
Selesai sarapan pagi Kezia mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar. Ia akan membantu Rama menyiakan baju yang biasanya di pakainya ke kantor. Rama berhenti melangkah membuat Kezia yang berada di belakangnyapun terbentur punggungnya.
Rama membalikan tubuhnya melihat Kezia mengusap jidatnya yang terasa sakit karena masih di perban. Rama yang melihatnyapun bukanya simpati malah berdecak kesal.
"Kenapa ngikutin aku terus?"
"Emmm, aku ingin menyiapkan keerluanmu."
"Tidak perlu, jika tidak ada kedua orang tuaku kau tidak usah menyiapkan keperluanku."
Kezia hanya mengangguk karena sepertinya setok kata-katanya telah habis hanya untuk menjawab "Ya". Ia hanya duduk di atas sofa yang tadi malam di tiduri suaminya. Matanya melihat Rama menyiapkan keperluanya sendiri.
Kezia kembali lagi menjadi gadis yang terlihat kuat untuk mengimbangi suaminya. Karena suaminya itu tidak bisa di perlakukan istimewa selayaknya suami.
Kezia membuka handphonenya membaca chatinganya bersama Alex. Tanpa sadar ia tertawa riang karena Alex mengiriminya vidio lucu. Hal itu tak luput dari penglihatan Rama.
"Siapkan barang-barangmu karena nanti sore kita akan mulai pindah ke apartemenku."
Kezia menghentikan tawanya menolehkan wajahnya memandang suaminya. Di anggukanya kepalanya karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Ia akan menuruti perintah suaminya asalkan masih di batas kewajaran.
Rama sudah selesai berganti baju dan siap untuk berangkat bekerja. Di raihnya tas Rama namun l langsung di tepis oleh pemiliknya.
"Ku bilang jangan urusi urusanku."
Bentak Rama tepat di wajah kezia dengan matanya yang melebar karena marah. Kezia tidak merasa takut dengan tatapan Rama. Dia tetap meraih tas rama begitu saja dari tangan Rama.
"Setidaknya bisakah kita pura-pura menjadi suami istri yang baik di depan ayah dan ibu?" ucap Kezia masih pada posisi yang sama menata kedua mata suaminya.
Mereka berdua turun setelah melewati perdebatan kecil barusan. Seperti ucapan Kezia tadi, Rama memerankan sebagai suami yang baik di depan kedua orang tuanya. Kezia tersenyum manis memberikan tas kerja Rama. Di raihnya tangan Rama untuk ia cium selayaknya istri yang baik. Rama langsung tegang saat tanganya di cium Kezia. Kezia membisikan sesuatu di dekat telinga Rama.
"Cium keningku sekarang, Rama."
Rama ingin protes namun karena ada kedua orang tuanya yang menyaksikan. Ramapun memegang kedua bahu Kezia dan langsung mencium keningnya. Betapa senangnya Kezia dalam hatinya bersorak senang.
"Hati-hati di jalan ya mas, semangat bekerjanya."
Kezia melambaikan tanganya dan tersenyum sangat manis. Jika Kezia tersenyum dengan tulus kepada suaminya. Berbeda dengan Rama yang hanya berpura-pura membalas tersenyum pada Kezia.
Setelah suaminya berangkat bekerja, Kezia melakukan yang di perintahkan Rama tadi. Ia mengemas baju-baju Rama ke dalam koper. Karena bajunya sendiri masih di rumah papa Afshen. Jadi kezia tidak perlu menyiapkan baju-bajunya. Ia menelpon asisten rumah tangga di rumah paanya untuk membantunya mengemas barang-barangnya.
__ADS_1
Kezia meneliti barang-barang Rama yang ada di kamarnya. Ia menemukan sebuah foto yang berada di laci. Di lihatnya fiti ang membuat hatinya mendadak sakit. Foto yang menampakan Suaminya dan kakaknya Vania.
"Kalian berdua menyakitiku, terutama kau kak. Kenapa kau sangat membenciku dari kita kecil sampai sekarang?" gumamnya lirih.
Tidak lamapun akhirnya ia terlelap akibat lelah hati dan fisiknya. Kezia masih terlelap dalam tidurnya,ia masih terjaga sampai siang hari. Mungkin karena tubuhnya yang belum benar-benar pulih dan kelelahan.
Setelah ia terbangun dan pindah ke apartemen Rama. Dia akan melewati banyak hal yang tidak akan di ketahui siapapun kecuali Rama. Di lukai hati dan fisiknya sudah hal biasa bagi kezia.
Goresal luka lama maupun luka baru dari suaminya akan ia hadapi. Ia adalah Kezia yang kuat dan siap menghadapi apapun yang terjadi kedepan. Ia percaya di setiap sakit yang ia lalui pasti ada kebahagiaan yang menanti.
Seperti kata suaminya tadi pagi, bahwa Rama saat ini telah pulang tepat pukul empat sore. Kezia yang sedang duduk menonton televisi bersama mertuanyapun segera berdiri menyambut suaminya.
