Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Melahirkan


__ADS_3

Perlahan Ardiansyah membuka matanya,dia menatap Moza tanpa berkedip.


"Apa kau Aisyah?"Agusto menatap Moza dengan sendu.


"Iya ayah aku Aisyah anak ayah"tutur Moza dengan mata berkaca-kaca sambil memegang erat tangan Ardiansyah.


"Anakku Aisyah maafkan ayah nak"tubuh Ardiansyah bergetar dengan terus meminta maaf kepada Moza.


"Nggak usah minta maaf yah,aku udah maafin semuanya"


"Tapi ayah sudah menelantarkan putri kesayanganku"Ardiansyah terus merancau tak jelas seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan.


"Kamu tunggu disini dulu Za,mama panggilkan dokter dulu"Emilia merasa Ardiansyah tidak baik-baik saja makanya dia memanggil dokter.


"Iya ma"


Setelah dokter datang barulah Moza melepas genggaman tangannya walaupun Ardiansyah tak mau melepasnya,beberapa menit setelah diperiksa barulah Ardiansyah sedikit tenang dan bisa kembali sadar lagi karena tadi dia diberi obat penenang.


"Apa ayah sudah merasa baik?"tanya Moza mendekat keranjang Ardiansyah.


"Iya ayah sudah merasa lebih baik,tapi tunggu dulu kamu panggil ayah?"Ardiansyah termangu dengan panggilan dari Moza barusan.


"Mama sama papa udah ceritain semuanya yah,aku nggak marah sama ayah atau membenci ayah"tangis Moza mulai pecah sambil memegang tangan Ardiansyah.


"Apa?..ay..ah minta ma..af"ucap Ardiansyah terkejut sekaligus merasa terharu dengan jawaban Moza.


"Ayah nggak usah minta maaf,aku yang harus terima kasih karena selama ini sangat menyayangi aku dan ngelindungi aku"Moza pun menangis sesegukan lalu memeluk Ardiansyah yang masih terbaring.


Suasana semakin haru,bukan hanya tangis haru namun juga bahagia karena pada akhirnya Ardiansyah bisa sadar kembali dan bisa bersama dengan putri kandungnya Aisyah alias Moza yang telah berpisah dengannya sejak kecil.


...****************...


Satu bulan kemudian......


"Mas tolong ambilkan aku air minum!"tutur Moza yang sedang bersandar diranjang kepada Yano yang duduk disofa kamar mereka dengan laptop ditangannya.


"Tunggu bentar sayang,nanggung lagi sedikit"tolak Yano dengan halus karena dirinya tengah sibuk mengerjakan urusan kantornya.


Moza pun tak memaksa,sebenarnya dia bisa saja mengambilnya sendiri namun karena kehamilannya dan juga perutnya tengah merasakan sakit,jadi dia meminta bantuan dari suaminya.


Dengan menahan sakit diperutnya yang sejak tadi menyerang,Moza mencoba turun dari ranjang dengan hati-hati.Tapi baru saja kakinya menginjak lantai sakit diperutnya malah semakin parah.

__ADS_1


"Akhhhh mas sakit"teriak Moza dengan memegang perutnya,hingga Yano tersentak dan mendapati istrinya itu meluruj kelantai dengan panik dia berlari membantu Moza.


"Sayang kamu kenapa?"tanya Yano membantu Moza untuk berdiri,namun Moza mencengkram erat punggungnya karena tak bisa menahan sakitnya.


"Akhhhh sakit"rancau Moza dengan air mata berlinang membuat Yano kalang kabut apalagi melihat darah yang mengalir dikaki Moza.


"Siti,mama,papa,Revan"teriak Yano menggema dengan napas naik turun.


Orang yang dipanggil pun satu persatu muncul dengan wajah panik mendapati Moza yang berada dilantai dengan aliran darah dikakinya.


"Cepat siapkan mobil kita kerumah sakit!"perintah Emilia dengan lantang dia pun menyuruh Yano menggendong Moza kemobil.


Lalu mereka semua pun menuju kerumah sakit,disepanjang perjalanan Moza terus mencengkram punggung.


"Sabar sayang kita bakalan sampai"Yano pasrah kalo tubuhnya dicakar habis-habisan,karena dia ikut tersiksa melihat bagaimana Moza berjuang menahan sakitnya.


"Sakit mas"lirih Moza dengan keringat bercampur air mata.


"Andai kita bisa berganti posisi,aku tak mampu melihat kamu seperti ini Za,semoga kita bertiga kuat"gumam Yano dalam hati.


