Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Kemalangan Dewi


__ADS_3

Di kegelapan malam tanpa sinar rembulan yang menyinari. Di tambah lagi suara angin dan hewan-hewan malam yang saling bersahutan, menambah suasana malam itu menjadi semakin menakutkan. Angela terus menangis namun tidak mampu berteriak karena mulutnya tertutup oleh kain. Sedangkan tanganya terikat kecuali kakinya yang sengaja tidak di ikat.


Wanita itu menangis ketakutan, takut akan suara tikus yang saling bersahutan dan juga takut akan hantu yang akan menakutinya.


Cara Rama sungguh kejam untuk membalas perbuatan orang-orang yang berani mengusik kehidupanya. Rama sengaja mengurung Angela di gedung tua ini, agar wanita itu bisa jera dan mau membantu membersihkan namanya di depan public.


Jika malam ini Angela jera dan bersedia membersihkan nama Rama di depan public. Maka besok Rama tidak akan menghukumnya semenyeramkan seperti malam ini. Namun sebaliknya jika Angela tidak bersedia membersihkan nama Rama, maka akan ada malam-malam selanjutnya seperti malam ini, hingga Anggela bersedia membersihkan namanya.


Di tempat lain, tepatnya di ruang kerjanya, Rama melihat cctv yang terlihat gelap namun suaranya mampu membuat Rama tertawa puas. Tidak ada rasa iba maupun kasian pada diri Rama bagi orang-orang yang berani mengusik hidupnya.


Suara Angela sangat terdengar jelas, tangisan, rintihan yang terhalang oleh kain yang menutupi mulutnya. Suara itu akan mendatangkan rasa iba bagi yang mendengarnya, kecuali Rama.


"Ini belum seberapa, Angela! di banding dirimu yang telah menghancurkan hubunganku dan nama baiku yang ku jaga selama ini."


"Tangisau tidak ada apa-apanya di banding tangisan Kezia karenamu dan si brengsek Erik. Kita lihat, siapa di antara kita yang akan hancur, Erik," ucap Rama sembari tanganya melempari anak panah pada papan target bundar yang tertempel photo Erik dan Angela di sana.


"Sebentar lagi dan selangkah lagi, kau akan hancur beserta gelarmu, Erik. Karena kau salah bermain-main dengan orang. Kau belum mengenalku, jika kucing bisa berubah menjadi singa, maka aku pun juga."


Rama mulai menghisap rokoknya, entahlah udara malam ini membuatnya rindu pada sosok wanita yang masih terus tidak mempercayainya. Membayangkan saat bercinta berdua di malam dan udara yang sama, membuatnya rindu.


Di tambah lagi kondisi Kezia yang hamil lima bulan, rasa takut itu tiba-tiba muncul. Takut jika di saat anak ke dua mereka terlahir ke dunia, Rama tidak lagi berkesemoatan untuk menemaninya.


Masalah dengan mantan mertuanya belum teratasi, Rama di haruskan menuntaskan masalah yang saat ini juga terjadi pada dirinya. Ternyata menghadapi Erik dan mantan mertuanya sama-sama imbang, imbang akan kelicikanya dan Rama tidak akan pernah menyerah.


Di pejamkan matanya, membayangkan seolah wanitanya bisa merasakan rasa rindu yang di titikan oleh angin malam untuknya. Bayangan saat mereka berdua memadu kasih, berciuman dan saling membalas memberi kenikmatan. Rasa itu begitu terasa namun enggan di sentuh. Apakah Kezia juga akan seperti itu? semoga saja Kezia juga merasakanya.


"Aku janji, sayang! demi anak kita, aku akan memperjuangkan diriku ini, agar lebih pantas bersanding denganmu. Aku juga skan meluluhkan hati papamu yang sekeras batu. Ini hanya tentang durasi, sebelum kita dipersatukan."


Sedangkan Erik saat ini sedang berada di rumah dan berbincang-bincang dengan ibunya. Dewi hanya diam, duduk di lain tempat, karena sudah pasti mereka melarangnya bergabung.


"Apa? jadi wanita itu sudah berpindah ke tangan Rama?" tanya ibunya Erik merasa kecolongan."


"Wanita? wanita siapa yang mereka maksud," gumam Dewi yang sedari tadi menguping pembicaraan Erik dan juga mama mertuanya.


