
Keesokan harinya,Moza masih nyaman dibawah selimutnya.Sinar mentari pagi menebus tirai kamar,namun tak membangunkan si gadis yang terlelap dalam tidurnya.Siapa lagi kalau bukan Moza.
Dreeet..Dreet
Ponsel Moza berdering,hingga membangunkannya,dia mengumpulakan nyawanya dan meraih benda pipih disebelahnya
"Hallo,ngapain sih Manda,pagi-pagi ganggu"
"Sok merasa terganggu banget loh Za,kaya pengantin baru aja"sindir Manda
"Kalo cuman mau nyidir gue,mending gue matiin"
"Yaelaa,gitu aja sewot,gue mau ajak lo jalan mumpung akhir pekan nih"
"Boleh juga,kabarin gue kalo elu jalan"jawab Moza sembari menutup sambungan teleponnya.
Beberapa jam kemudian Moza sudah bersiap-siap untuk menikmati akhir pekannya,hari ini dia tampak cantik dengan penampilan casualnya,tak heran sih emang cantik dari sononya.
"wahh anak mama cantik banget hari ini"
"aku ada janjian sama Manda ma,aku berangkat dulu"pamit Moza dan memberi kecupan hangat untuk mamanya.Kemudian dia segera melajukan mobilnya,sembari bernyanyi dan tak lupa senyum manis yang selalu menghiasi wajahnya,rupanya Moza sudah tak sabar dengan akhir pekannya.
Sedangkan ditempat lain Manda sedang duduk disebuah kafe sambil menunggu kedatangan sahabatnya,dan tak lama kemudian orang yang ditunggu akhirnya datang juga.
"Udah lama ya nunggunya"tanya Moza
"Udah setahun gue nunggunya Za,masa baru nongol"jawab Manda memasang muka kesal.
"Lebay banget sih,ngomong-ngomong lu mau pesan apa?,gue traktir nih."bujuk Moza kepada Manda dan disambut antusias oleh sahabatnya,dengan cepat Manda menyambar buku menunya.
__ADS_1
"Nah,sekarang baru manusia lo"sindir Moza dan dibalas sentilan kecil dikepalanya.
"Emang dari tadi gue apaan hah??"tanya Manda dengan tampang seram.
"Kaya mayat hidup"balas Moza cekikan
Setelah melewati drama kecil tersebut,kedua sahabat tersebut menikmati makanannya masing-masing.
"Wahh kenyang banget gue"seru Moza memegangi perutnya
"Gue juga Za,kayanya gue nggak bisa jalan lagi nih.Perut gue penuh banget nih."Balas Manda tak kalah dramatisnya.
"Aduh apan-apan nih perut gue tiba-tiba sakit,gue ketoilet dulu Manda."keluh Moza dan berlari terbirit-birit.
Sedang ditempat lain beberapa orang polisi nampak berlari menuju sebuah restoran,ternyata mereka adalah tim dari Yano yang sedang mencari seorang buronan yang melarikan diri dengan membawa senjata tajam.Semua orang terkejut dengan kedatangan polisi secara dadakan termasuk Manda,apalagi dia melihat Yano ikut serta bersama polisi tersebut.
"Oh My God,si tampan ngapain kesini"gumam Manda senyam senyum nggak jelas.
"Mohon semuannya tenang,maaf sudah mengganggu kalian.Kami kesini sedang mencari seorang buronan yang membawa senjata tajam."Ungkap Yano dengan serius dan membuat semua orang merasa panik dan takut.
"Kalo boleh tahu pak,ciri-cirinya bagaimana ya?."tanya salah seorang staff restaurant.
"Dia memakai pakaian serba hitam,topi hitam dan menggendong sebuah tas besar."
"Orang itu berlari kearah toilet pak."
Dengan segera Yano dan timnya berlari kearah toilet,sedangkan Manda panik karena Moza masih berada di toilet.
"Moza masih di toilet,gue takut itu orang celakain itu anak."Monolog Manda dan dengan cepat mengambil langkah cepat mengekori timnya Yano.
__ADS_1
Moza yang masih berada di toilet hanya bersantai,dia masih merapikan riasannya dan bersiap kembali bergabung dengan Manda.Sementara Yano dan timnya diam-diam menyusuri toilet pria dan wanita satu-persatu,beberapa menit kemudian Moza keluar dari toilet dan tak sengaja menabrak seseorang.
"Maaf pak saya nggak sengaja."tanya Moza dan ingin membantu orang tersebut berdiri,tanpa Moza sadari ternyata itu adalah seorang buronan,bersamaan dengan itu Yano datang.
