
Sepanjang malam, Kezia masih memikirkan pernyata'an mantan suaminya. Dia benar-benar tidak sanggup, jika harus berpisah dengan putranya. Apa lagi, Ethan memilih tinggal bersama Rama dari pada denganya.
"Hik, kenapa semua menjadi begini? Kenapa putraku lebih memilihnya," batin Kezia menangis.
Flasback on
"Rama," panggil Kezia, membuat langkah Rama terhenti.
Pada saat itu, Rama sudah membuka pintu ruang kerjanya hendak keluar. Mendengar namanya di panggil oleh wanita masalalunya, Rama segera membalikan tubunya.
"Ada apa lagi?" tanyanya pada Kezia
"Tolong, jangan pisahkan aku dengan putraku," mohon Kezia
"Cih! Aku bukan kamu Kezia, aku hanya meminta hak asuh, bukan memisahkanmu denganya. Aku bukan kamu yang dengan sangat tega memisahkan anak dan papanya.
"Tapi, jika hak asuh ada padamu, maka Ethan tidak bisa tinggal denganku."
"Kau menginginkan putra kita tinggal bersamamu, bukan?" tanya Rama, sambil menutup kembali pintu ruang kerjanya. Rama mendekati Kezia, memenjarakan mantan istrinya di antara kedua lengan kekarnya. Bahkan mata mereka saling tatap, Rama tersenyum tipis, bahkan saking tipisnya sampai tidak terlihat. Dia bisa melihat, masih ada cinta di mata mantan istrinya. Rama yakin, karena tatapan mata Kezia sama persis seperti lima tahun yang lalu.
Mereka berdua terhanyut dengan suasana, bahkan yang tadinya gugup, kini Kezia mulai merasa nyaman. Hingha tanpa di duga, ada sesuatu yang basah yang menempel di bibirnya. Rama menciumnya, bahkan Rama semakin memperdalam ciumanya. Ciuman lembut, bahkan lebih lembut dari yang ia rasakan lima tahun yang lalu.
Ketika kembali pada kesadaranya, Kezia melepaskan pagutan bibir mantan suaminya. Tanganya mendorong tubuh Rama untuk menjauh. Wajahnya memerah di sertai nafas yang terengah-engah.
"Tidak Rama, ini tidak benar," ucap Kezia lirih, namun masih terdengar di telinga Rama.
__ADS_1
"Apanya yang salah?" tanya Rama, menatap kembali wajah Kezia. Bahkan tanganya mengelus lembut, pipi Kezia yang sangat halus.
P"Aku akan keluar dari sini," ucap Kezia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. Namun tangan Rama menghalangi langkahnya. Di cekalnya pergelangan tangan Kezia, membuat sangempunya membeku.
"Mari kita rujuk," pinta Rama, Kezia menggeleng. Ada Erik tunanganya yang saat ini ada di antara mereka. Tidak mungkin Kezia menyakiti pria sebaik dan setulus Erik.
"Gak Ram! Aku sudah menjadi tunangan pria lain," ucap Kezia menatap wajah Rama yang menahan amarah. Bagaimana mungkin Rama tidak marah, jika jelas-jelas ia masih melihat cinta untuknya di mata Hazel milik Kezia. Namun, wanita di depanya ini malah menolak permintaanya. Membuat Rama menggepalkan sisi jemari tanganya yang lain.
"Baiklah, jika itu maumu! Ternyata aku salah menilaimu. Aku fikir, perasaat putra kita lebih penting daripada perasaan lelaki yang kau sebut tunanganmu. Maka lanjutkan pilihanmu, dan aku tetep akan berada pada pilihanku. Aku akan mengurus putraku sendiri, aku tidak membutuhkanmu," ucap Rama membuka serta membanting pintu Ruang kerjanya dengan sangat keras. Kezia kaget, bahkan tubuhnya merosot di balik pintu ruang kerja Rama. Kezia menangis, hatinya sakit mendengar ucapan Rama barusan.
Bahkan setelah ia keluar dari ruang kerja mantan suaminya. Kezia mencoba menghampiri Ethan dan mengajak putranya pulang bersamanya. Namun lagi-lagi Kezia harus menelan pil pahit yang kepahitanya sampai menembus ke hatinya. Putranya menolak ajakanya, dia lebih nyaman tinggal bersama papanya.
"Mama, kenapa kita tidak tinggal di sini bersama papa? Kasihan papa sendirian," ucap Ethan polos, sedangkan Kezia bungkam karena mati-matian menahan sesak di dalam dirinya.
