
Seorang lelaki menggenggam erat jemari tangan istrinya. Sangking eratnya membuat istrinya merintik kesakitan. Erik menggenggam jemari tangan Dewi. Tatapanya yang sangat tajam tertuju ke pada Adrian. Dalam jarak yang sangat dekat Erik membisikan sebuah pilihan yang membuat Adrian susah untuk memilih.
"Bukankah kamu sangat mencintai wanita ini? maka bagaimana jika kau tukarkan dia dengan Kezia? ucap Erik memberikan dua pilihan membuat Adrian mendelik menatapnya.
"Jaga ucapanmu! kau kira Dewi dan Kezia adalah barang yang semudah itu bisa kamu tukar," timpal Adrian emosi.
"Maka persiapkan dirimu untuk merelakan wanita ini."
Ucapan Erik benar-benar memancing emosi Adrian, bagaimana bisa Adrian memilih di antara dua wanita yang sama-sama ia sayangi.
Adrian tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga tanganya langsung mendarat menarik kerah kemeja Erik.
Dewi menggeleng memberi isyarat pada Adrian untuk tidak menanggapi ucapan Erik. Bahkan Dewi rela selamanya menderita di tangan Erik asalkan Kezia tetap baik-baik saja.
"Erik, apa yang kamu lakukan? jangan melibatkan Dewi dalam masalahmu denganku," teriak Kezia.
"Zia, jangan menanggapinya," bisik Vania menahan.
Vania dan Kezia di buatnya tidak habis fikir dengan ucapan Erik. Erik benar-benar lelaki gila, hanya karena teropsesi pada Kezia, membuatnya berubah berkali lipat dari sebelumnya.
"Mbak Zia, aku tidak apa-apa! jangan hiraukan dia, aku akan baik-baik saja," ucap Dewi.
"Diam kamu," bentak Erik.
Adrian menggepalkan tanganya mendengar bentakan Erik kepada Dewi. Namun Adrian tidak boleh gegabah, karena bagaimanapun Adrian akan kalah. Karena posisi Erik saat ini telah menjadi suami Dewi.
Adrian benar-benar tidak bisa berfikir saat ini, otaknya mendadak kosong. Erik memberi dua pilihan yang sangat berat padanya. Erik akan menceraikan Dewi jika Adrian mampu menggantinya dengan Kezia. Entah kenapa Erik bisa berubah selicik ini, atau memang sifat sebenarnya memanglah begitu.
Erik menikahi Dewi bukan karena ingin bertanggung jawab pada kehamilan Dewi. Erik hanya menjadikan Dewi sebagai alat untuk mendapatkan Kezia kembali. Nyatanya Erik masih saja mempertahankan Dewi meskipun Dewi baru saja keguguran.
"Kau fikirkan baik-baik tawaranku, Adrian! kau memilih Dewi atau Kezia," bisiknya menyeringai melirik wajah Adrian yang terlihat sedang bingung.
"Ayo kita pergi," ajak Erik, membawa Dewi pergi.
Dewi hanya menurut tanpa memberontak, karena memberontak pun tidak akan menyelesaikan masalah. Yang ada hanyalah penyesalan dan menerima takdirnya menjadi istri Erik atau lebih tepatnya istri yang hanya sebagai alat untuk mendapatkan Kezia kembali.
"Tunggu, Erik! kamu tidak bisa memaksa Dewi seperti ini," ucap Vania menghadang.
"Kenapa? dia istriku."
"Lebih tepatnya istri yang hanya kamu jadikan alat untuk mendapatkan adiku."
"Itu tujuan utamaku, tetapi asal kamu tahu meskipun aku bukan orang Indonesia. Tetapi aku telah mempelajari undang-undang tentang perkawinan, contoh pasal 106 ayat 2BW yang berbunyi istri wajib mengikuti suami di mana pun suami memusatkan tempat kediamanya."
Vania bungkam, setatus perkawinan antra Erik dan Dewi tidak bisa di bantahnya. Melihat semua yang berada di apartemen Adrian bungkam, Erik melanjutkan langkahnya membawa Dewi pergi.
"Cih! itu hanya untuk pernikahan normal, bukan pernikahan seperti pernikahan kalian. Hanya memanfaatkan wanita polos demi kepentingan diri sendiri."
Erik tidak menghiraukan ucapan Vania, dia melangkah pergi dan menarik tangan Dewi. Sebelum Erik pergi, dia menyempatkan mendekati wanita yang membuatnya hingga segila ini.
__ADS_1
Senyum itu berfokus pada sosok wanita yang teramat ia inginkan dari dulu. Jika senyuman Erik sebelumnya adalah senyuman yang tulus, berbeda dengan senyumanya kali ini adalah senyuman licik.
