Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Undangan


__ADS_3

Sementara Moza menenangkan pikirannya dikamarnya sendiri.


"Hufffttt,"dia menghembuskan nafasnya,menyentuh dagunya yang terasa nyeri.


"Segitu bencinya kamu sama aku mas,sampai egomu sangat tinggi untuk mengakui perasaanmu"Moza menatap cincin pernikahannya dengan sendu.


Sementara di ruang bawah Jaya yang sudah membuat ulah tengah makan dengan santai.


"Ini tuan sayurnya"Siti membawakan semangkuk sayur untuk Jaya.


"Eiit tunggu Sit,saya mau bicara sesuatu dengan kamu"ucap Jaya membuat Siti gusar,takut melakukan sesuatu kesalahan sehingga Jaya ingin bicara dengannya.


"Ada apa ya tuan?"Siti menjadi penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Jaya.


"Ayo ikut saya!"Jaya membawa Siti ketaman belakang,dan menyuruhnya duduk santai saja.


Kemudian Jaya mulai serius mulai pembicaraannya,dan Siti awalnya Siti nampak terkejut akan tetapi diwaktu berikutnya dia menyimak omongan Jaya dengan menganggukan kepalanya.


Sudah dua jam lebih keduany terlibat pembicaraan yang serius,dan nampak Jaya menengok keadaan sekitar,memastikan tak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Bagaimana Sit,kamu mengerti kan?"tanya Jaya menatap Siti yang nampak terdiam,setelah mendengar pembicaraanya yang begitu panjang.


"Saya mengerti tuan,saya juga nggak tega melihat nona Moza tersiksa"Siti memiliki semangat yang keras untuk mendukung apa yang Jaya katakan tadi.


"Soal ketahuan sama Yano,kamu tenang saja itu urusan saya"Jaya berjanji untuk melindungi Siti,agar Siti tidak khawatir dengan keselamatan maupun pekerjaannya nanti.


"Kalaupun nantinya tuan muda tahu,saya akan terima resikonya tuan"ucap Siti menunduk,membuat Jaya bingung dengan kesetiaan dari Art nya Moza.


"Entah yang Moza perbuat,hingga Siti sampai rela membantu dirinya"pikirnya dalam hati.


"Ya sudah tuan saya masuk kedalam dulu"setrlah dirasa sudah cukup pembicaraannya dengan Jaya,dia memilih masuk untuk melanjutkan pekerjaannya sebelum ada yang melihat mereka.


Sementara itu Jaya merogoh saku celananya dan mengirim pesan singkat kepada seseorang.


"Sebentar malam jam 10 lo udah ada didepan"


Begitulah isi pesan singkat Jaya,entah kesiapa dia mengirimnya,hanya dia yang tahu.Setelah itu Jaya meninggalkan kediaman Yano,dengan senyum devil yang terukir diwajahnya.


Sepeninggalan Jaya,terjadilah kehebohan juga diruang tengah,tiba-tiba Jesika memanggil Yano dengan antusias,entah dari mana munculnya gadis itu yang baru terlihat lagi batang hidungnya.


"Yano!"


"Yano dimana bi?"tanya Jesika melihat Siti yang sedang menyapu.

__ADS_1


"Mungkin tuan muda ada dikamarnya"ucap Siti dengan jutek,dan berlalu dari hadapan Jesika.


Akhirnya Jesika memilih mengecek Yano dikamarnya,sedangkan didalam Yano ingin bersiap untuk pergi lagi,dia ingin menenangkan pikirannya setelah cekcok dengan istrinya.


Cekleeek....


Muncullah Jesika dengan tampang sungmriahnya,mendapati lelaki yang sedari tadi dicarinya.


"Ngapain kamu kesini hah?"Yano memarahi Jesika yang sembrono masuk kamarnya.


"Aku cuman mau nyampain undangan dari om Agusto"Jesika menyodorkan sebuah undangan kepada Yano,dan Yano merampasnya dengan kasar dari Jesika.


"Apa hubungan dengan aku?"Yano melempar undangan itu kesembarang arah,menurutnya itu bukan urusannya menghadiri pesta ulang tahun dari rekan bisnis ayahnya.


"Tapi om Agusto yang meminta,kita berdua yang gantiin dia"Jesika meyakinkan Yano agar mau memenuhi undangan itu bersamanya.


"Kenapa nggak kamu aja yang datang"Yano bersikap acuh,sambil memakaikan jasnya.


"Tapi kamu kan anaknya,jadi kamu yang pantas dong hadirinnya,ayo dong Yan"bujuk Jesika tak ingin kalah.


