
Rama membanting semua benda di hadapanya, hingga semuanya hancur berserakan di lantai. Bagas berdiri mematung di ambang pintu, membiarkan atasanya meluapkan kemarahanya. Bahkan semua asisten rumah tangga dan beberapa pekerja lainya di rumah Rama merasa ketakutan karena majikan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Hidupnya terusik, terlebih yang mengusiknya tidak lain adalah rivalnya dan wanita baru yang akan dia buat menderita hidupnya.
"Brengsek! Bagas, seret wanita itu ke hadapanku, biar ku patahkan semua jari tanganya karena berani menyentuhku, aku merasa jijik dengan sentuhan wajita j*l*ng itu pada tubuhku," teriak Rama.
Bagas langsung beranjak menjalankan perintah Rama, sebelum atasanya itu semakin menjadi-jadi. Rama adalah atasan yang tergolong baik namun juga bisa jahat jika ada orang yang mengusik hidupnya. Terlebih dengan hartanya dia bisa melumpuhkan siapa saja.
"Asih, ambilkan minuman untuku," teriak Rama, minuman yang di maksud adalah minuman beralkohol yang bisa membuatnya melupakan sedikit masalahnya.
Asih langsung mengambilkan apa yang di inginkan majikanya. Asih tahu jika dia tidak cepat-cepat mengambilnya, maka Rama akan semakin murka.
Asih sudah lama bekerja dengan Rama, dulu dia bekerja di rumah orang tua Rama. Namun semenjak Rama membangun rumahnya sendiri, dari saat itulah Asih bekerja di rumah Rama.
Asih tahu persis sifat majikanya, sudah lama Rama tidak semarah seperti saat ini. Terakhir Rama marah yakni saat perceraianya dengan Kezia. Bahkan majikanya ini lebih banyak kebaikanya di banding minusnya.
"Asih, cepat," teriak Rama.
Bahkan Rama sudah berdiri di ujung tangga hanya untuk meneriaki Asih yang sedang mengambil minuman yang Rama inginkan.
Hingga semua pekerja di rumah Rama, menunduk tidak berani mendongak melihat majikanya. Entah apa yang terjadi sehingga membuat majikanya yang biasanya baik-baik saja berubah semarah ini.
Para pekerja semakin ketakutan, keringat dingin mengucur dahi dan di sela-sela jari.
Asih segera mempercepat langkahnya menghampiri Rama. Di Rasa majikanya sudah menerima yang dia inginkan lalu masuk ke kamarnya dengan suara cukup keras pintu kamarnya di bantik, membuat para pekerja semakin kaget namun setelahnya mereka bisa bernafas dengan lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa pak Rama bisa semarah itu?"
"Paling soal non Kezia," jawab Asih karena sudah sangat hafal.
"Aduh, kenapa lagi mereka? ada saja ujianya, padahal mereka saling cinta."
Asih hanya mengedikan bahu, di memang tidak tahu masalah yang sebenarnya terjadi. Tadi dia hanya asal bicara kalau yg membuat Rama marah adalah Kezia.
Rama bersandar di pinggiran ranjangnya, meneguk minumanya dalam nuansa gelap di kamarnya. Hanya sinar rembulan yang sedikit menembus masuk ke dalam kamarnya lewat kaca jendelanya.
Fikiranya berkelebat tentang Kezia dan memikirkan tentang foto-foto yang di kirim oleh Erik semuanya di whatsappnya. Jika sampai Erik menyebarkanya di sosial media. Sudah pasti bukan hanya hubunganya dengan Kezia yang akan hancur, nama baiknya sebagai pembisnis tauladan pun akan hancur.
Teguk per teguk minuman itu dia minum, entah sudah berapa botol yang Rama minum. Yang jelas kondisi Rama saat ini setengah teler.
Rama memejamkan matanya di saat dia sudah tidak kuat meneguk lagi minumanya. Saat itulah fikiranya tidak lagi berputar memikirkan Kezia dan photo-photo itu.
Di lain tempat, tepatnya di Singapura, Ibunya Erik berteriak karena putranya membawa Dewi ke rumahnya.
"Ngapain kamu bawa wanita ini ke mari, Erik" teriak mamanya Erik.
"Sabar mom, dia istriku saat ini," ucap Erik.
__ADS_1
"Istri? sampai kapanpun mummy tidak akan merestui pernikahan kalian. Yang mummy inginkan menjadi menantu mummy adalah Kezia, bukan babu sepertinya."
