Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Percobaan Bunuh Diri


__ADS_3

Seperti tidak memiliki perasa'an, setelah mendapatkan haknya, Erik pergi begitu saja. Dewi seolah hanyalah boneka yang hanya di manfaatkan baginya. Wanita itu masih melanjutkan tangisnya di dalam kamar. Entah kenapa tiba-tiba ponselnya berbunyi, ada panggilan masuk dari Adrian. Ragu untuk mengangkatnya, mengingat Erik mengetahui dirinya berhubungan dengan Adrian lewat handphonenya.


Beberapa panggilan masih saja di abaikan oleh Dewi. Mau tak mau akhirnya Dewi mengangkat telpon dari Adrian.


"Dewi, kamu gak kenapa-kenapa kan, di sana?" tanya Adrian dengan nada penuh kekawatiran.


"Enggak, pak! aku baik-baik saja di sini," bohongnya.


Namun Adrian tidak bisa di bohongi dengan kata baik-baik saja. Nyatanya suara Dewi terdengar aneh, seperti baru saja menangis.


"Jangan bohong kamu, Dewi! kamu habis menangis, kan? apa yang di perbuat Erik padamu? apa dia dan ibunya menyakitimu?"


"Enggak, pak! aku gak nangis, aku cuma pilek," bohongnya lagi.


"Beneran kamu hanya pilek? tapi kenapa filingku merasakan kamu sedang terluka," ucap Adrian.


Dewi menahan air matanya untuk tidak keluar lagi, karena Adrian pasti tahu jika dia menangis. Entah kenapa ucapan Adrian selalu memberi kedamaian di dalam hatinya. Sampai sekarang pun bahkan Dewi belum mengetahui perasa'an yang di rasakan Adrian padanya.


"Brak," suara pintu kamar di buka dengan cukup keras.


Erik terlihat emosi mendengar Dewi asik berbincang dengan Adrian lewat telpon. Erik langsung merampas ponsel Dewi dan langsung membantingnya hingga hancur berkeping-keping.


"Istri tidak tahu diri, bisa-bisanya kamu asik telponan dengan pria lain, kau anggap apa aku ini," bentak Erik.


"Kenapa sekarang kamu mempermasalahkanya? kamu tanya aku menganggapmu apa? lalu kamu selama ini menganggapku apa? alat untuk mendapatkan mbak Kezia sekaligus boneka yang dengan sesuka hatimu kau permainkan?" balas Dewi ikut meneriaki suaminya.


"Terserah aku ingin menganggapmu dan memperlakukanmu seperti apapun, karena aku punya hak atas dirimu, aku suamimu yang sah," timpal Erik.

__ADS_1


Dewi tersenyum hambar, suaminya sungguh pria yang sangat egois. Bisa-bisanya secuil hati, rasa belas kasihnya tidak ada pada dirinya untuk Dewi. Lalu untuk apa Dewi hidup di dunia ini, jika mati adalah pilihan satu-satunya agar terlepas dari Erik.


"Memang seharusnya mati itu adalah pilihan terbaik untuku, agar terlepas dari iblis sepertimu, Erik."


Karena saking kecewa dan marah, Dewi yang biasanya memanggik Erik dengan sebutan tuan, kini dia hanya memanggilnya dengan sebutan Erik, namanya.


Mata Erik langsung melotot ke arah Dewi, sedangkan mata Dewi menoleh memperhatikan sesuatu yang bisa mengakhiri hidupnya. Hingga di temukanya gunting di atas meja rias. Dewi bergegas mengambilnya dan tanpa berpikir panjang, langsung menusukan ke perutnya.


Kedua mata Erik membola seketika, reflek dia berlari menangkap tubuh istrinya yang libung . Darah berceceran di lantai kamarnya, bahkan baju yang di kenakan Dewi telah beumpur darah. Erik segera menggendong Dewi dan melarikan ke rumah sakit.


"Kau bawa kemana aku? biar saja aku mati, mati adalah satu-satunya cara agar aku terbebas darimu," ucapnya yang mulai melemah dan kini Dewi pingsan tidak sadarkan diri.


Setibanya di rumah sakit, tanpa perlu waktu lama, Erik berteriak menyuruh petugas menyiapkan ruang oprasi. Tindakan istrinya baginya benar-benar nekat dan gila.


