
Semua pengunjung memandang kearah Yano yang mengalami sedikit insiden,termasuk Revan dan Moza.Merasa ditatap oleh semua orang, Yano dengan cepat menutup mukanya dengan buku menu yang ada diatas meja lalu berlalu dari tempat itu.
"Sial banget gue hari ini"rutuknya ketika sampai didepan parkiran.
Moza merasa tidak asing dengan laki-laki itu,dia berpikir keras kemudian dia merasa syok sendiri.
"Van lo tau nggak cowok yang lari tadi"tanya Moza
"Nggak tahu dan nggak mau tahu"jawab Revan enteng.
"Itu sih pengawal rese dirumah gue itu Van"
"Ooh cowok lo itu"
"Cowok cowok,ralat bukan cowok tapi kulkas enam pintu"kata Moza dengan kesal.
"Lagian kenapa coba lo pura-pura pacaran sama gue hah."
"Ok stop ngebahas itu dulu,sekarang yang penting lo bisa retas isi dalam flash itu"potong Moza
"Dari tadi kek ya udah gue mau cabut duluan,lo naik taksi aja"
"Masa aku ditinggal sih sayang"canda Moza membuat Revan menatapnya dengan jengah.
"Sayang ,sayang pantat lo"balas Revan meninggalkan Moza
"Ayang tungguin aku dong"teriak Moza hingga beberapa pasang mata menatap kearah mereka,jangan ditanya bagaimana rasa malunya Revan gara-gara teriakan Moza.
"Za lo ngapain sih teriak teriak bikin malu aja"kesal Revan berjalan terus tanpa mempedulikan Moza yang masih mengekor dibelakang.
"Ahh biasa aja lah Van,baperan banget sih lo"
Revan pasrah saja dengan tingkah Moza,kemudian dia mengantar Moza dulu.Sepanjang perjalanan keduannya hanya diam,mungkin sudah terlalu lelah untuk ribut.Tak butuh waktu lama mobilnya sudah sampai digerbang tinggi rumahnya Moza.
Yano sejak tadi melihat keduanya dari balkon kamar yang ditempatinya,kemudian dia cepat turun kebawah untuk mengomeli kedua sepasang kekasih tersebut.
Moza turun dari mobil dan melihat Yano bercakar pinggang didepan pintu,dengan sengaja dia memulai dramanya lagi.
"Emmm sayang masuk dulu yuk,kamu kan belum minum apa apa hari ini"kata Moza dengan suara manja.
"Enggak usah deh yang,aku buru buru nih"tolak Revan.
"Ya udah kamu hati hati ya,jangan ngebut!"ingat Moza melambaikan tangannya kearah Revan.
Sepeninggalan Revan Moza memasuki rumah namun dicegat sama Yano.
__ADS_1
"Hebat banget keluyuran sama laki laki hingga tengah malam begini"cecar Yano sehingga langkah Moza terhenti.
"Maksud bapak apa ya?"tanya Moza menatap Yano
"Heem sok polos lagi"
"Ooh bapak pikir saya itu wanita enggak baik-baik ya"
"Pikir aja sendiri"
Yano langsung meninggalkan Moza,namun Moza masih mengikutinya karena tak terima dengan kata-kata Yano.
"Bilang aja bapak cemburu saya jalan sama pacar saya,terus pake ngikutin aku secara diam diam lagi,pasti bapak udah mulai tertarik de sama saya"tuduh Moza menghalangi langkah Yano
"Hah ngapain cemburu sama si bocil prik itu,."Elak Yano yang tak sejalan dengan hatinya,entah mengapa melihat Moza dengan Revan bermesraan membuat hatinya memanas.
"Hari saya nggak kemana-mana,orang dirumah seharian kurang kerjaan banget lihat bocil pacaran"bohong Yano.
"Hah ngaku aja deh pak nggak usah memutar fakta deh,udah mulai suka kan sama aku?"
"Sorry kamu bukan tipe saya"
Yano mendorong Moza yang menghalangi langkahnya,untuk Moza mengimbangi tubuhnya sehingga dia tidak terjatuh.
...****************...
Sudah beberapa Yano tinggal dirumah Moza,karena orangtuanya Moza masih lama di Singapura karena masih ada pekerjaan lain yang harus mereka selesaikan.Sehingga untuk tugas Yano dikantor polisi dia harus berangkat dari rumahnya Moza.
Kebetulan hari ini Moza juga ingin bertemu Revan untuk mengetahui isi flash yang dia beri beberapa hari lalu.
Sementara disisi lain Revan masih mengotak atik komputernya untuk meretas password tersebut,karena beberapa hari ini dia belum sempat mencari tahu isi flash tersebut.Karena ada kesibukan yang harus dia kerjakan.
Dia masih fokus mencoba,akhirnya berhasil juga setelah dikerahkan segala kemampuan IT miliknya,sebenarnya ini bukan hal yang sulit buat Revan akan tetapi lawannya juga bukan orang sembarangan.
"Yes akhirnya berhasil juga."Revan mulai membuka isi filenya setelah berhasil meretas passwordnya.layar pertama menampilkan sebuah logo besar black tiger,membuat rasa penasarannya yang selama ini terkubur perlahan terbuka.
Kemudian beralih ke file selanjutnya,alangkah terkejutnya Revan ketika mendapati sebuah foto yang sangat dikenalinya.
