
Kezia afshen
Hari telah berganti minggu dan minggu telah berganti bulan. Selama sebulan aku menghindar agar tidak bertemu Rama. Entah rasa takut atau teramat malu sejak kejadian siang itu. Kejadian di mana Rama mempermainkan tubuhku dan pergi begitu saja. Aku sangat malu bercampur rasa yang teramat sedih. Sebegitu jijiknya suamiku ketika menyentuhku. Sebegitu bencinya dia kepadaku hingga selalu melukaiku.
Sebulan ini aku selalu menyibukan diri di kantor kakaku. Semenjak para wartawan meliputku di berbagai media. Kini banyak orang yang mengenalku. Bahkan teman kakaku menawariku menjadi brand ambassador produknya. Hal itu ku jadikan kesempatan untuk menyibukan diri. Dan tak terasa semua berlalu begitu saja selama satu bulan.
Aku berangkat sebelum Rama bangun dari tidurnya. Kemudian pulang sebelum Rama pulang dari kantornya.
Pagi ini setelah bangun tidur, tiba-tiba kepalaku pusing, tubuhku menggigil dan bersin-bersin. Mungkin karena sebulan ini aku sibuk bekerja tanpa mempedulikan kesehatanku.
Rama segera membuka pintu kamarku ketika mendengarku bersin-bersin. Itu adalah moment pertama kami saling tatap muka setelah menghindar selama satu bulan.
Rama mendekatiku yang sedang terduduk sambil memegangi kepalaku. Tanganya mendarat menyentuh keningku yang teramat panas. Aku tidak tahan lagi untuk membuka mata. Ku eratkan selimut yang menutupi tubuhku.
Rama keluar dari kamarku dan tak lama kembali lagi dengan membawa handuk dan seember air. Aku bisa merasakan sentuhan tanganya saat mengompres keningku. Ku buka sedikit mataku demi melihat wajah yang teramat aku rindukan.
"Minumlah obat ini dulu, Zia."
Masih dengan sikap dingin andalanya, Rama menyodorkan obat kepadaku. Sementara aku hanya menatapnya sejenak. Kemudian ku ambil butiran bulat kecil berwarna putih itu di tanganya. Kemudian ku raih segelas air putih yang ia berikan kepadaku.
Aku senang saat dia begitu mencemaskanku.Aku senang ketika ia merawatku. Namun tiba-tiba bayangan siang itu terlintas lagi menjadikanku seperti orang yang mengalami trauma.
Aku hanya bisa memperhatikan gerak-gerik pria yang ku sebut suamiku. Rama yang sudah berbaring di sampinku hendak memeluku segera ku tahan. Wajahku terlihat ketakutan saat melihat Rama dan teringat kejadian sebulan yang lalu.
"Aku tidak akan menyakitimu, tidurlah."
Karena tubuhku yang teramat lemas dan tak bertenaga. Tiada hal yang bisa ku lakukan kecuali menuruti perintah Rama. Ku pandang wajahnya sekilas yang tersenyum memandangku. Perlahan ku pejamkan mataku saat tanganya mengusap lembut kepalaku. Sejak itu aku sudah tidak sadarkan diri. Karena pelukanya membuatku nyaman hingga tak ingin moment ini hilang ketika terbangun nanti.
Beberapa jam kemudian ku buka mataku.Kulirik sisi kanan yang beberapa saat lalu ada Rama yang memeluku. Sempat aku mengira itu hanya mimpi karena tidak ku dapati dia saat aku terbangun.
Suara pintu kamarku terbuka menampakan Rama yang masuk membawa semangkuk bubur. Lagi-lagi aku gugup saat melihatnya. Dia semakin mendekat dan duduk di sisi ranjang tempatku berbaring.
__ADS_1
Di tempelkanya tanganya ke keningku. Lagi-lagi aku melihat ia tersenyum sangat manis di depanku. Ini benar-benar mimpi, Rama tidak mungkin seperti itu. Tapi jika ini mimpi, kenapa mimpi ini terasa nyata.
"Zia, buka mulutmu dan makan bubur ini. Kau harus minum obat agar tubuhmu segera pulih."
Eh, ini ternyata bukan mimpi,karena suaranya begitu nyata. Apa lagi ketika dia dengan telaten menyuapiku. Apakah doaku telah di kabulkan oleh Tuhan. Apakah dia sudah mulai mencintaiku dan bolehkah aku berharap begitu. Tapi kurasa dia hanya simpati karena aku sedang sakit.
"Terimakasih."
Dengan suara cukup pelan ku ucapkan kata-kata itu kepadanya. Dia hanya mengangguk kemudian menyuapiku kembali.
"Aku bisa sendiri, kau tidak ke kantor?"
