Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Membaik


__ADS_3

Setelah mendapat penanganan dari dokter, ternyata Dewi hanya kekurang darah dan terlalu banyak fikiran. Hal itulah yang menyebabkan tubuh Dewi sangat lemah dan tak bertenaga.


Dokter juga berkata setelah ini kondisi Dewi akan membaik. Jadi di harap Kezia maupun Vania, jangan terlalu kawatir.


"Terimakasih banyak, dok," ucap Kezia tulus.


Setelahnya Kezia dan Vania melihat kondisi Dewi saat ini. Terlihat Dewi terlihat lebih membaik, tidak sepucat seperti tadi. Meskipun dokter berkata keadaan Dewi akan segera membaik. Tetap saja terlalu banyak fikiran pada saat hamil sangatlah tidak baik.


Dewi menggerakan tanganya mulai merapa kepalanya yang terasa pusing. Dewi juga di kagetkan ketika dia sudah sadar, mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang bernuansa putih.


"Di mana aku? apa aku sudah mati?"


Mendengar Dewi berucap kematian, dengan sigap Kezia membekap bibir Dewi. Dewi menoleh karena kaget dan semakin kaget ketika yang di depan wajahnya adalah wajah Kezia.


"Mbak, Zia."


''Ya, ini aku! bagaimana kondisimu? apa yang kamu rasakan saat ini, Dewi?" tanya Kezia dengan ekspresinya yang sedang cemas.


"Baik, mbak," jawab Dewi menunduk seolah takut menatap mata Kezia.


Dewi langsung menyembunyikan perutnya yang terlihat sedikit membuncit dengan menyelimuti tubuhnya. Dia tidak ingin Kezia melihatnya dan mengetahui tentang kehamilanya. Apa lagi bayi yang sedang Dewi kandung adalah benih dari tunangannya Kezia.


Menggeleng dan berkecap lidah adalah ekspresi Kezia setelah melihat reaksi Dewi yang sedang menyembunyikan kehamilanya darinya.


"Aku sudah tahu, Dewi! kamu tidak perlu menyembunyikanya dariku."


Dewi langsung mendongakkan kepala lalu memandang tak percaya pada Kezia. Mendadak rasa bersalahnya menjadi meningkat setelah memandang wajah Kezia.


"Jj_jadi mbak Zia sudah tahu tentang kehamilanku?"


"Apa mbak Zia juga mengetahui ayah dari bayiku?"


Kezia mengangguk sembari tanganya membelai rambut Dewi. Kezia tersenyum lalu berhambur membawa Dewi dalam pelukanya.


Dewi tak kuasa menahan tangisanya dan ingin bersimpuh ke kaki Kezia untuk memohon maaf. Kezia melarang Dewi agar jangan beranjak dari ranjangnya.


"Maafin aku, mbak! demi Tuhan, aku gak sengaja karena waktu it_


"Tidak apa-apa, Dewi! kamu tidak salah dan aku tidak menyalahkanmu. Semua ini bukan salahmu dan aku sudah tahu ceritanya. Aku tidak marah padamu, aku juga tidak kecewa padamu. Dari dulu aku tidak pernah menyukai Erik. Dari dulu aku hanya memyukai Rama. Jadi kamu tidak usah berfikir yang tidak-tidak terhadapku,"


"Terimakasih mbak Kezia, aku sangat takut membuat mbak Kezia kecewa. Apa lagi aku telah_


"Sudah cukup! jangan berucap lagi, yang terpenting sekarang kamu segera sehat. Kita sama-sama sedang hamil dan usia kandungan kita berjarak tidak jauh, bukan?"


Kezia mengelus lembut perutnya yang juga terlihat sedikit membuncit. Dewi memperhatikanya dan Dewi juga tahu saat ini Kezia sedang mengandung benih Rama.


"Nasip kita sama, Dewi! jadi kita sama-sama semangat. Saat ini Rama, kak Vania dan lainya sedang memperjuangkan kita. Mereka akan membantumu mendapatkan keadilan dan pertanggung jawaban dari Erik. Begitupun aku, mereka juga sedang membantuku terlepas dari Erik. Kita sama-sama berjuang agar rencana mereka akan lebih mudah."


