Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Memasak


__ADS_3

Pada malam harinya,Moza sudah agak merasa enakan kembali setelah dua kali pingsan,tentunya dibantu oleh Siti.Sedangkan Yano belum juga pulang,sehingga Moza dengan leluasa beristirahat,karena jika ada Yano sudah dipastikan dirinya pun tak akan diam ditempat.


Dilain sisi,dua orang pemuda tampan terlibat perbincangan serius disebuah kafe,dengan suasana langit malam yang begitu gelap,segelap tatapan tajam keduanya saat ini.Mereka adalah Yano dan Dokter Jaya,ternyata seusai pulang dari rumah Yano untuk memeriksa Moza.Jaya langsung menghubungi Yano untuk bertemu pada malam ini,guna membahas hal yang disembunyikan oleh sahabatnya itu.


Dan disinilah tatapan tajam dari Jaya dilayangkan kepada Yano,begitupun sebaliknya.


"Ngapain lo ajak gue ketemuan?"tanya Yano datar,karena dia kesal gara-gara Jaya yang terus memaksanya bertemu,dia melewatkan pertemuan dengan anak buahnya dimarkas.


"Kapan lo menikah?"balas Jaya tak kalah tajam,mendengar pertanyaan Jaya,Yano terdiam tapi tak terkejut.Ada sesuatu yang dia lewatkan,mengapa Jaya sampai tahu kalo dia sudah menikah.


"Nggak usah lo kebingungan gue tahu darimana"titah Jaya tersenyum sinis.


"Udah beberapa hari yang lalu,dan ini juga pernikahan yang resmi kok,gue nggak cinta sama dia"jawab Yano enteng tanpa beban,dengan menganggap pernikahannya tak resmi,membuat Jaya kebingungan sekaligus menatap nyalang kearah Yano.


"Maksud lo,ini cuman pernikahan kontrak gitu?"tanya Jaya tak percaya dengan jalan pikiran sahabatnya,sedang Yano menganggukan kepalanya membenarkan apa yang Jaya katakan.


"Kalo cuman mau nanya gitu doang,mending gue pulang,buang-buang waktu gue aja"ucap Yano berdiri dari duduknya,tapi dengan cepat Jaya menghalanginya.


"Dia masih polos dan muda Yan,gue kenal lo dari dulu.Bukan benci yang ada dimatamu tapi cinta,cuman ego lo yang terlalu besar sehingga menutupi rasa itu"ingat Jaya kepada Yano,karena dirinya adalah ahli psikolog sekaligus dokter pribadi Yano,dia bisa membaca ekspresi dari Yano lewat matanya,saat dirinya membohongi dirinya bahwa dia tak mencintai Moza.


"Dan ingat satu hal,jika lo tak mencintai dia,mending gue yang mencintainya karena mungkin hari ini gue udah jatuh hati sama dia"ancam Jaya meninggalkan Yano yang mematung,tanpa sadar tangannya terkepal,hatinya memanas mendengar kalimat terakhir dari sahabatnya.


"Gue nggak akan melepaskan gadis itu,sampai kapanpun"janji Yano dalam hati.


Akhirnya dia memilih untuk pulang,dirinya sudah melewatkan hari ini untuk menyiksa istrinya.


Tak lama kemudian dia sudah sampai dikediamannya,sudah tengah malam orang rumah sudaj tidur termasuk dengan Moza.

__ADS_1


Yano kemudian masuk kedalam rumah,bukannya pergi kekamarnya malah nyelonong masuk kekamar Moza dengan kunci serep yang dia bawa kemana-mana.


Cekleek.


Yano membuka pintunya dan mendapati istri kecilnya tidur nyenyak,dia menatap wajah Moza dari amabang pintu,kemudian mendekat dan mengguncang tubuh itu dengan keras hampir saja Moza terjatuh untung saja dia cepat menahan keseimbangannya.


"Kerjaan kamu hanya tidur doang apa?"tanya Yano kepada Moza yang masih dengan wajah bantalnya.


"Maaf mas aku hanya ketiduran tadi",jawab Moza asal.


"Ketiduran sampai nggak nyadar suami pulang"kesal Yano seolah sedang ngambek dengan Moza,sedang Moza tersenyum simpul mendengar Yano mengakui dirinya sebagai suaminya,walaupun hal itu diucapkan secara sadar ataupun tidak oleh Yano,tapi bagi Moza itu sangat membahagiakan baginya.


"Ngapain senyam-senyum hah"tanya Yano menatap Moza tersenyum sendiri.


