
Setelah mendengar rentetan cerita dari Albertoo.
Ardiansyah menghela napasnya dengan berat,dia juga merasa bersalah karena sudah lalai menjaga putri satu-satunya.
"Maafkan kami tuan karena sudah membuat anda begini karena kehilangan Moza"ucap Emilia tak enak hati.
"Ini bukan salah kalian,ini semua salahku karena terlalu lama menunggu untuk memberitahu Moza"sesal Ardiansyah
"Berapa usia kandungan cucuku?"tanyanya lagi
"Sudah 8 bulan tuan,tinggal 1 bulan lagi dia akan lahir"jawab Albertoo yang turut tak sabar menunggu kelahiran cucunya,walaupun mereka bukan orangtua kandung Moza,tapi tetap saja Moza sudah dianggap seperti anak mereka otomatis itu juga cucu mereka.
"Ini kabar bahagia juga tuan,karena tuan mendapat cucu laki-laki"tambah Emilia yang mampu membuat wajah Ardiansyah berbinar,sungguh banyak kejutaan yang didapatnya hari ini.
Dia seakan bisa pulih sehari,hanya karena mendapat berita bahagia yang datang beruntun untuknya.
Sementara itu Yano dan Moza berada di luar sedang makan siang, terlihat Moza begitu lahap sehingga membuat Yano panik karena bisa saja istrinya itu tersedak makanan karena tak henti-hentinya menyuapi berbagai lauk pauk ke dalam mulutnya.
"Sayang pelan-pelan dong makannya !" saran Yano
"Nanggung mas" tolak Moza dengan mulut penuh makanan.
Yano hanya tersenyum sekaligus gemas dengan tingkah istrinya, dia merasa kenyang hanya karena melihat Moza makan dengan rakusnya.
Disebuah taman...
Jesika dan Revan sedang asik makan eskrim, walaupun dengan wajah Revan yang nampak kelelahan karena diajak berkeliling oleh Jesika.
Jesika pun merasa puas karena bisa jalan keluar seperti sekarang ini.
" Van kita kemana lagi ya setelah ini? " tanya Jesika sambil menjilat eskrimnya.
" Mending kita pulang aja, kakiku serasa mau patah nih Jes, apalagi setelah naik roller coaster rasanya mau muntah ". Bayang Yano dengan nyeri karena hari ini sungguh menguji nyalinya, hanya untuk memenuhi keinginan Jesika.
" Ya udah dech karena aku udah happy kita bisa pulang ". Jesika juga merasa kasihan dengan wajah lelah Revan.
Jesika menyambar kunci mobil yang ada di tangan Revan.
" Biar aku yang nyetir " Jesika berjalan mendahului Revan, pria itupun menyeret langkahnya menyusul Jesika, dia juga ingin cepat pulang untuk memulihkan badannya yang hampir remuk.
__ADS_1
Keduanya pun mengakhiri acara jalan-jalannya,sepanjang perjalanan keduanya terdiam Revan memejamkan matanya sejenak untuk menghilangkan rasa pusing yang menghampirinya.
Baru saja dia menutup matanya,dering ponselnya mengganggu.
Drett.....drettt
"Haloo,ada apa Jaya?"tanya Revan dengan malas.
"Van ayah lo sudah sadar,cepatan sekarang lo kesini"jawab Jaya dari seberang sana dengan semangat.
"pana sekarang"Revan jadi berbinar cerah mendengar ayahnya sudah sadar.
"Jes ayo kita putar kerumah sakit Medika"ucap Revan dengan gegabah,membuat Jesika mengerem mendadak.
Cittt
"Ada apa Van?"Jesika ikut panik,karena tadi dia memilih acuh dengan pembicaraan Jaya dan Revan.
"Nggak usah banyak tanya,mendingan sekarang putar balik atau gue yang nyetir"kekeh Revan tak sabaran.
"Ok ok tunggu lo sabar dulu,gue baru putar balik"kesal Jesika karena Revan membuatnya panik,apalagi mereka berada dijalan yang rame.
Mereka melewati lorong rumah sakit,sehingga menjadi tontonan orang-orang lagi karena banyak pengawal yang mengawal mereka.
Revan dan Jesika juga sudah sampai diparkiran,tanpa menunggu lama Revan langsung keluar mobil dan berlari.
