Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Telur Gosong


__ADS_3

Ceklek..


Moza membuka pintu kamar Yano pelan,dengan langkah kakinya yang lambat dengan senapan nasi dan segelas air minun ditangannya.


"Ini mas aku udah buatin makanan untuk kamu"ucap Moza ragu melihat Yano yang tengah fokus dengan laptopnya.


"Taroh saja disitu!"jawab Yano tak melihat kearah Moza,akhirnya Moza memilih keluar dari kamar itu.Daripada jadi patung,dia membuka pintu mau keluar tapi sudut mata Yano menangkap apa yang dilakukan oleh gadis itu.


"Siapa yang nyuruh kamu keluar"tanya Yano menatap tajam Moza yang sudah siap memutar gagang pintu.


"Euum anu mas,aku mau.."


"Duduk disana sampai aku selesai makan"titah Yano menunjuk sebuah kursi kecil didekat tempat tidurnya.


Dia meletakkan laptopnya dan meraih sepiring nasi buatan Moza.


"Ini apaan hah?"tanya Moza menatap telur yang gosong dengan nasi putih,sebuau perpaduan yang tidak ada dibebak Yano.


"Itu telur ceplok mas"ungkap Moza santai,sedang Yano sudah tak berselera untuk makan melihat telur gosong itu.


"Sini kamu!"pinta Yano memainkan jarinya memanggil Moza,yang dipanggil malah bengong.


"Hey kamu tuli apa sengaja nggak dengar hah?"teriak Yano hingga Moza tersentak.


"Kenapa teriak-teriak mas,bikin kaget aja"jawab Moza santai,membuat darah Yano mendidih.


"Ini kamu makan tuh telur gosong mu ini,habiskan didepan saya,5 menit dari sekarang."Perintah Yano tak ingin dibantah menyodorkan sepiring nasi itu kepada Moza.


"Mas nggak mau makan?"tanya Moza dengan raut kecewa.


"Hmm,kamu pikir aku binatang makan makanan tak higienis seperti ini"ejek Yano dengan tawa sinis,Moza hanya bisa menelan pahit semua kata-kata hina yang Yano lontarkan.


"Jika memang mas nggak mau makan,nggak usaha hina makanan"ucap Moza menyuapi nasi kedalam mulutnya,wajahnya berubah masam dengan rasa telur ceploknya.


"Aduh Za untung Yano nggak makan,malah telurnya asin banget lagi"ucap Moza dalam hati menahan gejolak untuk tidak memuntahkan nasinya,karena rasa asin dari telurnya.Dia mengunyah dengan terpaksa,seakan menikmatinya.


Melihat Moza yang makan dengan lahap,membuat Yano meneguk air liurnya,sedari tadi perut nya sudah keroncongan tapi melihat telur gosong itu membuat nafsunya menghilang.

__ADS_1


"Kayak nggak makan sebulan aja kamu"sindir Yano


"Ini telurnya enak banget mas"jawab Moza sambil menyuapi nasi dimulutnya,Yano pun bingung dengan rasa telur gosong itu sampai membuat gadis itu lahap tanpa jeda untuk menyuapi mulutnya.


Yano pun mendekat kearah Moza,dia meraih piring itu dari tangan Moza.


"Mas mau ngapain,aku kan lagi makan"rajuk Moza melihat Yano yang tiba-tiba merampas piringnya.


"Aku mau coba rasa telur gosong ini"jawab Yano ingin menyuapi sesendok nasi itu,sedang Moza bingung harus berbuat apa jika Yano mencoba rasa telur itu.


"Mas itu kan sisa aku,lagian itu nggak higienis"bujuk Moza meraih piring itu,tapi Yano malah mengangkat piring nya tinggi-tinggi,sehingga dia tidak bisa mencapainya dengan postur tubuhnya.


"Ngapai kamu larang saya makan hah?"tanya Yano dengan ketus kepada Moza.


"Emmm anu mas,itu..."belum sempat Moza melanjutkan kata-katanya,Yano sudah menyuapkan satu sendok kemulutnya,Moza segera berlari kecil kearah pintu dan kabur,agar menghindari amukan Yano.


"Uekkkk..ueek"Yano.segera berlarian ke wastafel memuntahkan semua nasinya,wajahnya langsung memerah.


"Moza dimana kamu hah?"teriaknya memanggil nama istrinya dengan emosi,pasalnya Moza membuat dirinya mati karena rasa asin.


"Sialan awas saja kamu Moza,tapi kenapa dia seolah menikmati makanan asin itu"ketus Yano meneguk air putih,merasa heran dengan Moza yang melahap makanan yang terasa asin itu.