"Papa,?siapakah mereka?"tanya Revan menatap foto seorang lelaki yang sangat dia kenali bergandengan tangan dengan seorang wanita yang sedang menggendong gadis kecil,ketiga nampak telihat serasi dan bahagia.
Ya pria dalam foto tersebut adalah ayahnya Revan yaitu Ardiansyah Gunawan
"Apa hubungan papa sama black tiger?,lalu apa hubungannya dengan wanita ini."Pikir Revan begitu banyak tanda tanya dalam benaknya.
"Atau jangan-jangan ayah berhianat dibelakang ibu?"tebak Revan mengetuk jarinya diatas meja,tapi untuk saat ini dia tidak bisa bertanya langsung dengan ayahnya.Karena sudah beberapa tahun ini kondisi kesehatan ayahnya tidak stabil,dan perawatannya bersifat tertutup itulah mengapa dirinya juga kadang sibuk mengurus perusahaan ayahnya.Walaupun dia masih dibangku SMA,dia dibimbing oleh orang kepercayaan ayahnya sehingga perusahaan ayahnya masih berkembang sampai saat ini.
__ADS_1
Moza yang tak kunjunv mendapat kabar dari Revan merasa tak karuan,apalagi Revan tidak bisa dihubungi membuat dirinya tambah frustasi .
"Bisa mati penasaran gue kalo gini nih"rancau Moza berguling diatas kasur.
Karena rasa penasarannya yang tak terbendung dia berencana mengunjungi Revan kerumahnya,mumpung Yano lagi kekantor hari ini jadi dia bebas keluar rumah.Kemudian Moza bersiap-siap dengan semangat 45 dia menyiapkan semua keperluan yang dia bawa,karena mulai hari ini dia akan menjadi detektif black tiger.
"Udah cocok nih gue jadi detektif mafia"tanya Moza didepan cermin menatap pantulan dirinya yang mengenakan pakaian serba hitam,karena dirinya telah menobatkan dirinya sendiri sebagai detektif.
Sesudah selesai bersiap dia menuju parkiran dan menyalakan mesinnya,dia bernyanyi ria dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu,dia tidak tahu alamatnya Revan karena sejujurnya selama ini dia tidak pernah mengunjungi rumahnya.
"Aduh Moza bodoh banget sih lo,mau kerumahnya Revan tapi alamatnya saja lo tidak tahu"monolognya memukul stir mobilnya dengan keras.
Moza menepikan mobilnya untuk memikirkan cara agar bisa menemukan alamatnya Revan,karena sampai saat ini Revan tidak bisa dihubungi.Moza tak kehabisan akal dia menghubungi teman dekat Revan satu-persatu namun hasilnya nihil tidak ada yang tahu dimana dia tinggal.
Moza merogoh sesuatu dalam tasnya,dan sebuah kertas kecil terjatuh lalu dia memungutnya.Ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba ternyata itu adalah kartu nama Revan,dengan nama perusahaanya yaitu Star group yang didapat saat awal mula Revan dekat sama Moza.
Tanpa menunggu lagi Moza melajukan mobilnya ke Star group.Tak butuh waktu lama dia sudah tiba di Star group,sebuah gedung mewah yang menjulang tinggi membuat Moza berdecak kagum.Dengan tidak sabaran dia menghampiri bagian receptionist agar bisa bertemu dengan Revan.
"Permisi Mbak mau bertemu siapa?"tanya sang receptionist.
"Mau ketemu sama Pak Revan Anggara mbak,sudah buat janji kok mbak"bohong Moza
"Tapi Pak Revan baru saja keluar mbak,kayaknya beliau sedang buru-buru."
"Waduh jangan-jangan mobil yang baru saja keluar"Moza berlari meninggalkan star group dan melajukan mobilnya mengikuti mobil yang ditumpangi Yano.
Moza dengan lihai menyalib mobil-mobil yang ada didepannya,sehingga dia sudah berada di belakang mobilnya Yano.
"Tuan kayaknya kita diikuti sama mobil dibelakang"tutur sang sopir menambah laju mobilnya,Revan menengok kebelakang dia terkejut mobil yang mengikutinya ternyata milik Moza.
"Pak pak berhenti pak"perintah Yano segera turun dari mobilnya,dan menghampiri Moza yang ikut berhenti juga.
"Za ngapain lo ngikutin gue sih?bahaya tahu ngebut-ngebut kayak tadi."Omel Revan merasa khawatir dengan aksi Moza.
"Lagian kenapa ponsel lo nggak aktif hah,gue udah seratus kali hubungin"kesal Moza sembari keluar dari mobil,kali ini Revan lebih terkejut dengan busana yang dikenakan Moza.
"Za lo mau ke sirkus pake pakaian ginian"
"Pakaian detektif gini lo bilang mau e sirkus hah?"
"Detektif?"
"Iya Revan Anggara mulai hari ini nama gue Detektif Moza"ucap Moza dengan bangga.
"Udah mulai gila lo"sindir Revan meninggalkan Moza dan hampir masuk kemobilnya,namun Moza lebih dulu menariknya untuk ikut kemobilnya,karena ada hal penting yang ingin dia bahas dengan Revan.Sang sopir yang melihat hal itu ingin sekali mencegat Moza,namun Revan memberinya kode untuk pulang.
__ADS_1