Hanya Pengantin Cadangan

Hanya Pengantin Cadangan
Ujian Dari Mantan Mertua


__ADS_3

Semenjak kepergian Erik dan kedua orang tuanya, kini Kezia merasa terbebas dari sebuah ikatan yang selama ini tidak di inginkanya. Papanya dan Adrian sudah tidak lagi memaksanya. Bahkan papanya dan Adrian merasa bersalah karena selama ini lebih mempercayai Erik di banding Kezia.


Tetapi bukan berarti papanya dan Adrian membuka peluang besar untuk Rama. Mereka masih takut dampak yang akan Kezia dapatkan seperti di masalalunya. Di tambah lagi mereka masih takut jika Kezia mendapatkan pendamping yang salah lagi. Kejadian Erik kemarin membuat tuan Afsen dan Adrian menjadi lebih waspada. Mereka hampir saja kecolongan jika Dewi tidak muncul kemarin.


Kendati demikian Rama tidak akan putus asa begitu saja. Dia tidak akan menyerah demi mendapatkan kembali Kezianya. Seperti pada siang hari ini Rama memberanikan diri untuk menemui Kezia secara terang-terangan.


"Mau apa kamu kemari? Kezia tidak bisa di ganggu," ucap tuan Afsen.


"Tolong pa, kedatangan saya kesini dengan niatan baik-baik. Tolong jangan menilai hanya pada keburukan saya di masalalu. Tolong izinkan kami untuk bersatu kembali."


"Pa_pa, saya bukan papa kamu dan saya tidak akan mengizinkanmu menemui anak saya lagi. Belum puas kamu membuat anak saya menderita, belum puas kamu membuat anak saya depresi? sekarang kamu ingin memintanya kembali? untuk apa? untuk menyakitinya kembali?"


"Tolong om Afsen, saya mohon mengertilah karena putri anda saat ini menginginkan saya berada di sampingnya. Apa lagi dalam kondisi dia yang sedang mengandung anak kedua kami."


"Omong kosong macam apa yang kamu ucapkan, Rama. Dari mana kamu tahu putri saya membutuhkanmu di sisinya? Kezia tidak membutuhkanmu karena ada kami yang masih sanggup melindunginya."


"Pa, jangan bicara begitu pada Rama, kami saling cinta, pa," ucap Kezia tiba-tiba turun dari lantai atas dan berkata dengan nada cukup keras.


"Kenapa kamu keluar dari kamarmu? masuk kembali ke kamarmu Kezia," perintah tuan Afsen.


"Pa, kami memang melakukan kesalahan besar di masalalu. Tapi bukan berarti kami tidak memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Kezia mohon pa, izinkan kami memperbaiki kesalahan kami di masa lalu," mohon Kezia.


"Papa bilang tidak ya tidak, Kezia! dan kamu Rama, pergi dari sini. Jangan menemui anak saya lagi, Kezia cepat masuk ke kamarmu," perintak tuan Afsen.


Kezia tidak menyangka papanya akan memberi tembok penghalang yang sangat tinggi untuk hubunganya dengan Rama. Tak kuasa menahan tangisnya, Kezia pun menumpahkanya di hadapan papanya.


Hati Rama bagai teriris melihat Kezia menangis begitu sangat menyakitkan. Jika bisa memilih, Rama lebih memilih di pukul hingga sekarat daripada melihat Kezia menangis.


"Hik, pa_


"Jika kamu masih kukuh mempertahankan pria ini, maka silahkan pergi dari rumah ini. Anggap papamu ini mati dan mungkin besok atau lusa kamu akan mendapati papamu ini tak bernyawa lagi. Jadi kamu pilih mana? masuk ke kamarmu atau pergi dari rumah ini?" desis tuan Afsen.


"Pa, kenapa papa begitu membenci Rama? Rama tidak salah, pa. Kezialah yang salah karena menyerah dengan ujian pernikahan kami dulu. Lagi pula bayi aku butuh Rama, pa," ucap Kezia tak ingin menyerah.