"Enggak apa apa kok mas"elak Moza


"Maksudnya kekamar mas Yano?"tanya Moza memastikan.


"Iya lah,masa kekamar kamu,lagian jangan pikir yang macam-macam"kata Yano berlalu menghilang dibalik pintu,sedang pipi Moza sudah memerah karena malu sudah pikir kehal hal yang lain.


Tak mau kena marah dari Yano,dengan langkah pincang karena kakinya masih sakit,Moza mengikuti langkah Yano yang sudah mendahuinya dari tadi,kebetulan jarak kamar keduanya hanya dibatasi oleh satu ruangan saja.Memudahkan Moza mencari kamar Yano.Sesampainya didepan pintu kamar Yano,Moza ragu untuk mengetuk pintu,dengan terpaksa dia membuka pintu nya saja,dia menelusuri pandangannya melihat kamar over size dengan ornamen serba hitam.Tatapan matanya menerawang seluruh ruangan itu,hingga matanya terbelalak dengan pemandangan didepannya.


"Aaauuww"teriak Moz mendapati Yano yang tak menggunakan baju memperlihatkan roti sobeknya,membuat Moza menutupi matanya.


"Lagian ngapain kamu nggak ngetuk pintu hah"marah Yano


"Saya nggak tahu mas lagi nggak pake baju"lirih Moza enggan membuka matanya.

__ADS_1


"Sekarang siapkan air hangat untuk saya!"perintah Yano melempar handuk kecil kearah Moza agar dia tersadar dan mau membuka matanya.


"Auuh mas ngagetin aja"rutuk Moza menatap Yano yang sudah mengenakan baju,kemudian dia berlalu menyiapkan air hangat untuk Yano.Setelah itu dia disuruh mengambil air minum untuk Yano.


Beberapa menit Yano sudah selesai mandi dan Moza masih setia berada dikamarnya,dia sudah membawakan minum untuk Yano.


"Ambilkan saya roti juga"perintah Yano kepada Moza.


Setelah Moza membawakan roti,Yano malah minta dibawakan makanan,kemudian dia menyuruh Moza mengganti makanannya dengan masakan baru yang dibuat oleh tangan Moza.Sedang Moza yang dipermainkan oleh Yano seperti itu,hanya bisa menghela napasanha berusaha untuk sabar.


Dengan kondisi kakinya yang masih pincang,dia disiksa oleh Yano naik turun tangga untuk memenuhi apa yang Yano perintahkan.Dan parahnha sekarang dia harus memasak,suatu hal yang tak pernah Moza kerjakan selama hidupnya.


"Masa gue disuruh masak sih,secara gue nggak tahu menahu tentang dapur."Keluh Moza menatap sekelilng dapur.


Dia ingin meminta bantuan Siti,tapi dia tidak enak untuk mengganggu pembantunya,apalagi sudah larut malam,dia ingin melihat tutorial di internet,dia juga tidak punya hp,karena sejak pertama dirinya diculik,dirinya sudah tak membawa apapun.


"Apa gue buat telur ceplok aja ya"pikir Moza sambil mengingat cara yang diajarkan oleh mama Emilia dulu,karena telur ceplok juga adalah kesukaan Moza.Tanpa berpikir lagi dia menuju kulkas dan mengambil dua butir telur.


Kemudian Moza ingin menyalakan kompor,tapi dia juga tidak bisa.


"Aduh Za,lo kan nggak bisa nyalain kompor juga"ucapnya menjitak kepalanya,karena tak punya pilihan Moza memutar tombol pada kompor secara asal-asalan,alhasil apinya mengembang keluar untung saja dirinya cepat menghindar kalo tidak mungkin wajah Moza sudah terkena semburan api tersebut.


"Huftt lo masih hidup Za,,kalo tidak tinggal nama saja"Moza mengelus dadanya mentralkan kembali keterkejutannya akibat semburan api itu,dia mengecilkan api itu secara perlahan,dan mulai menggoreng telurnya.Lagi lagi dirinya harus menahan percikan minyak,Moza berulang kali berlarian sana sini,guna menghindari percikan minyak tersebut.


Beberapa menit kemudian Moza sudah siap dengan masakannya,walaupun hasilnya kurang memuaskan karena telurnya agak gosong,senggahnya Moza bisa memasak sesuatu.


"Akhirnya selesai juga,semoga mas Yano suka"harap Moza dengan tersenyum,melangkahkan kakinya yang masih pincanh menuju kamar Yano.

__ADS_1


__ADS_2