
Berbeda dengan siena dan Anton,Yano sedang kelimpungan mencari istrinya yang diculik.Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dari markasnya dia pun sampai di mansion utamanya.Yano masuk ke dalam hingga tak menyadari pengawal yang berjejer dengan menundukkan kepala karena ketakutan menatap raut wajah nya.Dia pun langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mencari petunjuk mengenai seluk beluk istrinya yang diculik.Siti yang masih ada di kamar itu tak berani untuk berbicara dengannya yang terlihat datar dengan rahang yang mengeras dia pun memutuskan untuk keluar.Tersisalah Yano seorang diri menatap keseluruh ruangan,yang penuh kenangan dengan Moza.Cukup lama dia menatap ruangan itu dengan tatapan kalut dan campur aduk,ada perasaan bersalah yang menyelimuti hatinya sudah meninggalkan istri kecilnya itu sendiri.Kemudian dia beralih ke laptopnya untuk mengecek cctv dikamarnya.
Tangannya bermain diatas keyboard dengan lihai,dengan wajah datar tanpa ekspresi,dia terus berkutat dengan layar monitor didepannya. pun langsung mengecek CCTV yang ada di dalamnya,setelah itu dia melihat dilayar Moza nampak mondar-mandir tak jelas dikamar hingga dia berhenti didepan lemari pakaiannya.
Setelah itu dia melihat Moza masuk ke dalam,dan Yano beralih mengecek CCTV diruangan itu juga,Moza menyalakan lampunya ,terlihat istrinya itu sangat kaget melihat banyak senjata-senjata miliknya di sana dan mukanya terlihat syok.Yano menaikkan satu alisnya,merasa bingung bagaimana istrinya itu bisa tahu ruang rahasianya itu.Melihat hal itu dia jadi merasa bersalah melihat raut wajah istrinya nampak ketakutan setelah keluar dari ruangan itu.Berapa lama istrinya itu terlihat di layar monitor sedang bersandar diranjang,mulutnya nampak komat-kamit mengatakan sesuatu.
Lama dia bersandar untukmenenangkan diri,setelah berapa menit Moza masih setia bersandar di ranjang tiba-tiba ada orang yang menggedor pintu dari luar dengan keras.Dari arah balkon dua orang berpakaian serba hitam datang ke kamarnya.
"Kalian siapa hah?"teriak Moza melihat kedatangan orang berbusana hitam itu.
"Ndak usah banyak bicara"ucap salah seorang nya dengan keras.
"Jangan mendekat!"Moza mencari sesuatu untuk melawan,tapi nihil tidak ada yang bisa membantunya.
Dengan sergap beberapa orang merengkuh tubuh Moza dan membius hingga dia tak sadarkan diri.
Pemandangan dilayar monitor itu,dimana istrinya disentuh dan diculik seperti itu membuat mukanya memerah menahan emosi.
Tak lama kemudian orang-orang itu membopong tubuh kecil Moza,melewati pintu,Yano semakin geram dengan dengan para pengawal yang tak bisa menjaga istrinya. Yano menggebrak meja,dan menutup laptopnya dengan keras,sebelum keluar dia menuju ruang senjatanya,mengelurkan beberapa senjata dan mulai bersiap untuk keluar.
Yano keluar dengan menggunakan seragam serba hitam,kebetulan dia berpapasan Siti yang ingin kedepan.
"Panggil semua pengawal didepan!"ucap Yano denga tegas tanpa menatap Siti yang ingin kabur dari situ.
"Baik tuan muda"jawab Siti dengan terbata,dan berlari terbirit birit memanggil semua para pengawal.
Setelah semua para pengawal berkumpul disitu,Yano melayangkan pukulan satu persatu diperut mereka,lalu segera berlalu dari situ dengan amarah yang sudah memuncak.
"Waaah tuan muda memang hebat"ejek Siti melipat tangannya didada,menatap wajah pengawal yang babak belur.
"Ihhss,apaan sih neng Siti nggak tahu apa aku lagi bonyok gini ,bantuiin kek"balas pengawal yang bernama Boim,yang sering bercanda dengan Siti.
"Bantuiin pala botakmu itu"cecar Siti mengomel dan berlalu dari situ.
__ADS_1
Dimobil Yano merasa gusar dan juga menahan amarahnya,rahangnya mengeras dengan tatapan fokus kejalanan.
"Awas saja kalo kamu menyakiti istriku Agusto"gumam Yano dengan suara tercekat menahan emosinya
Drtttt...Drtt
Ponsel Yano berdering dengan nyaring,mengalihkan perhatiannya dari jalanan didepan,dan mengangkat benda pipih itu.
