
Pernikahan Kezia Afsen dan Eduardo Erik akhirnya tiba. Pernikahan yang hanya di gelar sederhana untuk acara akad nikahnya saja. Pernikahan yang hanya di hadiri oleh kerabat terdekat keluarga Afsen saja. Semua itu atas permintaan Kezia, karena pernikahanya dengan Rama dulu pernah di sorot publik. Kezia tidak mau pernikahanya dengan Erik sampai di sorot publik dan mendatangkan banyak masalah yang di pertontonkan di hadapan public. Tanpa mereka ketahui itu hanyalah alasan Kezia semata. Karena pernikahanya dengan Erik tidak akan pernah terjadi.
Kezia telah berhasil mengganti data-datanya di KUA menjadi data-data Dewi. Semua berjalan mulus atas bantuan kakaknya Vania yang telah berpengalaman darinya.
Meski demikian Kezia tetap merias dirinya seolah dirinyalah pengantinya. Dia akan memerankan peranya sekali lagi, sebagai seolah mempelai wanita yang telah di kecewakan atas perbuatan Erik. Sehingga semua orang tidak akan mencurigainya bahwa selama ini dia sedang berpura-pura.
Vania memasuki kamar Kezia, dia memberi aba-aba bahwa acara akan segera di mulai. Saat ini Bagas dan Dewi juga sudah berada di depan kediaman Afsen, tepatnya di dalam mobil dan masih menunggu aba-aba dari Dewi.
Sedangkan Rama akan menyusul belakangan, karena dia adalah tamu yang tidak di undang. Di acara pernikahan Kezia dan Erik, hanya Ethan lah yang terlihat sangat murung sedari tadi. Tentu saja anak mana yang akan bahagia jika Mamanya menikah lagi dengan laki-laki lain. Padahal yang di inginkan anak itu adalah Mama dan Papanya bersatu kembali.
Digo membisikan di dekat telinga Ethan, bahwa Mamanya tidak akan menikah dengan Erik. Mamanya akan tetap menikah dengan Rama papanya. Mendengar demikian wajah Ethan kembali bersinar. Seolah sedang mendapatkan kabar yang sangat membuatnya merasa senang.
"Benarkah, Om?" responya dengan sangat antusias.
Penghulu baru saja tiba, Erik pun sudah terlihat tampan dengan mengenakan kemeja putih lengan panjang berbalut jas hitam rancangan desain ternama.
Kezia juga menuruni anak tangga di tampingi oleh Vania kakaknya. Kezia sangat terlihat cantik dengan kebaya yang sengaja di desain khusus agar perutnya yang membuncit bisa tertutupi.
Erik tersenyum cerah secerah hari itu, ketika kedua matanya memandang fokus pada wanita cantik yang akan di persuntingnya. Kedua orang tua Erik juga merasa senang bisa memiliki menantu seperti Kezia.
Hingga Kini Erik dan Kezia sudah duduk di depan penghulu dan di antara keluarga dan kerabat terdekat yang sedang berfokus kepada mereka berdua.
"Bagaimana mas Erik, apa bisa kita mulai?" tanya pak penghulu.
"Baik, pak! saya sudah siap."
Setelah Erik berkata demikian, tiba-tiba ada suara wanita asing yang menghentikan Erik yang hendak mengucapkan ijab qobul.
"Tunggu!"
Seketika semua mata berfokus memandang ke arah wanita hamil yang berdiri di ambang pintu. Erik langsung melebarkan bola matanya yang hampir lepas saking syoknya. Karena ketakutanya selama ini akhirnya terjadi juga.
Wanita yang selama ini di cari-carinya akhirnya muncul dan parahnya lagi sedang berbadan dua. Semua mata yang melihat ke arah Dewi, bertanya-tanya. Kecuali keluarga Kezia yang telah mengenal siapa itu Dewi.
Adrian yang melihat kondisi Dewi saat ini, menggeleng tidak percaya. Rasanya begitu menyesakan si dada Adrian. Karena wanita yang selama ini dia sukai telah berbadan dua dan Adrian mengira Dewi telah menikah dengan laki-laki lain.
