suara parau.


"Emm mau..."Moza menggantung ucapannya dan memainkan kedua jarinya memberi isyarat pada Yano,tapi Yano yang mengerti.


"Mau apa sayang?,coba katakan sekali lagi"ujar Yano mengelus pipi Moza yang semakin gembul.


"Ahh kamu kok nggak paham banget,babynya mau ditengokin masa gitu aja nggak ngerti"rajuk Moza dan melepas pelukannya dan tidur memunggungi Yano.Sedangkan Yano yang mengerti dengan ucapan istrinya langsung tersenyum.


"Sayang maafin mas ya,aku nggak mengerti tadi?"bujuk Yano memeluk Moza dari belakang.


"Auww kamu memang nggak peka jadi suami"rengek Moza dengan nada sedih,sejak hamil dia sangat sensitif sehingga Yano harus menabung kesabaran untuk menyikapi suaminya.


"Emang kamu udah siap yank,aku takut kamu kenapa-kenapa"Yano ingin memastikan agar Moza benar-benar siap untuk melakukan hubungan suami istri lagi,karena semenjak insiden yang menimpa keduanya mereka tak pernah melakukanya hingga sekarang.Selam ini Yano menahan hasratnya agar Moza bisa pulih dari trauma akibat perbuatannya.


"Kalo kamu mainnya kasar pasti aku taku,ya kalo lembut sih ya.."ceplos Moza disela tangisnya,mendapat jawaban dari istrinya Yano mengangkat tubuh Moza dan mengukungnya.


"Aku akan bermain lembut honey"ujar Yano dan menghapus jejak air mata Moza lalu mengecup bibir seksi nan mungil itu dengan lembut,hingga hati Moza tercair kembali dan terbuai dengan sentuhan Yano yang selama ini dia inginkan,ternyata hormon kehamilannya membuatnya nafsunya meningkat.


Keduanya terbuai dengan ciuman,lalu semakin lama semakin menuntun dan dua pasutri itu mengarungi surga dunia dengan percintaan yang baru mereka lakukan lagi.


"Pucuk dicinta ulang pun tiba"gumamnya

__ADS_1


__ADS_2