"Ceroboh sekali kamu, Erik!


kamu tahu? Ketika Angela berada di tangan Rama, itu awal dari kehancuranmu."


"Cukup mom! fikiranku udah kacau malas berdebat tentang semua ini."


"Lalu kamu akan membiarkan saja masalah ini semakin berlarut-larut dan menghancurkanmu. Ada lagi,,,apa gunanya wanita kampung itu kau nikahi? bukanya demi mendapatkan Kezia? tapi nyatanya mana? Adrian tidak menukarkan adiknya dengan wanita kampung itu."

__ADS_1


Dewi sebenarnya merasa kesal, mama mertuanya selalu mempermasalahkanya. Bahkan Dewi berharap bisa segera terlepas dari Erik. Dia sudah tidak betah berada di lingkungan keluarga yang jauh dari kata baik.


"Tenanglah, mom! aku akan melepaskanya jika aku sudah bosan," jawab Erik.


"Kurang ajar, dia fikir aku boneka mainanya?" gumam Dewi.


"Aww," cicit Dewi karena jemari tanganya terjepit pintu sangking fokusnya menguping.


Erik dan ibu mertuanya pun langsung menoleh dan memergoki Dewi yang sedang menguping pembicara'an mereka berdua.


"Sejak kapan kamu di situ, Dewi?" tegur Erik.


Dewi hanya diam saja, entah di dalam otaknya tidak muncul sama sekali alasan yang tepat untuk menjawab pertanya'an Erik. Hingga ibu mertuanya pun menghampirinya dan menjambak rambutnya. Dewi merintih kesakitan, ingin melawan tetapi ada Erik di antara mereka. Bahkan Erik hanya diam saja tidak ada sedikitpun belas kasih untuk membela istrinya.


"Wanita kampung! selain miskin dan kampungan, ternyata kamu suka menguping pembicara'an orang."


"Aww, nyonya, sakit," rintih Dewi.


"Sakit kamu bilang? ini hukuman untuk orang yang suka menguping pembicara'an orang."


Kesabaran Dewi sudah habis karena tidak ada yang membelanya. Alhasil dengan kasar Dewi melepaskan tangan mertuanya yang menjambak rambutnya.


"Cukup, nyonya! cukup anda menghina saya, jika anda muak melihat saya dan anda tidak ingin saya menjadi menantu di rumah ini, maka suruh anak anda menceraikan saya secepatnya," ucap Dewi dan matanya seolah menantang mertuanya.


Pandangan mata Dewi berpindah melirik Erik, setelahnya Dewi berlalu dari mereka dan menuju ke dalam kamarnya. Dewi menangis merasa dirinya sendirian tanpa ada orang yang melindunginya.


Erik mengikuti langkah Dewi, Erik juga melihat Dewi sesenggukan dan di yakini sedang menangis. Erik masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Lalu kakinya melangkah menghampiri ranjang yang Dewi duduki.


"Mau apa kamu mengikutiku? keluar, aku muak denganmu dan semua yang ada di rumah ini," teriak Dewi.


"Apa tidak salah kamu mengusirku? seharusnya aku yang mengusirmu," timpal Erik.


Dewi tersenyum kecut dengan ancaman Erik yang nyatanya memang di harapkanya. Kalau bisa ucapan itu bukanlah hanya sekedar ucapan tetapi memang benar-benar ada niatan Erik untuk melepaskanya.


"Lakukan! ceraikan aku dan lepaskan aku, bukankah aku sama sekali tidak ada gunanya di sini? lalu kenapa kamu tidak segera melepaskanku?"


Erik menyeringai, semakin mendekati Dewi, Dewi merasa risih dan menggeser duduknya. Erik semakin mendekat dan membuat Dewi di landa kecemasan. Entah kenapa jika Erikendekatinya, bayang-bayang malam itu selalu terlintas di kepalanya.


"Kau, mau apa?" tanya Dewi cemas.


Erik menyeringai, tidak peduli Dewi sedang ketakutan. Bahkan kini posisi Erik sudah sangat dekat dengan Dewi, membuat Dewi mendorongnya namun tenaganya tidak sekuat yang di bayangkan.

__ADS_1


"Kenapa kau sangat ingin lepas dariku? bahkan aku belum sempat meminta haku sebagai suamu," ucap Erik tepat di depan wajah Dewi dan tanpa jarak.


"Kamu pria gila! menyingkir, aku merasa risih di dekatmu."