"Laki-laki ini tidak mempunyai hak atas bayi yang kamu kandung, Kezia. Karena menurut agama, anak hasil di luar pernikahan bukan tanggung jawab ayah kandungnya. Lagian papa tidak habis fikir dengan kamu, Kezia. Mau-maunya kamu di ajak laki-laki brengsek ini untuk berbuat zina. Kamu tahu berhubungan di luar pernikahan adalah perbuatan zina?"


Kezia bungkam, karena ucapan papanya sangat tajam di pendengaranya dan mengenai hatinya. Ingin rasanya tidak mengambil hati dengan ucapan Papanya. Namun ucapan papanya memang benar, tidak seharusnya Kezia segampangan itu berbuat zina pada Rama. Cinta memang bisa mengundang setan untuk membisikan jalan sesat kepada dua insan yang di mabuk cinta.


"Sekarang kamu pilih, Kezia! pilih kembali ke kamarmu atau keluar dari kamar ini dan mendapati jasat papamu tak bernyawa."


Kezia tidak berdaya, pilihan dari papanya adalah pilihan tersulit untuknya. Ucapan yang keluar dari mulut papanya membuat Kezia makin sedih.


"Bagaimana bisa papa memberikan Kezia pilihan sesulit ini, pa?" tanya Kezia sebelum pergi kembali ke dalam kamarnya dalam kondisi menangis.


Tuan Afsen merasa sedih melihat kerapuhan pada diri putrinya. Tetapi tuan Afsen harus bersikap tegas, hanya untuk menguji nyali dan keseriusan dari Rama. Seberapa serius laki-laki yang pernah menorehkan luka pada diri Kezia. Seberapa serius Rama memperjuangkan Kezia.


Tuan Afsen sebenarnya masih kecewa, karena kesalahanya dan Rama begitu besar. Di tambah lagi Kezia adalah putrinya yang paling penurut. Putrinya yang selalu bersikap manis ketika putri keduanya yaitu Vania selalu membantahnya.

__ADS_1


Tuan Afsen tidak akan membiarkan putrinya kembali begitu saja dengan Rama. Sebelum Rama mampu meyakinkanya bahwa dia tidak akan lagi menyakiti putrinya. Karena putrinya terlalu berharga untuk di sakiti oleh pria. Sesulit dan penuh perjuangan selama ini tuan Afsen merawat tiga anaknya dalam setatus single parent.


Setiba di dalam kamarnya Kezia menangis sejadi-jadinya. Setelah mendengar ucapan dari papanya tadi membuat Kezia semakin terpuruk. Hingga tubuhnya bergetar hebat saking terisaknya.


Sedangkan di ruang tamu tuan Afsen masih menyidang Rama dengan berbagai banyak pertanya'an dan kata-kata lainya.


"Jika kamu benar-benar serius dengan anak saya, maka fikirkan baik-baik yang saya ucapkan tadi," ucap tuan Afsen sebelum meninggalkan Rama begitu saja.


Rama masih mencerna maksud dari ucapan tuan Afsen. Itu sama halnya tuan Afsen memberikanya kesempatan untuk membuktikan keseriusanya pada putrinya. Berfikir demikian membuat wajah Rama mendadak cerah. Rama akan sekuat tenaga dan kesungguhan hati membuktikan keseriusanya kepada Kezia di hadapan tuan Afsen.


Sementara Kezia masih terisak di dalam kamarnya, saat itu pula Rama kembali masuk ke kamar Kezia melalui jendela kamar Kezia. Melihat mata Kezia yang membengkak karena baru saja menangis, membuat Rama segera memeluknya dan mendaratkan kecupan sayang di keningnya.


Kezia tersentak karena tiba-tiba ada yang memeluknya dan langsung mencium keningnya. Kezia menengadahkan kepalanya hanya untuk memastikan orang yang baru saja memeluk dan menciumnya. Orang itu adalah Rama dengan senyuman termanis yang dia miliki.


"Sayang, kenapa kamu menangis sampai-sampai matamu sebengkak ini? kamu enggak papa, kan?" tanya Rama memeriksa keadaan Kezia.


"Enggak papa, kok! aku cuma sedih karena papa melarang kita rujuk. Kok kamu sudah ada di sini? tadi papa ngomong apa selepas aku pergi.