"Jangan bergerak!."sahut Yano dari arah belakang,hal itu membuat Moza bingung dengan kedatangan polisi tersebut,tak mau tertangkap sang buronan menyeringai dan menangkap tubuh kecil Moza sebagai sandera,dan mengarahkan pistol kearah Moza.Hal itu membuat Moza panik dan takut,dari seberang sana Yano pun merasa demikian,dia semakin merasa khawatir sekaligus terkejut karena ternyata yang menjadi sanderanya adalah Moza.Akan tetapi dia tidak memperlihatkannnya,dia tetap tenang sambil memikirkan cara untuk melumpuhkan lawannya.
"Letakkan pistol kalian,atau saya akan mencelakai wanita ini!"gertak sang buronan,mau tidak mau Yano dan beberapa polisi lainnya meletakkan senjata.
"Moza"teriak Manda histeris melihat sahabatnya dijadikan sendera,tapi itu hanya sesaat kala tatapan tajam dari beberapa orang polisi,dari jauh Moza tak menggubris teriakan sahabatnya,walaupun dalam hatinya dia ingin sekali teriak minta tolong
"Apa gue udah mau mati?,gue nggak mau mati dengan cara ini ya Tuhan."Monolog Moza dalam hati.Lalu dia melihat keadaan sekitar terasa hening,dan sang buronan masih melihat lihat celah untuk kabur.
"Gue harus ngelakuin sesuatu,si es batu mungkin nggak bisa nolongin gue" tekad Moza dalam hati menatap Yano yang berhadapan lurus dengannya,mata keduannya bertemu,tapi hal itu hanya beberapa detik saja saat Moza memulai aksinya.Dia menggigit tangan sang buronan,dan menendang perutnya dengan siku,alhasil pistol sang buronan jatuh,aksinya membuat semua orang terkejut sekaligus panik.
Karena terlepas dari sang buronan,dengan cepat Moza berlari kearah Yano.Akan tetapi sang buronan mengambil senjata dan hendak menembak Moza,dengan sigap Yano menarik Moza yang berlari kearahnya lalu memeluknya serta menangkis peluru sang buronan,bagai gigi dibalas gigi,hidung dibalas hidung.Yano dan sang buronan sama-sama terluka karena aksi aduh tembak.
Akhirnya sang buronan diringkus oleh beberapa polisi dan segera membawanya kekantor polisi.Jika semua orang masih panik dengan peristiwa tersebut,tapi tidak dengan dua orang yang masih nyaman berpelukan tanpa menghiraukan darah yang menetes kelantai secara perlahan dari bahu sang pria.Siapa lagi kalau bukan Yano dan Moza.
"Moza"Panggil Manda menghampiri sahabatnya,akhirnya Moza dan Yano tersadar sudah lama berpelukan lalu sama sama menjauh dan keduannya merasa canggung.
"Elu nggak apa-apakan Za?"tanya Manda khawatir dan memutar badannya Moza
"Ihh lebay banget sih loh,gue nggak apa-apa,ini semua berkat pak polisi"jawab Moza melirik Yano yang masih mematung ditempat sambil memegang bahunya yang terluka,hal itu ditangkap basah oleh Moza.Dan memorinya berputar ke insiden yang baru terjadi saat Yano menangkis peluru yang hendak malukainnya.
"Pak ayo kita kerumah sakit,bahu bapak terluka!"ajak Moza dengan reflek memegang tangan Yano dan memapahnya untuk berjalan
"Saya nggak apa-apa kok."Tolak Yano halus memasang wajah datar seolah-olah keadaannya baik-baik saja.
"Pak jangan sok kuat deh,ini bentuk rasa terima kasih saya,karena sudah nyelamatin saya."
__ADS_1
"Ini sudah menjadi tugas saya sebagai polisi,jadi saya tidak perlu dibawa kerumah sakit,setelah ini saya akan baik-baik saja."Elak Yano dengan ekspresi datar,padahal fisiknya tidak bisa membohongi,semakin banyak darah yang keluar dari bahunya.Hanya karena takut disangka pria lemah oleh Moza,sehingga dia memilih jual mahal.
"Bapak Yano yang terhormat,sekarang bukan waktunya anda bersikap gengsi-gengsian,lagian saya nggak akan menghina bapak sebagai pria lemah dengan kondisi bapak sekarang.Ayo Manda loh yang nyetir mobil kita kerumah sakit sekarang juga "jelas Moza seolah tahu pikiran Yano,Moza mengumpulkan tenaganya memapah tubuh kokoh Yano,sedang Yano diam dan pasrah mengikuti arahan Moza.