
Kezia afshen
Hari ini aku pulang lebih awal, berharap bisa melihat suamiku saat pulang kerja. Ku masakan makanan kesuka'anya, berharap dia bisa bersikap baik lagi denganku. Ku cuci pakaian kotornya yang menumpuk di keranjang. Ku pisahkan antara pakaian berwarna dan pakaian putihnya.
Saat tanganku dengan lincahnya memasukan satu persatu pakaian ke dalam mesin cuci. Terlihat sebuah benda yang terjatuh menggelinding ke lantai. Kakiku melangkah untuk mengambilnya, detik berikutnya hatiku merasakan sakit kembali. Itu adalah sebuah liontin yang di dalamnya terdapat foto Rama dan kak Vania. Ku hirup udara sebanyak-banyaknya lalu ku hembuskan secara perlahan. Aku harus sabar menjalani semua ini, bagaimanapun aku harus mempertahankan rumah tanggaku. Aku tidak akan kalah denganya, meskipun dia adalah kakak kandungku. Aku sudah terlalu sering mengalah, aku ingin sekali saja merasakan kemenangan.
Ku lanjutkan kegiatanku, ku masukan kembali pakaian yang tersisa ke dalam mesin cuci. Saat mesin sudah kunyalakan, tiba-tiba terdengar pintu apartemen terbuka. Itu tandanya suamiku sudah pulang dari kantor. Ku hampiri dia, ku berikan senyum terbaiku untuk menyambutnya. Meskipun yang kudapatkan hanyalah tatapan datar darinya. Ku ulurkan tangaku untuk mencium punggung tanganya. Tetap saja tanganku selalu di tepis olehnya. Aku tetap saja memasang senyum terbaiku meski hatiku sangat terluka.
Saat Rama memasuki kamarnya dan melihat kamarnya sangat rapi. Tiba-tiba ku dengar teriakanya yang cukup keras memanggil namaku. Bergegas aku segera masuk untuk memastikanya. Terlihat wajahnya sangat emosi sambil menunjuk keranjang pakaian kotor.
"Kau bawa kemana semua pakaian kotorku?"
"Tenanglah sayang, aku sedang mencucinya untukmu."
"Sudah ku bilang jangan menyentuhku ataupun menyentuh barang-barangku."
"Tapi itu adalah tugasku sebagai istrimu."
"Istri? bagiku kau bukan istriku."
"Tetap saja di mata agama dan negara kita adalah pasangan suami istri. Kau adalah haku dan aku adalah hakmu."
Terlihat dia mengabaikan ucapanku dan sedang mencari sesuatu. Sampai-sampai kamarnya yang sudah ku rapikan berantakan kembali. Terlihat dia mengacak ramburnya karena barang yang ia cari tidak di temukanya.
"Apa kau mencari ini?" ucapku sambil memperlihatkan linontin yang ku temukan tadi.
__ADS_1
Dia langsung tersenyum dan segera mengambil liontin itu dari tanganku. Ku kira dia tersenyum kepadaku karena aku menemukan liontinya. Ternyata dia tersenyum mendapatkan liontinya kembali. Betapa berhargakah liontin itu dari pada aku, perih itulah yang aku rasakan saat ini.
"Mas, ini tiket bulan madu kita dari kak Adrian," ucapku sambil memperlihatkan kepadanya.
"Aku tidak akan sudi berbulan madu dengan wanita licik sepertimu. Lebih baik aku pergi berlibur bersama Vania kekasihku," ucap Rama dingin.
"Jadi kamu ingin menghabiskan waktumu bersama kakaku, begitu?"
"Tentu saja, karena dia kekasihku."
"Baiklah, aku akan pergi sendiri," ucapku final, kemudian melangkah keluar dari kamar Rama dan menutupnya cukup keras.
Dengan mudahnya bibirnya berkata kakaku adalah kekasihnya. Lalu aku yang istrinya malah di abaikanya. Percuma aku bersikap baik kepada Rama. Niat hati ingin berbakti kepada suami. Namun suamiku seperti itu, selalu menyakiti hatiku. Kadang aku hanya bisa tersenyum getir merasakan semua ini. Semua hal yang ku lakukan akan selalu buruk di matanya.
Mataku sudah berkaca-kaca, segera saja ku jeburkan tubuhku ke dalam kolam. Aku tak peduli saat ini masih berpakaian lengkap. Yang aku butuhkan saat ini hanya menumpahkan tangisanku. Sampai kapan aku bisa bertahan menjalani semua ini.