Setelah beberapa menit barulah mereka sampai dirumah sakit.Moza segera ditangani dan langsung dibawa keruang bersalin dengan didampingi oleh Yano.


"Bagaimana dok,kok anak saya belum keluar?"tanya Yano yang melihat seorang dokter wanita yang duduk.


"Oohh"Yano pun beroh ria saja karena merasa bingung.


"Mas sakit"Moza semakin kuat mencengkram punggung Yano,tak sampai disitu Moza bahkan menggigit punggunnya.


"Akhhhh oh my god"teriak Yano membuat dokter dan para suster terkekeh melihat penderitaan Yano.


"Ini salah kamu mas,kamu yang udah buat aku begini"marah Moza disela-sela rsa sakitnya.


Dan setelah itu dokter kembali memeriksa Moza,dan nampak bayi dalam perut Moza akan keluar.


"Tarik napas yang dalam bu,lalu keluar secara perlahan!"


"Ayo sayang kamu pasti kua"imbuh Yano memberi Moza semangat dengan terus menggnggam tangannya sekali-kali dia menciumnya,dia tak menghiraukan rasa sakit dipunggunya akibat digigit Moza,karena itu tqk seberapa dibandingkan dengan sakit yang ditanggung Moza untuk melahirkan putranya.


Setelah perjuangan panjang dari Moza,barulah suara tangis bayi memenuhi ruangan itu.


oooeeaak..ooeeaaaak

__ADS_1


Yano bernapas lega melihat bayi mungil itu,tanpa sadar air matanya menetes begitu saja.


"Terima kasih sayang"dia mengecup pucuk kepala Moza yang terlihat lemas namun masih bisa tersenyum,karena sudah berjuang dan tetap kuat sampai sejauh ini.


Mendengar tangis bayi dari dalam ruangan bersalin,seluruh keluarga termasuk orangtua Moza dan juga Ardiansyah dan Revan langsung masuk dengan hati bahagia.


"Za kamu hebat sayang"Emilia mencium Moza dengan tangis bahagia,sedang Yano sudah beralih menggendong putranya.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk cucuku?"Ardiansyah menyadarkan Yano yang sedang asik memandangi putranya.


"Iya ya,aku sudah menyiapkan namanya"


"Reynhadrt Adriel Dewantara "imbuh Yano dengan bangga.


"Waah namanya sangat bagus,tapi dia nggak boleh seperti bapaknya yang tukang nyulik cewek"sindir Revan yang sejak tadi diam melihat kebahagiaan seluruh keluarganya.


"Makanya loh cepetan nikah,biar bisa seperti gue bisa gendong bayi mungil ini"balas Yano tak mau kalah.


"Kakak ipar tenang saja,sebentar lagi aku bakalan nyusul tunggu saja undangannya"Revan membusungkan dadanya sebagai tanda bahwa dia sudah mendapatkan seorang wanita yang akan dia nikahi.


"Palingan tuh orang sudah diembat orang,karena kamu nggak serius"Yano pun menjauh dari Revan daripada terus terusan ribut disitu.


Ardiansyah dan Albertoo pun mendekat keranjang Moza.


"Aisyah"


"Moza"


Ucap keduanya bersamaan,detik berikutnya keduanya dan juga Moza tertawa.


"Tuan duluan saja"Albertoo mengalah.


"Kamu saja Albert"


"Tidak tuan saja yang bicara duluan"


Keduanya tak mau mengalah,membuat Moza tersenyum begitupun Emilia melihat bagaimana suami dan atasan nya itu.


"Biar aku saja yang duluan"celah Revan yang pusing melihat Albertoo dan juga Ardiansyah.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang Za?"Revan mengelus pucuk kepala Moza dengan lembut.

__ADS_1


"Kak Revan!,aku sangat sangat bahagia"tutur Moza dengan tersenyum,dia bahagia karena bisa merasakan perhatian dari seorang kakak yang dia rindukan selama ini.Walau sudah dari dulu dia memang sudah mengganggap Revan sebagai sosok kakak sekaligus sahabat baginya,ketika belum mengetahui status keduanya yang ternyata saudara.


"Nggak usah pake embel-embel kakak,aku geki dengarnya"canda Revan mengusap kupingnya dengan wajah jengah,walau dalam hati dia sangat bahagia.Melihat kelakuan Revan mereka disana tertawa renyah dan juga bahagia.Hingga melupakan apa yang ingin dikatakan oleh Ardiansyah dan juga Albertoo


__ADS_2