Ucapan ibunya Erik sungguh sangat mengenai hati Dewi. Dewi menghela nafas dan menunduk kembali mencoba menetralkan hatinya.
Erik melangkah pergi ke luar rumah, Dewi menoleh melihat suaminya pergi. Dia tidak mampu menahan suaminya untuk tidak pergi meninggalkanya sendiri. Namun Dewi sadar, ada atau pun tidak ada Erik di dekatnya nyatanya sama saja. Erik bukanlah sosok suami yang akan melindunginya seperti yang di miliki wanita lain di luar sana.
"Kamu mau kemana lagi Erik, kamu baru tiba sudah mau pergi lagi?" tanya ibunya.
"Erik ada jadwal operasi hari ini, mom! oleh karena itu mendadak Erik terbang ke singapura."
Ibunya akhirnya mengangguk faham, yang ibunya bingungkan kenapa Erik membawa Dewi ikut bersamanya ke singapura. Seharusnya Erik membiarkan Dewi tinggal di Indonesia. Ibunya sangat tidak menyukai Dewi, karena setatus sosial mereka yang tidak sama.
Setelah kepergian Erik, Dewi langsung di seret ke ruang kosong yang di penuhi debu. Ruangan yang sangat kotor hingga membuat Dewi terbatuk-batuk.
"Bersihkan, Seluruh ruangan ini sekarang juga, awas tidak bersih," ancamnya.
Sepertinya Dewi merutuki kebodohanya, seharusnya dia tidak mengikuti Erik ke luar negri jika akhirnya dia hanya di anggap babu oleh mamanya. Seharusnya Dewi kabur saja sebelum Erik membawanya ke singapura.
"Malah bengong! apa selain miskin, kamu juga tuli, hah?"
"Iya mom, maaf Dew_
Ucapanya terpotong karena ibunya Erik tidak mengizinkan Dewi memanggilnya dengan sebutan mummy.
"Siapa yang mengizinkanmu memanggilku mom? panggil saya nyonya," bentaknya.
Ibunya Erik kembali lagi setelah melangkah pergi meninggalkan Dewi. Wanita tua itu kembali hanya untuk memberi peringatan kepada Dewi.
"Eh kamu, jangan berbesar kepala karena bisa menikah dengan anaku. Kau sudah tahu pastinya kenapa dia menikah dengan wanita sepertimu. Tunggu sebentar lagi putraku pasti akan menceraikanmu dan membuangmu."
Dewi mendengus kesal, jika bukan berada di negara asing, sudah pasti Dewi akan melempar batu-bata ke mulut mertuanya.
"Siapa juga yang sudi menikahi pria pengecut seperti Erik," batinya.
Dewi melanjutkan bersih-bersihnya, mulai dari mengelap, menyapu dan mengepel hingga ruangan itu terlihat lebih bersih dari sebelumnya.
Dewi kira setelah dia mempercepat pekerja'anya, dia bisa istirahat sebentar. Nyatanya tidak sesuai harapanya karena mertuanya memberi tugas baru setiap Dewi menyelesaikan tugas sebelumnya.
Ingin rasanya berteriak agar orang-orang bisa mendengarnya dan juga membantunya. Tapi ini Singapura bukan Indonesia, apakah orang-orang yang akan peduli dengan teriakan Dewi.
Terdengar bunyi perutnya yang memberontak minta segera di isi. Sedari tadi, Dewi hanya sempat makan satu kali itupun saat di dalam pesawat.
Mertuanya memerintah Dewi untuk terus membersihkan seisi rumah, tanpa menyuruhnya istirahat untuk makan.
Tidak peduli mertuanya akan marah nantinya, Dewi segera memeriksa isi kulkas dan mencari makanan yang bisa mengganjal perutnya. Untung ada sepotong kue yang bisa ia makan tanpa capek-capek memasaknya.
Dewi memakan dalam diam sangat mirip seperti se ekor kucing yang sedang mencuri ikan di bawah tudung saji. Baru setengah bagian kue yang Dewi makan, mertuanya sudah memergoki duluan.
__ADS_1
"Oh, jadi selain miskin kamu juga seorang pencuri, ya? siapa yang nyuruh kamu makan kue milik saya, hah?" teriaknya.
"Nyonya, saya lapar! saya butuh tenaga untuk membersihkan se isi rumah ini," jawab Dewi.
