
Kezia Afshen
Perasaan yang sudah ku tekan dalam-dalam,kini menyeruak ke permukaan. Lagi-lagi aku kalah dengan perasaanku. Aku yang memberinya surat kontrak. Tetapi kenapa aku sendiri yang merasa kesakitan. Rasanya seperti di kuliti saat masih hidup. Begitu terasa sakitnya, namun tidak berbekas lukanya.
"Baiklah jika itu maumu," ucap Rama
Dengan entengnya dan tanpa beban, Rama berucap demikian. Sepertinya dia sangat bahagia akan lepas dariku. Aku tersenyum getir dan mengingatkan pada diriku sendiri. Aku tidak penting baginya, sudah pasti dia sangat senang terlepas dariku.
"Aku tidak akan melarangmu berhubungan dengan kakaku. Tapi aku minta, jangan sampai di tempat umum. Setidaknya sampai waktu perpisahan kita tiba."
"Apapun maumu akan aku lakukan."
Setelahnya, Rama mendadak merengkuh tubuhku, memeluku sangat erat. Ku balas pelukan dari suamiku tak kalah erat. Meskipun aku sendiri bingung, apa maksud Rama memeluku. Sehingga aku berasumsi, mungkin karena Rama terlalu senang akan lepas dariku.
"Mandilah mas, aku akan menyiapkan air hangat dan juga baju kerjamu."
Rama hanya mengangguk,tidak ada perlawanan ataupun protes darinya. Setelah berucap, aku berlalu begitu saja, meninggalkan Rama yang masih memperhatikanku. Selesai menyiapkan air dan baju kerja untuk Rama. Aku bergegas ke dapur membuatkan Rama sarapan dan kopi hangat. Meski tubuhku sangat lelah karena baru saja tiba. Seperti pada perjanjian, aku akan berperan menjadi istri yang baik. Setidaknya dalam waktu lima bulan kedepan.
Setidaknya ada secuil rasa bahagia, saat bisa berperan sebagai istri yang baik untuknya. Selesai semua, Ku tunggu suamiku di meja makan. Tak lama suamikupun keluar kamar menghampiriku.
Aku melayani Rama, memberikan sarapan dan kpinya. Rama hanya menurut saja, apapun yang ku perbuat kepadanya. Selesai acara sarapan, Rama hendak membuka pintu apartemen. Aku segera berlari menghampirinya.
"Ada yang tertinggal," ucapku kemudian mencium punggung tangan Rama.
Tidak ku sangka setelah itu, Rama mendaratkan ciumanya di keningku. Aku tersenyum bahagia, meskipun yang di lakukan suamiku barusan hanyalah pura-pura.
Setelah kepergian Rama, tak lama bel apartemen berbunyi. Padahal aku baru ingin memejamkan mataku karena lelah. Akhirnya mau tidak mau akupun beranjak membuka pintu.
__ADS_1
"Hallo adiku tersayang," Sapa kak Vania masuk begitu saja ke dalam tanpa permisi. Sedangkan Aku hanya diam memperhatikan langkahnya dari belakang.
"Di mana kekasihku?"
"Jika kau kemari hanya mencari Rama, maka kau salah alamat. Pergilah ke kantornya, maka kau akan bertemu denganya."
Kak Vania keluar begitu saja tanpa permisi, membuat ku lagi-lagi mendengus kesal. Segera ku tutup pintu apartemen dan melanjutkan istirahatku yang terganggu. Baru juga beberapa menit mataku mulai terpejam. Terdengar notifikasi whatsapp yang mengganggu tidurku.
Rama:
Bisakah kau ke kantorku sekarang? aku ingin makan siang denganmu.
Meski sempat heran karena tidak biasanya Rama menyuruhku ke kantornya. Tetapi aku ragu jika kesana, pasti kak Vania juga berada di sana. Tetapi dia suamiku, aku lebih berhak menemaninya dari pada kakaku. Akhirnya ku putusnya tetap pergi ke kantor suamiku.
Ku lihat pantulan diriku di cermin,rambut tergerai dan dress navy sebatas lutut. Dandanan yang simple, namun terlihat manis. Di tambah highheel dengan warna senada dengan dressku. Kini aku telah siap menuju ke kantor suamiku.
Tak butuh waktu lama, lima belas menit waktu yang cukup untuk sampai di tujuan. Saat tiba di loby kantor, semua karyawan yang mengenaliku menunduk hormat. Aku membalas mereka dengan senyuman. Namun aku menangkap tatapan yang aneh pada mereka. Tatapan seolah kebingungan dan gugup. Apa lagi saat sekretaris Rama menghalangi aku masuk.
