Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Mulai Berperang


__ADS_3

Dikediaman Revan,Jesika menggeliat pelan dari tidurnya.


"Ck ternyata masih disini juga"decaknya karena dia hanya bermimpi berada dirumah Yano,tapi nyatanya dia masih di rumah Revan.


"Gue harus kabur dari sini,tapi gue nggak punya apa-apa sekarang"Jesika menangkup wajahnya dengan sendu.


"Malang sekali nasibmu Jesika"


"Tapi keadaan papa sama mama gimana ya,apa Om Agusto bakal sakitin mereka karena gue udah gagal menjebak Yano."takut Jesika memikirkan nasib orangtuanya.


Tok...tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya,lalu dia bergegas membukanya muncullah wajah seseorang yang selalu membuatnya kesal.


"Ngapain kamu kesini?"tanya Jesika mentap tajam Revan yang ada didepan pintunya.


"Coba satu hari saja kamu bersikap baik dan lembut sama aku"Revan malah tersenyum kecil.


"Heem mana bisa aku bisa bersikap lembut,lihat wajahmu saja sudah membuat aku kesal"jengah Jesika ingin menutup pintu tapi ditahan oleh Revan.


"Please gue mau lurusin sesuatu dulu sama kamu"tahan Revan.


"Lurusin apa lagi hah,gue lelah udah dibodohin,dan perlu kamu tahu gara gara kamu aku sudah membuat kesalahan yang bisa membuat nyawa orangtuaku terancam."ucap Jesika dengan menggebu,air matanya sudah tak tertahankan,dengan kasar dia mendorong Revan lalu membanting pintunya dengan keras.


"Hikss,hikks"Jesika meluruh dilantai memeluk lututnya dan terisak,ada rasa lega meluapkan isi hatinya.


"Pasti ada sesuatu yang disembunyiin Jesika"curiga Revan menatap pintu itu dengan rasa tak karuan,antara rasa bersalah dan juga penasaran,bersalah karena membuat Jesika terjebak dirumahnya lagi sekaligus penasaran apa yang Jesika lakukan sehingga nyawa orangtuanya terancam.


"Apa ini ada hubungannya dengan pria brengsek itu?"gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya....


Yano sudah bersiap untuk kekantor,dia nampak terburu-buru,sedangkan Moza baru bangun karena menyadari suaminya sudah tidak ada disampingnya.


"Mas kamu kok pagi sekali kekantor?"ucap Moza dengan suara khas bangun tidur.


"Ada pertemuan penting yank,jadi harus on time"jawab Yano sambil membenarkan dasinya,Moza lalu beranjak dari ranjang lalu mendekati Yano.


"Biar aku yang pasangin"Moza mengambil alih dasinya,dan memasangkannya dengan lihai dan cepat.


"Ternyata kamu pandai juga sayang"puji Yano merangkul pinggang istrinya dan mengecup bibir itu sesaat.


"Mas aku kan belum sikat gigi"protes Moza mengusap bibir suaminya.

__ADS_1


"Kan bukan giginya yang kucium"balas Yano mengambil tas kerjanya,kemudian dia mendekati istrinya dan berjongkok didepan perut Moza.


"Daddy berangkat kerja dulu ya nak,jaga mommy mu dirumah"Yano mencium perut Moza lalu mencium pucuk kepala istrinya,dan pamit pergi kekantor.


"Iya daddy aku janji nggak nakal"Moza meniru suara seperti anak kecil,dengan nada yang terdengar imut ditelinga Moza.


Tak ingin lebih lama terbuai karena berada didekat istrinya,Yano dengan segera pamit kekantor,sejak tadi anton sudah setia menunggu atasannya itu.


"Bagaimana keadaan kantor Ton?tanya Yano setelah masuk kemobil.


"Kemarin waktu tuan tidak ada,ada pertemuan dengan perusahaan Star Group mengajukan kerjasama dengan kita untuk proyek pembangungan Villa"jelas Anton mengemudikan mobilnya.