"Lalu aku seharusnya ada di mana, sayang? mana mungkin aku bisa meninggalkan wanita yang sangat aku cintai sedang menangis. Kau tahu sayang, melihatmu menangis sangat membuat hatiku terluka. Jangan menangis lagi, tetapi doakan agar perjuanganku berhasil. Aku akan berusaha menyakinkan papamu dan mengembalikan kepercaya'anya lagi kepadaku."


"Maksud kamu, kamu akan terus memperjuangkanku?"


"Ya, dan bukan hanya kamu saja tetapi bayi kita juga, sayang."


Kezia mendadak terharu dengan ucapan Rama. Ternyata lelakinya pantang menyerah demi memperjuangkanya dan bayi yang sedang Kezia kandung. Rama memeluk kembali tubuh Kezia, seolah dia sedang mengisi daya yang sempat menipis karena ucapan dari tuan Afsen.


"Kenapa harus di lepas? bukankah pelukanku sangat membuatmu hangat? Dan bukankah kamu adalah calon istriku?" bisik Rama dengan tatapan menggodanya.


Mata rama turun melirik bibir Kezia yang sangat menggoda. Bibir yang membuatnya rindu untuk segera menciumnya. Bahkan matanya menatap dalam ke mata Kezia yang tak kalah dalam.


Bagai di tengah lautan lepas, mereka merasakan dunia hanya milik berdua. Bahkan kini Rama telah ******* bibir Kezia yang terasa sangat manis baginya.


Cukup lama berciuman dan tak ingin kelewat batas lagi. Akhirnya Rama menyudahi ciumanya di bibir Kezia.


"Sehat-sehat terus anak papa, jagain mama selama papa tidak berada di sisi kalian. Papa tetap akan memperjuangkan kalian. Doain papa agar eyang kakung merestuin papa dan mama kembali rujuk.," bisik Rama, berjongkok tepat di perut Kezia yang sedikit membuncit.


Bagaimana Kezia tidak merasa terharu dengan ucapan Rama yang mencoba berinteraksi dengan calon anak kedua mereka. Ini adalah kali pertama Kezia merasakanya dan melihat Rama seperti itu. Hingga lagi-lagi Kezia tak kuasa menahan air matanya untuk tidak mengalir kembali. Namun tidak busa, karena kata-kata Rama begitu menyentuh hatinya.


"Jadi, kamu sungguh-sungguh akan memperjuangkan kami, sayang?" tanya Kezia mencoba meyakinkan dirinya.


"Tentu saja, sayang! tidak ada alasan untuku tidak memperjuangkan kalian. Bahkan aku rela mati demi memperjuankan kalian."


"Jangan bilang mati! sia-sia nantinya perjuanganmu jika kamu mati, sayang."


"Ya, enggak lah, sayang! aku gak ingin mati dulu, aku ingin bahagia dan membahagiakan anak-anak dan kamu sebagai istriku nanti."


"Sayang, kok kamu makin sweet banget sih? pokoknya kamu tidak boleh pergi. Karena dedek bayinya ingin di dekat papanya terus."

__ADS_1


"Dedek bayinya atau mamanya yang ingin dekat papanya terus, nih?" goda Rama, membuat wajah Kezia memerah malu.


"Sayang! jangan terlalu cantik, karena aku bisa menerkamu saat ini juga. Tapi sekuat tenaga aku akan menahnya hingga kita sah menjadi suami istri kembali."


Kezia mengangguk, setidaknya mereka tidak akan melakukan kesalahan kembali. Mereka mencoba sekuat hati menahan hasratnya. Meskipun sebenarnya mereka tidak tahan lagi untuk tidak bersentuhan. Akhirnya Rama meminta izin pergi sebelum hasratnya kembali naik. Berada di dekat Kezia membuat imanya terancam.


Meskipun Kezia merengek melarangnya pergi, tetapi Rama tetap meminta izin pergi. Sebagai seolang laki-laki normal, di akuinya tidak bisa menahan untuk tidak menerkam Kezia saat itu juga.


Melihat wajah Rama yang sangat menderita karena menahan hasratnya mati-matian, akhirnya Keziapun kasihan dan mengizinkan Rama pergi. Dari pada mereka berbuat dosa kembali karena tidak bisa mengendalikan diri mereka.


