Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Amnesia


__ADS_3

Setelah sampai dikamar,Yano menurunkan Moza diatas ranjang wajahnya nampak khawatir takut terjadi apa apa dengan Moza.


"Mas jangan pergi,sini pelukin aku supaya nggaj mual lagi"rengek Moza entah mengapa saat dekat dengan Yano dia tak merasa mual.


"Iya sayang aku nggak kemana mana,cuman ambil selimut doang"Yano kemudian menyelimuti Moza,lalu memeluknya dengan erat tanpa mereka sadar Jaya harus menahan jiwa jomblonya didepan dua insan tersebut.


"Ekhem"dengan sengaja Jaya berdehem untuk menghentikan kemesraan Yano dan Moza yang hendak berciuman didepan matanya.


"Akhhh aku lupa sama kamu Jay,cepat periksa istriku?"perintah Yano setelah menyadari kecerobohannya,niat hati ingin memeriksa kondisi Moza malah terbuai dengan sikap manja istrinya itu.


"Ya sudah sini kuperiksa"lalu Yano mengeluarkan alat alatnya,baru saja Jaya duduk ditepo ranjang Moza langsung beranjak lari kewastafel,rupanya dia muntah lagi.


"Sayang kamu pucat banget"panik Yano menatap wajah Moza didepan cermin,sambil memijit tengkuk istrinya.


"Kapan terakhir kamu datang bulan Za?"tanya Jaya dengan wajah curiga,setelah melihat Moza sudah balik ketempat tidur dengan dipapah oleh Yano.


"Kalo nggak salah,aku sudah lambat dua bulan dok"jawab Moza melemah


"Nggak salah lagi kamu pasti hamil"


"Haah?hamil?"kaget Moza dan Yano bersamaan


"Iya hamil,kalian bakal punya anak lagi"


"Hah aku akan hamil lagi mas,hiksss hiksss pasti sakit lagi kalo lahiran"tiba tiba Moza menangis memeluk Yano.


"Iya sayang aku bahagia banget kamu hamil lagi,nggak sia sia aku bekerja keras tiap malam"ucap Yano mengelus pucuk kepala Moza.


"Kamu yang enak enakan,aku yang susah lahiriinnya pokoknya aku nggak mau tidur sama kamu lagi"rengek Moza dengan marah-marah tapi masih dalam pelukan Yano dia menangis dan menyembunyikan wajahnya diketiak Yano.


Jaya hanya geleng geleng kepala dengan omongan absurd dari pasutri didepannya.


"Kayaknya kalian berdua harus dirujuk kerumah sakit jiwa"gumam Jaya dengan berkomat kamit,tapi dua orang itu masih saja saling berpelukan.


"Untuk lebih pastinya,kalian periksa saja kedokter kandungan secara langsung"pesan Jaya berlalu darisitu.Baik Yano dan Moza tak sadar Jaya sudah pergi darisitu,karena mereka hanyut dalam kemesraan mereka.


Jaya yang kesal dengan pasutri yang mengacuhkan kehadirannya,sepanjang turun tangga dia mengumpat kesal.


"Kayaknya gue juga harus cari kekasih nih,lama banget nih si kecil nganggur"pikirnya sambil berjalan menuju kekamar Jesika.

__ADS_1


Tapi karena Jaya yang masih mengomel sambil berjalan,dia tidak sadar ada orang yang ikut berjalan didepannya.


Brughhh


Suara wanita menjerit karena menabrak tubuh seseorang,dia hilang keseimbangan dan tubuhnya melayang mau jatuh.


"Auwww"teriaknya namun aneh dia tak merasakan sakit,dia membuka matanya secara perlahan.


"Dokter Jaya!"


"Siti!"


Panggil keduanya bersamaan,ternyata Jaya yang menangkap tubub Siti ketika keduanya tak sengaja bertabrakan.Lama keduanya saling memandang,degup jantung satu sama lain terdengar,membuat muka Siti yang aslinya putih menjadi merah seperti tomat.


"Ahh maaf dok,terima kasih atas bantuannya"ucap Siti berdiri dari rangkulan Jaya.


"Ohhh nggak apa apa,aku minta maaf karena menabrak kamu"ucap Jaya gagap


"Akhh aku juga nggak lihat dokter Jaya,apa dokter mau melihat kondisi nona Jesika?"Siti mengalihkan pembicaraan supaya keduanya tidak canggung.


"Ohh aku mau masuk kedalam"


Siti pun ijin pamit dari situ,sungguh kejadian tadi membuatnya malu.


"Iya kenapa dok?"tanya Siti dengan membalikan mukanya menghadap ke Jaya.