"Star Group?,kayak nggak asing,kamu sudah selidiki latar belakangnya?"tanya Yano sambil memikirkan sesuatu.


"Sudah tuan,Star Group memiliki direktur yang bernama Revan Gunawan,dia merupakan pengusaha muda yang sudah lihai dalam dunia bisnis"Anton menjelaskan detail yang telah dia selidiki.


"Revan Gunawan,kamu cari tahu dulu latar belakangnya"putus Yano setelahnya,kemudian berkutat dengan laptopnya.


"Apa ada jadwal meeting sore?"tanyanya tanpa beralih dari laptopnya.


"Kalo sore tidak ada tuan,tapi Star Group ingin melakukan pertemuan langsung dengan anda,mereka mengundang anda makan malam di hotel xx sekitar jam 7 malam."Anton masih fokus dengan kemudi,sambil sesekali melirik atasannya yang nampak diam dikursi penumpang.


"Ok,saya minta kamu atur pertemuan saya dengan mereka,karena ada yang harus saya urus lebih dulu"


Dia mondar mandir nggak jelas,tak tahu harus berbuat apa,hingga pandangannya tertuju pada lemari pakaian mereka.Sejenak dia memandang nya lalu dia menggeser pintu lemarinya,nampaklah sebuah pintu kecil yang sempat Siti tunjukkan padanya waktu itu.


"Ini sebenarnya ruangan apa sih?"Moza yang penasaran langsung memutar gagang pintu itu tapi ndak bisa.


"Ya terkunci lagi"lirihnya


Moza pun mundur ingin berbalik langkah,namun pintu itu terbuka sendiri,hingga dia menoleh kembali dengan senyum sumriah.Tanpa basa basi dia pun masuk keruangan yang nampak gelap itu.


"Kok gelap banget si?"tubuh Moza jadi merinding ketakutan,dia mencoba cari kontak lampy disitu,setelah beberapa dia meraba raba dindingnya,akhirnya lampunya menyala terang.Namun Moza membulatkan matanya mendapati pemandangan yang ada dalam ruangan itu.


"Ini_"Moza tidak bisa berkata-kata karena merasa sangat syok,melihat jejeran senjata-senjata yang tertata rapi disetiap rak yang memenuhi ruangan itu.


"Apa maksud semua ini?,siapa sebenarnya mas Yano?hampir saja tubuh Moza merosot kelantai,sungguh mentalnya terpengaruh dengan suguhan senjata yang membuat nyali siapapun pasti menciut.


Tak ingin semakin memperparah kondisinya yanng sudah mulai pusing gara-gara terlalu syok.Moza berusaha untuk mempertegak tubuhnya dan menyeret langkahnya keluar dari ruangan itu,lalu menutupnya kembali.Dengan perasaan berkecamuk dan berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya.Mengenai apa yang sebenarnya disembunyikan oleh suaminya itu.


"Untuk apa senjata sebanyak itu?apa jangan-jangan mas Yano seorang mafia?"tebak Moza menerka-nerka setelah menetralkan rasa syoknya tadi.


"Tapi mana mungkin,orang selembut mas Yano seorang mafia,mungkin itu hanya koleksi saja"Moza berusaha berpikiran positif saja kepada suaminya.


Sementara ditempat lain,seorang lelaki tampan dengan tatapan dingin dan datar bak singa yang ingin menerkam mangsanya,berhadapan dengan beberapa pria yang berjas hitam yang berdiri tertunduk takut menghadapi pimpinan mereka siap menerkam mereka.

__ADS_1


"Apa kalian sudah bosan hidup"tanya Yano dengan suara lantangnya hingga menggema diruangan dengan nuansa gelap itu,menambah suasana mencengkam bagi semua orang disana.


Tak ada yang bersuara,hanya keheningan membuat Yano menyeriangai tipis.


"Kalo tidak ada yang bersuara,maka nikmatilah suara kalian dialam kubur"ancam Yano memainkan pistol yang ada ditangannya,seketika beberapa pria itu ketakutan dan melirik satu sama lain.