Ucapan dari sekertaris Rama yang bernama Ranti, membuatku mendadak bingung. Hanya ku abaikan ucapan Ranti, kemudian ku buka pintu ruang kerja Rama. Jadi ini maksud Ranti tadi melarangku masuk. Ternyata Suamiku sedang berduaan dengan kakaku. Apakah ini tujuan Rama memintaku kemari.
"Selamat siang, maaf jika kedatanganku mengganggu kalian," ucapku.
"Kau pasti sengaja kesini, Kezia," ucap kak Vania.
"Suamiku, ternyata ini tujuanmu memintaku ke sini. Untuk melihat kalian berdua bermesra'an, apakah benar begitu?"
"Bukan begitu Kezia, tap_
__ADS_1
Ucapanya terputus karena kak Vania tiba-tiba berucap. Dia bahkan menyuruhku keluar dari ruang kerja Rama. Sangat lucu bukan? aku yang istrinya di usir oleh kekasihnya. Padahal aku lebih berhak atas Rama daripada kak Vania.
"Baiklah, aku akan pergi," ucapku keluar begitu saja.
Aku tidak langsung pergi, aku bersandar di pintu luar ruangan Rama. Ku dengar dengan jelas perdebatan keduanya membahasku. Bolehkah aku senang saat Rama membelaku. Aku tersenyum, selang beberapa detik senyumku lenyap begitu saja. Terdengar keras ucapan Rama sampai tembus di telingaku.
"Sebentar lagi aku akan bercerai denganya,jadi mengertilah. Aku hanya memberinya sedikit kenangan sebelum kami bercerai."
"Benarkah? tapi kau masih mencintaiku, bukan?" tanya kak Vania.
"Tentu saja, aku hanya mencintaimu, sayang."
Miris sekali, untung saja aku sudah keluar dari ruanganya. Jika belum, pasti kak Vania akan menertawaiku. Setelah cukup mendengarkan perdebatan keduanya. Aku beranjak pergi kembali ke apartemen. Mereka berdua hanya menyia-nyiakan waktuku saja.
Meski aku sangat sedih saat ini, tapi aku mampu menutupinya untuk sekedar tersenyum kepada seluruh karyawan yang ku lewati.
"Bu, bu Kezia," teriak Ranti memanggilku, membuatku menoleh dan memandangnya. Tiba-tiba Ranti memeluku, akupun kaget karenanya. Lebih kaget lagi ketika dia memintaku untuk bersabar. Apakah dia tahu yang ku rasakan saat ini. Apakah dia sering melihat Rama berduaan dengan kakaku. Aku merutuki kebodohanku barusan. Tentu saja Ranti tahu, dia kan sekertaris Rama. Sudah pasti dia tahu semua yang di lakukan bosnya.
Setelah pelukan kami berdua terlepas,ku tatap wajah Ranti. Aku berterimakasih kepadanya, ternyata masih ada orang yang peduli kepadaku. Aku menggeleng seolah tidak apa-apa dan tidak ada masalah .
"Terimakasih ya Ran, aku pulang dulu."
Ku kendarai mobilku dengan kecepatan sedang. Lalu berhenti di sebuah taman tak jau dari apartemen. Tiba-tiba terdengar ketukan dari kaca jendela mobilku. Ternyata kak Digolah orang yang mengetok kaca jendelaku. Aku tersenyum menyambunya dan menyuruhnya masuk.
"Zia, bolehkah aku masuk?"
Kami hanya mengobrol biasa, tidak ada hal yang cukup penting. Bahkan berkali-kali kak Digo membuatku tertawa. Karena terhanyut pada suasana. Akupun lupa dengan masalah yang tadi menimpaku. Semua berlangsung hingga beberapa jam kemudian. Ketika ku buka pintu apartemen, ternyata suamiku sudah pulang. Bukankah dia tadi masih bermesraan dengan kakaku di kantor. Kenapa cepat sekali dia kembali ke paratemen.
__ADS_1
"Darimana saja kamu zia? kenapa baru pulang?
Suara suamiku menegurku, akupun menjawab dengan jawaban sesungguhnya. Jika aku baru saja bertemu dengan Digo sahabatnya. Entah kenapa terlihat tatapan tidak sukanya saat aku membahas sahabatnya.