Ku guyur kembali tubuhku di bawah pancuran air hangat dari shower. Aku tidak akan sakit hanya karena berenang. Setelahnya segera ku keringkan rambut panjangku. Berganti gaun tidur tanpa lengan yang panjangnya sebatas lutut. Aku tidak bermaksud ingin menggoda suamiku. Meskipun pakaian yang ku kenakan sangatlah wajar. Ku langkahkan kakiku membuka pintu kamar hendak membuat teh hangat. Ku lihat Rama yang fokus menonton acara televisi tanpa meliriku sama sekali. Kulihat makanan yang ku siapkan di meja makan masih utuh. Lagi-lagi ku tarik nafas dalam dalam dan menghembusknya kasar.
Aku segera berbalik arah kembali masuk ke kamarku. Tak lama pakaian yang ku kenakan sudah berganti dengan kaos putih, celana jeans panjang dan rambut yang ku cepol ke atas.
Ku masukan semua makanan yang ada di meja makan. Setelah semua habis tak tersisa,ku langkahkan kakiku menuju pintu keluar tanpa berpamitan kepada Rama. Dia sempat menegurku karena aku keluar malam-malam.
"Mau kemana?"
"Membuang makanan ini," ucapku singkat lalu bergegas menutup pintu apartemen
__ADS_1
Aku terus melangkah mengikuti arah kakiku melangkah di gelapnya malam. Memang tidak baik bagi wanita berjalan sendiri di malam hari. Namun itu semua tidak berlaku bagiku. Aku tidak takut hantu ataupu preman yang mengganggu. Aku bisa menjaga diriku karena aku bisa bela diri.
Aku melangkah hingga kakiku berhenti pada seorang kakek tua yang duduk di trotoar bersama anak kecil. Sepertinya mereka kelaparan jika di lihat dari tubuh lesu mereka. Ku hampiri mereka dan ikut berjongkok di depan mereka. Awalnya mereka kaget melihatku. Setelah aku memberikan makanan dan tersenyum manis. Mereka membalasku dengan senyum tak kalah manis. Aku sangat senang melihat binar bahagia mereka. Setetes air mata lolos mengarir di pipiku. Ternyata kemewahan tidak menjamin kebahagiaan seseorang sepertiku. Cukup melihat makanan yang ku beri, membuat mereka berdua sangat bahagia.
"Terimakasih kakak cantik," ucap anak kecil yang kutebak adalah cucunya
"Sama-sama adik manis," ucapku tersenyum mengelus rambutnya
"Di mana rumah kalian?" tanyaku dan hanya mendapati gelengan.
Itu berarti mereka setiap harinya hidup di jalanan. Hatiku tergerak ingin membantu mereka.
"Biasanya kalian tidur di mana?"
"Kami biasanya tidur di bawah jembatan, nak," ucap kakek.
Aku mengangguk faham, karena hari sudah malam. Aku tidak tahu harus membawa mereka berdua kemana. Akhirnya aku hanya bisa berjanji, mulai besok aku akan membawa mereka ke tempat yang lebih layak daripada di bawah jembatan. Terlihat binar bahagian dari kakep dan cucunya. Aku merasakan juga kebahagiaan mereka berdua. Ternyata bahagia sesimpel ini,melihat orang lain bahagia.
"Oh ya, adek dan kakek namanya siapa?perkenalkan saya Kezia."
"Namaku Tari kak, nama lengkapku Mentari dan kakeku bernama Bejo."
"Namamu sangat cantik, dek! baiklah kakak akan memanggilmu Tari dan Kakek akan aku panggil Kakek Jo."
Aku harus kembali ke apartemen, sebelumnya aku memberikan beberapa lembar uang ratusan kepada kakek. Sempat kakek menolak,tetapi aku tetap memaksa beliau. Aku juga berjanji akan menemui mereka kembali besok. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan mereka berdua dan bermalam lagi di bawah jembatan. Tapi aku harus kembali ke apartemen.
__ADS_1
Saat ku buka pintu apartemen lampu terlihat telah di matikan semua. Sepertinya Rama sudah tidur, karena ku lihat sepatu dan sandalnya masih tertata rapi di tempatnya. Itu berarti dia tidak kemana-mana malam ini. Ku buka pintu kamarku dan ku rebahkan tubuhku begitu saja di ranjang. Aku sangat senang bertemu kakek Jo dan juga Tari. Aku tidak sabar menanti hari esok dan mencarikan tempat tinggal untuk mereka. Kalau bisa semua anak jalanan akan ku buatkan rumah kusus untuk mereka tinggali.