
Setelah selesai bersiap,Revan dan Jesika menuju kebandara.
Terlebih dahulu,Revan berbicara dengan para pengawal untuk tidak membocorkan kepergiaannya dengan Jesika kepada ayahnya.
Tak lupa pula dia menugaskan anak buahnya untuk mencari Moza juga.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh,mereka sampai dibandara.Keduanya diantara oleh pengawal pribadi Revan.
"Van kamu nggak ngurus perusahaan kamu disini?"tanya Jesika yang merangkul lengan Revan.
"Ada sekertarisku yang bakal handle,aku juga mau nemuin kedua orangtuamu"jawab Revan menatap wanita cantik disebelahnya itu,yang memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya yang bengkak.
Saat keduanya masuk diruang tunggu,ponsel Revan berbunyi.Dia menatap nama nya kemudian dia berdiri agak menjauh dari Jesika.
"Hallo ada apa Jay"
"Kamu dimana sekarang?"
"Gue.. emmm gue lagi dikantor"bohong Revan
"Sekarang kamu kerumah sakit sekarang,penyakit jantung bokap kamu kambuh lagi."Jaya sangat panik dari seberang sana.
"Tapi Jay..."
"Nggak ada tapi-tapian,kami harus melakukan tindak operasi dan kamu anaknya.Gue butuh persetujuan dari kamu sekarang juga"
Belum sempat Revan menyela,sambungan diputuskan,kini dirinya dihadapkan dengan kebimbangan antara memilih ayahnya atau wanita yang masih setia duduk menunggu sambil menatapnya.Dia bingung apa yang harus dia lakukan,disatu sisi ayahnya sakit dan harus operasi,dan satu sisi wanita yang dicintainya harus pergi karena ayahnya meninggal dan dia tidak tega kalo Jesika sendirian yang nantinya membuat wanita itu terpukul atas kehilangan ayahnya.
Dengan langkah gontai,Revan mendekat ke Jesika dengan lemas.
"Siapa yang menelpon?"tanyanya
__ADS_1
"Jaya"jawab Revan singkat.
"Kamu baik-baik saja"Jesika menatap Revan yang terlihat tak bersemangat,dan terlihat menyimpan sesuatu.
"Sebenarnya aku mau minta maaf sama kamu Jes"Revan memegang tangan Jesika.
"Minta maaf karena apa sih"Jesika malah jadi bingung dengan sikap Revan yang tiba-tiba.
"Aku nggak jadi ikut kamu,karena ayahku sakit dan barusan Jaya menelpon kalo dia harus dioperasi"ucapnya dengan rasa bersalah.
"Ayah kamu sakit,kok aku baru tahu"Jesika memang tidak mengetahui bagaimana keluarga Revan,selama ini dia juga tidak banyak bertanya dengan Revan.Dia juga banyak mengurung diri dikamar ketika tinggal dirumah nya Revan.
"Iya selama ini dia dirumah sakit terus,kamu nggak apa-apa kan"sebenarnya Revan tak tega meninggalkan Jesika,namun dia juga tak bisa mengabaikan ayahnya.
"Aku baik baik saja,kamu nggak usah khawatir lagian ayah kamu lebih membutuhkan kamu sekarang"Jesika juga tak mau egois,dia juga berada diposisi yang sama Revan,sekuat mungkin dia terlihat tegar didepan pria itu.
"Kalo begitu aku pergi dulu Jes,kamu hati hati disana jangan lupa telpon aku kalo sudah sampai"Revan memeluk Jesika dan mencium pucuk kepalanya.Setelah salam perpisahan dia langsung memesan taksi,sementara itu Jesika menatap punggung pria itu yang mulai menghilang sambil meneteskan air mata.
"Semoga kita cepat bertemu"ucap nya sebelum naik pesawat.
"Aku janji Jes,bakalan nyusul kamu kalo ayah sudah dioperasi"janjinya dalam hati
Yano juga mendapat laporan dari anak buahnya kalo Ardiansyah akan dioperasi,dia hanya memberi tahu kepada mertuanya tapi tidak dengan Moza.
"Apa sebaiknya kita memberitahu yang sebenarnya kepada Moza"saran Emilia,mereka bertiga Albertoo,Yano,dan Emilia sedang berada diruang kerja Yano.
