
Setelah mendapat kabar dari Kezia, bahwa dia berhasil mendapatkan beberapa helai rambut Erik. Rama langsung menghubungu Vania untuk mengambilnya. Karena untuk saat ini dan beberapa hari ke depan, Rama masih di sibukan dengan beberapa proyek yang sedang ia bangun.
Bagaimana Vania bisa tahu? tentu karena Vania mendesak Rama untuk menceritakan semua hal tentang Erik yang Rama ketahui. Sebagia satu-satunya keluarga Kezia yang mendukung bersatunya Rama dan adiknya, Vania harus tahu.
Setelah mendapatkan pemberitahuan dari Rama, tak lama Vania datang dan melihat dua orang asing berada di rumah papanya. Melihat sosok wanita yang sangat mirip dengan Erik, Vania bisa menebak bahwa dua orang itu adalah orang tua Erik.
Vania hanya berucap permisi tanpa ingin menyapa mereka. Karena ada hal yang lebih penting yang akan dia tuntaskan setelah menemui adiknya.
"Vania," suara tuan Afsen menegurnya, karena Vania hanya mengabaikan orang tua Erik, tanpa mau menyapanya. Dengan sangat terpaksa Vania berbasa basi sebentar, hanya untuk berkenalan dengan orang tua Erik. Setelahnya dengan langkah cepat, Vania langsung menuju ke kamar Kezia.
Vania mengetuk kamar Kezia yang masih terkunci dari dalam. Tak lama pintu pun dibuka, karena tahu yang mengetuk pintu kamarnya adalah Vania.
"Kakak."
"Zia, aku di suruh Rama, untuk mengambil rambut Erik. Kasih ke kakak sekarang, karena setelah ini kakak akan langsung membawanya ke rumah sakit untuk di test."
"Lhoh, jadi Rama menceritakan juga pada kakak?"
"Ya, aku selalu tahu apapun yang berhubungan denganmu, Dek."
"Jadi kak Vania sudah taku tentang Erik dan Dewi juga?" tanya Kezia merasa kaget dengan ucapan kakaknya.
"Ya, meskipun tidak semuanya tetapi aku tahu garis besarnya. Si brengsek Erik ingin bermain-main rupanya. Kakak tidak terima Erik membohongi dan mempermainkan keluarga kita."
Kezia menatap serius pada wajah Vania yang terlihat sangat kesal. Sebisa mungkin Kezia mencoba meredakan amarah kakaknya.
"Jika si bodoh Adrian tahu tentang semua ini, pasti dia tidak akan terima. Sayangnya kenapa kakak kita yang satu itu begitu bodohnya percaya dengan pecundang seperti Erik," lagi-lagi Vania meluapkan emosinya di depan Kezia.
__ADS_1
"Apa kamu tahu siapa wanita yang di sukai Adrian? wanita itu adalah Dewi pengasuh putramu sekaligus wanita yang di hamili oleh si brengsek Erik," ucap Vania yang belum bisa diam.
"Apa? bagaimana bisa?"
"Tentu saja, karena kakak bodoh kita diam-diam menyukai pengasuh putramu."
"Apa? jadi wanita yang kak Adrian maksud selama ini adalah Dewi?" respon Kezia kaget, karena baru mengetahui bahwa selama ini kakaknya Adrian diam-diam menyukai Dewi.
"Ya, aku akan menantikan si bodoh Adrian dan si pengecut Erik beradu otot. Pasti sangat menyenangkan melihat kakak Bodoh kita berkelahi dengan calon ipar yang dia bangga-banggakan, bukan? mana rambutnya, aku tidak punya waktu. Ini semua aku lakukan demi kalian berdua. Kalau tidak segera ku tangani, pasti Rama akan terus mengganggu waktu berduaku dengan Digo."
Salah Vania sendiri memaksa Rama untuk menceritakan tentang Erik. Kini setelah Vania tahu semuanya, dia malah terus-terusan di ganggu Rama, untuk menggantiknya mengurus Kezia dan rencananya kepada Erik, di saat Rama sedang sibuk.
Setelah mendapatkan apa yang ia mau, Vania langsung pergi meninggalkan Kezia. Vania langsung menuju ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA paternitas. Test ini bertujuan untuk menentukan apakah ada kecocokan genetik antara Erik dan bayi yang sedang di kandung Dewi.
Bagas dan Dewi sudah menunggu di dalam ruangan yang telah di siapkan. Dalam kondisi berbarik, sebenarnya Dewi sangat merasa ketakutan. Tapi Dewi berusaha meyakinkan dirinya, bahwa semua ini demi kebaikan bayinya.
Tak lama Vania pun datang dan di situlah kali pertama Vania melihat wajah Dewi secara langsung. Wajah yang manis dan akan terlihat cantik jika melakukan perawatan.
