
Pintu kamar Kezia di ketuk berulang kali dari luar kamarnya. Namun tiada sahutan bahkan Kezia enggan membukakan pintu untuk Vania. Kezia masih kesal karena hal sebesar itu di sembunyikan darinya. Kakaknya Vania diam-diam bersekongkol dengan Rama untuk menutupi kejadian buruk yang di alami Dewi darinya.
Kezia tidak tahu jika Rama dan Vania menutupinya demi kebaikanya juga. Apa lagi posisi Kezia yang sedang hamil, tentu saja kabar buruk tentang Dewi akan mempengaruhinya. Kepanikan dan rasa takut pada Kezia itulah yang di takutkan oleh Rama.
Rama meminta Vania untuk membujuk Kezia, padahal Kezia juga sedang marah pada Vania. Rama tidak bisa menemui Kezia, lewat pintu depan pasti di usir mantan mertuanya. Apa lagi lewat jendela kamar Kezia pun kini tidak bisa lagi. Rama merasa sangat frustasi. Pasalnya jendela kamar Kezia yang sebelumnya tidak pernah di kunci, kini di kuncinya dari dalam. Membuat Rama tidak bisa masuk seperti biasanya.
Puluhan panggilan, puluhan chat, satupun tidak ada yang Kezia respon. Rama mendengus frustasi, akhirnya dia mengirimkan pesan terakhir kepada Kezia.
Rama :
Maafkan aku, sayang! jangan marah terlalu lama, nanti kamu kangen. Siang ini aku akan pergi ke kalimantan untuk mengunjungi proyek baruku. Mungkin satu bulan kita tidak bisa bertemu.
Kezia hanya meliriknya saja ketika ada pesan masuk di handphonenya. Kezia tahu yang mengirim pesan itu adalah Rama. Bahkan sudah kesekian kalinya Rama mengiriminya chat dan satupun belum dia balas.
Kezia baru mau membuka chat dari Rama, setelah meredam kemarahanya selama satu jam. Di bukanya semua chat dari Rama yang berjumlah lima puluh pesan masuk. Kezia menganga di buatnya dan harus membacanya satu per satu mulai dari atas hingga terbaca keseluruhanya.
Dari semua chat dari Rama, satu chat terakhir yang mampu membuat Kezia melebarkan kedua matanya. Kezia langsung melirik jam di pergelangan tanganya. Sudah satu jam dia menganggurkan chat dari Rama. Kezia berharap masih mempunyai waktu untuk menemui Rama sebelum Rama berangkat ke kalimantan.
Kezia bergegas mengganti pakaianya dan meminta Vania untuk mengantarnya ke bandara. Vania tidak menyia-nyiakan ketika Kezia meminta bantuan kepadanya. Barangkali dengan mengantar adiknya, maka Kezia akan memaafkanya.
Hingga siang itu tibalah mereka berdua di bandara dan mencari-cari keberadaan Rama. Kezia tidak mungkin sanggup di tinggal Rama selama satu bulan.
Matanya menelusuri setiap sudut bandara, berharap bisa menemukan sosok pria yang dia cari. Bahkan Kezia berjalan mondar mandir demi mencari keberada'an ayah dari anak-anaknya.
Kezia sempat putus asa dan panik ketika tidak menemukan Rama. Namun dia tetap melangkah mondar-mandir, bahkan dia bertanya pada petugas sembari memperlihatkan photo Rama.
Kezia Tersentak , ketika tiba-tiba ada tangan kekar yang memeluknya dari belakang dan memutarnya kembali sehingga tubuh Kezia berbenturan dengan dada bidang Rama. Kezia menengadahkan kepalanya menatap Rama lekat.
"Apa yang kamu lakukan? ingat ada bayi kita di dalam sini. Jangan berjalan terlalu cepat, apa kau lupa sedang mengandung?" tanya Rama.
__ADS_1
Kezia menengadahkan kepalanya, menatap lekat bibir Rama yang mengomelinya. Bukanya takut, Kezia malah tersenyum dan berasa ingin menciumnya jika tidak berada di tempat umum.
"Ternyata kamu belum berangkat! apakah mau jadi pergi ke kalimantan hari?" tanya Kezia.
"Kenapa? bukankah kamu sudah tidak menginginkan kehadiranku? bahkan aku berencana tidak akan pulang lagi ke jakarta dan mencari wanita kalimantan sebagai penggantimu."
Kezia langsung melepaskan tubuhnya dari kungkungan tangan Rama. Rasa teramat kesal setelah mendengar ucapan dari Rama barusan.
Rama mengulum senyum setelah melihat ekspresi kekesalan pada Kezia. Dia merasa Kezia sangatlah lucu ketika cemburu. Sangat menggemaskan apa lagi melihat tubuh Kezia semakin berisi karena faktor kehamilanya.
Rama meraih pinggang Kezia lalu bibirnya langsung mengecup tipis bibir Kezia. Kezia memberontak karena masih kesal plus kecemburuanya.
