
Setelah pulang dari pengadilan agama, Rama langsung pulang ke apartemenya dengan wajah lesunya. Semangatnya seolah pupus, gairahnya seolah menghilang. Rama sengaja tidak naik lift, ia memilih menaiki tangga. Saat Rama sudah sampai di tangga lantai apartemenya. Bertepatan dengan Vani yang baru keluar dari lift. Rama melihat Vania berjalan menuju arah apartemenya. Rama mempercepat langkahnya karena ingin berbicara kepada kekasihnya. Namun tiba-tiba tubuh Rama menegang. Ketika melihat Vania masuk ke dalam apartemen Digo, sahabatnya.
Mendadak kecurigaan itu muncul, ribuan pertanyaan muncul di fikiranya. Rama masih bertanya-tanya. Bagaimana bisa kekasihnya mendatangi sahabatanya di apartemen sahabatanya.
Sedangkan di dalam ruang apartemen Digo. Vania segera berhambur memeluk serta mencium bibir Digo. Digo yang masih marah karena sikap Vania yang tidak berubah. Sehingga ia tidak merespon saat Vania memeluk dan mencium bibirnya.
"Sayang, apa kamu masih marah kepadaku?"
Digo hanya diam tanpa menanggapi ataupu sekedar menatapnya. Vania merasa kesal karena melihat sikap cuek kekasihnya.
"Sayang, jangan marah kepadaku! Aku tidak sanggup jika kamu diami begini."
"Berubahlah dan hentika menyakiti adikmu. Hanya itu yang akan membuatku memaafkanmu."
"Sebentar lagi, maka aku akan berhenti menyakitinya. Aku masih ingin melihat mreka berdua bercerai."
"Keluar kau dari apartemenku, jangan temui aku
lagi. Jika perlu kita akhiri hubungan ini, maaf akutidak ingin berpacaran dengan wanita jahat."
Digo menyeret Vania keluar dari apartemenya. Dia sudah muak tengan sikap dan tingkah liciknya terhadap Kezia. Ingin rasanya Digo menceritakan tentang kebenaranya kepada Rama sahabatnya. Namun nyalinya belum kuat, katika melihat wajah kekecewaan Rama kepadanya. Tanpa Rama tahu, kekasih Rama juga adalah kekasihnya. Bedanya, Vania hanya berpura-pura mencintai Rama. Sedangkan Vania serius kepada Digo.
"Sayang, kenapa kamu mengusirku?" rengek Vania.
__ADS_1
"Kembalilah jika kau sudah berubah lebih baik, jika tidak, maka pergilah dari sisiku untuk selama-lamanya."
Setelah berucap demikian, Digo segera menutup pintu apartemenya. Sedangkan Vania masih berteriak meminta Digo membuka pintu untuknya. Tanpa Vania tahu, Rama diam-diam memperhatikanya. Tentu saja banyak tanda tanya yang sedang Rama fikirkan.
Vania langsung pergi meninggalkan apartemen kekasihnya dengan keadaan menangis. Rama hanya membiarkan saja, dia tidak ingin bertambah pusing. Ia lebih memilih menyuruh para orang suruhanya untuk mencari tahu kebenaranya.
Memikirkan tentang proses perceraianya dengan Kezia, sudah membuatnya pusing. Sedangkan di tempat lain, Kezia sedang termenung sendirian di kamarnya. Menatap photo pernikahanya yang di cetak besar dan menempel di dinding kamarnya. Lagi-lagi air matanya menetes, saat menatap photo suami yang amat ia cintai.
"Tok tok tok."
Terdengar suara pintu dari luar kamarnya. Buru-buru, Kezia segera mengusap air matanya. Terlihat seorang pria memasuki kamarnya, pria itu adalah Adrian. Kezia langsung berhambur di pelukan sang kakak.
"Menangislah sepuasmu, tetapi berjanjilah setelah ini kau akan berhenti menangis," Ucap Adrian mempererat pelukanya kepada sang adik. Kezia menumpahkan air matanya tanpa terhenti, dalam posisi masih di dalam pelukan Adrian.
"Adiku yang malang," Guman Adrian dalam hati. Tiba-tiba perut Kezia bergejolak ingin muntah. Perutnya bergejolak dan terasa tidak nyaman. Mulutnya seakan ingin mengeluarkan sesuatu tetapi tertahan.
"Bagaimana dokter, adiku sakit apa?"