Meski baru berkenalan, Vania langsung memberikan dorongan semangat pada Dewi. Karena menurut cerita Kezia, Dewilah yang merawat keponakanya selama Kezia sakit. Sebagai ucapan terimakasihnya kepada Dewi. Maka Vania akan membantu Dewi sebaik mungkin.
"Apa kamu sudah siap melakukan tes paternitas prenatal noninvasif?" tanya Vania dan melihat ketakutan pada diri Dewi.
"Tidak usah takut! tes ini tidak akan menyakitimu dan bayimu.Tes ini cenderung lebih aman dibanding metode lainnya," ucap Vania, mencoba mengurangi rasa takut pada Dewi.
Mendengar ucapan dari Vania, sedikit demi sedikit rasa takut pada diri Dewi mulai berkurang. Apa lagi semangat yang di berikan Vania padanya. Ternyata Vania tidak seburuk seperti yang Adrian ceritakan padanya.
Tanpa Dewi tahu, Vania yang sekarang memang sudah berubah. Tidak seperti yang dulu Adrian ceritakan padanya.
__ADS_1
Tes ini akan keluar hasilnya sekitaran empat belas harian. Selama itu pula, Vania juga menyuruh Kezia untuk lebih bersabar. Vania juga meminta Kezia agar berpura-pura bersikap sangat mencintai Erik. Agar pria pengecut seperti Erik, tidak mengetahui jejak rencana mereka.
Seperti halnya malam ini, keluarga Kezia dan keluarga Erik, sedang makan malam bersama. Kezia memerankan peranya dengan baik, seperti yang di ajarkan Vania padanya. Setidaknya kakaknya pernah berpengalaman berakting untuk pura-pura mencintai Rama demi menyakitinya.Hal itu yang kali ini sedang Kezia praktekan pada dirinya sendiri. Berpura-pura sangat mencintai Erik dan berantusias agar segera menikah dengan Erik.
Karena Kezia tahu, sampai kapanpun dirinya tidak akan pernah menikah dengan Erik. Selain berkas-berkas pernikahanya yang di persulit Rama. Juga karena Erik harus mempertanggung jawabkan perbuatanya pada Dewi.
Seperti saat ini di meja makan, Kezia nampak senang dengan senyum palsunya. Bahkan Kezia hanya bisa mengiyakan semua yang papanya dan orang tua Erik ucapkan padanya. Melihat Kezia sesenang seperti saat ini dan menerima pernikahanya. Membuat Erik juga terlihat sangat senang. Laki-laki yang duduk tepat di samping Kezia itu, langsung menggenggam jemari tangan Kezia.
"Aku sangat merasa senang, akhirnya kamu mau menerimaku. Hubungan kita mulai membaik akhir-akhir ini. Apa lagi kata-kata kamu barusan yang telah mencoba melupakan Rama dan mencoba lembaran baru denganku," ucap Erik percaya diri.
Laki-laki itu tidak tahu bahwa ini semua adalah bagian dari rencana Kezia, Vania, Digo dan juga Rama. Sebelum membongkar kebohongan Erik, alangkah baiknya jika mereka membuatnya naik ke atas awan sebelum terjatuh ke bumi kembali.
Kezia hanya tersenyum menanggapi ucapan laki-laki yang masih saja menggenggam jemari tanganya. Padahal dalam hati, Kezia ingin mencakar mulut manis Erik, yang pandai berbohong.
"Aku sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita.Mulai dari cincin panti kamu sangat menyukainya. Untuk baju pernikahan kita, rencananya besok kita akan ke butik di temani Mummyku."
"Tuh, lihat Erik sangat perhatian banget sama kamu. Dia diam-diam sudah menyiapkan semuanya untuk peenikahan kalian," ucap papanya Kezia.
Dalam hati Kezia berdecih, laki-laki macam apa Erik. Jika segala hal untuk pernikahan saja dia urus sendiri tanpa merundingkan dengan Kezia. Di tambah lagi laki-laki itu terlalu percaya diri. Mengira Kezia akan menyukai semua pilihan Erik.
"Konsep pernikahan seperti apa yang kamu suka, nak?" tanya ibunya Erik.
"Kezia nurut apa pun yang kalian pilihkan, menurut kalian bagus, Kezi akan memilih itu juga, Mom."
"Duh, baik banget calon mantu Mummy."
Kezia hanya tersenyum dengan tidak minat, untuk sekedar formalitas semata. Rasanya Kezia ingin cepat-cepat pergi dari meja makanya dan kembali ke kamarnya. Rasanya Kezia ingin muntah, setelah berakting sedari tadi di hadapan keluarganya dan keluarga Erik.
__ADS_1
Setidaknya dengan kondisi kehamilanya, membuat Kezia bisa beralasan untuk pergi ke kamarnya lebih dulu. Setelah memasuki kamarnya, Kezia langsung membuang nafas kasarnya. Dia tidak berbakat acting, tapi setidaknya actingnya terlihat natural meskipun sangat membuatnya ingin muntah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️