Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Balas Dendam


__ADS_3

Setelah menatap lama foto tersebut,pintu Yano diketuk dari luar,lalu Yano membukanya.Ternyata seorang ART dirumahnya.


"Tuan muda dipanggil sama tuan besar"


'"Oh iya bi,nanti saya temuiin".


Setelah itu Yano mengganti bajunya,dan keluar kamar menghampiri ruang kerja ayahnya.


Tok..tok..


"Masuk saja Yan"sahut ayahnya dari dalam.


Ceklek.


Yano masuk dan mengunci pintunya kembali,kemudian duduk disebuah kursi yang berhadapan dengan ayahnya.


"Kamu tahu kenapa ayah panggil kesini?"tanya Agusto dengan dingin.


"Tahu yah.'jawab Yano singkat


"Sudah kuduga Albertoo memang menyembunyikan sesuatu"Agusto berdiri menatap keluar jendela.


"Pengkhianat tidak akan bisa diampuni"tambahnya.


"Lalu apa rencana ayah selanjutnya?"tanya Yano menghampiri ayahnya.


"Buat anaknya menderita,dengan begitu dia akan keluar dari sarangnya."jawab Agusto tersenyum devil


"Maksud ayah?"tanya Yano mengerutkan dahinya.


"Ckk kamu pikir Moza itu anaknya Albertoo hah?"tanya Agusto terkekeh dan dibalas anggukan dari Yano.


"Yano.. Yano musuh ayah itu masih bersembunyi,Moza itu hanya disembunyikan identitasnya dan diasuh oleh Albertoo dan istrinya"jelas Agusto menatap Yano yang terdiam.


"Apa Moza tahu kalo dirinya bukan anak kandung om Albertoo?"tanya Yano dalam hati.


"Dan lupakan soal perasaanmu kepada gadis itu Yan"tegas Agusto


Deg


"Ada kalanya cinta itu menjadi benci saat kamu tahu yang sesungguhnya"tambah Agusto membuat Yano semakin bingung.


"Maksud ayah apa?"lagi-lagi Yano tak mengerti dengan ucapan ayahnya.


"Kamu pikir ayah tidak tahu kalo kamu menyimpan rasa dengan gadis itu,bahkan sampai sekarang"Yano membisu memang benar apa yang ayahnya katakan,dirinya sulit melupakan Moza.Apalagi sekarang dia dihadapkan dengan pilihan sulit,antara balas dendam dan cintanya.


Tok...tok


Suara ketukan pintu membuyarkan suasana ambigu diruangan tersebut,dan menyadarkan Yano dari lamunannya.

__ADS_1


"Masuk"sahut Agusto


"Lapor ketua,tuan Albertoo sudah kami tangkap,dan sekarang dia ada dimarkas"kata salah seorang anak buah Agusto.


"Bagus,amankan dia tunggu rencana selanjutnya.Kamu boleh pergi"jawab Agusto tersenyum senang.Sedangkan dalam hati Yano merasakan hal yang tak nyaman mendengar ayahnya Moza diculik ayahnya.


"Ayah"panggil Yano.


"Dengar ayah baik-baik,mulai sekarang lupakan cintamu.Jika kamu tahu yang sebenarnya kamu pasti akan membenci gadis itu"


"Kenapa ayah mengatakan hal yang sama terus,apa yang sebenarnya ayah sembunyikan"Yano tak bisa menahan segala pertanyaan yang berputar dikepalanya.


"Ini memang berat untuk ayah ceritakan,pasti kamu akan tersakiti dan terluka"kata Agusto dengan sendu.


"Ibu kamu sebenarnya..."kata Agusto menggantung,dia mengusap ekor matanya.


"Ibu kenapa yah?"tanya Yano dengan mata memerah dan napas naik turun.Memang momen inilah yang dia tunggu untuk mengetahui sosok ibu yang selama ini dia rindukan,Agusto selama ini selalu menutup jika Yano bertanya mengenai ibunya.


"Ibu kamu sebenarnya dibunuh oleh ayah nya Moza,Ardiansyah Gunawan"ucap Agusto dengan suara serak.


Deg


Bagai ditikam pisau,Yano merasakan sakit teramat dalam mendengar kenyataan pahit dari ayahnya,matanya memerah menahan amarah,tangannya mengepal erat hingga urat-uratnya keluar.


"Ja..di i..bu dibunuh sama mereka?"tanya Yano dengan suara bergetar menahan amarah dan sakit hatinya.


"Ayah tenang saja aku akan membuat putrinya merasakan rasa sakit yang berlipat-lipat dari yang ibu rasakan"tekad Yano dengan amarah yang membara serta tatapan tajam dan dingin,yang siap menerkam mangsanya.


"Jadi apa rencanamu Yan?"


"Aku akan menyeret gadis itu kedalam pernikahan,dan akan kubuat dia menderita hingga aku bisa membalaskan rasa sakit yang ibu terima"tutur Yano.


