Gadis SMA Versus Polisi Tampan

Gadis SMA Versus Polisi Tampan
Pertarungan


__ADS_3

Bagas sudah selesai mengantar Moza dan dia bergegas untuk mengurus urusannya,dia melewati gerbang rumahnya Moza dan indranya menangkap sebuah mobil hitam yang terparkir diseberang jalanan.Hal itu menimbulkan kecurigaan dibenak Bagas.Karena baru kali ini dia melihat mobil tersebut,sejenak dia memandang ke arah mobil tersebut,dan berlalu pergi.Karena dirinya ingin mengganti pakainnya terlebih dahulu.


Tanpa Bagas sadari ternyata mobil tersebut mengikutinya,dan Bagas baru menyadarinya ketika dia mengaca di spion dan terlihatlah mobil tersebut mengikutinya.


"Waspada Bagas,musuh bergerak"Bagas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi,dia ingin menguji sejauh mana mereka bisa mengikutinya.


"Mau bermain-main rupanya ya"Bagas tersenyum smirk,melihat mobil itu mengoceh jalannya.


Kedua mobil tersebut nampak saling beradu kecepatan,dan membuat para pengendara lain resah dengan laju kedua mobil tersebut yang membahayakan.Akhirnya polantas yang melihat hal itu mengejar kedua mobil tersebut.


"Sial,pake dikejar polisi lagi"rutuk Bagas dan mengambil jalan lain untuk menghindari polisi.Begitupun mobil yang mengikutinya turut mengambil arah lain.


Setelah aman dari polisi dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Van segera bergerak,dan bawakan gue satu jas lagi"kata Bagas.


"Siap Gas"


Tak berselang lama setelah Bagas mematikan ponselnya.Mobil yang tadi mengikutinya sudah menghadang jalannya.Hal itu membuat Bagas keteteran,bukan karena takut karena dirinya masih pake kaos oblong.Karena tak ada pilihan lain dia mengambil topengnya,dan mencari sesuatu disekitarnya.Lalu dia menemukan sebuah dasi SMA,kemudian dia melilitkan dasi tersebut dibahunya.Dengan gagah Bagas keluar dari mobilnya.Bersamaan juga sua orang bertopeng dan busana serba hitam turun dari mobil yang menghadang Bagas.


"Sudah kuduga"ucap Bagas mendekat kearah keduanya.Namun kedua orang tersebut langsung menyerang Bagas,pertarungan yang tak seimbang pun terjadi,dua melawan satu.Tak ada yang tumbang karena kedua kubu sama-sama kuat,Bagas dengan cekatan bisa menangkas pukulan demi pukulan.


Ditengah pertarungannya mereka tiba-tiba sebuah peluru mengenai perut Bagas,entah siapa yang menembak akan tetapi bidikannya tepat sasaran.Dan Bagas pun menahan kesakitan perlahan darah segar mengalir dari perutnya.Dan tepat pada saat itu segerombolan mobil hitam dari dua arah yang saling berlawanan, sebagian dibelakang mobil Bagas,sebagian lagi dibelakang mobil milik dua orang yang sedang melawan Bagas.Dan keluarlah orang-orang dengan busana serba hitam semua.Dengan Segera mereka seseroang dari merek menolong Bagas terlebih dahulu,dan yang lain saling tembak-menembak.


"Untung lo cepat datang Van"tutur Bagas disela rasa sakitnya,ketika sudah berhasil dibaringkan kedalam mobil.


"Jangan mikirin apapun Gas,sekarang kita ke markas sekarang.Kamu banyak kehilangan darah."Jawab salah seorang yang berpakaian hitam itu yang dipanggil Van oleh Bagas,dia melajukan mobilnya meninggalkan anak buahnya melawan orang-orang tersebut.


Pertarungan mereka pun diakhiri,karena sirene polisi terdengar.Tak ada yang menjadi korban dari adu tembak dari kedua kubu,kecuali Bagas yang sudah terluka.Satu persatu mereka meninggalkkan tempat pertarungan tersebut.


...****************...


Keesokan harinya Bagas sudah terlihat fit kembali setelah berhasil mendapat perawatan intensif disalah satu tempat tersembunyi.Karena kemarin dia dilarikan agar bisa mengeluarkan peluru yang bersarang ditubuhnya.Dan ditempat tersembunyian inilah dia dirawat dan terbaring ditempat tidur ditemani oleh Evan yang menjadi sahabatnya.

__ADS_1


"Gas lo ceroboh banget kali ini"kata Evan duduk disamping tempat tidurnya Bagas.


"Gue juga nggak tahu Van,pasti Vangster sudah bergerak"


"Gue juga kepikiran hal yang sama Gas,tapi darimana mereka bisa mengetahui hal tersebu?"tanya Gala memandang Bagas yang sedang melamun.


