
Sudah beberapa minggu berlalu Moza sudah pulih dan sudah bisa beraktivitas lagi,dia sudah masuk sekolah lagi.Karena menjelang ujian akhirnya dia harus mempersiapkan diri dengan baik,ya karena kini Moza sudah naik kekelas 12 dan akan menghadapi ujian akhir,artinya tak lama lagi dia akan lulus dari sekolah menengah atasnya.
Semenjak itu juga hari-hari Moza selalu terganggu karena ulah Geral yang merupakan cowok playboy,yang tak henti,-hentinya mengejar Moza,tapi selalu ditolak dan dihindari oleh Moza.
Seperti malam ini Moza berencana untuk belajar bersama dengan Manda,akan tetapi hal itu harus gagal dikarenakan Geral yang sudah berjam-jam parkir didepan rumahnya,sejak sore tadi hanya untuk membujuk Moza untuk dinner malam ini dengannya.Akhirnya dengan berat hati Moza pergi dengan Geral dan membatalkan janjinya dengan Manda,dengan alih-alih kurang enak badan,karena jika Moza kasih tahu dia pergi sama Geral bakaln rumit lagi masalahnya.
Selama perjalanan Moza hanya memandang keluar jendela,dia tak menggubris perkataan dari Geral yang sedari tadi bertanya kepadanya.Melihat tak ada respon dari Moza,Geral terdiam saja sambil melajukan mobilnya ketempat tujuan mereka.
Tak lama kemudian sampailah keduanya disebuah kafe,Moza hanya mengikuti arahan dari Geral meskipun dalam hati dia sangat bete,tapi dia tetap menghargai usaha Geral.Baik Geral maupun Moza saling terdiam,kalo Moza biasa-biasa aja,tapi tidak dengan Geral yang terlihat gugup dan ragu-ragu ingin bicara.
"Za sebenarnya gue mau ngomong sesuatu sama kamu"
"Emm ngomong aja"jawab Moza santai
"Sebenarnya gue cinta banget sama lo Za,meskipun lo udah tolak gue beberapa kali tapi rasa ini takan berubah"ungkap Geral tulus,namun dari awal Moza sudah bisa menebak gerak-gerik Geral kalo dia bakalan nyatain perasaanya lagi.
"Ge gue udah bilang berapa kali sama lo,kalo rasa suka lo itu bukan cinta tapi obsesi"kata Moza mencoba menolak Geral dengan halus,karena yang dia dengar Geral ini mengalami gangguan mental pada liburan kali lalu,dan saat ini dia sedang mengalami perawatan yang membuat kondisinya membaik walaupun belum sepenuhnya pulih.Karena Moza masih memiliki simpati sebagai manusia,untuk kali ini dia tidak ingin terang-terangan menolak Geral,dia mencoba untuk memberikan pengertian agar dia juga terbebas dari Geral.
"Moza gue itu suka banget sama kamu,dari awal kita bertemu gue udah jatuh hati sama kamu.Please tolong terima gue sekali ini saja."Mohon Geral memegang tangan Moza.
"Ge lo bisa kok jadi teman gue,jadi kita bisa sama-sama terus"bujuk Moza
"Gue enggak mau Za kalo hanya sebatas teman,gue enggak mau"teriak Geral dengan mata memerah,Sehingga semua mata pengunjung menatap kearah mereka.Moza mulai panik dengan situasi ini,apalagi dia melihat tatapan Geral saat ini sudah tidak bersahabat.Geral melangkah kearah Moza dan mencengkram tangannya,lalu menarik nya keluar dari kafe tersebut.Moza semakin takut dengan perubahan Geral,tangannya mulai merasa sakit karena dicengkram kuat oleh Geral.
"Ge lepasin tangan gue"ringis Moza menahan tangannya yang kesakitan ,namun bukan nya dilepas malah Geral memperkuat cengkramannya dan menyeret paksa Moza untuk masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Masuk"perintah Geral tak ingin dibantah,namun Moza menolak karena dia tak mau jika Geral mengemudi dengan keadaanya yang sekarang.
"Ge kamu tenang dulu ok,kita bicara baik-baik dulu"bujuk Moza memohon kepada Geral,namun Geral semakin menjadi-jadi.
"Diam kamu!,kamu pikir aku pria bodoh hah bisa dikelabui dengan omongan manis dari mulutmu hah"Geral malah mencengkram dagu Moza dengan kuat,membuat sang empunya meringis kesakitan.Kebetulan suasana disana juga agak sepi sehingga Geral dengan bebas melampiaskan amarahnya kepada Moza.
"Ge please lepasin dulu,kita bisa bicara baik-baik"Moza sudah tidak bisa menahan rasa didagunya,dia hanya bisa menangis berharap ada yang bisa menolongnya.Seakan semesta berpihak kepadanya tak lama sebuah mobil BMW hitam meleset didepan mereka,membuat Geral dan Mkza menatap kearah orang yang keluar dari mobil itu.
Turunlah seorang pria tampan dari mobil itu dengan setelan jasnya,namun wajahnya tidak terlalu jelas karena hanya terdapat cahaya remang-remang diparkiran kafe itu.Tak ingin diketahui oleh orang lain,Geral memaksa Moza untuk masuk kedalam mobil,namun Moza melawan dan berteriak agar bisa didengar oleh pria tadi,tapi Geral malah menampar Moza dengan keras sehingga bibir Moza sedikit terluka.Tak sampai disitu Geral malah membekap mulut Moza agar tidak berteriak.
