
Setelah mengatakan itu ponsel Yano tiba-tiba berdering,lalu dia sedikit menjauh dari Moza dan bercakap-cakap dengan seseroang lewat teleponny.Moza hanya menatapnya dari jauh sambil mengoles luka dibibirnya dengan obat yang dibeli Yano tadi.
"Auwww"ringis Moza menahan perih dibibirnya,sedang Yano terlihat serius sekali dengan pembicaraannya sehingga Moza tak mau ambil pusing dan melanjutkan mengobati lukanya.Dia ingin mengecek ponselnya namun tidak apa-apa disampingnya,dia baru sadar kalo tasnya masih tertinggal dalam kafe akibat perbuatan Geral yang menariknya dengan paksa,sehingga dia tidak sempat mengambil tasnya.
"Aduh pake ketinggalan didalm lagi"kesalnya menjitak kepalanya,dia melihat kearah Yano yang belum selesai menelpon,dia.memilih mengambil tasnya dulu sambil menunggu Yano selesai menelpon.Dia melanglah kedalam kafe dan menghampiri meja yang ditempatinya tadi,dia ingin melangkah namun terhenti mendengar seseroang menyebut nama Yano.
"Tuan Yano kenapa masih belum datang juga ya"keluh seorang pria dengan stelan jas serba hitam yang duduk disamping mejanya sambil melihat jam yang melingkar ditangannya.
"Betul sekali,ini sudah lewat sari janji kita,tapi jika kita tidak menunggu ketua akan marah besar.Ini menyangkut Black Tiger jadi kita harus menunggunya"saran sang pria disampingnya yang juga mengenakan stelan serba hitam,mendengar nama Yano dan Black Tiger Moza berbalik badan dan pura-pura duduk kembali sembari memainkan ponselnya.Dia ingin tahu sejauh mana mereka membahas,dan apa hubungannya mereka dengan Black Tiger dan Yano.
"Apa mungkin Yano menemui orang-orang ini,makanya dia kesini"gumam Moza menerka-nerka,karena pertemuan nya dengan Yano hari ini tanpa diduga,pasti Yano juga ada keperluan sehingga dia tiba-tiba ada disini.
Ditaman kafe,Yano sudah selesai menelpon dan berbalik namun tak mendapati sosok Moza.Dia mencari-cari disekitar namun nihil.Dia masih merasa cemas dengan keadaan Moza,tadinya dia berencana ingin mengantar Moza pulang setelah urussannya selesai.
Ting
Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya,lalu dia mengeceknya.Dia terlihat frustasi dengan Moza yang tiba-tiba menghilang,ditambah lagi dia melewatkan janjinya dengan seseroang.Dia terburu-buru memasuki kafe itu dan menyusuri tempat itu mencari seseorang,melihat Yano memasuki kafe dengan cepat Moza mengambil tempat sedikit jauh agar bisa menguping dan tidak ketahuan sama Moza.Dia penasaran hal apa yang yang Yano bakal bahas dengan kedua orang tersebut.
"Maaf sudah menunggu lama"kata Yano menduduki salah satu kursi.
__ADS_1
"Tidak apa-apa tuan,ini file dari ketua tuan.Secepatnya kita harus bergerak,masalah gadis yang kita cari masih belum ada petunjuk"kata salah satu pria itu menyodorkan sebuah flash kecil,dari jauh Moza menyaksikan hal itu tapi dia tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka bicarakan.Karena indra penglihatan Moza begitu tajam,dia membulatkan matanya ketika Yano menerima flash kecil itu dari pria disebelahnya,yang mana flash tersebut sama persis dengan flash yang dia curi dari ruang kerja ayahnya,dan saat ini masih ada ditangan Revan.
"OMG Za,nggak salah lagi pasti mereka juga sedang mencari tentang Black Tiger"praduga Moza,mengintip ketiga pria itu dengan intens.
"Apa kalian belum bisa menyelidiki identitas gadis yang kita cari"tanya Yano
"Sejauh ini tuan belum ada informasi,tapi ada sebuah foto yang bisa dijadikan petunjuk dalam flash kecil itu"
"Ok baiklah saya rasa itu saja yang perlu kita bahas"putus Yano memasukkan flash kecil itu kedalam kantongnya,akhirnya pertemuan mereka sudah selesai dan kedua pria tadi meninggalkan Yano sendiri,dari jauh Moza melihat Yano celingak-celingukan sedang mencari seseorang,hampir saja Yano pandangan Yank menangkapnya,,dengan segera dia menunduk dan mengendap-endap keluar dari kafe itu.
