
Tampak sebuah mobil melaju mulus di jalan raya menuju ke sebuah pemakaman umum. Adrian begitu fokus dalam kemudinya, menelusuri jalan yang terlihat sepi. Sepanjang perjalanan Dewi tidak henti-hentinya mengelus peti bayinya dengan tatapan kosong.
Adrian melirik Dewi dengan penuh rasa sesak di bagian dadanya. Adrian tahu ini sangat berat bagi Dewi dan ibu-ibu lain di dunia ini. Kehadiran seorang anak adalah sebuah kebahagiaan yang di tunggu-tunggu semua orang. Kehilangan anak adalah salah satu luka yang rasanya bisa di ibaratkan hati yang tertusuk belati tajam.
Setibanya di tempat pemakaman umum, Adrian membantu Dewi turun dari mobilnya. Tampaklah beberapa orang yang Dewi kenal telah menunggunya di gerbang pemakaman umum.
Ada salah satu orang yang membuat fokus Dewi tertuju kepadanya. Dua orang wanita mengenakan dress hitam dengan mata mereka yang terlihat sembab karena sedang menangis. Dua orang wanita itu adalah Kezia dan Vania, yang di temani Rama dan juga Digo.
Entah bagaimana bisa Kezia mengetahui semua ini. Bukankah tempo hari Rama melarang orang-orang memberitahu Kezia tentang kejadian yang di alami Dewi.
Dewi berjalan pelan dengan bantuan Adrian yang terus memapahnya. Di tanganya masih setia mengelus peti almarhum bayinya yang akan di kebumikan.
"Dewi," panggil Kezia memandang Dewi penuh iba.
Namun Dewi tetap tersenyum meskipun senyumnya hanyalah penutup luka yang ia rasakan saat ini.
Kezia langsung berhambur memeluka Dewi, memberi suport sistem kepada Dewi, agar Dewi tetap tabah untuk menerima ujian hidupnya.
"Yang tabah Dewi, kamu adalah wanita yang kuat, dia pasti bahagia di surga dan akan selalu menemani mamanya," ucap Kezia menyemangati dan di angguki Dewi.
"Wajah kamu pucat banget, Wi," ucap Vania, cemas.
Dewi melepaskan pelukan Kezia lalu menoleh ke arah Vania.
"Ya, sedikit pusing, Mbak," jawabnya.
"Biar ku bantu membawa petinya," ucap Vania.
Dewi menggeleng, dia sendirilah yang akan membawa peti bayinya menuju tempat peristirahatan yang terakhir.
Semua mata memandang penuh iba kepada Dewi, sosok rapuh yang masih berusaha kuat meskipun dia sebenarnya tidak sekuat penglihatan orang lain.
Dewi terus melangkahkan kakinya hingga kini dirinya telah sampai di liang lahat yang telah di persiapkan untuk mengubur bayinya.
Bayi mungil tak berdosa itu kini telah terkubur di timbunan tanah dengan nisan tertulis nama cahaya. Dewi sengaja memberi nama bayinya dengan nama cahaya. Karena cahaya yang berarti sinar yang akan selalu bersinar meskipun sinarnya tak mampu di pancarkan di dunia yang fana ini.
Tubuh Dewi limbung dan pingsan setelah melihat gundukan tanah yang telah mengubur jasat bayinya. Erik yang ada di belakangnya dengan sigap menangkap tubuh Dewi. Erik segera membopong tubuh Dewi dan membawanya ke mobilnya.
__ADS_1
Langkah Erik terhenti ketika Adrian menghadangnya. Mati-matian Adrian berusaha meredam emosinya, ketika Erik membopong tubuh Dewi dalam keada'an pingsan.
"Apa yang ingin kau lakukan? lepaskan dia," teriak Adrian tercekat di tenggotrokanya.
"Membawanya pergi! dia sedang sakit dan aku akan mengobatinya," ucap Erik.
Rahang Adrian mengeras setelah mendengar ucapan Erik. Tanganya merebut paksa tubuh Dewi dari gendongan Erik. Melihat aksi berebut kedua laki-laki di depanya, Vania pun berteriak melerainya. Tidak peduli saat ini mereka masih berada di area pemakaman.
Adrian menang, kini tubuh Dewi sudah berada di dalam gendonganya. Tatapan tajamnya masih tertuju pada laki-laki yang telah membuat wanita yang dia cintai kehilangan bayinya.
"Dokter Erik, meskipun kamu seorang dokter, nyatanya kamu tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hati Dewi. Kamu terlalu parah menorehkan luka di hatinya. Dia akan aman bersamaku, dan kau kembalilah di Negara asalmu sebelum nyawamu hilang di tanganku," ancam Adrian sebelum berlalu membopong Dewi menuju mobilnya.
Erik memandang langkah Adrian hingga laki-laki yang membopong tubuh Dewi itu menghilang dari pandanganya.
Adrian membawa pulang Dewi ke apartemen miliknya. Dia sendiri yang akan merawat Dewi hingga Dewi kembali pulih dan kembali ceria seperti dulu.
Ketika sudah sampai di apartemen Adrian, Dewi tersadar ketika tubuhnya baru saja di baringkan Adrian di sebuh ranjang miliknya. Dewi reflek menjauhkan tangan Adrian yang masih bersentuhan dengan kulitnya.
"Pak, saya ada di mana?" tanya Dewi matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang terasa asing baginya.
"Kamu di tempat yang aman, Dewi! kamu ada di apartemenku," ucap Adrian.