Kezia memalingkan wajahnya, dia tidak sudi lagi memandang wajah Erik. Bagi Kezia, lelaki itu sangatlah gila karena terlalu mencintainya tanpa logika.
"Persiapkan dirimu untuk menggantikanya, Kezia," ucap Erik sebelum berlalu membawa Dewi pergi.
Adrian tetap diam seolah sudah tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menghadang Erik. Fikiranya masih berfokus pada ucapan Erik yang memberikan dua pilihan padanya.
Cinta, Adrian memang sangat mencintai Dewi dan tidak ingin kehilanganya. Namun bukan berarti Adrian harus menukar kebahagiaanya dengan adiknya.
Selama ini Kezia sudah sering menderita, Adrian tidak ingin melihat adiknya kembali menderita. Namun sisi hatinya yang lain juga tidak tega melihat Dewi menjadi korbanya. Apa lagi segala fikiran buruk memenuhi otak Adrian saat ini. Lelaki itu sangat takut jika Erik melukai bahkan menyiksa Dewi.
Adrian sangat frustasi, apa yang akan dia lakukan selanjutnya sungguh tidak ada ide sama sekali di otaknya. Otaknya mendadak kosong sehingga diapun terduduk lemas di atas sofa rung tamu.
"Malu aku punya kakak seperti kamu, Adrian! kenapa tadi tidak kamu hajar saja pria banci itu sampai mati," teriak Vania.
Adrian hanya diam, karena selain tidak ingin menanggapi adiknya, kepalanya juga masih pusing.
Ucapan Vania memang benar, seharusnya tadi Adrian memukuli Erik hingga dia mati. Namun bagaimana lagi jika ide itu muncul setelah kepergian Erik yang membawa Dewi entah kemana.
Karena tidak kuat menahan pusing di kepalanya, Adrian masuk ke dalam kamarnya dan membanting pintu kamarnya dengan sangat keras.
"Dasar pria lemah," desis Vania.
"Kak, apa aku ganti'in posisi Dewi saja, ya? kasihan dia pasti di sakiti Erik," ucap Kezia.
Kezia langsung mengatupkan bibirnya, setelah mendengar ucapan dari kakaknya. Bingung harus berbuat apa, sehingga Vania dan Kezia memutuskan untuk pergi setelahnya.
Di lain tempat, tanpa beristirahat, Erik meminta Dewi untuk segera membersihkan kekacauan di rumah sewa'nya. Tidak peduli saat ini Dewi baru saja keguguran. Erik tetap menyuruh Dewi untuk membersihkanya.
Begitu banyak botol bekas minuman beralkohol yang berserakan di lantai kamar yang saat ini di tempati Erik. Meskipun tidak mengenal Erik sepenuhnya, tetapi Dewi yakin bahwa baru kali ini dia melihat Erik seperti ini.
Sosok dokter yang di lihatnya baik dulu kini telah berubah sembilan puluh sembilan persen. Ternyata kegagalanya menikahi Kezia sangat berpengaruh besar baginya.
Dewi menggeleng pelan, meskipun tubuhnya masih sangat lemah, Dewi tetap membersihkanya. Sedikit demi sedikit meskipun tidak terlalu cepat akhirnya rumah itu bersih juga. Karena kelelahan membuat Dewi tanpa sadar tertidur dalam posisi bersender di balik dinding kamar Erik.
Erik memasuki kamarnya, awalnya hanya ingin mengecek apakah sudah bersih atau belum. Setelah pintu terbuka matanya melihat sosok wanita yang tertidur bersandar di dinding.
Setidak sukanya Erik pada Dewi, laki-laki itu tetap menggendong tubuh Dewi dan memindahkanya ke atas ranjang. Terlihat gurat kelelahan di wajah Dewi, Erik terlalu kejam memperlakukan wanita yang tidak bersalah seperti itu.
"Maafkan aku! kau memang tidak bersalah dan aku melibatkanmu dalm masalahku. Aku masih membutuhkanmu untuk mendapatkan Kezia kembali," gumamnya sebelum berlalu meninggalkan Dewi yang tertidur di atas ranjangnya.
Erik berjalan menuju sebuah warung makan terdekat, dia tahu selain dirinya yang sangat lapar, ada Dewi yang juga belum makan sedari tadi. Setidaknya makanan sederhana mampu mengganjal sedikit perut mereka berdua. Karena Erik tidak ingin kecolongan lagi, jika dia pergi terlalu jauh dari rumah kontrakanya.
