
Rama Asher
Tubuhku terasa lebih segar, ketika terbangun dari tidurku. Entah berapa lama aku tertidur, fikiranku langsung teringat chat dari pengasuk putraku tadi malam.
Entah kenapa, aku merasa kucing-kucingan untuk bertemu dengan putraku sendiri. Padahal aku lebih berhak daripada Adrian. Aku beranjak dari berbaringku, berdiri masuk ke kamar mandi. Sepertinya mandi akan membuat fikiranku menjadi fresh kembali. Meskipun tidak bisa menemui Ethan, aku masih bisa mengawasinya dari kejauhan.
Entah kenapa, aku ingin selalu dekat dengan putraku. Tidak bisa ku bayangkan ekspresinya ketika ia terbangun nanti. Mendapati dirinya yang sudah kembali di rumah kecilnya. Bisa kulihat, sepertinya dia sangat nyaman tinggal di sini bersamaku. Terlihat ketika kemarin, Ethan enggan pulang ke rumah Dewi. Hal ini bisa ku manfaatkan untuk mengajak Ethan, tinggal bersamaku. Kalau bisa mamanya juga akan ku bawa tinggal bersamaku.
Bukan berarti aku mengeksploitasi anaku sendiri. Aku hanya ingin keluarga kecilku kembali utuh. Jujur aku sangat merindukan Kezia, bagaimana dia saat ini. Apakah dia sudah melupakanku dan mempunyai penggantiku. Kenapa membayangkanya saja, sudah membuat dadaku menjadi sesak.
Dewi berkata, Kezia akan kembali, entah kapan hari itu tiba. Mendengarnya saja aku sudah sangat bahagia. Apa lagi jika aku bisa memeluk tubuh beraroma bunga lilyku kembali. Aroma tubuhnya yang khas, membuatku sulit untuk melupakanya.
"Sayang, papa akan berusaha memberikanmu orang tua yang lengkap. Papa tahu, kamu sangat menginginkanya, nak," ucapku sambil membayangkan wajah ceria putra semata wayangku.
Demi mereka, demi putra dan mantan istriku. Aku tinggalkan pekerjaanku yang menumpuk di jakarta. Aku mempercayakanya pada Digo dan Ranti sekertarisku. Sesekali aku juga bisa mengeceknya dari sini. Karena keutuhan keluargaku kembali, lebih penting daripada pekerjaanku. Mungkin aku sebelumnya memang di juluki workaholic. Namun semenjak pertemuanku dengan putraku. Aku sadar, keluargalah yang harus aku prioritaskan sekarang.
Dari kejauhan bisa ku lihat, saat Adrian mengantarkan putraku ke sekolahnya. Aku sudah meminta anak buahku untuk membungkam para guru, tentangku yang sering menemui putraku, pada Adrian. Aku juga meminta pada Dewi, untuk merahasiakan keberada'anku. Tapi percuma saja, ternyata putraku sendiri yang membongkar semuanya.
Baru saja Dewi mengabariku, Ethan menangis mencari keberada'anku. Tentu saja hal itu terjadi, karena dari kemarin, putraku menginginkan tinggal bersamaku. Sekarang, dari jauh aku bisa melihat wajah sembab putraku, yang ku yakini baru saja menangis.
__ADS_1
"Oh, sayang! Maafkan papamu ini, nak. Papa akan membawamu tinggal bersama papa. Kita bisa tinggal bersama, papa tidak peduli uncle sialanamu itu menghalangi kita. Kalau perlu, papa akan menghancurkan apapun yang dia miliki, jika dia menghalangi kita," ucapku di balik kaca mobilku
Saat pulang sekolah nanti, aku sudah bertekat akan menjemput putraku. Aku sudah tidak peduli dengan Adrian. Bahkan pria itu memarahai pengasuh putraku, karena lancang memberiku izin bertemu dengan putraku. Aku mengetahuinya karena Dewi sendiri yang bilang padaku. Kalau bisa, aku akan membawa putraku sekaligus Dewi, tinggal di rumahku.
Jika Adrian menuntutku, itu sama saja dia melawan singa yang sedang kelaparan. Bukanya aku sombong, bahkan kekaya'an keluarga Afsen tak sebanding dengan kekaya'anku. Dengan uang, maka aku bisa mendapatkan apapun yang ku inginkan. Dengan uang, aku akan mendapatkan hak asuh putraku.