"Dan akan kubuat hidup nya seperti dineraka,dan orangtuanya yang akan kujadikan sandera agar dia mau menikah denganku."tambahnya meninggalkan Agusto yang tersenyum smirk.


"Akhirnya masuk keperangkap,tinggal pertunjukan selanjutnya."ungkap Agusto


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokkan harinya,rumah Moza didatangi oleh segerombolan pria berjas hitam yang dikawal oleh Evan.Moza yang baru bangun tidur dan duduk diruang tamu merasa terkejut dengan kedatangan orang-orang tersebut.


"Pagi nona muda"sapa Evan membungkuk hormat,diikuti oleh semua pengawal yang dibawanya.


"Emm pa..gi"balas Moza terbata merasa risih dihormati begitu.


"Nona muda?"tanya Moza dalam hati


"Begini nona muda,kami kesini ingin mengurus kepindahan nona kesuatu tempat.Karena disini berbahaya untuk keselamatan nona"kata Evan panjang lebar,karena hari ini dia mendapat perintah dari Bagas untuk segera memindahkan Moza,atas perintah dari tuan besar.


"Pindah?,maksudnya saya yang pindak pak"tanya Moza terkejut.

__ADS_1


"Iya betul nona"


"Emang bapak siapanya saya maen pindahan saya segala,terus bahaya apanya hah.Paling disini Moza aman-aman aja"geram Moza menatap Evan dengan tajam.


"Tapi non.."


"Ngaak ada tapi-tapian,lagian besok Moza udah ujian akhir,pokoknya Moza nggak mau pindah dari rumah ini"tolak Moza memotong pembicaraan Evan,sedangkan Emilia yang sejak tadi merasa cemas dengan suaminya yang tak kunjung mengangkat teleponnya,mendengar suara ribut dari ruang tamu.Dia bergegas keluar dia mendapati Moza dengan beberapa pengawalnya Evan.


"Apaan sih ribut-ribut?"tanya Emilia menghampiru mereka.


"Ini ma,pak Evan nyuruh-nyuruh Moza pindah"adu Moza kepada Emilia,dan Emilia memeluk putrinya.


"Van bisa kita bicara sebentar"titah Emilia dan dianggukan oleh Evan.


"Sayang kamu tenang dulu ya,mama bicara dulu sama om Evan"bujuk Emilia melepas pelukannya,dia dan Evan pun berbicara diruang kerjanya Albertoo.


"Apa yang terjadi Van?"tanya Emilia gelisah.


"Mereka sudah mengetahui identitas dari nona muda"kata Evan membuat Emilia ketakutan,apa yang selama ini dia takutkan kini terjadi.


"Van tolong jaga Moza dengan baik,dan satu lagi kamu harus cari tahu kabar dari suami saya"mohon Emilia tak kuasa menahan air matanya.


"Memangnya kenapa dengan tuan Alberto nyonya"


"Dari kemarin hp nya nggak aktif,saya takut dia kenapa-kenapa"


"Baik nyonya,saya akan hubungi joe dulu.Tapi sebelumnya nyonya dan nona muda harus pindah dari sini"pinta Evan kepada Emilia.


"Ok nanti saya akan membujuk Moza dulu"jawab Emilia,dan keduanya keluar dari ruangan tersebut.


"Mama"panggil Moza menghampiri Emilia yang sudah selesai bicara dengan Evan.


"Iya sayang"sebisa mungkin Emilia menutupi kesedihannya didepan Moza.


"Mama!Moza nggak bakal pindah kan?"rengek Moza sendu,membuat hati Emilia sakit.


"Iya sayang kita nggak bakal pindah,tapi mama mohon sementara ini kita pergi berlibur dulu"bohong Emilia untuk membujuk Moza.


"Moza nggak mau, satu minggu ini Moza ujian akhir.Dan setelah itu Moza akan lulus ma.Terus Moza akan mencapai mimpi Moza buat jadi Dokter."Lagi lagi Moza menolaknya,dan Emilia menepuk jidatnya karena lupa dengan jadwal ujian akhir putrinya.


"Tapi Za,kamu mau nggak liburan sambil ujian saja"bujuk Emilia sekali lagi.


"Mama paksa banget sih,sekali tidak ya tidak.Moza mau fokus ujian dulu baru pergi liburan."Moza mulai ngambek dengan paksaan mamanya,kemudian dia berlari kekamarnya.Dan Emilia hanya bisa menghela napasnya dengan kasar,karena tak mampu melunakkan keras kepalanya Moza.


"Biarkan saja nona muda menyeelesaikan ujiannya baru dipindahkan nyonya."Usul Evan melihat bagaimana susahnya untuk membujuk Moza.


"Tapi Van,saya minta kamu perketat keamananmya,jangan sampai lengah"mohon Emilia dengan cemas.


"Saya pastikan nona muda aman"Evan kemudian pamit undur diri,tapi sebelumnya dia menempatkan banyak pengawal dikediaman Alberto.Karena dia ingin bertemu Bagas sekaligus mencari tahu tentang Alberto.

__ADS_1


__ADS_2