"Ada apa ini? apa yang kamu lakukan?" tanya Vania mulai berakting.
"Tolong mbak Zia, jangan lanjutkan pernikahan ini. Calon suami mbak Zia adalah ayah dari bayi yang ku kandung."
Orang tua Erik dan tuan Afsen langsung syok mendengar pernyata'an Dewi. Sedangkan Erik langsung berdiri dari duduknya dan melangkah menghampiri Dewi. Vania dan Digo langsung berdiri untuk melindungi Dewi.
"Apa maksud ucapanmu barusan dan membuat kekacauan di hari pernikahanku? kamu ingin membuatku malu dan menggagalkan pernikahanku, hah?" seru Erik keras.
__ADS_1
Dewi tersentak tetapi berusaha untuk tetap menguatkan diri. Dia sudah berjanji pada sirinya sendiri akan memperjuangkan keadilanya dan juga bayinya. Dewi menghirup nafas dalam-dalam sebelum menjawab ucapan Erik. Apa lagi mata Erik sudah ingin keluar dari tempatnya. Karena saking melototnya menatap Dewi.
Kezia pura-pura pingsan untuk menunda pernikahanya. Semua bertambah panik setelah melihat Kezia pingsan. Erik hendak menggendong tubuh Kezia dan memindahkanya ke atas sofa, namun di tampik oleh Adrian.
Ada kemarahan dan rasa kecewa pada diri Adrian terhadap Erik. Setelahnya Adrian langsung menggendong Kezia dan membawanya ke dalam kamarnya.
Suasana kediaman Afsen kini menjadi kacau setelah kehadiran Dewi. Semua mata berbisik membicarakan Dewi dan Erik. Tiba-tiba ibunya Erik menghampiri Dewi lalu menampar pipi Dewi.
Vania langsung mendorong tubuh ibunya Erik, tidak peduli dia tua ataupun muda. Perlakuan ibunya Erik telah melukai Dewi, membuat Vania emosi.
"Jangan lagi anda menamparnya! tampar anak anda yang bersikap pengecut itu," teriak Vania.
"Kenapa kamu mendorong tante, Vania? kenapa kamu membela wanita murahan yang hamil dan memfitnah Erik," protes ibunya Erik, marah.
"Cih," Vania berdecak rasanya ingin tertawa setelah mendengar ucapan dari ibunya Erik. Bagaimana bisa wanita tua itu membela putranya tanpa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu dari Dewi. Vania jadi meragukan nasip Dewi, jika sampai menikah dengan Erik.
Dewi berusaha mengatur kesabaranya, mengendalikan diri agar tidak terlihat terintimidasi dengan sikap Erik dan ibunya.
"Saya hanya ingin memberitahu tentang kebenaran, tante. Sebetulnya saya sangat malu, karena di depan orang sebayak ini saya membuka aib saya sendiri. Anak anda telah merenggut kehormatan saya dan setelah itu pergi menghilang dan menyebabkan saya hamil. Apakah saya salah jika saya menuntut pertanggung jawaban darinya?"
"Mom, jangan percaya dengan ucapan wanita murahan ini," ucap Erik membela dirinya sendiri.
"Tidak, tuan Erik! saya berkata jujur bahwa bayi ini adalah darah daging anda."
"Jangan ngaco terus kamu, bilang saja kamu memang berniat mengacaukan pernikahanku."
"Demi Tuhan, saya hanya melakukanya dengan anda," teriak Dewi merasa tidak terima dengan tuduhan dari Erik.
Erik melayangkan tamparan ke pipi Dewi, jika tadi adalah ibunya, kini anaknya juga melayangkan tamparan di wajah Dewi. Sehingga membuat pipi Dewi menjadi memerah seketika. Dewi langsung mengusap kasar air matanya yang sedari tadi mengaliri wajahnya.
"Kamu tidak punya bukti untuk menunjuku sebagai ayah dari bayi yang kamu kandung."
"Jangan pukul mbak Dewiku," teriak Ethan terlepas dari gendongan Digo.