"Sebenarnya aku tidak menuntut pertanggung jawaban dari tuan Erik, mbak. Ini semua terjadi karena kecelaka'an semata. Tuan Erik melakukanya dalam kondisi tidak sadar. Dia mengira aku adalah mbak Kezia dan bodohnya aku malah menolongnya dalam kondisi mabuk berat."


"Sudahlah, tidak ada yang perlu di sesali karena semua telah terjadi. Kamu harus tetap meminta pertanggung jawaban darinya. Setidaknya untuk bayi yang ada di dalam kandunganmu. Agar dia bisa terlahir dengan setatus orang tua yang lengkap. Begitupun denganku, aku ingin bayiku terlahir di dekat ayah biologisnya."


"Kenapa suasana jadi melow begini? hei kalian para bumil. Jangan terlalu banyak berfikir berat, biar aku, Rama dan Digo yang memikirkanya," timpal Vania.


Seorang perawat masuk untuk mengecek tensi darah Dewi dan mengecek perkembangan kondisi Dewi saat ini.


"Tensi darahnya sudah stabil, ngomong-ngomong berapa usia kndunganya, bu?" tanya si perawat sekedar berbasa-basi.

__ADS_1


"Mau jalan empat bulan, sus," jawab Dewi antusias sambil mengelus perutnya dengan penuh sayang.


"Suaminya masih kerja ya, bu? kok saya lihat belum juga datang kesini?"


Mendadak Dewi nampak murung dan mendesah dengan Berat. Ingin rasanya menjawab bahwa dia tidak memiliki suami. Tetapi dia terlalu malu dengan setatusnya apa lagi dia tidak ingin bayinya di bilang anak haram. Meskipun kenyata'anya dia hadir di luar pernikahan.


"Ya, sus! suami saya sedang bekerja sangat jauh. Jadi belum sempat pulang untuk melihat kondisi saya saat ini."


"Jadi ibu tinggal dengan siapa di rumah? kalau bisa jangan tinggal sendirian di rumah ya, bu. Karena takutnya jika ibu pingsan lagi tidak ada yg enolong ibu."


Perkata'an perawat itu cukup benar di pendengarn Kezia dan Vani. Setelah ini Kezia akan meminta Rama agar mengirimkan orang untuk menjaga Dewi.


Sebagai sesama ibu hamil, Kezia tahu pasti Dewi sangat membutuhkan seseorang di sampingnya. Apa lagi jika terjadi sesuatu lagi pada Dewi, seperti kejadian yang tadi Dewi alami.


"Terimakasih atas nasehatnya, sus," ucap Dewi ramah.


Meskipun demikian tidak bisa di pungkiri jika Dewi masih kefikiran tentang pertanya'an perawat barusan. Di mana suaminya, mungkin ini tidak akan terlalu berat baginya. Namun pasti akan terasa berat jika pertanya'an itu jika di tanyakan pada anaknya nanti.


Pasti semua orang akan menanyakan di mana ayahnya? siapa ayahnya? kenapa ayahnya tidak pernah terlihat? apa dia adalah anak haram? membayangkanya saja sudah membuat Dewi sedih. Apa dia harus meminta pertanggung jawaban Erik, agar anaknya kelak tidak di cap sebagai anak haram oleh semua orang.


Meskipun semua bayi terlahir suci di dunia ini, namun orang-orang tetap akan mengecapnya sebagai anak haram jika dia terlahir tanpa sosok ayah di sisinya.


"Kenapa Dewi? apa yang sedang kamu fikirkan? jangan terlalu membebani dirimu dengan berbagai fikiran berat."


"Eh enggak, mbak," elak Dewi.


"Aku tahu kamu pasti memikirkan ucapan perawat barusan, kan? sabar ya, bayi kamu pasti memiliki ayah," ucap Kezia menyemangati Dewi.


Dewi tersenyum tipis hampir tidak terlihat saking tipisnya. Meskipun dia sendiri meragukan jika Erik mau bertanggung jawab atas perbuatanya. Jika dia memang laki-laki yang bertanggung jawab, tidak mungkin Erik meninggalkan saja Dewi di rumah sakit sendirian waktu itu.


Meskipun begitu dia tetap akan menuruti saran orang-orang yang telah membantunya. Dewi tidak ingin mengecewakan Rama, Kezia dan juga Vania yang telah memperjuangkan haknya.