"Menurut dari gejalanya, sepertinya nona Kezia sedang mengandung. Tetapi untuk memastikan, silahkan lakukan testpek.
Kezia dan Adrian saling pandang, seolah yang mereka berdua fikirkan sama. Mendengar ucapan dokter barusan, membuat Kezia bahagia sekaligus sedih. Bahagia karema akan ada malaikat kecil yang hadir menemani keseharianya. Sesih karena bayi itu datang di saat orang tuanya mengajukan perceraian.
"Kak, antar aku ke dokter kandungan sekarang."
__ADS_1
Adrian hanya mengangguk, menuruti kemauan adik bungsunya. Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah siap dan berangkat bersama.
Sepuluh menit jarak waktu yang di tempuh.Kini keduanya sudah tiba di klinik kandungan. Kezia sudah tidak sabar untuk mendengarkan hasilnya.
Betapa kaget plus bahagia saat mendengar bahwa dia hamil. Kezia mengelus pelan perutnya yang masih rata. Ini adalah buah dari cintanya kepada rama. Ia sudah tidak sanggup lagi menunggu waktu yang masih lama untuk menyambut kehadiranya. Adrian juga merasakan kebahagiaan adiknya saat ini. Stidaknya wajah yang pucat tadi, sudah berubah menjadi berseri-seri.
"Jangan beritahu Rama tentang kehamilahku," Pinta Kezia pada adrian. Adrian hanya mengangguk mengiyakanya.
"Istirahatlah dek, jangan berfikir berat dan bekerja berat. Ingat, ada tanggung jawab yang harus kamu lindungi," Ucap Adrian berlalu keluar dari kamar Kezia. Ia hendak pergi ke supermarket untuk membeli susu ibu hamil. Namun ia urungkan, mengingat ia tidaj faham soal susu ibu hamil. Akhirnya ia menyuruh secretarisnya untuk membelikanya.
Adrian turun ke lantai bawah, di sana ada papanya yang baru pulang. Adrian langsung menemui papanya dan memberitahu kabar bahagia kehamilan Kezia. Bisa di bayangkan bagaimana bahagianya tuan Afshen setelah mendengarnya.Ini adalah cucu pertamanya, tentu saja beliau senang. Namun mendadak tuan Afshen kefikiran soal perceraian putrinya.
"Apakah Rama sudah tahu Kezia hamil, Yan?" tanya tuan Afshen, Adrian hanya menggeleng.
"Seharusnya mereka tidak bercerai jika Kezia hamil. Kasihan anak yang di kandungnya, jika terlahir tanpa orang tua yang lengkap."
"Menurut papa, kita harus bagaimana?" tanya Adrian.
"Beritahu Rama tentang Vania selama ini.Kezia dan Rama hanyalah korban. Tidak sepantasnya mereka bercerai. Adikmu Vania akan semakin gila, jika sampai mereka bercerai. Entah sampai kapan Vania akan terus berulah," Ucap tuan Afshen mendengus lelah.
Adrian menimbang-nimbang ucapan papanya memang benar. Melihat adik bungsunya sedih, Adrian jadi tidak tega. Di tambah selama ini Kezia selalu mengalah kepada Vania. Adrian beranjak pergi entah kemana. Ia akan berusaha mempertahankan pernikahan adik bungsunya.
"Mau kemana kau, Adrian?"
__ADS_1
"Aku akan menemui Vania, pa," Ucapnya berlalu menuju garasi mobil. Jika selama ini Adrian hanya membiarkan Vania berulah. Kali ini dia memang harus turun tangan. Setidaknya ini kesempatanya untuk berbicara kepada Vania. Mumpung Kezia tidak tahu dan ia akan selalu malerangnya. Sudah lama Adrian geram dengan kelakuan Vania. Masalah keluarga yang semakin lama akan menyakiti Kezia.
Sambil mengemudi, Adrian terbayang kenangan di masa lalu. Dulu Vania memang sangat manja kepadanya dan kedua orang tuanya sebelum mamanya mengandung Kezia. Namun keceriaan Vania hilang setelah mendengar mamanya hamil. Dia yang terlalu manja, merasa dirinya akan tersaingi. Di tambah lagi, mamanya meninggal setelah melahirkan Kezia. Kebencian Vania kepada Kezia kecil semakin menjadi dan berlanjut hingga ia dewasa. Bukankah sangat malang nasip Kezia selama ini. Wanita yang terlihat kuat namun sejatinya sangat rapuh.