"Hallo"
"Hallo Yan,gue udah nemuin titik nona Moza,kayaknya dia masih membawa ponselnya"
"Cepat sharelock lokasinya,jangan sampai mereka menyadarinya"
"Ok Yan"
"Jangan lupa persiapkan anak buah kita dengan matang"
Tutt...tuttt
"Maafkan aku Za,maafin daddy"ucap Yano disepanjang jalan,tak terasa air matanya keluar begitu saja.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama,mobi l Yano berhenti disebuah hutan,dan terdapat sebuah gedung tua yang dijaga oleh banyak pengawal.
Dia memarkirkan mobilnya agak jauh darisana,supaya tidak ada yang curiga,dia perlahan keluar mobil dan memantau situasi sekitar.Tiba-tiba bahu Yano ditepuk oleh seseorang.
Dengan gerakan cepat Yano mengeluarkan senjatanya.
"Wooy tahan Yan,gue Gala"teriak Gala yang ternyata sudah dari tadi sampai ditempat itu bersama para anak buahnya.
"Aah kamu bikin kaget aja"Yano meninjau perut Gala dengan pelan,karena dia jadi kaget setengah mati.
"Waah,sejak kapan seorang Yano merasa panik melawan musuhnya"ejek Gala melihat raut kaget disertai panik dari sahabat sekaligus atasannya itu.
__ADS_1
"Ckk,bagaimana semus sudah siap?"tanya Yano memastikan,dan diangguki oleh Gala.
Kemudian mereka berunding disekitar gedung tua itu,menyusun strategi untuk menyelinap masuk kegedung tua itu.
Setelah memakan waktu yang cukup lama,Yano dan anak buahnya mulai melancarkan aksi mereka untuk mengepung tempat itu,tak lupa mereka menggunakan topeng untuk menutupi wajah mereka.
Para pengawal yang berjaga didepan gerbang,tumbang satu persatu.
"Gala,kamu urusin mereka semua,saya yang masuk kedalam"bisik Yano
"Tapi lo jangan masuk sendirian,banyak pengawal yang berjaga didalam"saran Gala takut Yano kenapa-kenapa.
"Lo nggak usah khawatir,justru gue rela menyerahkan nyawaku demi selamatin Mkza"tekad Yano kemudian meninggalkan Gala yang masih merasa khawatir dengannya.
Yano mengendap-endap,dilorong gedung itu,setelah menumbangkan para pengawal yang setia berjaga disitu.perlahan dia menempelkan telinganya disetiap pintu yang berjejer diruangan itu memastikan ruangan mana yang ada istrinya didalam.
Kemudian Yano berbicara lewat earpiece dengan Gala,untuk mencari tahu titik Moza berada.
"Gala,dimana titiknya?"tanyanya dengan pelan.
"Sorry bro,titiknya sudah hilang,gue yakin mereka sudah mendapatkan hp nona Moza."jelas Gala disambungan earpiecenya.
"Ck,ok tetap siap siaga sebelum aku perintahkan untuk masuk"Yano berdecak kesal,dan melanjutkan langkahnya.
Disebuah ruangan,nampak seorang gadis mungil menangisi nasibnya,mulutnya dibekap dengan sebuah kain,tangan dan kakinya juga pun turut diikat dengan kursi yang didudukinya.
Dan diseberangnya,tepat didepannya seorang pria paruh baya duduk dikursi kebesarannya dengan tersenyum penuh kemenangan,didampingi oleh banyak pengawal yang mengelilinginya.
"Apa kamu kira suamimu akan menyelamatkanmu hah?,kamu itu memang gadis bodoh yang tak tahu apa-apa"ejek pria tua itu dengan tertawa renyah,sedang Moza sekuat tenaga untuk tetap kuat demi janin yang dikandungnya.
"Mas Yano nggak mungkin khianati aku dan juga anak kami"monolog Moza dalam hati,hanya air mata yang menjadi saksi ketakutan dan kekhawatiran dalam dirinya,takut hari ini menjadi hari kematiannya.
"Hey kenapa kamu diam hah,kamu itu hanya mainan Yano,sebentar lagi dia yang akan datang membunuhmu dan juga orangtuamu."ujar pria tua itu,detik berikutnya dia tertawa hingga menggema diseluruh ruangan,tawa yang begitu mengerikan ditelinga Moza.Dia mengepalkan tangannya,mendengar tutur dari pria yang kini dibencinya.
__ADS_1
"Kamu harus kuat nak,mommy akan selalu menjagamu"Moza terus menyemangati dirinya,sembari mencari cara agar bisa lepas dari penjahat didepannnya