"Kira-kira mulai dari mana ya,dari kiri apa kanan?"perlahan Yano memainkan pistol ditangannya dari kiri ke kanan,sambil tersenyum devil yang semakin menampakkan ketampanan dan kegagahannya dicahaya remang-remang ruangan itu.


Pria-pria itu masih bungkam,menguji kesabaran Yano yang sudah diambang pintu.


Dorrrr


Suara tembakan terdengar,tapi tak ada yang tumbang karena Yano melesetkan sasarannya didinding.


"Sebenarnya kami berkhianat dari tuan Yano"salah satu pria yang merupakan anak buahnya buka suara,takut Yano bertindak hal yang lebih gila lagi dari sekedar melontarkan tembakan.


"Wahh pandai sekali kalian memainkan peran,dengan memasang topeng yang tak mencurigakan"tatapan tajam Yano layangkan kepada mereka,dengan rahang yang mengeras.Bagaimana dia tidak murka,karena anak buahnya berkhianat dengan bersekongkol dengan Agusto menculik ayah dan ibu mertuanya.


Padahal rencana awal yang sudah dia buat,untuk menyembunyikan orangtua Moza sudah sangat matang,dan tempatnya juga sangat aman.Pastinya Agusto takan mengetahuinya,dan sekarang semuanya sudah sia-sia dengan kecolongan sekaligus pengkhianatan dari para anak buahnya itu.


"Kalian tahu apa akibatnya kalo berkhianat?"Yano bangkit berdiri,mereganggkan otot-otonya yang sudah lama tak bermain.Lalu mendekat ke para pria itu.


"Ampun tuan,saya mohon jangan bunuh saya,istri saya lagi hamil,jika saya mati siapa lagi yang akan membiayai kehidupan anak kami nanti"mohon salah seorang anak buah Yano dengan bersujud dikaki Yano.


Mendengar hal itu Yano jadi teringat dengan istrinya yang tengah mengandung,hatinya merasa terenyuh bagaimana kalo dia berada diposisi itu.


"Tapi kesalahan tetaplah kesalahan"kekeh Yano dengan egonya,tiba-tiba dering ponselnya mengalihkan perhatiannya,dengan sigap salah seorang anak buahnya memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.


Ternyata itu panggilan dari istri tercintanya,dia menggulum senyum tipis yang tak disadari oleh orang disitu.Lalu dia menjauh untuk mengangkat panggilan itu.


"Hallo sayang,kamu udah kangen ya sama aku?"suara Yano menghangat saat panggilannya terhubung,berbeda sekali auranya didepan para anak buahnya yang sungguh menyeramkan.


"Mohon maaf pak ini Siti"bukan suara Moza yang terdengar,tapi malah suara Siti yang nampak panik,membuat Moza mengerutkan keningnya.


"Kemana Moza bi,kenapa bibi yang ngangkat teleponnya?"


"Anu tuan muda,non Moza___"suara Siti nampak ragu-ragu,bagaimana harus memberitahu tuannya.


"Ada apa dengan Moza bi,jangan bikin saya khawatir"suara Yano mulai meninggi.


"Emm non Moza diculik,dia tidak ada dikamarnya"ucap Siti dari seberang sana dan mampu membuat jantung Yano seakan berhenti berdetak.Dia merasa panik tapi tidak tahu harus berbuat apa,dia mengabaikan suara Siti yang ingin memastikan kondisinya baik-baik saja mendengar kabar itu.


"Tuan muda,apa anda masih disana?,tuan muda baik-baik saja kan"tanya Siti memastikan,tapi ponsel Yano sudah terjatuh dilantai,karena pria itu benar-benar terkejut dengan kabar penculikan istrinya.Dan hal ini yang sudah ditakutkannya selam ini,nyatanya mentalnya tidak siap kehilangan istrinya.


"Kita mulai berperang Agusto"Yano mengepalkan tangannya dengan erat,mengambil ponselnya dilantai dan berlari dengan aura dingin yang sangat menyeramkan.Hingga anak buahnya tak berani menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2