Erik tertawa terbahah- bahah seperti orang yang sedang gangguan mental. Sedangkan Dewi makin ketakutan dengan sikap Erik.


"Layani aku! aku punya hak untuk meminta hahku, sebelum melepaskanmu," ucap Erik membuat bola mata Dewi semakin melebar.


"Enggak! aku gak mau," tolak Dewi.


"Kau menentang suamimu? jika kau tidak ingin melayani suamimu, apakah kau ingin melayani Adrian?"


Dewi terkesiap, kenapa suaminya tiba-tiba membahas Adrian. Apakah Erik mengetahui jika Adrian sering menghubunginya.


"Kenapa diam? jawab, apakah kau ingin melayani Adrian?" bentak Erik, suaranya menggema di dalam kamarnya.


"Tidak! lebih tepatnya aku hanya mau melakukanya atas dasar cinta dan itu yang tidak kita punya saat ini," timpal Dewi, masih dalam kungkungan tangan Erik.


Erik tersenyum sinis, senyum yang terlihat menakutkan bagi Dewi. Terlebih jarak mereka yang sangat dekat, seperti suami istri normal yang hendak memadu kasih.


"Ayo layani suamimu," perintah Erik.


Entah kemasukan setan apa, sehingga Erik tiba-tiba meminta haknya. Atau mungkin Dewi hanya sebagai pelampiasan dari kemarahanya. Bercikir demikuan membuat Dewi merasa sedih, bagai hidup tak berharga.


"Jangan, tuan Erik! aku tidak mau," jawab Dewi.


"Jadi kau benar-benar menolak keinginan suamimu? pergi saja sana, mungkin di depan Adrian kau mau membuka seluruh bajumu dengan senang hati memperlihatkan tubuhmu," ucap Erik sinis.


"Cukup, tuan Erik! kamu fikir aku semurahan itu? kalau bukan kamu yg ngerusak aku, mungkin aku tidak akan menjadi seperti ini. Kamu egois, kamu hanya memikirkan keuntungamu saja. Kamu tidak tahu rasanya jadi aku, di paksa, di sakiti jiwa dan ragaku. Bayangkan kamu jadi aku, apa kamu akan sekuat aku?" ucap Dewi dengan suara agak di tekankan.


Seolah semakin di buat kesal dengan ucapan Dewi, tanpa berfikir panjang dan dirinya yang sudah on pun, langsung menyambar bibir Dewi. Dewi meronta dan Erik tidak peduli dengan tangisan Dewi. Seperti kesetanan, saat itu pula kali ke dua, Erik melakukan hubungan istri kembali. Jika sebelumnya karena mabuk, kali ini mereka melakukanya dengan kondisi sadar.


Dewi tetap menangis karena tidak bisa melawan Erik. Tubuhnya terlalu kecil untuk melawan tenaga Erik yang begitu besar. Menangis, hanya itu yang bisa Dewi lakukan saat ini. Berbeda dengan Erik yang menikmati tubuh isyrinya yang memabukan.


Erik langsung berhenti di pelepasan pertamanya dan melihat wajah Dewi yang basah di penuhi air mata.


"Jadi benar, sampai saat ini kamu hanya menganggapku wanita murahan sekaligus tawananmu," ucap Dewi bangkit, memunguti pakaianya yang di lempar Erik ke lantai kamar mereka. Dengan kondisi tertatih, di balut selimut. Dewi memasuki kamar mandi.


Jika di luar sana dengan senang hati pasangan suami istri memadu kasih, itu karena ada cinta di antara mereka. Berbeda dengan Erik dan Dewi, di sini hanyalah Dewi yang di rugikan.


"Terserah apapun katamu, jika kamu menganggap dirimu murahan, baguslah. Tapi asal kamu tahu, yang barusan kita lakukan sah menurut agama, karena itu sudah menjadi tugas istri dan kau akan mendapat pahala jika melayani suamimu.

__ADS_1


"Sejak kapan orang seperti kamu mengerti pahala? bukankah yang kamu tahu hanyalah dosa," ucap Dewi lirih, memasuki kamar mandi dalam kondisi hati yang hancur berkeping-keping. Sedangkan Erik merasakan ada yang aneh pada dirinya, setelah mendapatkan haknya dari istrinya.


"Tuhan, bisakah aku mati saja? aku lelah dengan jalan hidupku ini."


__ADS_2