"Hei, aku bercanda, sayang! tidak akan ada wanita yang bisa menggeser posisimu di hatiku. Apa lagi kamu sangat cantik melebihi wanita di luaran sana. Aku hanya kesal saja, kenapa kamu tidak menghiraukanku."
"Pergi sana! kau membuatku kesal."
"Bagaimana aku bisa pergi, kalau penyemangatku tiba-tiba saja menghilang dan puluhan chat dan telpon sama sekali tidak di kamu respon."
Entah karena perfumenya yang mahal atau memang keinginan bayinya. Yang jelas aroma tubuh Rama sangat membuatnya tenang.
Rama tersenyum penuh kemenangan karena Kezia tidak menolaknya lagi. Rama menikmati kesempatan ini sebelum Kezia pulang kembali ke kediaman Afsen.
"Maafkan aku jika membuatmu merasa kesal dan cemas. Tapi tolong lepaskan aku sekarang juga, karena hampir semua orang memperhatikan kita," rengek Kezia.
"Kalau aku tidak mau?" tanya Rama.
Kezia mendengus pasrah, bahkan wajahnya telah ia sembunyikan di balik jas Rama. Vania yang memperhatikan dua orang bucin di depanya hanya bisa memutar-mutar bola matanya. Kendati demikian Vania ikut senang melihat adiknya bisa bertemu dengan Rama.
"Woy, sudah mesra-mesra'anya? katamu mau ke kalimantan," tegur Vania.
__ADS_1
Kezia langsung mendongakkan wajahnya menunggu jawaban dari Rama. Meskipun rasanya sangat berat jika di tinggal Rama. Namun dia tidak boleh egois, karena Rama pergi untuk bekerja.
Rama melirik arlojinya, waktu keberangkatanya memang sangat mepet. Meskipun tidak tega meninggalkan Kezia, tetapi dia harus bekerja.
"Sayang, sebentar lagi pesawatku akan take off! jaga anak-anak kita selama tidak ada aku di sini. Aku janji tidak akan lama, sepulang dari kalimantan aku akan menemuimu," ucap Rama mengecup kening Kezia.
Tidak ada pilihan lain selain merelakan keberangkatan Rama ke kalimantan. Kezia tersenyum membalas lambaian tangan Rama.
Bahkan Rama masih sempat berbalas chat dengan Kezia setelah dirinya sudah berada di dalam pesawat. Bahkan pramugari sudah berdiri di kabin dan memberikan “announcement flight attendant” yang berisi tentang take off announcement, safety demonstration, landing announcement, dan final landing announcement, yang artinya Rama harus mengakhiri chatinganya dengan Kezia.
"Para penumpang pesawat yang terhormat, selamat datang di Penerbangan 123G dengan destinasi dari Jakarta ke Kalimantan. Saat ini kami berada di urutan ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit. Kami meminta Anda untuk mengencangkan sabuk pengaman dan mengamankan semua bagasi di bawah kursi Anda atau di kompartemen atas. Kami juga meminta agar tempat duduk dan nampan meja Anda dalam posisi tegak untuk lepas landas.
Harap matikan semua perangkat elektronik pribadi, termasuk laptop dan ponsel. Merokok dilarang selama penerbangan. Terima kasih telah memilih Garuda airline."
"Selamat siang, mas! di mohon ponselnya di non activekan dulu," ucap pramugari cantik yang sedari tadi melirik ke arah Rama.
Bahkan setelah Rama mematikan handphonenya, pramugari itu masih saja mencuri pandang ke arah Rama. Memang pesona Rama tidak pernah luntur meskipun akan beranak dua.
Rama bersikap cuek dan memejamkan matanya untuk menghindari kontak mata dengan pramugari itu. Tidak bisa di pungkuri bahwa pramugari yang berdiri di sampingnya sangatlah cantik dan memiliki tubuh yang ideal.
Jika Rama tidak kuat iman pasti akan tergoda dengan lirikan pramugari itu. Nyatanya Rama bersikap acuh karena baginya Kezia tiada duanya. Meskipun di suguhkan wanita-wanita cantik di luaran sana.
"Mas, ini selimutnya agar tidurnya nyaman," ucap pramugari itu, menyelimuti tubuh Rama.
Lama-lama Rama menjadi jengah, tanpa berterimakasih Rama hanya diam saja, membuat si pramugari itu mendengus kesal karena di acuhkanya.
Rama kira, dengan bersikap acuh akan membuat pramugari itu menyerah. Nyatanya Rama salah, karena pramugari itu tidak kehabisan akal untuk mendekatinya.
"Saya mau istirahat! jika kamu mengganggu terus, kapan saya bisa tidur?" tanya Rama dengan nada dinginya.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan Rama, hingga pesawat lepas landas, pramugari tadi hanya bisa melirik Rama saja, karena takut jika Rama akan marah dan membuatnya malu.
Rama bisa bernafas lega, rasanya nyaman dan Rama bisa mengistirahatkan tubuh dan fikiranya tanpa gangguan siapapun.