"Dasar cowok nggak punya hati,bisa-bisanya dia tinggalin gue"rutuk Jesika melihat Revan yang menghilang dari pandangannya.
Revan berlari dengan terburu-buru,bertepatan saat itu Moza melihat seorang anak kecil yang sedang menangis disebuah ruangan,karena hatinya tergerak dia langsung melepas rangkulan dari Yano dan masuk keruangan itu.
"Sayang kamu mau kemana?"Yano mengikuti Moza,lalu diikuti Albertoo dan Emilia,serta pengawalnya.
Mungkin bawaan dari bayinya,Moza mendekati bayi yang ternyata baru lahir,karena mereka melewati ruangan bersalin keruangan Ardiansyah.
"Waahh lucunya"gemas Moza menatap bayi cantik yang berada digendongan ibunya yang terbaring lemah diranjangnya.
"Maaf bu,istri saya main langsung masuk saja,maklum dia juga sedang mengandung"kata Yano tak enak hati.
"Iya nggak apa-apa"ucap seorang wanita yang merupakan ibu dari anak itu.
__ADS_1
"Boleh nggak bu,saya mengendongnya"tawar Moza,membuat Emilia dan Albertoo tersenyum melihat Moza yang menimang bayi itu dengan hati-hati,wajahnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
Setelah digendong Moza,bayi itupun berhenti menangis.
"Waah kamu hebat sayang,bayinya nggak nangis lagi"Yano mendekati Moza,menatap bayi mungil itu dengan tersenyum.
"Iya mas,aku jadi nggak sabar menanti baby kita"ucap Moza
Setelah puas menggendong bayi itu,mereka pun ijin pamit dan keluar dari ruangan itu Sebelum pergi Yano memberi amplop coklat untuk ibu itu,saat mereka keluar tiba-tiba seorang pria berlari sembrono,hampir saja menabrak Moza kalo saja Yano tidak cepat membawanya dalam pelukannya.
Pria itu tanpa rasa bersalahnya,terus berlari membuat Yano naik pitam.
"Woyy jangan lari lo!"teriak Yano ingin mengejarnya,namun Moza mencegatnya.
"Mas nggak usah dikejar,aku nggak apa-apa kok"kata Moza memegang lengan Yano.
"Awas saja kalo aku tahu orangnya"rahang Yano mengeras,membuat Moza menggelengkan kepalanya dengan keposesifan suaminya.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya,sementara Jesika masih menunggu dimobil,dia malas mengikuti Revan yang menjenguk siapa dirumah sakit karena dia pun belum mengetahui kalo ayahnya Yano lagi sakit.
"Hufttt,bosen banget gue disini"lirihnya dengan sendu,dia menatap kesekitar sepi hanya deretan mobil saja.Dia mau pulang tapi masih bingung sama jalan pulangnya,karena dia tidak hafal betul sama jalannya.Lama dia merenung sambil menatap keluar kaca mobil untuk mengusir kebosanannya.
Namun tatapannya terhenti menatap segerombolan pria berjas hitam berjalan menuju sebuah mobil yang tak terparkir jauh dari mobilnya.
Dia menatap mereka dengan saksama,Jesika terkejut dengan sosok yang berjalan dibelakang mereka,sosok pria yang menggandeng seorang wanita yang tengah mengandung,diikuti pria paruh baya,dan menggandeng seorang wanita juga yang mungkin istrinya,itulah yang dipikirkan Jesika.
"Yano!"kaget Jesika memandang pria itu dari jauh,namun dia ingin keluar mengejarnya,tapi mereka sudah duluan masuk kemobil.
Jesika tak menyerah dia berlari mengejar mobil yang sudah melaju itu.
"Yano!"teriaknya dengan sekuat tenaga,dengan terengah engah karena berlari.
"Yano,tunggu"teriak Jesika melemah melihat mobil itu sudah semakin jauh,Yano yang samar samar mendengar namanya dipanggil menatap kebelakang.
"Jesika,tapi mana mungkin dia ada disini"gumamnya mengenali wanita itu dari jauh
"Ada apa mas?"Moza mengikuti pandangan Yano.
"Nggak apa apa kok sayang"Yano mengelus kepala Moza,dan membawanya dalam dekapannya.
__ADS_1