Ethan langsung memeluk Dewi sang pengasuhnya yang telah lama pergi meninggalkanya. Dewi langsung terduduk menyeimbngkan tingginya dengan Ethan. Seketika tangisan Dewi berhenti di dalam pelukan bocah kecil yang selama ini dia rawat.
"Mbak Dewi enggak kenapa-kenapa, kan? apakah ini sangat sakit?" tanya Ethan sembari tanganya mengelus lembut kedua pipi Dewi yang memerah.
"Mbak enggak apa-apa, sayang," jawab Dewi sembari menghapus air matanya.
Mendapat pelukan dri anak asuhnya, seolah Dewi mendapatkan semangat baru. Dewi langsung bangkit dan menatap tajam ke arah Erik. Entah mendapatkan kekuatan dari mana sehingga Dewi bisa sekuat itu.
"Baiklah! sepertinya saya akan mencabut niatan saya untuk meminta pertanggung jawaban dari anda. Jika anda tidak ingin mengakui perbuatan anda kepada saya. Jika anda tidak ingin mengakui darah daging anda sensiri. Setidaknya katakanlah tidak, bukan menjadi pengecut yang lari dari masalah dan main tangan kepada wanita," teriak Dewi karena kehabisan kesabaran.
__ADS_1
Harga dirinya semakin di injak-injak oleh Erik dan keluarganya. Ibarat sudah terjatuh malah tertimpa beban berat lagi.
Dewi langsung melempar hasil tes DNA bayinya kepada Erik, dengan wajah penuh kemarahan dan kebencian. Setelahnya Dewi juga menatap ibunya Erik dengan penuh kebencian pula.
Kertas itu jatuh tepat di depan tuan Afsen, tuan Afsen langsung mengambilnya dan membacanya. Dan benar saja, jantungnya hampir saja kambuh jika Vania tidak cepat-cepat memberikanya obat. Sepertinya Vania sengaja mempersiapkanya dari tadi.
Setelah tuan Afsen, kini papanya dan mamanya Eriklah yang membacanya. Mereka berdua tidak kalah syok dan langsung menatap ke arah Erik. Erik yang penasaran pun juga ikutan membacanya. Ekspresinya biasa saja, tidak ada ekspresi kaget karena dari awal Erik mengetahui kehamilan Dewi dan di yakini adalah anaknya.
"Saya rasa bukti itu lebih dari jelas untuk menjelaskan kebenaran ini. Jika anda menolak untuk mengakui perbuatan anda dan tidak mengakui bayi ini, tidak masalah. Aku bisa membesarkan anaku sendiri tanpa seorang ayah di hidupnya. Apa lagi aku tidak sudi anaku memiliki seorang ayah seperti anda. Camkan baik-baik tuan Erik, jangan sekali-kali anda mencarinya kelak, karena dia hanya miliku. Dan untuk anda nyonya, saya mengerti seorang ibu akan melindungi anaknya, seperti yang anda lakukan pada putra anda. Sama halnya seperti saya yang akan selalu melindungi anak saya. Saya akan melindunginya dari orang-orang seperti anda dan putra anda. Sampai kapan pun saya tidak akan melupakan kejadian hari ini. Jangan pernah menyesali kejadian di hari ini. Karena jika kita bertemu di lain waktu, di saat itu pula kalian bukan siapa-siap bagi anak saya," ucap Dewi seketika meninggalkan kediaman Afsen dan hendak memasuki sebuah mobil yang ada Bagas di dalamnya.
Namun langkahnya di terhenti setelah mendengar teriakan Ethan. Bagaimana bisa anak itu merelakan Dewi pergi meninggalkanya lagi. Dewi langsung berbalik badan untuk memeluk anak asuhnya. Begitu Dewi sangat menyayangi Ethan setulus hatinya seperti anaknya sendiri. Kezia dan Rama sangat beruntung, karena selama ini putranya tumbuh di tangan wanita setulus Dewi.
"Mbak mau pergi meninggalkanku lagi?" tanya Ethan yang air matanya hampir mengalir membasahi pipinya.