"Dasar wanita miskin, berani kamu membantah saya, ya? saya aduin Erik, baru tahu rasa kamu," ancamnya.
"Silahkan! anda dan putra anda sama saja, orang kaya sombong yang miskin attitude," ucap Dewi melawan.
Entah mendapat kekuatan dari mana, sehingga Dewi bisa membantah mertuanya. Dua bola mata mertuanya seakan ingin lepas, saking melotot menatap Dewi.
Dewi terlalu muak dan sudah begitu sering bersabar. Namun Suaminya dan mertuanya semakin menginjak-injak harga dirinya dia.
"Plaaak," suara tamparan yang mendarat di pipi kanan Dewi.
Wanita itu mengaduh merasakan rasa panas sekaligus perih pada bagian pipinya. Saat itu pula Erik telah pulang dan sedari tadi menyaksikan percecokan menantu dan mertua di hadapanya.
"Jadi seperti ini kalian berdua jika aku tidak ada?" tanya Erik, menatap ibunya dan istrinya secara bergantian.
Dewi berlari masuk ke dalam kamar, persetan dengan tugas-tugasnya yang belum selesai. Dia sudah lelah, lelah di hina dan di rendahkan.
"Erik, istri kamu kurang ajar, padahal mama cuma minta tolong, tapi dia malah berhata kasar dan membentak-bentak mummy," rengeknya.
Erik lebih percaya ucapan ibunya, bagaimanapun ibu ya adalah orang tua yang mengandung dan melahirkanya. Tanpa Erik berfikir, Dewi juga wanita yang mengandung anaknya sebelum bayi mungilnya gugur.
"Mummy yang tenang, ya! biar Erik yang akan menegur Dewi," ucapnya melangkah masuk ke dalam kamar.
Pintu di dobrak dan dalam keadaan marah, Erik mendorong Dewi hingga dewi terbaring di atas ranjangnya dalam posisi Erik menindih tubuhnya dan menatapnya.
Dewi ketakutan, sepertinya Dewi mengalami dejavu dan membuatnya trauma bisa sedekat itu melihat wajah Erik tepat di depan wajahnya apa lagi dalam kondisi terbaring dan di tindih tubuhnya Erik.
Sekilas bayangan malam itu membuat Dewi ketakutan. Malam itu adalah pengalaman terhancur yang pernah Dewi rasakan.
Dewi menggeleng, keringat dingin bercucuran di dahinga. Bahkan bukan keringat saja yang dingin, tanganya pun terasa dingin. Terlihat jelas wajah ketakutan Dewi saat menatap Erik. Erik langsung bangkit dan Menjauh dari hadapan Dewi.
"Enggak! Engggak, tolong menjauh, pergi kamu, jangan perkosa aku, aku mohon, pak," suara Dewi yang sangat pilu memohon kepada Erik.
"Kenapa denganya? apa dia mengalami PTSD Post-traumatic stress disorder?" gumam Erik, memperhatikan Dewi yang menangis dan menjambak rambutnya sendiri.
Erik segera berlari menuju ruang kerjanya dan mengambil obat penenang yang akan di suntikan ke tubuh Dewi.
Setidaknya saat ini yang dia bisa lakukan adalah membuat Dewi merasa tenang terlebih dulu. Setelah mendapatkan obat yang dia cari, Erik kembali berlari menuju kamarnya dan langsung menyuntikanya di tubuh Dewi. Awalnya Dewi berteriak karena merasa kesakitan, tak lama wanita itu pun tertidur karena obat telah bereaksi di dalam tubuhnya.
Erik sempat memandang Dewi, wanita yang telah menjadi istrinya itu, semakin hari tubuhnya semakin kurus. Benar-benar tega, Erik menjadikan dia sebagai umpan untuk mendapatkan kembali Kezia.
Erik masih memandang wajah damai Dewi saat tidur. Di singkirkanya helaian anak rambut yang menutupi wajah Dewi. Sebenarnya Erik tidak tega dan merasa kasihan. Tetapi dia masih membutuhkan Dewi saat ini.
"Maafkan aku telah menghancurkan impian dan masa depanmu. Saat ini aku benar-benar masih membutuhkanmu. Suatu saat aku pasti akan melepasmu dan kamu boleh memilih suami yang baik dan tepat untuk kelak kedepanya," ucap Erik lirih.
__ADS_1