Dewi terbangun karena merasakan perih di bagian perutnya. Rasa perih ini bukan karena dirinya sehabis keguguran. Namun rasa perih karena menahan perutnya yang terlalu lapar.
Erik mengontrak rumah yang sangat sederhana dan prabotanya juga tidak lengkap. Bahkan kulkas saja tidak ada di rumah ini.
Dewi melangkahkan kakinya menuju dapur kecil yang kosong tidak ada prabotan sama sekali. Perutnya semakin terasa perih minta untuk segera di isi.
__ADS_1
Terdengan suara pintu di tutup begitu keras dari arah depan yang di yakininya adalah Erik. Dewi keluar dari dapur dan menyambut kepulangan Erik.
"Makanlah! kau pasti lapar," ucap Erik menyodorkan plastik berisi makanan untuk Dewi.
"Terimakasih, pak! apa pak Erik sudah makan?" tanya Dewi.
"Sudah! kau tidur terlalu lama, jadi sekarang giliran aku tidur dan jangan sesekali keluar dari rumah ini," ancamnya.
Dewi hanya mengangguk tak menghiraukan perkata'an suaminya. Yang dia fikirkan hanyalah segera memakan makanan pemberian Erik. Agar rasa perih di perutnya bisa segera reda karena telah di isi makanan.
"Setidaknya masih ada sisi baiknya," gumam Dewi dalam hati.
Di dalam kamar, Erik merogoh ponselnya yang berdering entah siapa orang yang berani mengganggu istirahatnya. Pria itu melirik nama pemanggil yang tak lain adalah kaki tanganya. Erik segera menggeser ikon yang berwarna hijau dan mendengar info apa yang akan di sampaikan oleh orang kepercaya'anya.
"Ada hal penting apa sehingga kamu menggnggu istirahatku?" tanyanya sembari memejamkan matanya karena lelah.
"Maaf jika saya mengganggu istirahat anda, pak! tapi saya hanya ingin memberi info bahwa rival anda saat ini berada di kalimantan."
"Maksud kamu, Rama? itu aku juga tahu," jawabnya malas.
"Tapi ada hal yang cukup menarik, pak Erik."
"Apa itu? katakan semua, jangan berbelit-belit."
"Ada seorang pramugari cantik dan juga seksi, sepertinya pramugari itu sangat menyukai rival anda, tuan."
Erik membuka matanya, otaknya langsung terkonekan dengan pemikiran orang kepercaya'anya. Ide baru langsung muncul di fikiranya, setelah mendengar ada seorang pramugari yang sedang mengincar Rama.
Mungkin pramugari itu bisa membantunya merusak hubungan Rama dan Kezia. Sehingga Erik bisa leluasa mendekati Kezia kembali.
"Cari tahu siapa pramugari itu, setelah kamu mendapatkan info, segera beri tawaran padanya agar bekerja sama dengan kita," perintah Erik.
"Baik, tuan! tapi anda harus membayar mahal pada misi penting ini, tuan Erik," ucap seseorang di sebrang telpon.
"Otakmu tidak jauh dari uang! segera lakukan perintahku, nanti bayaranmu akan ku transfer setelah aku istirahat," ucap Erik mematikan sambungan telponya.
Erik tertawa licik, dia tidak sabar melihat kehancuran Rama ketika Kezia membencinya. Rama harus merasakan seperti yang Erik rasakan. Betapa hancurnya saat dirinya kehilangan wanita yang di cintainya. Erik dapat memastikan bahwa Rama tidak akan dapat sersenyum lagi.
Membayangkan bagaimana hancurnya Rama nanti, ketika Kezia membencinya, membuat Erik sangat senang. Padahal rencana itu belum dia mulai, tetapi membayangkanya saja sudah cukup membuatnya tidak sabar. Di pejamkan matanya, berharap ketika dia bangun nanti, Erik bisa langsung melihat kehancuran Rama.
Di bagian pulau lain, tepatnya di lokasi proyek yang sedang Rama tangani. Rama begitu sibuk hingga tidak ada waktu hanya sekedar memberi kabar pada Kezia. Sedangkan Kezia masih uring-uringan menunggu kabar dari Rama.
Kezia ingin sekali menceritakan soal Erik dan Dewi, beserta tawaran Erik yang membuat Adrian di landa dilema. Namun yang di tunggu-tunggu sedari tadi tidak juga menghubunginya.
Setiap detik, menit, jam, Kezia tidak henti-hentinya
melirik ponselnya yang sangat sepi. Tidak ada panggilan telpon, panggilan vidio bahkan tiada chat masuk dari Rama.
Kezia mendengus kesal, sebegitu pentingnya proyek yang sedang Rama kerjakan dari pada dirinya.
__ADS_1