Hidup ini masih panjang, jika ada hari ini pasti ada hari esok. Tetapi tidak mungkin kita akan melupakan juga hari kemarin. Meskipun hari kemarin memberimu luka yang begitu berat untuk di pikul sendiri. Kita tidak akan tahu tentang hari esok yang mungkin adalah titik terang dari hari kemarin.


Karena hari ini Kezia terlalu lama keluar, Kezia berpamitan pada Dewi. Vania juga pastinya akan ikut pulang mengantar adiknya. Terpaksa Dewi harus menginap sendirian di rumah sakit, setidaknya untuk malam ini saja. Mengingat kondisinya belum pulih seratus persen.


"Aku pulang dulu ya, Wi! ingat kamu harus tetap semangat. Kamu harus menjaga dirimu baik-baik karena jika kamu menjaga di baik-baik, bayimu juga akan sehat. Ingat juga ada kami yang akan selalu membantumu memperjuangkan hakmu," ucap Kezia berpamitan sekaigus menyemangati Dewi.


Kezia bisa dengan mudahnya menyemangti orang lain. Padahal dirinya sendiri tak jauh berbeda nasibnya denga Dewi. Hanya saja Kezia lebih beruntung dari pada Dewi.


Setelah berucap demikian, Kezia tertawa menertawai kebodohan dirinya sendiri. Vania menatap heran pada adiknya yang tiba-tiba tertawa tidak jelas.


"Ada apa? apa yang lucu?" tanya Vania.


"Haha_ aku menertawai diriku sendiri, kak! dengan mudanya mulutku menasehati orang lain dan menyemagati orang lain. Padahal aku sendiri sedang terjebak pada situasi yang sulit. Bukankah sangat lucu sekaligus aneh?"


"Siapa bilang kau tidak aneh! kau sangat aneh Kezia. Kau sangat banyak berubah, di mana sosok Kezia yang pemberani seperti dulu? bukankah kau dulu sangat pemberani dan selalu melawanku?"


"Kenapa kau jadi membahas masalalu kita, kak?"


"Tidak! aku hanya bertanya, kau buang kemana sikap pemberanimu dulu?" tanya Vania memperjelas.


"Entahlah! mungkin aku bisa melawanmu ataupun kak Adrian. Tetapi mana mungkin aku melawan papa, kak? bagaimanapun papa adalah orang tua tunggal kita."


"Ya kau benar, tapi kamu juga harus melihat apakah tindakan papa benar atau salah, Kezia. Jika memang tindakan papa benar, kamu boleh saja menurut. Tetapi papa kita itu bodoh dan sama bodohnya dengan si Adrian. Tidak ada salahnya kita membantah agar mereka sadar, mereka salah."


Kezia hanya mendengus tipis mendengarkan ucapan Vania. Memang dasarnya Vania dari dulu selalu memberontak dan tidak pernah menuruti perkata'an papanya dan kakaknya Adrian.

__ADS_1


Sangat jauh berbeda dengan Kezia, meskipun dulu Kezia sangat pemberani. Tetapi keda'anya yag dulu dengan yang sekarang sangatlah jauh berbeda. Jika dulu papa dan kakaknya Adrian selalu mendukungnya. Kini sebaliknya, hanya Vanialah satu-satunya keluarganya yang mendukungnya.


Oleh karena itu sekarang apapun yang Kezia inginkan dan tempat Kezia berkeluh kesah hanya pada Vania dan Rama. Hanya dua orang ini lah yang saat ini Kezia percayai. Dua orang yang dulu sangat membencinya, kini berbalik menjadi orang yang berdiri paling depan untuk mendukungnya.


Sedangkan orang yang dulu sangat mendukungnya, kini berdiri di urutan paling belakng yaitu tuan Afsen dan Adrian.


Dunia ini memang berputar, saking terus berputar bisa membolak balikan kehidupan bahkan fikiran orang lain. Kezia hanya berharap, semoga keluarganya bisa kembali seperti sebelumnya. Saling mendukung dan harmonis seperti dulu, apa lagi kini saudaranya sudah lengkap. Seharusnya keluarga mereka berbahagia karena perubahan positive pada Vania, bukan malah terbalik seperti ini.