"Ehm," Terdengar suara Erik berdehem , mendekati Kezia yang sedang duduk merenung di teras depan. Cepat-cepat Kezia segera menghapus air matanya. Dia menoleh dan memaksakan senyumnya menyambut kedatangan tunanganya.
"Angin malam tidak baik untukmu, masuklah," pinta Erik, Kezia menggeleng dengan alasan udaranya sangat menyegarkan.
"Apa kau memikirkan putramu?" tanyanya sambil memeluk Kezia dari belakang. Kezia reflek melepaskan pelukan Erik. Dia tidak pernah di peluk Erik seperti ini sebelumnya. Bahkan pelukan Erik terasa hambar, tidak seperti pelukan Rama. Apa karena hati Kezia masih terdapat nama Rama. Apa karena Kezia menerima Erik hanya karena balas budi. Bagaimanapun, Erik adalah sosok dokter yang menyelamatkanya di ambang kematian.
Kezia sangat pusing, Kezia bingung harus bagaimana lagi. Fikiranya terbelah memikirkan antara putranya, Rama dan juga Erik. Kezia tidak mampu menyakiti perasaan Erik. Namun Kezia juga tidak mampu berpisah kembali dengan putranya.
"Kenapa kau belum tidur, tidurlah! Aku juga sangat mengantuk," ucap Kezia, tanpa ia tahu Erik menangkap hal yang mengganjal pada sikap Kezia.
Erikpun bisa menebak, pasti perubahan tunanganya berhubungan dengan mantan suaminya. Apapun yang terjadi, Erik tidak akan membiarkan Rama merebut tunanganya.
__ADS_1
"Tidurlah! Aku akan tidur beberapa saat lagi," ucap Erik meminta Kezia masuk ke dalam kamar dan tidur.
Sedangkan Erik akan mencari seseorang untuk memata-matai Kezia. Karena lusa, dirinya harus kembali bertugas di singapura. Dia adalah seorang dokter, berlibur terlalu lama akan merugikan pasien yang membutuhkanya.
Berbeda dengan Kezia, kebiasaan lamanya masih saja ia lakukan. Di bawah guyuran air shower yang mengalir Deras. Kezia menumpahkan tangisanya, merasakan perih pada hatinya. Sekian lama berjuang hidup demi putranya. Rela berpisah demi menjalani pengobatanya. Ingin segera kembali ke tanah air, untuk dekat dengan putranya. Setelah ia kembali, putranya tidak menginginkanya. Putranya lebih memilih tinggal bersama Rama.
Meskipun Rama tidak melarang Kezia untuk menemui putra mereka. Namun semua ini terasa kurang bagi Kezia. Yang Kezia inginkan, putranya berada di sisinya. Dia ingin memeluk putranya setiap saat. Membacakan dongeng pengantar tidur, hingga ia terlelap. Kezia juga ingin mengantar dan menjemput putranya sekolah. Kezia juga ingin bermain dan selalu ada untuk putranya. Kezia juga ingin menebus waktu mereka yang sempat hilang.
"Hik, Ethan, kembalilah nak! Mama sangat merindukanmu," isaknya masih di bawah guyuran air shower.
Berbeda di tempat lain, di sela kesibukanya, Rama masih meluangkan waktu untuk putranya. Mengantar dan menjemput sekolah setiap harinya. Mengajak putranya ke kantor cabang yang berada di bali. Menyuapi putranya saat makan, meskipun Ethan bisa sendiri. Membacakan dongeng pengantar tidur, hingga putranya tertidur. Semua yang di lakukan Rama adalah yang Kezia inginkan.
Bahkan semenjak kehadiran putranya dalam hidupnya. Rama yang terkenal gila kerja, kini kebiasaanya mulai hilang. Sekarang bukan pekerjaan yang terpenting dalam hidupnya. Putranya lebih penting dari segalanya. Tanpa ia bekerja, uangnya akan terus mengalir.
Dengan mengandalkan orang kepercaya'anya, Rama bisa menghadle dari rumah. Ia tidak perlu ke kantor setiap hari. Ia tidak perlu terjun ke lapangan langsung. Ia cukup memantau dari handphonenya, sambil mengurus putranya.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Kezia dilema, autor juga dilema, nih!
Kisah percintaan mereka, membuat kepalaku pusing
Bagaimana menurut kalian Readers?
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
__ADS_1