Sang pria yang baru melangkah kedalam kafe berhenti sejenak,dia mendengar suara wanita yang berteriak lalu dia mengendap-endap mencari asal suara,dia melihat seorang pria yang tengah membekap mulut seorang wanita dan memaksa wanita itu masuk kedalam mobil.Tanpa menunggu lama dia mendekat dan langsung menarik Geral dan memukulnya dengan membabi buta.
Bugh..bugh.bughhh
Setelah pria itu membuat Geral babak belur,dia melirik wanita yang masih mematung ditempatnya dengan tertunduk dan rasa takut,lalu dia mendekat untuk memastikan keadaannya.
"Apa nona baik-baik saja"tanya sang pria pelan,lalu Moza mendongak mendengar suara yang familiar ditelinganya.
"Yano?"Moza membekap mulutnya tak percaya dengan mata berkaca-kaca,lagi-lagi dirinya bertemu dengan laki-laki yang selama ini masih tersimpan dihatinya,ternyata pria yang sudah meenolongnya adalah Yano.
"Moza?,kenapa kamu bisa ada disini hah"Yano sama terkejutnya,wanita yang ditolongnya adalah mantan kekasihnya,dia merasa khawatir dengan kondisi Moza karena sudut bibirnya terluka.
"Hiks..hiks ceritanya panjang Yan"air mata Moza sudah tak tertahankan,dia menangis dengan bahu bergetar karena masih trauma dengan aksi Geral tadi.Yano yang tak tega melihat Moza menangis,memberanikan dirinya memeluk wanita itu dan mengelus kepalanya menyalurkan kenyamanan bagi Moza,untungnya Moza tidak memberontak dia menangis sejadinya dalam pelukan Yano.
"Kamu tenang dulu!,ada aku disini"ujar Yano membelai rambut Moza.Dia tak menyangka dirinya harus dipertemukan dengan Moza dalam situasi seperti ini,tadinya dia ingin menemui seseorang didalam kafe tersebut.Namun niatnya tertunda ketika dia menolong seorang wanita yang tak lain adalah wanita yang pernah mengisi relung hatinya hingga sekarang ini.
__ADS_1
"Yan gue nggak tahu apa yang bakalan terjadi sama aku,kalo kamu nggak ada disini"membayangkan saja Moza sudah takut apalagi kalo menjadi nyata.
"Kamu nggak perlu khawatir lagi,aku sudah ada disini"Yano melepas pelukannya dan menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi cantik itu,sungguh teriris hatinya melihat Moza menangis,bayangan masa lalu ketika Moza menangis karena dirinya terlintas kembali.
Yano memapah Moza untuk mencari tempat terang agar keduanya bisa bicara dengan leluasa,mereka menemukan sebuah taman disamping kafe tersebut dan menduduki sebuah kursi disana.Karena cerita nya mereka ini sudah meenjadi mantan kekasih jadi hanya diadegan tadi saja bisa bermesraan,karena sekarang sudah kecanggungan lagi.
"Yan terima kasih ya udah nolongin gue"ucap Moza menatap langit malam yang begitu indah,ditemani lampu taman yang berwarna-warni.
"Sama-sama Za,tapi kok bisa kamu disiksa sama pria brengsek itu hah"tanya Yano heran,emosinya meluap mengingat perlakuan kasar Geral tadi serasa jiwa membunuhnya bangkit,tapu dia tidak mau melakukan itu didepan mata seorang wanita apalagi wanita itu adalah Moza.
"Gue juga nggak tahu sih alasan dia tiba-tiba menjadi kejam begitu"jawab Moza menghela napasnya dengan kasar,kemudian dia mulai menceritakan kronologinya sampai selesai.
"Wahh saking cantiknya seorang Moza,sampai para pria terobsesi sekali ya,"goda Yano membuat Moza terkekeh,suasana perlahan mencair Moza seakan melupakan rasa takutnya.
"Apaaan sih kamu Yan,emang dasar pria itu nggak pernah merasa cukup sama satu cewek"sindir Moza
"Tapi nggak semua pria begitu,ada yang setia sampai akhir hayatnya hanya untuk satu wanita"kata Yano melirik Moza yang terdiam.
"Emang ada ya?"tanya Moza pura-pura berpikir
"Ada kok,contohnya aku yang masih menyimpan wanira pertama dalam hati ini.Dan aku juga merasa beruntung karena diluaran sana banyak pria yang terobsesi dengannya,namun hanya aku yang dia terima."Ucap Yano tulus menatap keatas langit,sedangkan Moza merasa salah tingkah dengan kata-kata Yano,tapu dia tidak terlalu berharap kalo wanita yang dimaksud Yano adalah dirinya,secara hubungan mereka saja tidak lama pasti ada wanita lain sebelum Moza.Itulah yang ada dibenak Moza yang tengah melamun.
"Kamu mau tahu siapa orangnya"tanya Yano tapi Moza tak mau menjawab,dia takut sakit hati kalo bukan dirinya lah wanita itu.Tak ada respon dari Moza Yano memegang tangan dari wanita disampingnya dan meletakkannya tepat didadanya.Meski dirinya pernah terluka gara-gara Yano,tapi sampai sekarang dia belum mampu melupakan Yano sepenuhnya.
"Masih ada kamu dihati ini"jujur Yano membuat pipir Moza memerah,dia meleleh dengan pengakuan Yano yang terlihat tulus.Sampai sekarang pun Yano juga masih memiliki rasa dengan Moza,jadi dia ingin Moza tahu kalo dirinya lah satu-satunya wanita yang ada dihatinya meskipun mereka takan pernah bersama.
__ADS_1