
Setelah mengintrogasi Jaya,Jesika kini berhadapan dengan lelaki yang sejak tadi ditunggu olehnya,lelaki yang membuat dirinya sampai terjebak seperti sekarang ini.
"Nggak usah natap gue begitu,gue tahu gue ganteng"puji Revan menatap Jesika yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Aku nggak lagi bercanda,apa maksdumu membohingi aku kalo pintu apartemen kamu rusak?,dan kamu bilang membawa aku pulang ke mansion Yano tapi nyatanya enggak?"tanya Jesika dengan menggebu.
"Kamu mau tahu jawabannya?"Revan menatap Jesika datar,dan diangguki oleh Jesika.
"Sebenarnya aku ingin kamu mendapatkan pria yang lebih baik saja,karena mencintai pria brengsek sama saja bohong"Selepas mengatakan itu Revan berdiri dan segera berlalu,karena tak mau lebih lanjut berdebat dengan Jesika,takutnya dia tidak bisa mengontrol perasaan yang sesungguhnya.
"Jangan bilang kamu menahanku,karena masih belum move on dari aku"cecar Jesika tersenyum miring,dan menghentikan langkah Revan.
"Yang pasti bukan itu alasannya,karena sudah ada pengganti dalam hati ini"ucap Revan telak,tanpa menatap Jesika lalu meninggalkan Jesika yang tak percaya bahwa sudah ada wanita yang berhasil menaklukan hati mantan kekasihnya itu.
"Siapa wanita itu?"gumamnya
"Non Jesika,mari saya antar ke kamar tamu non"Seorang pelayan datang dan membuyarkan lamunan Jesika.
"Ooh iya bi,tolong ya semprot wewangian untuk kamar yang saya tempati,soalnya saya agak alergi bau yang tak sedap" suruh Jesik dengan nada angkuh.
"Baik non",pelayan itu berlalu dari situ sambil mulutnya komat kamit.
"Baru jadi tamu,tapi sombong kayak tuan rumah aja"
...****************...
Ditempat lain,kedua insan yang masih setia berada diatas ranjang,dengan selimut menutupi kedua tubuh polos itu.Mereka adalah pasutri Yano dan Moza yang sudah beberapa jam melakukan kegiatan panas mereka.
"Kamu pasti lelah ya sayang?"Yano membelai rambut istrinya dengan lembut.
"Sedikit mas,tapi kebanyakan enaknya"ceplos Moza dengan wajah bersemu malu,membayangkan kegiatan panas yang mereka lakukan beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
"Kamu suka ya?"goda Yano menoel noel hidung Moza.
"Heumm"Moza berdehem saja untuk menghilangkan rasa malunya
"Nggak usah malu aku udah lihat semua,muanya"ujar Yano menyingkapkan selimut yang menutupi tubuh polos mereka,dengan cepat Moza menarik kembali selimut itu,dan menutup tubuhnya hingga menutupi wajahnya,membuat Yano tersenyum gemas dengan tingkahnya.
Tapi Yano malah membuka selimutnya lagi ,dan dengan sigap menggendong tubuh mungil Moza.
"Mas turunin aku,kamu ngapain sih"teriak Moza karena terkejut dengan Yano yang menggendongnya tiba-tiba,dengan tubuh polos.
"Wait honey,aku ingin memandikanmu saja"ucap Yanl tersenyum penuh arti melanjutkan langkah kekamar mandi,diturunkannya Moza dengan hati-hati,sedang Moza hanya diam saja menutupi rasa malunya.
"Kamu mau ngapain mas?"tanya Moza melihat Yano yang tak keluar dari kamar mandi.
"Aku mau mandi juga,soalnya gerah yank"jawab Yano dan ikut masuk kedalam bathup,membuat Moza menjerit.
"Kamu mau ngapain lagi mas?,aku duluan yang mandi sekarang kamu keluar dulu"jerit Moza karena jujur dia malu kalo harus mandi berdua dengan Yano.
"Yank apa salahnya sih,lagian aku tidak mau kalo kamu kenapa-kenapa dikamar mandi"bujuk Yano dengan wajah dibuat sesedih mungkin,hingga membuat Moza pasrah saja karena dia mengerti akan kekhawatiran dari Yano sebagai seorang suami.