"Tapi ma,aku takut kalo Moza pasti terkejut dan berimbas kekandungannya,dan.."
"Kamu takut dibenci sama Moza karena sudah membohonginya?"cela Albertoo yang tahu ketakutan menantunya.
"Kamu tenang aja,kita bakalan pelan-pelan membuat Moza mengerti,ini memang sulit baginya maupun tuan Ardiansyah."Albertoo juga bingung harus melakukan apa,dia juga masih setuju dengan rencana awal mereka akan memberitahu Moza setelah dia melahirkan.
__ADS_1
"Apa itu tidak terlalu lama,secara tuan Ardiansyah sedang sakit."Emilia sebenarnya takut juga dibenci oleh Moza,namun dia lebih baik jujur daripada terlambat.
"Memang cepat atau lambat Moza akan mengetahui kalo ayah kandungnya tuan Ardiansyah"timpal Yano yang menatap keluar jendela.
"Benar,aku juga khawatir dengan kondisi tuan Ardiansyah yang harus dioperasi hari ini"tutur Albertoo dengan gelisah.
Sementara dibalik pintu,kuping sesorang mendengar semua pembicaraan tiga orang dalam ruangan itu.Dia menahan sesak didadanya karena mengetahui sesuatu yang tak pernah dia ketahui selama ini.Siapa lagi kalo bukan Moza,kebetulan dia sedang mencari Yano,karena dia baru bangun tidur dan tidak mendapati suaminya dikamar.Akhirnya dia memutuskan untuk keruang kerjanya,ketika hendak masuk dia melihat kedua orangtuanya ada didalam sana bersama suaminya.Dia bisa mengintip dari luar karena pintunya tidak tertutup rapat,Moza akhirnya mengurngkan niatnya untuk menemui suaminya.
Dia hendak balik kekamar,namun langkahnya terhenti saat didalam sana mereka membahas mengenai Ardiansyah.Moza yang penasaran menajamkan pendengarannya.Hingga pembicaraan mengenai Ardiansyah yang ternyata ayah kandungnya membuat Moza terkejut.
"Apa itu semua benar,atau aku salah dengar,",tuturnya membatin.
Agar tak ketahuan Moza bergegas pergi,namun baju tidurnya tersangkut dipaku didekat pintu.Membuat suara mungilnya keluar,hampir saja dia terjatuh kalo saja Yano tidak cepat mendengar dan langsung menangkapnya.
"Astaga kamu mau kemana sayang?"napas Yano naik turun menahan bobot tubuh bumil itu,dengan sekuat tenaga dia membantu Moza berdiri kembali dan memeluknya,sekaligus menutupi baju Moza yang sedikit robek.
Albertoo dan Emilia mengekor dari belakang,mereka pun ikut khawatir dengan Moza,sekaligus takut kalo Moza sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.
Moza hanya diam dengan detak jantung yang bertalu,dia merasa takut kalo terjadi apa apa dengan kandungannya.Dia tidak tahu bagaimana kalo Yano tidak cepat menangkapnya.
Yano pun membawa Moza kekamar,dia tak mau banyak bertanya dengan istrinya karena dia tahu Moza pasti takut dengan kejadian barusan,karena tangan istrinya itu masih bergetar.
"Kamu minum air dulu"Yano memapah Moza untuk duduk ditepi ranjang,dan menyodorkan segelas air untuknya.
"Apa Moza habis menangis?"tebak Yano dalam hati,mendapati mata istrinya yang bengkak dan berair seperti habis menangis.
Moza meneguk habis airnya,lalu dia merebahkan tubuhnya lagi tanpa mau menatap Yano yang sejak tadi berada.
"Sayang kamu kenapa kok cuekin aku?"Yano mengelus punggung yang membelakanginya itu,dia sungguh tak sanggup diabaikan oleh istrinya seperti ini.
Tak dapat respon dari Moza,Yano pun tak mau mengusik tidurnya.Dia sudah menebak kalo memang Moza mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
Disebuah bandara besar
Sedang ditempat lain,seorang wanita cantik dengan kacamata hitam,menyeret koper miliknya dan berjalan santai lalu memesan taksi.