Semua tergantung pada mereka, ingin memilih jalur damai atau menentangku. Sudah cukup mereka membuatku kecewa, dengan menyembunyikan kehamilan Kezia padaku. Sudah cukup, mereka memisahkanku dengan putraku selama empat tahun. Sudah cukup, mereka menjadikanku ayah terburuh di dunia ini. Karena tidak bisa melihat putraku terlahir ke dunia. Karena terlambat, melihat tumbuh kembang putraku.
Aku tetap di dalam mobil hingga jam pulang sekolah tiba. Ku lihat Adrian, sejak pagi hingga siang ini, masih duduk menunggu putraku. Aku hanya tersenyum, kita lihat saja, siapa yang akan di pilih putraku.
Ku lihat Ethan sudah keluar dari gerbang penjemputan. Segera ku langkahkan kakiku menemui putraku. Meskipun saat ini ada Adrian yang sedang berdiri menyambutnya.
"Anak papa," panggilku, membuat wajah putraku langsung berbinar. Jika wajah putraku berbinar karena kedatanganku. Lain hal dengan ekspresi menahan kemarahan yang ku dapati dari wajah Adrian.
"Lepaskan dia, ni waktunya dia pulang."
Ku dongakan wajah, ku dengar suara itu adalah suara Adrian. Ternyata dia masih bisa bicara, ku kira dia bisu. Aku hanya menyeringai, menahan kemarahan dan kekecewa'anku padanya.
"Kenapa harus aku yang melepaskanya? Dia putraku, dan kalian menyembunyikan fakta tentangnya dariku selama ini," ucapku dengan nada tegas, menatap wajah Adrian yang mulai menegang.Tentang putraku, aku menginginkanya, bagaimanapun caranya.
"Ethan sayang, kamu pulang dulu dengan uncle Adrian, ya?" ucapku, mencoba melihat jawaban dari putraku.
"Tidak! Aku ingin pulang ke istana, kemarin."
__ADS_1
Aku tidak memaksa putraku, aku juga tidak menghasutnya agar ikut denganku. Dia dengan sendirinya menentukan pilihanya. Dia tahu, di mana tempat paling nyaman untuknya. Ku lirik ekspresi Adrian yang menahan kekesalan padaku. Ku tunggu apa yang akan dia perbuat setelah ini.
"Kau licik, Rama! Kau pasti menghasutnya agar ikut denganmu," ucap Adrian, menuduh
"Kau menuduhku? Bukankah kau dengar sendiri, aku memintanya pulang bersamamu. Namun, ternyata putraku meminta pulang ke istananya. Jadi ini bukan salahku, tolong cermati baik-baik, Adrian," timpalku
Sekali lagi ku tanya kepada putraku, ingin ikut aku atau Adrian. Ternyata jawabanya tetap sama, dia ingin ikut denganku.
"Ethan, kau tidak ingin bertemu dengan mamamu?" tanya Adrian, membuat perhatian putraku teralihkan setelah mendengar kata mama. Sial, ternyata Adrian tidak ingin kalah denganku. Oke, saat ini biarlah aku yang mengalah. Lain kali akan ku ambil anak beserta mamanya. Seperti pada pribahasa "Sekali Mendayung Dua Tiga Pulau Terlampaui”, satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil sekaligus. Sekali mengambil anaku, maka Kezia akan ikut kembali kepadaku.
"Tidak, uncle! Uncle membohongiku, uncle selalu bilang, mama akan pulang. Tapi, nyatanya mama Ethan tidak pernah pulang," protes Ethan. Aku kaget, anak kecil seumuran putraku, ternyata tidak bisa di bohongi. Bolehkah aku tersenyum akan kemenanganku. Tentang Kezia, biarlah dia menemui putranya di rumahku. Aku akan menanti sampai dia datang dengan sendirinya ke rumahku.
"Jadi, apa keputusanmu, Boy?" tanyaku pada putraku.
"Ethan ikut papa! Ethan ingin memainkan mainan yang belum sempat ku mainkan, pa," ucapnya, membuatku lagi-lagi tersenyum penuh kemenangan.
"Kau sudah dengar sendiri, Adrian? Jadi biarkan putraku tinggal bersamaku. Tenang saja, aku tetap akan mengizinkanmu menemuinya kapanpun kamu inginkan. Bahkan jika mamanya juga ingin menemuinya, pintu rumahku terbuka. Aku tidak akan seperti kalian, yang memisahkanku dengan putraku," ucapku, sembari kuberikan selembar kertas yang berisi alamat rumahku. Setelahnya, kami berdua pergi meninggalkan Adrian. Karena putraku sudah menarik tanganku untuk menuju mobil yang terparkir di sebrang jalan.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Duh, Rama sukanya mancing singa lapar ya🤭
Lanjut, gak?
__ADS_1
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️