"Enggak, sayang! mbak Dewi gak akan ninggalin Ethan lagi. Ethan boleh menemui mbak, kapanpun Ethan mau. Tapi mbak harus pergi untuk saat ini, kapan-kapan kita akan bertemu lagi. Apakah Ethan tetap menjadi anak yang baik selama mbak Dewi tidak berada di sisi Ethan?"
"Ya mbak, Ethan selalu mengingat pesan mbak Dewi," jawab Ethan.
"Mbak pergi dulu, sayang! jaga mamamu, kapan-kapan mbak Dewi akan menemuimu," ucap Dewi meninggalkan satu kecupan di pipi Ethan, sebelum dia beranjak pergi meninggalkan kediaman Afsen.
Setelah kepergian Dewi, Adrian yang sedari tadi hanya diam karena effek keterkejutanya. Kini laki-laki itu langsung melangkah menghampiri Erik dan langsung melayangkan pukulanya di seluruh tubuh Erik, hingga membuat Erik hampir mati jika orang-orang di sana tidak melerainya.
"Kurang ajar, kau apakan Dewi, hah? kau apakan dia hingga seperti itu?"
"Adrian, tunggu! ini hanya kesalah fahaman saja," ucap Erik membela diri.
"Cih, dasar laki-laki brengsek! kau fikir aku tuli dan buta, hah? sudah jelas-jelas tes DNA ini sebagai bukti kebejatanmu. Dasar pengecut, menyesal aku mempercayaimu. Untung saja Kezia belum menikah denganmu, bisa-bisa adiku akan menderita denganmu," teriak Adrian dalam posisi tanganya di cekal Digo dan salah satu tamu.
Ibunya Erik berteriak setelah melihat putranya terkapar di lantai dengan kondisi babak belur setelah di pukuli Adrian.
Ingin rasanya Adrian membunuh Erik saat itu juga, karena telah menghancurkan hidup wanita yang diam-diam di sukainya. Adrian langsung mengusir Erik beserta keluarganya dari kediaman Afsen.
"Keluar kalian dari rumah kami! kami tidak menerima orang-orang yang tidak memiliki hati nurani. Keluar sebelum aku habisi nyawamu sekarang juga, Erik," teriak Adrian berulang kali.
Kedua orang tua Erik langsung membantu putra mereka berdiri. Menahan malu dan merasa terhina di hadapan para tamu, membuat nyali mereka menciut. Terlihat sorotan penuh dendam di mata ibunya Erik kepada Adrian dan keluarganya. Seolah dia dalam hatinya berkata " tunggu pembalasan atas penghina'an ini dari kami", setelahnya mereka pergi meninggalkan kediaman Afsen.
Untung saja acara pernikahan itu hanya di gelar sederhana dan hanya kerabat dekat yang hadir. Betapa malunya jika sampai orang luar yang mengetahui kejadian yang barusan terjadi.
Vania dan Digo menyeringai penuh arti, karena merasa menang. Apa lagi melihat Adrian mengusir Erik dan keluarganya, membuat Vania menahan tawanya.
Vania meminta Digo agar memberi kabar keberhasilan misi mereka kepada Rama. Rama harus tahu bahwa Erik telah di usir dari kediaman Afsen. Tanpa Vania dan Digo tahu, sedari tadi Rama pun juga menyaksikan tontonan yang membuatnya bernafas lega.
Akhirnya satu rumput liar telah berhasil ia singkirkan. Untuk kedepanya adalah dirinya sendiri yang akan berusaha mengambil hati Adrian dan tuan Afsen, agar Rama bisa rujuk kembali dengan Kezia.
__ADS_1
Apapun caranya akan Rama lakukan dan berbagai hambatan akan ia terjang. Semuanya hanya untuk keutuhan rumah tangganya kembali dengan Kezia. Bersatu menjadi satu keluarga yang di dalamnya ada dirinya, Kezia, Ethan dan juga calon anak kedua mereka.
Berharap tidak akan ada Erik-Erik lain yang akan menghambat persatuan mereka. Jangankan satu Erik, ratusan Erik pun akan Rama singkirkan jika berani mendekati Kezia. Karena hanya Rama lah yang berhak memiliki Kezia.