"Tidak! mulai sekarang kamu tinggal di apartemenku. Aku akan menyuruh seseorang untuk membawa semua barang-barangmu ke sini."
"Tapi, pak_
Adrian menggeleng, meminta Dewi untuk menurutinya. Adrian juga menyuruh Dewi untuk istirahat, tak lama Dewi pun akhirnya tertidur sangat lelap. Mata Adrian fokus memandang Dewi yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Adrian melangkah duduk di pinggiran ranjang tempat Dewi membaringkan tubuhnya. Di kecupnya kening Dewi dengan penuh cinta. Dewi yang sebenarnya belum tidur merasa terkejut namun dia tetap pura-pura tidur.
Setelah mencium kening Dewi, Adrian keluar dari kamar yang di tempati Dewi saat ini, menuju ke kamar sebelah yaitu kamarnya sendiri.
Dewi membuka matanya ketika memastikan Adrian sudah pergi. Wanita satu ini nampak masih di buat terkejut dengan aksi Adrian yang mencuri kecupan di kening Dewi saat Dewi pura-pura tertidur.
Beribu tanya menyerang di dalam fikiran Dewi saat ini. Untung saja tadi dia pura-pura tidur sehingga bisa menyembunyikan keterkejutanya. Berbeda jika dia dalam posisi terjaga, entah apa yang akan terjadi pada dirinya ketika mendapati Adrian mencium keningnya.
Bukan merasa hatinya berbunga-bunga, Dewi malah terlihat sedih. Sekuat hati Dewi menyingkirkan asumsinya yang menduga Adrian memiliki perasa'an padanya.
__ADS_1
Dewi merasa dirinya sangat kotor sebagai wanita, terlebih untuk Adrian. Dewi merasa insecure jika sampai bersama dengan Adrian. Sekuat hati Dewi akan menolak asumsinya sendiri.
"Kenapa pak Adrian menciumku? kenapa harus menungguku tidur, baru dia mencuri cium di keningku?"
Dewi menggeleng, mencoba melupakan kejadian yang baru saja ia rasakan. Tidak sepantasnya Dewi memikirkan seorang pria di saat dirinya sedang berduka.
Dewi teringat kembali dengan sosok mungil yang baru saja di kebumikan. Mengingat bayinya membuat Dewi kembali menangis dalam diam.
"Kenapa kamu tega ninggalin mama, nak? apakah mama belum layak menjadi seorang ibu yang baik? atau memang karena waktu saja yang belum tepat untuk mama merawatmu?"
Di remasnya kuat-kuat dadanya yang terasa sesak. Rasa kehilangan anak lebih teramat sakit dari pada rasa kehilangan seorang kekasih.
Ingin sekali Dewi mengakhiri hidupnya agar bisa meninggalkan dunia yang teramat kejam baginya. Terutama meninggalkan orang-orang yang melukainya dan bisa bertemu dengan bayinya kembali. Jujur Dewi sangat lelah akan hidupnya, kadang ia berharap tubuhnya bisa menghilang saat terluka. Sehingga luka itu tidak akan datang lagi dan menyakitinya.
Namun Dewi sadar, hal yang dia fikirkan hanyalah bisikan setan semata. Dia tidak akan menyerah pada hidup ini. Entah hidup ini terlalu berat ia jalani dan berbagai ujian terus ia terima. Dewi yakin akan ada sinar mentari setelah gelapnya malam. Dia akan tetap melanjutkan hidupnya terlebih masih ada ibu dan adik-adiknya yang harus ia bantu keuangan mereka saat ini.
"Bahagia di surga, nak! kita akan bertemu kembali suatu saat nanti. Mama akan melanjutkan kehidupan mama dan melewati segala ujian sekuat hati dan sekuat tenaga mama," gumam Dewi.
Dewi menyeka air mata yang menetes di pipinya. Dia akan bangkit, dia tidak akan sedih berlarut-larut.
Sedangkan di tempat lain, Kezia yang baru tiba di kediaman Afsen, terlihat kecewa. Bahkan ketika dia semobil dengan Vania dan Rama. Kezia hanya diam saja karena masih kecewa dengan semua orang yang menutupi masalah Dewi darinya.
Terlebih kepada Rama, Kezia saat ini sangat marah pada Rama. Meskipun yang di lakukan Rama demi kebaikanya dan calon bayinya. Bukan berarti mereka harus menutupi hal besar ini darinya.
Kezia langsung menutup pintu kamarnya dan jendela kamarnya. Dia marah pada Rama sehingga tidak ingin bertemu dengan Rama. Bahkan Kezia juga akan menghindar dari Vania maupun Adrian. Bagi Kezia, mereka semua kompak menutupi tentang Dewi darinya.
Rama terlihat frustasi karena wanitanya sedang marah denganya. Vania mencoba menghibur Rama karena bukan hanya Rama saja yang kena marah Kezia, namun dia juga.
Vania juga menyarankan agar Rama bersabar untuk beberapa waktu ke depan. Terlebih bisa jadi pengaruh faktor kehamilan yang semakin membuat Kezia semakin sensitive.
"Sudah, kamu pulang saja sana! aku akan mencoba meredakan amarah Kezia nanti," ucap Vania.
"Baiklah, aku titip dia dan kabari jika dia sudah memaafkan kita. Meskipun jujur aku tidak bisa di beginikan," ujar Rama.
Vania hanya mengangguk meskipun dia sendiri kurang yakin jika Kezia akan semudah itu mema'afkanya dan juga Rama.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1
Ternyata Adrian cukup meresahkan🤭