Setidaknya Kezia sudah cukup senang bisa bersama Rama walaupun hanya sebentar dari pada tidak sama sekali. Setidaknya bisa di jadikanya setok rindu sampai besok bertemu kembali.


Apa lagi mendengar kata-kata Rama yang bilang bahwa papanya secara tidak langsung memberikan kesempatan untuk mereka berdua kembali rujuk. Itupun tergantung seberapa besar perjuangan Rama untuknya di hadapan papanya.


Kezia tetap yakin, seorang Rama pasti mampu memperjuangkanya. Rama pasti bisa memberikan bukti ketulusanya pada Kezia. Berbagai hal akan dia upayakan demi mengambil kembali hati mantan mertuanya dulu.


"Semoga papa berhasil meluluhkan hati eyang kakungmu yang sekeras batu, nak," ucap Kezia berkomunikasi kepada bayinya.


Bukan hanya Rama saja yang akan memperjuangkanya. Kezia akan memikirkan cara untuk mempermudah Rama mengambil hati papanya kembali.


Bahkan Kezia akan memberikan bocoran apapun yang papanya sukai. Mungkin bisa jadi dari makanan yang papanya sukai. Kebiasaan atau aktivitas keseharian yang papanya sukai. Meskipun tuan Afsen tidak memerlukanya. Yang tuan Afsen inginkan adalah perjuangan Rama untuk melindungi putrinya.


"Hufff, untung saja Kezia mangizinkanku pergi. Tubuhnya yang semakin hari semakin berisi membuat hasratku naik seketika. Jika kami sudah sah, pasti akan langsung ku terkan dia," gumam Rama yang baru saja melompat dari pagar kediaman Afsen.


Rama segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus segera menuntaskan hasratnya yang telah naik sampai ke ubun-ubun dengan megguyur tubuhnya dengan air. Setidaknya air masih bisa menolongnya dari pancingan hasrat yang di sebabkan karena Kezia.


Benar saja setelah tiba di rumahnya, Rama langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah air shower yang mengalir air dingin yang mampu meredam hasratnya yang sempat naik.


Rama pun merasa lega setelah menuntaskan satu-satunya hal yang sangat menyiksanya sebagai seorang laki-laki. Namun tidak bisa di pungkiri ini memang kodratnya sebagai laki-laki.


Sementara Erik ternyata masih berkeliaran di jakarta. Hanya kedua orang tuanya lah yang harus kembali lagi ke singapura. Erik masih mencari-cari keberada'an Dewi. Erik tidak akan kembali ke singapura sebelum menemukan Dewi. Wanita itu harus mempertanggung jawabkan perbuatanya yang telah membuat hubunganya dengan Kezia hancur.


Laki-laki itu sangat marah besar, apa lagi setelah mendapatkan bisikan dari ibunya agar Erik terus memperjuangkan Kezia bagaimanapun caranya. Ibunya sangat dendam kepada keluarga Afsen. Karena mereka telah mempermalukan mereka di depan para tamu undangan. Tentu saja membuat Erik beserta keluarga merasa di permalukan.


"Bagaimana? apa kalian bisa menemukan wanita itu?"


"Dia saat ini tinggal di sebuah aparteman, tuan. Apartemen itu bukan apartemen sembarangan yang bisa mengizinkan orang lain untuk masuk. Hanya si pemilik kartu akses saja yang bisa masuk."


"Kurang ajar! siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?" tanya Erik penasaran.


"Kurang tahu, tuan! karena mereka menjalankanya cukup Rapi. Sehingga tidak ada satupun jejak yang tertinggal. Sehingga sulit bagi kami untuk melacaknya."


"Apa? aku membayar kalian mahal untuk menuntaskan masalahku. Bagaimana pun caranya, kalian harus menemukanya," perintah Erik.


Laki-laki itu sudah berubah menjadi macan kelaparan dan siap memangsa korbanya. Wajah mengerikan Erik kini nampak jelas di depan para orang-orangnya.


Bagaimanapun caranya, Erik harus bisa menjebak Dewi, agar wanita itu bisa keluar dari apartenya. Lalu setelah Dewi sudah berada di bawah kendalinya, maka Erik akan menyiksanya. Karena telah menghancurkan pernikahan impianya bersama Kezia.

__ADS_1


__ADS_2