"Huuh syukurin deh Yank nggak nemuin gue"Moza menghela napasnya dengan lega.Dia berencana untuk pulang naik taksi,dia tak mau lagi bertemu Yano biarlah keromantisan ditaman tadi menjadi perpisahan manis sebagai kenangan indah untuknya.
Ekheem....
Moza melirik kebelakang dan mendapati Yano yang menatapnya dengan tajam.Ternyata Yano sudah mengikuti Moza sejak dia mengendap-endap seperti pencuri,keluar dari kafe dia juga mendengar semua keluhan Moza tadi.Hal itu membuat Moza merutuki kebodohannya sendiri karena sudah ceplas-ceplos.
"Kayaknya ada yang lagi diam-diam mau kabur nih"goda Yano menatap Moza dengan tajam,yabg ditatap malah mau ambil ancang-ancang berlari tapi dengan cepat Yano menahan kerak bajunya.
"Ayo saya antar kamu pulang,ini sudah larut kalo kamu kenapa-kenapa kayak kejadian tadi siapa lagi yang khawatir"Yano menarik kerak baju Moza menuju mobilnya.
__ADS_1
"Pak Yano lah yang khawatir,secara bapak ini polisi pasti khawatir dengan rakyatnya yang berada dalam bahaya"Moza balas menggoda Yano,dia belum tahu kalo Yano ini bukan polisi sungguhan melainkan hanya penyamaran saja.
"Mau disumpel pake ciuman tuh mulut ya?"ancam Yano mampu membuat Moza terdiam.Dia tidak mau mengulang masa lalunya ketika dirinya memberi ciuman pertamanya untuk Yano diatas roll coaste.
Yano melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang,hening tak ada pembicaraan antara keduanya mereka larut dalam pemikiran masing-masing.Jika Moza masih membayangka n ciuman pertamanya dengan Yano,tali tidak dengan Yano yang masih fokus sambil memikirkan gadis yang mereka cari,dia tak sabar ingin membuka flash tadi.Tapi sebelum itu dia ingin memastikan Moza aman sampai dirumah.
Akhirnya mereka tiba disebuah rumah mewah dan besar,lebih tepatnya rumah milik Moza.Kemudian Moza turun seraya mengucapka n terima kasih dengan Yano,belum sempat mengatakan sesuatu Yano sudah melajukan mobilnya.
"Ihhh dasar polisi rese,dari dulu sampe sekarang belum berubah-ubah.Masih nyebelin dan rese"umpat Moza berlalu memasuki rumahnya dengan perasaan dongkol.Kebetulan kedua orangtuanya masih menonton diruang tamu,dan melihat Moza yang pulang dengan bibir terluka,tadinya Moza pikir orangtuanya sudah tidur,jadi dia bebas dari introgasi akibat bibirnya yang terluka,tapi hal itu tidak sesuai harapannya.
"Sayang bibit kamu kenapa diperban gini hah?,siapa yang ngelakun ini sama kamu hah?"tanya Emilia bertubi-tubi dengan rasa cemas,bagaimana dia tidak cemas baru saja Moza sembuh,malah celaka lagi.
"Mulai besok papa akan carikan pengawal pribadi buat kamu"kata Alberto tak ingin dibantah.
"Papa bercanda kan"Moza memasang kupingnya dengan baik,berharap papanya sedang bercanda dengan omongannya,tapi Alberto tak merespon dia tidak mau ada hal yang lebih buruk menimpa Moza kedepannya,mengingat musuh sudah mulai bergerak.sedang kan Moza tak mau dikawal karena rasanya seperti dipenjara.Dia tidak bisa bebas kemana-mana,pasti selalu dikawal sehingga dia tak setuju dengan idenya.
"Za papa kamu itu benar loh,dia hanya ingin kamu aman saja"Emilia menyetujui apa yang dikatakan Alberto.
"Terserah papa sama mama aja"pasrah Moza berlalu naik ke kamarnya,Alberto dan Emilia sama-sama menghela napasnya dengan tingkah putri kesayangan mereka itu.
__ADS_1