Oprasi akan segera di mulai, Erik yang hendak menangani istrinya, tiba-tiba merasa tak sanggup. Bayangan tangisan Dewi dan perkata'anya terngiang-ngiang di dalam pikiranya. Hingga mau tak mau, yang menangani oprasi Dewi pun di ganti.


Banyak pasien yang telah di tanganinya, kenapa menangani istrinya sendiri dia tidak mampu. Itu karena Erik tidak bisa konsen. Bayangan Dewi menangis dan menusuk perutnya menggunakan gunting, masih terngiang-ngiang di dalam ingatanya.


Meskipun dia selalu memperlakukan Dewi dengan buruk, Erik tetap berdoa agar Dewi bisa terselamatkan. Entah doa manusia sepertinya bisa di kabulkan ataupun tidak, tetapi dia benar-benar berharap Dewi bisa di selamatkan.


Detik, Menit, hingga satu jam ia lalui untuk melihat proses oprasi istrinya. Namun Oprasi itu belum juga selesai. Menambah rasa cemas dan rasa bersalah pada diri Erik.


Hingga oprasipun selesai dan akhirnya Dewi bisa di selamatkan. Setidaknya Erik bisa bernafas lega, melihat Dewi selamat dari masa kritisnya.


"Bagaimana istri saya dokter Kevin?" tanya Erik.


"Istri? jadi nona ini istri anda, dokter Erik?" tanya balik dokter Kevin.

__ADS_1


Erik yang keceplosan mau tidak mau akhirnya mengangguk. Tidak bisa mengeles lagi, karena terlanjur pucapanya di dengar orang lain.


"Istri anda orang Indonesia?" tanya dokter Kevin lagi.


"Ya, dia orang Indonesia," jawab Erik.


"Wah, anda sangat pandai memilih istri, dia begitu manis dan natural," puji dokter Kevin melirik Dewi yang sedang di tangani dan akan di pindah ke ruang rawat.


Entah perasa'an aneh seperti apa yang hadir di dalam hati dan fikiran Erik. Mendengar istrinya di puji lelaki lain, ada rasa kurang nyaman pada diri Erik.


Apakah mulai tumbuh tunas cinta atau hanya sekedar rasa bersalahnya saja. Tetapi jika hanya sekedar rasa bersalahnya saja, kenapa dia merasa tidak suka jika istrinya mengobrol dengan pria lain.


"Istri anda sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat, anda bisa beristirahat dulu, dokter Erik," saran dokter Kevin.


Hingga kini Dewi telah di pindahkan ke ruang pasirn. Erik memperhatikan wajah Dewi, ternyata memang benar Erik baru saja menyadari istrinya sangat manis dan natural. Ternyata pujian dokter Kevin tadi bukanlah omong kosong saja.


Erik mendekat, entah kenapa dia ingin memandang wajah Dewi dari jarak dekat. Wanita yang dia nikahi memang benar-benar cantik dan manis natural. Bodohnya Erik baru saja menyadarinya.


"Ternyata benar, kamu sangat manis," gumamnya sembari jari jemarinya mengelus lembut rambut Dewi. Tindakan Erik itu tanpa di sadarinya, lalu jemari tanganya berpindah menggenggam jemari tangan Dewi. Tanpa sadar, Erik mengucup singkat jemari tangan Dewi.


Erik tersentak, mulai sadar dengan apa yang barusan dia perbuat. Namun genggaman tanganya masih belum juga ia lepaskan dari jemari tangan Dr


Dewi.


"Maafkan aku Dewi, aku keterlaluan memperlakukanmu. Mumgkin kata maafku tidak akan berpengaruh bagimu. Tetapi aku benar-benar menyesal dan berharap kamu mau memaafkanku," ucap Erik lirih.


Tadi dokter Kevin meminta agar Erik beristirahat. Nyatanya Erik tidak bisa menjalankan apa yang di perintahkan rekanya padanya. Dia tetap menunggu di samping brankar pasien, meskipun matanya terasa sangat mengantuk hingga akhirnya tanpa sadar matanya terpejam dalam pososi jari-jari tanganya menggenggam jemari tangan Dewi.

__ADS_1


__ADS_2