Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Merawatnya


__ADS_3

Menjelang sore hari Moza masih setia menemani Ardiansyah dirumah sakit hingga dia tertidur dengan pulas.Yano juga baru sampai dirumah sakit setelah pulang kerumah untuk mengganti pakaiannya agar tidak terlihat berantakan didepan Moza akibat perkelahiannya dengan Revan.


Sementara Albertoo dan Emilia masih ikut menunggu dirumah sakit,karena Moza tak mau pulang untuk istirahat.Diajak makan siang saja harus dibujuk beberapa kali,akhirnya bumil itu mau mengisi perutnya yang nyatanya sudah keroncongan.


Yano baru saja sampai dirumah sakit,walau dengan wajah yang masih memar.Dia tidak mungkin membiarkan Moza disana walaupun bersama mertua dan pengawalnya.


Dia masuk kedalam ruang rawat Ardiansyah dan melihat Albertoo dan Emilia masih disana sedangkan Moza sudah tertidur sejak tadi.


"Ma,pa! Maafin aku ya karena ninggalin kalian tadi"ucap Yano tak enak hati melihat mertuanya yang sudah sejak pagi dirumah sakit.


"Nggak apa apa kok Yan,papa cuman khawatir saja dengan Moza yang tak mau pulang"Albertoo.menunjuk Moza yang tertidur sambil duduk.


"Yan wajah kamu kenapa babak belur begitu?"Emilia baru menyadari memar diwajah menantunya.


"Akh ini cuman luka ringan aja,karena ada masalah sedikit"


"Tapi Yan.._"


"Ma kita pulang aja ya,lagian Yano sudah disini"Albertoo mengalihkan pembicaraan karena melihat Yano tak bisa menjawab Emilia.


"Iya ma soal Moza aku aja yang jagain disini"


Akhirnya Emilia mengangguk setuju,walau dengan hati berat meninggalkan Moza yang sedang menjaga ayahnya.Mereka berdua pergi menyisakan Moza dan juga Yano disana.


Yano mendekat kearah Moza yang tertidur pulas.


"Sayang!"panggilnya pelan mengelus pipi chubby istrinya,namun tak menggangu tidur Moza.


"Sayang,nggak baik tidur sambil duduk kasihan baby kita"sekali lagi Yano mengelus pipinya dengan sedikit menggoyang tubuhnya.


"Hoaaaam mas kamu kemana aja"Moza meregangkan ototnya karena pegal tidur sambil duduk.


"Aku ada urusan sebentar"


"Lo kok wajah kamu memar begini"cemas Moza langsung berdiri dan memeriksa wajah tampan suaminya yang lecet.


"Ini bukan apa-apa kok"

__ADS_1


"Bukan apa-apa tapi sampai memar begini,jangan bilang kamu berkelahi dengan Revan"tuding Moza menatap geram suaminya.


"Kalo iya memangnya kamu akan membela aku,secara sekarang dia kakakmu"Yano memancing Moza agar wanita itu tidak khawatir dengannya lagi.


"Bukan begitu mas,aku nggak bakal bela siapa-siapa kok"


"Iya tapi kamu langsung panik gitu,tapi nggak mau ngobatin lukaku kan?"ucap Yano seperti merajuk.


"Kenapa malah kamu yang marah sama aku sih mas?"Moza jadi terjebak oleh permainan suaminya.


"Hhh kamu lucu banget deh,aku jadi tambah sayang"gemas Yano mencubit pipi istri kesayangannya itu.


"Ihh mas sakit tahu"rengeknya


"Ngomong-ngomong kamu mau pulang dulu atau masih mau disini?"


"Setelah aku pikir-pikir,mending aku pulang dulu kasihan baby kita kalo aku disini terus.Sudah banyak pengawal disini,dan pastinya Revan juga pasti bakal datang kesini"ucap Moza panjang lebar,walau berat hati meninggalkan ayahnya yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


Setelah memutuskan untuk pulang,Moza berpamitan dulu dengan Ardiansyah lalu bergegas pulang.


"Za kamu mau mau pulang?"tanya Revan melihat adik dan iparnya di parkiran.


"Iya Van,besok aku balik lagi kesini"


"Baiklah,kakak ipar tolong jaga Moza dengan baik"Revan sengaja menggoda Yano didepan Moza.


"Itu sudah pasti adik iparku"Yano memukul bahu Revan dengan keras,walau siempunya meringis kesakitan.