"Pasti mereka menyamar Van,gue yakin pasti mereka ada disekitar kita"tebak Bagas yang tersadar dari lamunanya.


"Apa jangan-jangan kemarin itu.."kata Bagas menggantung.


"Jangan-jangan apa sih?,nggak jelas"tanya Evan menyambar apel dan memakannya,tapi belum sempat digigit sudah diambil sama Bagas.


"Mending lo periksa bagasi belakang mobil gue yang kemarin,sekarang ya Van.Ini penting"Pinta Bagas memelas,tak menghiraukan Evan yang sudah kesal akibat apelnya diambil begitu saja.Akan tetapi melihat mimik serius dari Bagas akhirnya Evan mengiyakan hal tersebut dan bergegas mengecek bagasi Bagas.


"Gue yakin kemarin itu sudah diatur,apa tukang parkir itu juga salah satu dari mereka"pikir Bagas memutar kepingan-kepingan memori yang dilaluinya kemarin.


"Gue harus selidikin secepatnya,karena bisa saja aku kehilangan jejak"tambahnya


"Sudah gue duga"kata Bagas menggenggam erat benda kecil tersebut.


"Lagian bagaimana lo bisa kebablasan sih Gas"tanya Evan geleng-geleng kepala,lalu Bagas pun menceritakan insiden yang terjadi kemarin,dimulai dirinya harus menyerahkan jas miliknya kepada Moza dan ditegur tukang parkir,hingga razia di lampu merah dan diikuti oleh sebuah mobil.


"Begitu ceritanya Van"


"Kayaknya mereka menyamar disegala tempat,berarti polisi itu yang sudah menaruh gps di mobil lo.Itu artinya mereka menyamar disegala tempat"jelas Evan panjang lebar


"Betul banget Van,kita harus hati-hati"


"Ini artinya nona muda dalam bahaya Gas"timpal Evan merasa khawatir.


"Iya juga sih"balas Bagas tapi langsung kena tabokan dari Evan.


"Kok lo nggak khawatir sih sama keselamatan nona muda?,reaksi lo nggak tulys banget bro.

__ADS_1


"Apaan sih lo,lo nya aja yang baperan"Bagas tak ingin menunjukkan kekesalannya kepada Moza,mau bagaimanapun Moza adalah tanggung jawab besar seluruh anggotanya.


Dilain sisi,tepatnya dirumah Moza terjadi hiruk-pikuk yang begitu memekakan telinga.Bagaimana tidak,Moza mengamuk karena dirinya terlambat,karena Bagas tak kunjung datang.Berulang kali Emilia membujuk putrinya,bahwa Bagas sedang sakit tapi Moza tak mau mengerti,sedangkan Albertoo masih diluar kota karena ada bisnis yang harua dia kerjakan.


"Mana sih tuh om om rese"rutuk Moza mondar mandir melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Za Bagas lagi ijin hari ini,mending supir kita aja yang antar takut kamu terlambat"bujuk Emilia


"Sakit apanya sih ma,orang kemarin tuh masih seger amat"jawab Moza tak percaya jika Bagas sakit.


"Lagian Moza masih ada urusan sama tuh orang,jadi dia harus datang hari ini"tambahnya tak ingin dibantah.


"Ya udah terserah kamu aja deh Za,mama nggak mau ambil pusing kalo kamu terlambat"pasrah Emilia berlalu meninggalkan Moza.Tapi dengan cekatan Moza menghadang mamanya.


"Ma punya kontak nya om Bagas?"tanya Moza berbinar cerah.


"Ada,mau ngapain?"


"Sini ma biar Moza yang nelpon"dengan cepat Moza menyambar ponsel milik mamanya,dan mencari kontak yang tertulis Bagas.


Tut..tuut


Panggilan tersambung.


"Hallo nyonya,ada yang bisa saya bantu"


"Pura-pura sakit ya om,supaya ngehindarin amukan dari Moza"teriak Moza keponsel dengan keras,bahkan mamanya sampai menutup telinga.Begitupun Bagas langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Emm memang betul saya lagi sakit nona,saya akan menyuruh teman saya untuk mengantar nona"tawar Bagas.


"No om,saya mau om yang jemput.Sekarang juga,jangan pura pura sakit dosa lo om"jawab Moza mematikan teleponnya,dan tersenyum sumriah sambil mengembalikan ponsel Emilia,dan tak mau ambil pusing Emilia memutuskan untuk kekamar.


Bagas yang baru mendapat telepon dari Moza,begitu kesal dengan tingkah bocah itu yang selalu menyusahkannya.Berhubung kondisinya belum stabil dia menyuruh Evan untuk menggantikannya sementara,soal Moza mau atau tidak itu urusan belakangan.

__ADS_1


__ADS_2