"Aku akan ke kantor jika keada'anmu sudah sehat kembali."
Kenapa Rama jadi berubah seperti ini. Sikapnya tak lagi kasar dan dingin kepadaku. Sikapnya berubah menjadi sangat lembut kepadaku. Aku tidak bisa di perlakukan selembut ini. Semua ini akan menyakitiku kembali jika dia kembali menjadi Rama yang dingin dan angkuh.
"Kau harus segera pulih, karena lusa adalah hari resepsi pernikahan kita."
"Minumlah obatnya dan tidurlah kembali."
Aku hendak mengambil obat di nampan sisi bubur. Namun Rama lebih dulu mengambilkanya untuku. Bahkan dia sendiri yang memasukanya ke dalam mulutku. Dengan susah payah aku meneguk segelar air saking gugupnya. Di elusnya rambutku membuatku memejamkan mataku kembali.
Sore harinya tubuhku sudah membaik. Walaupun wajahku masih terlihat pucat dan berantakan. Aku memilih masuk ke kamar mandi untuk mandi. Selang beberapa waktu setelah selesai mandi. Dan keluar hanya mengenakan jubah mandi dan penutup kepala.
Aku berjalan pelan menuju ranjang tanpa melihat ada seseorang yang sedang duduk di sofa kamarku. Ku buka penutup kepalaku dan kunyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambutku. Aku terlonjak kaget ketika tangan kokoh mengambil alih hairdryer dari tanganku.
"Biar ku bantu."
Kenapa Rama sikapnya kepadaku semakin aneh. Aku tidak terbiasa menghadapi Rama yang seperti saat ini. Apakah dia benar-benar berubah atau mempunyai rencana untuk menyakitiku lagi.
"Kenapa kamu masih di kamarku?"
__ADS_1
Dia tidak merespon pertanya'anku malah fokus pada rambutku yang ia keringkan. Dan kenapa tiba-tiba aku merasa gugup saat hembusan nafasnya mengenai tengkuku.
"Cup."
Aku langsung menjauhkan tubuhku dari Rama saat ia mencium tengkuku. Aku menahan nafasku sesa'at dan wajahku terasa sangat panas. Rasa takut dan kecewa itu masih menghantui diriku. Aku benar-benar belum siap jika Rama mempermainkanku lagi.
Terlihat wajah gugupku seperti orang ketakutan. Membuat Rama merasa bersalah kemudian hendak memeluku.
"Stop, Rama."
"Keluarlah dari kamarku, please."
Setelah Rama keluar dari kamarku dengan rasa bersalahnya. Segera ku kunci pintu kamarku agar Rama tidak lagi bisa masuk ke dalam kamarku.
Tubuhku langsung langsung melemas tepat setelah pintu kamarku benar-benar terkunci. Nafasku tak beraturan mendadak kepalaku terasa pening. Seolah batu besar baru saja menghantam kepalaku.
Kenapa aku jadi seperti ini,ini bukan aku. Segera ku bangkit menuju laci untuk meminum obat penenang. Entah sejak kapan aku mengkonsumsinya. Yang jelas kali ini aku benar-benar sangat membutuhkanya.
Aku tertidur kembali setelah meminum obat penenang. Dan terbangun kembali saat langit sudah berubah menjadi gelap. Bahkan aku melewatkan makan malam.
Bagaimana bisa aku tertidur seharian penuh.Dan bagaimana Rama saat ini. Ku buka pintu kamarku dan mendadak aku di buat kaget. Rama yang terlihat tertidur bersandar di dinding sebelah pintu kamarku. Sejak kapan di tidur di sini? apakah sejak tadi setelah aku menyuruhnya keluar.
Aku berjongkok memandang wajah tampanya yang selama ini terukir di fikiran dan hatiku. Ku usap pipinya pelan untuk membangunkanya.Dia terlonjak kaget, kemudian tanganya langsung menarik tubuhku kedalam pelukanya.
Tentu saja aku sangat kaget dan mendadak gugup. Ini adalah posisi ternyaman dan terhangat yang belum pernah ku rasakan. Ia menjauhkan tubuhku kemudian menatapku.
"Apa kau baik-baik saja? kau melewatkan makan siang dan malam. Apa kau menginginkan sesuatu untuk kau makan?"
Aku menggeleng menjauh dari tubuhnya dan menuju ke dapur. Ku lihat begitu banyak bahan masakan yang ada di dalam kulkas. Entah kapan Rama menyiapkan semua ini.
Ku pakai apron dan ku masak masakan secukupnya untuku dan Rama. Aku mencoba berdamai dengan keada'an dan melalui hariku kembali dengan kezia yang lebih kuat.
__ADS_1