"Syukurlah kalo kalian berdua bisa akur begini,jadi aku bisa tenang wajah tampan kalian tidak lecet lagi"imbuh Moza lalu masuk kemobil.


"Kakak ipar memang sangat kuat ya,bahuku bisa patah"ringis Revan memegang bahunya kemudian berlalu pergi dari sana membuat Yano terkekeh karena teringat kembali dengan permintaan dari adik iparnya itu beberapa saat lalu.


"Kakak ipar jangan lupa dengan trik mu,nanti kutagih sebentar malam"teriak Revan dari jauh dan masih didengar oleh Yano yang hendak masuk kemobil termasuk Moza yang sejak tadi dari dalam mobil menyimak interaksi keduanya.


"Kamu ada janji sama Revan?"tanya Moza menatap suaminya yang sedang tersenyum.


"Nggak ada kok,kakakmu itu hanya ngawur doang"bohong Yano lalu merangkul mesra Moza tak menghiraukan Anton yang sedang menyetir mobil.

__ADS_1


"Dasar bos lucknat,nggak bisa ngertiin aku yang masih jomblo gini"gumam Anton merutuki atasannya itu.


Beberapa hari berlalu......


Moza terus bolak balik kerumah sakit untuk merawat Ardiansyah,meskipun usia kandungannya sudah tebilang hanya menunggu hitungan hari lagi untuk melahirkan karena sudah memasuki usia 9 bulan.


Hari ini adalah menjadi hari ketujuh Moza mengunjungi Ardiansyah,dengan membawa bekal makanan yang dibuat oleh Emilia dari rumah.


Kebetulan hari ini Moza tidak ditemani oleh Yano,hanya ditemani oleh Emilia dan beberapa pengawal.


"Za mama mau tanya sesuatu sama kamu?"Emilia yang sedang mengupas buah untuk Moza kembali teringat sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya belakangan ini.


"Tanya apa ma?"


"Setelah kamu melahirkan dan tuan Ardiasnyah sadar,kamu mau tinggal dengannya atau masih bersama kami"ucap Emilia dengan ragu karena dia juga selalu takut kalo Moza selaku putri angkatnya yang sangat dia sayangi akan meninggalkannya.


"Ma sampai kapanpun kita akan selalu bersama-sama,mama jangan mengira kalo Moza bakal ikut ayah karena dia ayah kandungku dan kalian bukan orangtuaku"Moza memahami perasaan Emilia,dia juga sangat menyayangi orangtuanya walau hanya orangtua angkat namun dia tak rela berpisah dengan mereka,karena jujur dari Emilia dan Albertoo dia mendapat keluarga yang utuh.


"Za!"Emilia tak kuasa menahan air matanya mendengar penuturan Moza.


"Moza janji akan selalu bersama mama dan papa,kita tidak boleh berpisah"Moza memeluk Emilia,dan menangis dalam pengkuannya.Dia mengingat bagaimana Emilia memperlakukannya dengan baik hingga sekarang,jadi tidak bisa dipungkiri bahwa Moza sangat menyayanginya seperti ibu kandungnya.


"Iya sayang mama akan ada disamping kamu terus,menjaga kamu dan juga cucu mama nantinya"tutur Emilia terharu,bagaimana tidak seorang gadis kecil yang dia rawat dari kecil kini sudah tumbuh dewasa dan bakalan memberi cucu untuknya.


"Aisyah!"ditengah momen pelukan anak dan ibu itu,tiba-tiba sebuah suara memanggil dan keduanya menoleh dan melihat Ardiansyah menggerakkan jarinya.


"Ayah!"


"Tuan!"


Ucap mereka bersamaan,lalu bergegas mendekat kearah ranjangnya Ardiansyah.


"Aisyah!"panggil Ardiasnyah dengan mata tertutup.


"Siapa Aisyah ma?"Moza baru mengingat pertemuan kali lalu dengan Ardiansyah yang memanggilnya dengan nama Aisyah.


"Itu sebenarnya nama kamu Za,cuman karena identitas kamu disembunyikan makanya nama kamu disamar menjadi Moza"jelas Emilia membuat Moza mengangguk,kalo ditanya apa dia marah karena namanya pun harus diganti.Jawabannya tidak karena Moza berpikir itu hanya masalah nama yang kapanpun bisa diubah juga.

__ADS_1


__ADS_2