"Nanti malam aku ajak kamu makan malam,nanti aku jemput"setelah mengatan itu Jaya langsung melepas tangan Siti,dan bergegas masuk kekamar Jesika sepertinya dia juga malu setelah mengatakan itu.


Ajakan Jaya tadi membuat Siti mematung,dia masih tak percaya apa didengarnya tadi itu benar atau tidak.Bisa bisanya seorang dokter mengajak seorang ART sepertinya untuk makan malam.


"Ini mimpi nggak sih"ujarnya mencubit pipinya,namun dia sendiri yang meringis kesakitan.


"Awww ini beneran"


Siti yang kegirangan berlari kekamarnya dengan hati gembira,sementara itu Jaya yang kini berada dikamar Jesika tersenyum nggak jelas.


"Kayaknya aku jatub cinta sama tuh cewek"gumamnya memegang dadanya yang terus berdenyut.


Dia seperti pria yang dimabuk asmara,tersenyum sendiri seperti orang gila.Tanpa Jaya sadari Jesika mulai menggerakan tangannya dan menggeliat pelan.

__ADS_1


"Aku dimana?"Jesika memegangi kepalanya,Jaya pun terkejut melihat wanita itu sadar.


"Jesika kamu sudah sadar,jangan banyak bergerak dulu"Jaya menahan Jesika yang ingin beranjak dari ranjang.


"Siapa kamu?"Jesika menepis tangan Jaya yang memeganginya.Jaya sendiri bingung mengapa Jesika tidak mengenalinya,padahal dulu dia sering bertemu dengannya dan selalu memukul Jaya.


"Aku Jaya masa kamu lupa,temannya Revan"


"Revan siapa?


"Ya Revan pacar ka.."Jaya menggantung ucapannya,dia seketika terdiam memikirkan sesuatu yang terlintas dibenaknya.


"Nggak mungkin dia amnesia kan?,atau jangan jangan dia berpura-pura?"tebak Jaya melirik Jesika yang meringkuk dipojokan ranjang.


"Jesika pa kamu lupa siapa Revan?,Kalo Yano dan Moza?"sekali lagi Jaya bertanya untuk memastikan apakah tebakannya benar atau tidak.


"Aku tak mengenal mereka,lalu siapa Jesika?"tanyanya membuat Jaya semakin yakin kalo Jesika mengalami amnesia.


Jaya yang bingung mengapa wanita itu sampai kehilangan ingatannya,memilih keluar untuk menanayakan langsung kepada Yano.Dia pasti lebih tahu banyak tentang Jesika,akhirnya Jaya menunggu diruang tamu untuk berbicara dengan Yano.


"Bagaimana kondisi Jesika Jay?"tanya Yano berjalan kearah Jaya.


"Kondisinya parah,makanya aku mau bicara serius sama kamu"


"Parah bagaimana maksudmu?"


"Setelah tadi Jesika sadar,dia tak mengenaliku dan juga dirinya sendiri.Bahkan kamu,Moza,dan juga Revan tak dikenalinya"jelas Jaya dengan serius,membuat Yano melongo mengerutkan keningnya.


"Maksud kamu Jesika amnesia?"tebak Yano diangguki oleh Jaya.


"Kenapa bisa?"tambah Yano lagi


"Itu yang mau kutanyakan sama kamu Yan,kenapa dia sampai pingsan begitu apa yang sudah kamu lakukan kepadanya?."Pinta Jaya takut Yano telah melakukan perbuatan kasar kepada Jesika,dia masih terbayang dulu bagaimana awalnya dia memperlakukan Moza.


"Kamu kira aku ini pria apaan hah"kesal Yano merasa tak terima dengan ucapan Jaya.


"Aku cuma nanya doang Yan,soalnya kalo Jesika amnesia pasti sebelumnya kepalanya terbentur yang membuatnya kehilangan ingatannya."


Yano pun manggut manggut menyetujui perkataan Jaya,namun sebelumnya dia tak melakukan apa apa sama Jesika.Mereka hanya menculik Jesika dengan menggunakan obat bius,sepengetahuan Yano Jesika juga nggak terjatuh atau membentur sesuatu,karena dia dibawa dalam kondisi pingsan.

__ADS_1


Yano mencoba mengingat rentetan peristiwa dari penculikan hingga Jesika berada dirumahnya.


"Tapi dia nggak membentur sesuatu deh,aku juga nggak tahu kenapa dia sampai begitu"bingung Yano mencoba berpikir lagi,sama hal juga dengan Jaya yang mencoba membuat hipotesis dalam otaknya.


__ADS_2