*


*


"Uhh untung gue selamat"lirihnya menghela napas.


Tapi detik berikutnya dirinya merasakan rasa mual,dia langsung berlari kekamar mandi memuntahkan seluruh isi perutnya,karena entah berapa sendok nasi yang masuk dimulutnya tadi,dia menahan rasa asin itu sehingga barulah bereaksi diperut Moza.


"Aduh gue pemecah rekor makan tuh telur asin"ucapnya merebahkan tubuhnya kekasur,menatap langit-langit kamarnya,hingga dirinya terlelap.


Esok harinya,Moza bangun dengan kondisi kakinya yang sudah mendingan sehingga dirinya bisa berjalan seperti semula lagi.


Dia sudah cantik pagi ini,menuruni tangga dengan senyum sumriah,tapi sekejap senyum itu menghilang melihat Yano yang menatap tajam dirinya dari meja makan,dia berbalik kebelakang tapi terlambat saat Yano sudah menyadari kehadirannya.


"Berhenti disitu!"teriak Yano dengan lantang,membuat nyali Moza menciut,terpaksa berbalik arah untuk turun.

__ADS_1


"Naik lagi!"titah Yano kepada Moza yang sudah berada dilantai bawah,tapi disuruh naik lagi.Begitu seterusnya dia menyiksa Moza naik turun tangga.


"Mas aku cape banget nih"lirih Moza dengan keringat bercucuran,sudah berapa jam dia naik turun tangga,kakinya tak mampu lagi menopang.Kakinya mulai merasakan sakit lagi tapi hal itu tak membuat Yano iba melihat gadis itu.


Siti hanya bisa menatap iba Moza dari jauh,tanpa berani untuk membantunya.


"Kasihan non Moza"lirih Siti


Yano hanya diam menyaksikan kesakitan gadis itu,dia malah datar saja,hingga sebuah suara memecahkan aura dingin Yano di ruangan itu.


"Siang Bro"sapa Jaya yang datang tiba-tiba.


"Ngapain lho kesini?"tanya Yano sinis.


"Ketus amat lo"balas Jaya menepuk pundak sahabatnya,dan matanya menelusuri ruangan itu seperti sedang mencari seseorang,dan netra matanya menangkap sosok gadis yang kelihatan lelah dengan keringat bercucuran naik turun tangga.


"Heyy ngapain kamu disitu"tegur Jaya berlari mendekati gadis itu,dan membantunya karena tubuh Moza hampir linglung mau jatuh untung saja Jaya cepat membantunya.


Sedang Yano yang melihat aksi Jaya itu terbakar amarah,dia tak terima dengan aksi sahabat yang begitu lancang.


"Singkirkan tangan kamu dari istri saya!"titah Yano menatap Jaya yang menopang tubuh Moza yang sudah tak bertenaga.


"Kalo memang dia istri kamu,tunjukan rasa pedulimu"jawab Jaya menggendong tubuh Moza tak menggubris amarah Yano yang mau meledak.


"Sialan"rutuk Yano mengikuti Jaya yang sudah duluan menggendong istrinya,diikuti Siti yang sejak tadi melihat insiden tersebut.


Moza dibaringkan dan kemudian Jaya memeriksa keadaan Moza secara manual,karena dia tak membawa alat dokter nya.Karena kedatangan nya malah diterima dengan kejadian tak terduga.


"Bagaimana kondisi nona Moza dok?"tanya Siti dengan cemas.


"Kondisinya baik-baik saja,tapi dia harus banyak beristirahat.Dan usahakan jangan disiksa"ucap Jaya menatap Yano dengan tajam,begitupula sebaliknya.


"Mending lo pulang sekarang juga"usir Yano mendorong Jaya dengan paksa.


"Gue nggak mau pulang sampai gadia ini sadar,dan gue pastikan dia baik-baik saja"tolak Jaya membuat rahang Yano mengeras,sedari tadi dia menahan amarahnya agar tidak memukul sahabatnya,tapi dia sudah tak bisa menahannya.


"Lo nggak hak atas istri gue"ucap Yano memegang kerah baju Jaya,dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Gue memang nggak punya hak,tapi gue manusia yang punya hati,tidak seperti lelaki pengecut yang menikahi gadis tak bersalah karena dendam"sindir Jaya mendorong Yano dengan kuat,dan berlalu pergi.


"Hemm,iya aku memang pengecut"teriak Yano meninjau dinding,hingga mengeluarkan darah segar,tapi dia pun tak merasakn sakir pada tangannya .


__ADS_2