Kezia mencium tangan suaminya membuat Rama lagi-lagi menegang. Di raihnya tas kerja suaminya dan membawanya ke atas mengikuti langkah suaminya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Rama melihat koper yang telah berjajar Rapi. Ia melirik Kezia dan mengambil tasnya dari tangan Kezia.
"Kita berangkat sekarang."
Kezia hanya mengangguk meraih tas kecil yang biasa ia bawa. Sebenarnya Rani ibunya Rama sangat menyayangkan putra dan menantunya memilih tinggal di apartemen. Namun ia tidak bisa melarang mereka karena mereka butuh privasi.
Setelah berpamitan keada kedua mertuanya, kini Kezia dan Rama menuju apartemen mewah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah orang tua Rama. Setelah mereka tiba, Kezia keluar dari mobil dan menatap gedung tinggi apartemen yang akan mereka berdua tinggali.
Kezia langsung masuk ke dalam kamar yang Suaminya tunjuk. Ia langsung menuju kamar mandi dan memanjakan diri karena tubuhnya sangat lengket. Kini ia sudah bisa melepas bajunya sendiri. Karena tangan kirinya sudah membaik dan tidak terlalu sakit.
Setelah selesai mandi, Kezia keluar dari kamar menuju dapur. Namun sebelum sampai ke dapur Kezia melirik suaminya yang tertidur di sofa.
Rama yang tertidur sofapun terganggu akibat guncangan pelan di bahunya. Mata Rama terbuka dan nampak Kezia yang tersenyum sangat manis di depanya.
"Mas Rama, kau terlihat sangat lelah! sana mandi dulu. Aku kan memasakan sesuatu untuk kita makan. Apakah di sini ada sesuatu yang bisa ku masak?"
"Tidak perlu!aku tidak ingin memakan masakanmu. Jika kau ingin masaka, makan makanlah sendiri."
Kezia tersenyum getir setelah mendengar jawaban suaminya. Tanpa membalas ucapan Rama, kezia melangkah cuek menuju ke dapur mengabaikan suaminya. Rama pun tak peduli dan langsung masuk ke dalam kamar untuk mandi.
Setelah memakan waktu yang lumayan lama, Ramapun keluar dari kamarnya. Hidungnya di sambut oleh aroma masakan Kezia yang begitu harum.
Karena penasaran, Ramapun melangkahkan kakinya menuju dapur. Di sana terlihat Kezia yang sedang sibuk memasak. Rambut panjangnya di ikat asal ke atas memperlihatkan leher jenjangnya yang sangat putih mulus.
"Akhirnya selesai juga! hemmmmm harum banget masakanku," ucapnya sengaja menggoda suaminya karena Kezia bisa melihat Rama dari pantulan nampan.
__ADS_1
Rama hanya mematung keheranan melihat kelincahan Kezia saat memasak.
"Eh Mas, sudah selesai mandinya? mau makan bersamaku?" tawarnya.
"Tidak usah! sudah ku katakan aku tidak ingin makan masakanmu."
Kezia hanya menyebikhan bibirnya cuek melihat sikap suaminya. Dengan lahapnya sesekali menggoda Rama agar suaminya itu tergoda dengan masakanya.
Rama melirik seolah tergoda dengan masakan Kezia. Dari tampilan luarnya saja sudah terlihat sangat lezat. Namun ia tetap mempertahankan egonya agar tidak tergoda.
Kezia tersenyum lalu ia melangkah hendak menyuapi Suaminya. Kezia menyendokan makananya mengarah ke mulut Rama.
"Aaaaaa, buka mulutmu dan makanlah, Mas."
"Ku bilang aku tidak mau," teriak Rama menatap tajam Kezia.
Namun Kezia tidak mengindahkan penolakan dari Rama. Kezia tetap bersikeras ingin menyuapi suaminya.
"Praaaaaang."
Piring, sendok beserta isinyapun tumpah berserakan ke lantai. Kezia menatap miris pada masakan yang baru ia buat.
"Aku bilang tidak mau ya tidak mau!apa telingamu tuli,hah?"
Kezia hanya tersenyum miris, tanpa membersihkan piring dan makanan yang berserakan ke lantai. Kezia segera menyambar dompetnya dan hendak keluar dari apertemen.
"Hei,mau kemana kau?'' teriak Rama.
"Cari makan di luar," ujar Kezia cuek dan keluar dari apartemen Rama.
Setelah keluar dari apartemen Rama, Kezia memegangi dadanya yang terasa sesak. Bukan karena ia memiliki riwayat penyakit asma ataupun paru-paru. Tetapi karena menahan hatinya yang sangat sakit melihat sikap suaminya. Meski ia tetap terlihat kuat, namun sebenarnya Kezia sangatlah rapuh.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Ya elah, tega bener sih, Rama
Sabar-sabarin dulu Kezia, ya🙃
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1