Ketika Kezia dan Vania sudah berada di dalam Mobil. Tiba-tiba handphone Kezia berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Awalnya dia malas untuk mengangkatnya. Karena Kezia fikir mungkin saja papanya atau Erik atau bahkan kakaknya Adrian yang sedang mencarinya. Ternyata dia salah, panggilan itu ternyata dari sosok laki-laki yang sedari tadi ia tunggu-tunggu kabarnya.


Tanpa menunggu lama, Kezia langsung menggeser ikon berwarna hijau di layar handphonenya. Meskipun sudah pernah bersama bahkan sudah memiliki dua anak. Kezia tetap saja merasakan debaran di dadanya jika menyangkut nama Rama.


"Hallo, sayang," sapa Rama di sebrang telpon.


"Hallo, juga sayang! bagaimana kabarmu? kenapa seharian tidak mengabariku? kamu kemana saja? sedang ngapain dan di mana sekarang?"


Di sebrang sana Rama tertawa menertawai rentengan pertanya'an dari Kezia yang mirip seperti rel kereta.


"Satu-satu tanyanya, sayang! jadi yang mana dulu yang harus aku jawab?" tanya Rama menggoda Kezia.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Kezia.


"Kabarnya kurang baik! karena aku tanpamu tidak akan sempurna," gombal Rama membuat Kezia cekikikan.


Vania sudah berubah menjadi nyamuk yang tak kasat mata. Jika sudah berada di antra dua manusia terbucin yaitu Kezia dan Rama.


"Lalu yang ke dua? Kenapa seharian tidak mengabariku?"


"Karena aku pengen menambah kadar kerinduanmu padaku, sayang," lagi-lagi Rama melayangkan gombalanya.


Vania memutar bola matanya ketika melihat adiknya cekikikan sendiri karena sedang bucin-bucinya. Bahkan jiwa Kezia berasa sedang melayang-layang seperti anak ABG yang sedang masa-masa puber.


"Lalu yang ke tiga? kamu kemana saja?"


"Aku kerja ,sayang! untuk masa depan kita dan anak-anak kita dan pastinya untuk mempersuntingmu untuk yang ke dua kalinya."


"Yang bener? terus kapan mempersuntingnya? jangan di jadikan pengantin cadangan lagi, ya?" sindir Kezia.


"Gak bakal! cukup kamu satu-satunya dan terakhir. Aku ingin kita selalu bersama sampai menua pun kita tetap bersama."


"Woy! ingat di sini ada orang, bukan nyamuk," sindir Vania dengan suara agak di kencangin.


Rama dan Kezia sepontan menertawai ucapan Vania. Kezia sampai tidak sadar jika ada kakaknya di sampingnya. Serasa dunianya hanya milik berdua, jika Kezia sedang mengobrol dengan Rama.


Untung saja hanya lewat panggilan vidio call, bagaimana jadinya jika Rama benar-benar ada di hadapanya. Sudah pasti mereka berdua tidak akan sadar ada orang lain di sekitar mereka.


"Kenapa kamu Vania? jangan-jangan kamu cemburu melihat kemesra'an kami, ya?" tanya Rama bercanda.


"Sorry, Ram! Digoku lebih segala-galanya," jawab Vania sewot.


Kini Kezia sudah terbiasa dengan sikap Vania dan Rama. Mendengar percanda'an mereka berdua, sama sekali tidak membuat Kezia cemburu. Karena Kezia tahu, cinta Rama saat ini hanya kepadanya. Sedangkan cinta kakaknya Vania dari dulu hingga saat ini masih pada satu orang yaitu Digo sanjaya sahabat Rama Asher.


Karena semua sudah jelas dan mereka sudah saling terbuka padanya. Membuat Kezia merasa lega, tidak ada yang harus di tutup-tutupi lagi oleh Vania maupun Rama padanya. Karena pada dasarnya masalalu sudah mereka kubur dalam-dalam.


Kini yang ada hanyalah masa depan yang harus mereka perjuangkan. Karena semakin melangkah ke depan, semakin banyak ujian yang harus mereka hadapi. Sebelum meraih titik terang yaitu kebahagiaan yang seutuhnya hanya milik mereka.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️

__ADS_1


Sabar Vania, biasa Kezia dan Rama sedang puber ke dua 🤭


Bener gak sih, Readers? 😁


__ADS_2