"Kenapa kamu yang heboh dengan undangan itu,aku saja biasa biasa aja"Yano menatap Jesika dengan penuh curiga,membuat Jesika kelabakan ditatap seperti itu.


Dreeet....dreet


"Halo pak"


"Kamu sudah terima undangannya Yan"


"Sudah pak,biar Yano diwakili sama Anton saja yah"


"Nggak bisa gitu Yan,papa sudah janji sama rekan ayah untuk digantiin sama kamu"


"Tapi yah"


Tuttt..tut...


Agusto mematikan obrolannya sepihak,membuat Yano berdecak kesal.


"Itu kan Yan,gue nggak bohong kan"Jesika tersenyum penuh kemenangan,karena mendapat angin segar dari Agusto yang menyelamatkan nya dari kecurigaan Yano.


"Sebentar lagi kamu akan jadi milik aku Yano Dewantara"monolog Jesika dengan tersenyum smirk,dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari sakunya.


"Puas kamu"Yano menatap Jesika dengan tajam,dan pergi keluar dari kamarnya,bersamaan dengan itu Moza tepat keluar dari kamarnya melihat Yano turun tangga dengan ekspresi yang terlihat kacau.

__ADS_1


"Kenapa ya dengan mas Yano"pikirnya dalam hati,belum sempat dia melangkah Jesika juga keluar dari kamar Yano,membuat pikiran Moza melayang kehal yang negatif.


Dia lalu melangkah mundur,tak ingin dirinya dilihat oleh Jesika.Yang ada dirinya dipanas-panasi oleh wanita itu,walaupun Jesika sendiri tidak mengetahui hubungan suami istri antara Yano dan Moza.


"Sebenarnya apa yang terjadi sama Jesika dan Yano"Moza menatap Jesika yang senyum-senyum sendiri,membuat rasa cemburu menghantui dirinya.


"Nggak mungkin kan mas Yano..."Moza tak bisa meneruskan kata-katanya,dia masuk kedalam kamar dan menguncinya.


"Hiksss.....hiksss..hikss"dia menangis dengan terisak dipintu,perlahan dia meluruh kelantai,memegangi lututnya sambil terisak.


"Hikkss,mas Yano nggak mungkin begitu"tangis Moza pecah memikirkan hal apa yang Jesika lakukan dikamar suaminya,terlebih melihat keadaan suaminya yang terlihat kacau,membuat timbul rasa curiga dihatinya.


"Sadar Za kamu bukan istri yang diinginkan"lirihnya mengusap air matanya.


"Kamu nggak boleh nyerah Za,,nggak boleh cengeng,masa kalah sama tante tante"Moza berdiri dan mengusap jejak air matanya lagi,mood gadis polos itu berubah-ubah,beberapa menit yang lalu dirinya menangis sejadinya,dan sekarang dirinya sudah tersenyum ceria.


Setelah memastikan matanya sudah terhindar dari bekas air mata,dia memutuskan turun kebawah untuk membantu Siti didapur.


"Wooyyy"Moza menepuk pundak Siti dengan pelan,membuat Siti terkejut.


"Abakadabra simsalabim"celetoh Siti tak beraturan.


"Waah bi keluar lagi jurusannya"kekeh Moza melihat tingkah Art nya itu.


"Non Moza sih ngagetin aja"tutur Siti menatap Moza dengan tersenyum,walaupun dalam hatinya sedang bersedih.


"Kenapa sih bibi natap Moza kek gitu?"Moza merasa aneh dengan tatapan Siti yang berbeda dari biasanya.


"Nggak apa-apa kok non"Siti berbalik badan dan mengusap matanya dengan buru-buru.


"Bibi nangis"Moza memegang pundak Siti agar dia berbalik,


"Siti kelilipan doang non"tak ingin dicurigai Moza,dia beralasan membereskan kamar Yano.


"Aneh banget sih bi Siti"Moza pun bingung sendiri,baginya Siti juga biasa bercanda sehingga dia tak mau ambil pusing dengan keanehan Siti.


Moza pun melanjutkan mencuci piring yang tak dilanjutkan oleh Siti.Tapi tak sengaja tangannya licin dan piringnya terjatuh.


"Auuwww"teriak Moza karena merasa terkejut,untungnya dirinya tak terkena pecahan piring itu.


"Kok perasaanku jadi nggak enak ya"pikir Moza membereskan pecahan piring itu dengan pelan.


Perasaan apakah itu readers???,hanya Moza yang tahu😁

__ADS_1


__ADS_2