"Kamu mau makan yang mana yank?"Yano menunjuk makanan yang Siti siapkan untuk mereka.
"Aku mau makan apa yang kamu makan saja mas"ucap Moza dengan senyum kecil,karena dia lebih suka makan makan sepiring berdua dengan Yano.
"Kalo begitu aku yang menyuapi kamu"Yano dengan senang hati menyuapkan nasi kemulut Moza,dan istri kecilnya itu makan dengan lahap hingga tandas satu piring,lalu Moza mau nambah lagi.
"Mas aku boleh nanya nggak?tanya Moza sambil mengunyah nasinya.Dan tiba-tiba raut wajahnya menjadi sendu
"Mau nanya apa yank,tanya aja"Yano melihat karaguan dimata istrinya,karena tak biasanya Moza bertanya hal serius kepadanya.
"Emm tapi kamu jawab dengan jujur mas?"mata Moza mulai berkaca-kaca membuat Yano bingung dan khawatir
__ADS_1
"Kamu kenapa yank,tanya aja aku janji bakalan jujur"Yano menangkup wajah mungil gadis itu dan memeluknya,takut Moza akan menangis.
"Papa sama mamaku dimana?"
Deg
Jantung Yano seakan berhenti berdetak,hal inilah yang menjadi keresahannya dari kemarin.Pasalnya semenjak awal menikah dengan Moza dia memutuskan untuk menyembunyikan kedua orangtua Moza dari Agusto,ditempat yang aman
Akan tetapi kemarin ada laporan dari anak buahnya kemarin,kalo ada komplotan yang menyerang tempat itu lalu mereka menculik keduaorangtua Moza.
Sampai sekarang Yano belum tahu pasti siapa dalang dibalik semua itu,dia menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki masalah itu,karena dirinya tidak mungkin meninggalkan Moza yang tak ingin jauh dengannya.Dia juga yakin orang yang menculik orangtua Moza pasti akan mengincar Moza juga.
"Mas,kok kamu diam aja?,aku rindu sama mereka mas"isak Moza menyadarkan Yano dari lamunannya.
"Hemm enggak kok,ooh itu aku lupa kasih tahu sama kamu"ucap Yano menutupi kegugupannya untuk menghadapi istrinya yang pastinya akan syok mengetahui orangtuannya diculik,apalagi dia dalam kondisi hamil.
"Kasih tahu apa ma?,kamu nggak sakitin mereka kan?"Moza melepas pelukannya dan menatap Yano dengan intens.
"Ya enggaklah aku sudah pindahkan mereka ditempat yang aman sejak awal kita menikah"ucap Yano menggenggam lembut tangan Moza.
"Kenapa kamu lakuin itu,bukannya kamu juga membenci orangtuaku?"tanya Moza membuat Yano bungkam seketika.
"Tatap mata akua,aku udah persiapkan semua dari awal,kamu jangan pikirin papa sama mama,mereka aman aman saja,kamu fokus sama kehamilan kamu dulu"Yano memegang kedua bahu Moza,dan mereka saling bertatapan.
"Tapi mas aku mau bertemu sama mereka,aku mau sampaiin berita bahagia ini kepada mereka"kekeh Moza.
"Tapi sekarang bukan saat yang tepat,aku janji akan bawa kamu bertemu dengan mereka"Yano mengelus lembut pucuk kepala Moza.
"Tapi kamu harus janji sama aku mas,aku nggak sabar bertemu mereka"ucap Moza menatap Yano dengan puppy eyes nya,membuat Yano tak tahan dengan keimutan istrinya,dia menarik tengkuk Moza dan melahap bibir merah istrinya itu.
"Mas,kamu rusakin lipstik aku"rengek Moza mengusap bibirnya.
__ADS_1
"Sini aku perbaikin"Yano mengusap lembut bibir Moza yang terasa kenyal,membuat Moza merasa tak nyaman.
"Sudah sudah nanti kamu nggak tahan dengan bibir cantik istrimu ini"ucap Moza asal,menghempaskan tangan Yano,membuat dia terkekeh dengan candaan istrinya barusan.